Obsessive Love Disorder

Obsessive Love Disorder
Pergi dan tak akan pernah kembali



Tak terasa percakapan ku dan Andre sudah berlangsung lama. Sehingga aku lupa tujuan ku kesini untuk apa.


Andre membaca sebuah pesan yang masuk ke dalam handphone nya.


“Apalagi nih kakak aku”


“Kenapa?”


“Sorry ya, kakak perempuan aku lagi di Jakarta,dia minta aku pulang kerumah”


“Terus gimana?”


“Aku boleh minta fhoto sama kamu ga,pura-pura aku masih sibuk nemenin temen aku”


Aku tertawa mendengar nya. Lalu mengangguk bersedia membantu nya.


Dia mendekatiku dan duduk di samping ku.


“Sorry ya”


“Iya” jawab ku sambil masih saja tersenyum. Karena menurut ku sandiwara Andre begitu lucu berpura-pura bahwa aku adalah teman nya yang sudah lama padahal kita baru saja berkenalan.


Dia memotret kami dengan sekali jepret di handphone nya.


“Sip thank you”


“Oke”


“Sebentar aku tinggal ke kamar mandi dulu”


Aku menganggukan kepala ku.


Aku melihat seorang pria yang duduk di meja besar dengan beberapa teman nya yang aku kenal.


Aditya. Aku begitu terkejut melihat nya disana dengan Lucy di samping nya. Aku berjalan mendekati nya dengan terus bersembunyi melewati orang-orang yang sedang berjoged dan ada juga yang hanya berdiri untuk mengobrol.


Posisi ku sudah amat aman di sini berdiri di antara orang-orang yang sedang sibuk berjoged dengan semangat nya mengikuti alunan lagu. Dan aku bisa melihat jelas apa yang di lakukan Aditya dengan dengan Lucy disana.


Mereka terlihat begitu bahagia dengan tertawa bersama. Lucy menyuapi Aditya sebuah cake ulang tahun. Dan Aditya memberikan dia sebuah kecupan yang manis di pipinya.


Teman-teman nya yang lain sibuk mengobrol dan bercanda. Mereka membiarkan Aditya dan Lucy bermesraan di antara mereka.


Dari raut wajah Aditya,mereka sedang membicarakan hal yang begitu serius. Aditya tampak menatap Lucy begitu dalam dan serius mendengar setiap perkataan yang keluar dari mulut Lucy.


Aditya mengelus pipi Lucy begitu lembut. Wajah Lucy mendekati wajah Aditya,dan Aditya menyambutnya dengan mencium bibir Lucy. Aku begitu tak percaya dengan apa yang ku lihat.


Aditya berciuman dengan Lucy. Dan itu terjadi di balik layar yang tidak ada satu media pun yang tahu dengan hubungan mereka. Ini bukan settingan, ini kehidupan nyata, Aditya mencium Lucy di hadapan semua teman nya.


Jantung ku berdetak dengan hebat. Mataku mulai basah menyaksikan semua itu. Ciuman yang selama ini di berikan Aditya hanya untuk ku ternyata sudag dia bagi dengan wanita lain. Tidak bisa ku percaya Aditya telah mengkhianati ku seperti ini.


Aditya membuka matanya saat bibir nya masih beradu dengan Lucy. Dia tak sengaja melihat ku sudah berdiri tegak melihat apa yang tengah di lakukan nya.


Aditya melepaskan ciuman nya terkejut melihat ku yang sudah memergoki nya seperti itu. Bibirnya bergerak menyebutkan nama ku.


Aku menggelengkan kepala ku dan segera pergi darisana. Menerobos kerumunan dengan cepat dan berlari keluar sana. Aku tidak tahu apakah Aditya mengejar ku atau tidak yang pasti aku harus segera pergi dari sana dan menghindarinya.


Seseorang memanggil nama ku, namun aku yakin itu bukan Aditya melainkan Andre.


