
Akhirnya Andre meneteskan air mata nya. Dan dia melepaskan genggaman tangan ku lalu dia pergi tanpa menoleh ku.
Aku menghela nafas ku merasa lega karena telah menguras segala isi hati ku kepada nya. Aku hanya ingin Andre percaya dengan diri nya,dan menjadikan kisah hidup Aditya sebagai contoh. Jika ternyata memaksakan sesuatu yang tidak di sukai nya hanya akan membuat dia terluka.
Aku membalikan badan ku dan hendak masuk ke pintu yang dekat dengan tempat ku berbicara dengan Andre. Aku terkejut melihat Aditya yang tengah bersandar di pintu dengan bahu nya. Dia melipatkan kedua tangan nya dan menatap ku dengan dingin. Aku menghentikan langkah ku dan menatap nya bingung.
“Sejak kapan kamu disitu?”
“Sejak kamu bercerita kepada Andre jika aku ini anak nakal dan pemberontak” ujar nya seperti tak terima dengan apa yang sudah aku ketahui.
Aku tersenyum mendengar dia memergoki ku tengah membicarakan nya.
“Bukan nya memang seperti itu?” Tanya ku mengangkat kedua halis ku.
“Ya memang” ujar nya sambil mengganti posisi nya dengan menaruh kedua tangan nya di saku celana katun nya.
“Tapi aku tidak senakal seperti apa yang kamu ceritakan” ucap nya tak terima.
Aku tersenyum menertawakan itu.
“O iya?”
Dia menganggukan kepala nya. Lalu menghampiri ku dan berdiri begitu dekat di hadapan ku.
“Kamu lihat kan? Bagaimana orang lain tidak tergila-gila dengan kamu,kalau kamu saja selalu memberi mereka semangat dengan tulus seperti itu” ucap nya menyindir perbincangan ku dengan Andre.
“Aku hanya tidak suka melihat orang lain bersedih. Aku hanya mau membantu mereka,agar mereka bisa lebih terbuka setidak nya kepada diri mereka sendiri”
Aditya menganggukan kepala nya.
“Aku semakin yakin. Dhebi yang aku kenal dulu ternyata sudah kembali” ucap nya dengan tersenyum manis.
“Dan kamu senang?” Tanya ku.
“Ya aku senang,karena aku sangat merindukan sifat ketus nya”
Aku tersenyum mendengar ledekan nya.
“Itu sudah tidak akan terjadi,walaupun Dhebi yang dulu sudah kembali”
“O yah?” Tanya nya tak yakin.
Aku menganggukan kepala ku dan mengangkat kedua halis ku berusaha meyakinkan nya.
“Tapi seperti nya sifat ketusnya masih ada. Buktinya kemarin kamu bersikap ketus ketika ada wanita lain yang ganggu aku”
Aku menatap nya begitu sinis.
“Itu bukan ketus Aditya. Itu cemburu. Kamu tidak bisa membedakan nya?” Ujar ku dengan mengakui semua nya.
Aditya tertawa melihat ku yang kembali ketus menatap nya. Lalu dia memeluk ku dengan lembut.
Kita kembali ke rumah Aditya dan segera beristirahat di kamar masing-masing. Malam hari itu aku sudah berganti dengan memakai baju piama yang panjang dan memakai bando berbulu yang menyekat rambut ku. Sebelum tidur aku mencuci dulu wajah ku di toilet dan menggosok gigi ku. Lalu aku mengeringkan wajah ku dengan handuk kecil dan keluar dari kamar mandi. Aku terkejut melihat Aditya berdiri di depan pintu kamar mandi ku.
“Aditya !!” Teriak ku sambil melemparkan handuk yang aku pegang.
Dia menangkap nya dengan refleks dan keren tentu saja.
“Kenapa kamu disini?” Kesal ku karena dia sudah membuat jantung ku berdebar dengan cepat karena terkejut.
“Aku mau tidur disini” ucap nya membuat ku membulatkan mata.
“Ngga! Kembali ke kamar kamu” pinta ku dengan mendorong tubuh nya.
“Kenapa?” Tanya nya memegang tangan ku.
“Aditya!” Aku menatap nya dengan tajam agar dia mengerti jika aku tidak menerima dia disini.
Tatapan nya masih saja dingin kepada ku. Lalu dia menarik ku ke dalam pelukan nya.
Aku tersenyum mendengar rengekan nya. Dan aku mengizinkan dia untuk tidur disini dengan ku.
Keesokan hari nya aku sudah bersiap untuk mengantar Aditya dan Mama nya mengunjungi hotel besar yang ada di nusa dua yang pernah di ceritakan oleh Sisil waktu itu.
Papa Aditya pergi kembali bekerja. Dan Mama nya di antar sendiri oleh supir, sementara aku dan Aditya seperti biasa memakai mobil pribadi yang berbeda.
Hari itu aku memakai gaun hitam yang ada blink blink membuat gaun itu indah,dan memiliki lengan pendek sebesar 3 ruas jari sehingga hampir seluruh lengan putih ku dapat terlihat. Dan rambut ku masih saja terurai menggelombang indah karena Aditya senang melihat aku elegant seperti ini.
Aku melingkarkan tangan di lengan Aditya. Hari ini Aditya memakai jas yang begitu rapih berwarna abu tua,dan celana hitam,juga sepatu pentopel berwarna abu agar senada dengan jas nya.
Mama Aditya berjalan paling depan di ikuti beberapa pengurus hotel untuk membantu nya memeriksa setiap sudut hotel yang ingin di lihat nya. Aku dan Aditya berjalan di belakang.
“Kita hanya mengunjungi hotel seperti ini?” Tanya ku setengah berbisik,karena tidak ingin orang-orang di sekitar kita yang mengikuti Mama mendengar pembicaraan ku.
“Ya Mama hanya akan memeriksa hotelnya”
Aku membulatkan bibir ku tanpa mengeluarkan suara.
Mama nya menghentikan langkah secara tiba-tiba. Di ikuti semua orang yang tengah mengikuti nya. Kami semua bingung dengan mendadak nya Mama Aditya berhenti berjalan.
Lalu dia membalikan badan nya.
“Dhebi” panggil Mama nya menoleh ku.
“Iya” saut ku dengan kikuk.
“Bisa berjalan di samping Mama?” Pinta nya membuat semua orang terheran dan begitu pun dengan aku yang bingung dengan keinginan nya.
Aku menatap Aditya dengan bingung. Lalu dia hanya berisyarat dengan gerak mata nya jika aku