Aku melajukan mobil ku dengan cepat dan entah menuju kemana. Akhirnya aku sudah menyaksikan sisi buruk yang lain dari Aditya, akhirnya aku telah menyaksikan pengkhianatan nya. Walaupun ini sangat menyakitkan,tapi aku yakin cara ini akan lebih mudah untuk ku meninggalkan Aditya tanpa rasa pertimbangan lagi.


Ini sudau tidak bisa di maafkan, aku sudah tidak akan memakluminya. Ciuman itu bukan acting,bukan juga sandiwara,Aditya mencium Lucy penuh dengan perasaan. Aku bisa melihat itu.


“Aku benci kamu Aditya” ucap ku di dalam tangisan ku.


Handphone ku berdering, terlihat nama Aditya di layar ponsel ku. Aku membiarkan nya terus berdering agar Aditya tau aku tidak ingin mengangkat telepon nya.


Aku hentikan sejenak mobil ku di sebuah parkiran taman. Aku menenangkan fikiran ku disana,berusaha mengontrol emosi ku. Mengusap air mataku yang terus menerus mengalir. Aku sudah begitu yakin untuk meninggalkan Aditya. Ini sudah menjadi keputusan ku.


Aku pergi menuju apartemen Aditya untuk menyelesaikan semuanya. Ternyata aditya sudah di dalam sana dia menungguku dengan cemas.


“Dhebi” dia langsung menghampiri ku ketika aku membuka pintu Apartemen nya.


Aku tak menggubris nya dan langsung masuk kedalam kamar untuk membereskan semua pakaian ku.


“Dhebi please aku minta maaf,dengerin aku dulu dheb”


aku berusaha untuk tak mendengarakan alasan nya lagi dan terus mengeluarkan semua pakaian ku di dalam lemari Aditya dan memasukan nya ke dalam koper.


“Dhebi aku mohon dengerin aku”


“Dengerin apa lagi!” Teriak ku akhirnya.


“Yang kamu liat tadi itu cuma..”


“Cuma apa? Cuma sandiwara?! Cuma settingan?! Aku udah cape Di denger semua alasan klasik itu”


Ucap ku dan kembali melanjutkan membereskan barang barang ku.


“Dhebi,aku tau aku salah tapi aku mohon dengarkan aku dulu”


“Aditya cukup ! Ini sudah keterlaluan! kamu sudah melampaui batas. Kejadian kamu dan Lucy tadi sudah tidak bisa di sebut wajar, kalo kamu bilang itu hanya settingan,kenapa media ga pernah ada yang tahu tentang hubungan kamu dan Lucy, dan kalo pun memang itu hanya settingan kamu ga perlu berciuman seperti itu dengan wanita manapun di belakang aku kan!”


Aditya memeluk ku dari belakang dengan kencang.


“Dhebi aku mohon,aku tidak bisa disini tanpa kamu”


“Lepasin Di!”


“Tidak. Aku tidak mau Dheb!”


“Lepasin aku Di,biarin aku pergi!” Aku semakin berteriak dan emosi. Aditya masih tidak melepaskan pelukan nya.


“Aku sayang kamu Dheb,aku tidak bisa biarkan kamu pergi” ucap nya di telingaku.


Aku menangis sejadi jadinya dalam jeratan Aditya. Aku lelah,aku ingin lepas darinya,namun kenapa setiap kali dia seperti ini aku selalu merasa kasihan dan luluh begitu saja.


Aku menangis karena kesal kepada diriku sendiri.


“Aku minta maaf Dheb,aku minta maaf”


Aku terus menangis dengan histeri. Lalu aku terduduk di lantai dengan pelukan Aditya yang semakin erat seolah aku ini bisa kabur kapan saja.


Malam hari aku tertidur dalam pelukan Aditya sepanjang malam. Dia tidak melepaskan ku,dia benar-benar takut aku pergi. Namun aku terjaga sepanjang malam ,tak bisa tidur memikirkan kejadian di club tadi. Aku memang merasakan bagaimana Aditya begitu mencintaiku, namun aku pun tidak bisa terus seperti ini, hubungan ku dan Aditya tidak pernah sehat dan malah memburuk setiap waktunya.


Pagi hari aku berusaha pergi dari apartemen nya dengan diam-diam dan berusaha untuk tidak mengeluarkan suara sedikitpun agar Aditya tidak terbangun dari tidurnya. Aku menjinjitkan kaki ku dan berjalan dengan perlahan mendekati pintu,lalu membuka pintu dengan hati-hati dan menutup nya kembali dengan tenang. Aku membuka pintu Apartemen dengan memperhatikan pintu kamar Aditya memastikan dia tidak mendengarnya,dan akhirnya aku berhasil pergi dari Apartemen itu.


Beberapa jam kemudian Aditya terbangun. Dia mendapati aku sudah tak ada dalam pelukan nya. Dia mencari cari ku kemana mana,di kamar mandi, di ruang tengah, di Laundry bahkan dia mencariku ke kolam renang. Aku tak ada di Apartemen nya. Dia berusaha menghubungiku namun nomor telepon ku tak dapat di hubungi.


Aditya begitu cemas,dia takut jika aku benar-benar meninggalkan nya. Dia mengganti pakaian nya di kamar dengan cepat untuk mencari ku ke kampus. Dia benar-benar panik dan gelisah. Namun ketika dia keluar dari kamar nya,dia sudah melihat ku di dapur mengeluarkan sebuah belanjaan dari dalam plastik besar di meja dapur.


“Dhebi” panggil nya begitu lirih.


Dia berjalan mendekatiku.


“Kamu darimana?”


“Belanja” jawab ku dengan dingin.


“Kamu kenapa ga bangunin aku?”


“Untuk apa?”


“Dheb..”


“Di aku mau masak,jangan ganggu aku”


Aku masih saja bersikap ketus kepadanya. Namun bagaimana pun aku masih begitu peduli dan membuat kan nya makanan untuk makan siang.


Aku memasakan kepiting saus padang kesukaan nya,agar dia merasa senang dan bahagia. Walau sudah di sakiti seperti ini pun aku masih sangat begitu peduli kepada Aditya. Aku menyiapkan makanan di atas meja dan merapihkan nya.


Aku menghampiri Aditya mengambil renote tv dan mematikan nya.


“Ayo makan” ketusku.


Aditya mengikuti ku berjalan ke meja makan. Aditya masih terlihat kaku dan cemas melihat ku.


Aku mengalaskan sebuah nasi dan memotong motong kepiting untuk nya. Aditya tak berbicara sepatah kata pun, aku rasa dia tidak mau membahas hal tadi malam lagi karena takut aku akan kembali marah dan pergi.


“Hari ini kamu ada kelas?”


“Ngga”


“Kamu mau ikut aku pemotretan?”


“Ngga”


“Kamu mau kemana ? Biar aku antar”


“Ngga Di, aku ga mau kemana mana” tegas ku. Dan Aditya kembali diam mendengar ku yang masih saja marah kepadanya.


Kami mulai makan dengan diam. Aditya sesekali melirik ku namun aku tak ingin balas menatap nya dan terus menghabiskan makanan yang ada di atas piringku.


Setelah selesai makan,aku membereskan piring kotor dan membersihkan wadah wadah kotor yang aku pakai untuk memasak kepiting.


“Aku pergi dulu sebentar untuk pemotretan majalah”


Aku tak menjawab nya dan terus membersihkan piring kotor di washtafel.


“Dhebi” Aditya memeluk ku dari belakang.


“Terimakasih karena sudah mau bertahan” Aditya mencium kepala ku dan memeluk ku dengan mesra.


“Aku pergi dulu” lalu dia pergi ke luar Apartemen.


Aku mulai menangis kembali,air mata yang aku tahan sejak pagi sudah tak bisa terbendung lagi.


Itu adalah kali terakhir aku diam di Apartemen Aditya,makanan tadi adalah masakan terakhir yang aku buat untuk nya. Aku akan pergi,dan tidak akan pernah kembali untuknya.


Maafkan aku Aditya,semoga kamu bisa cepat melupakan aku.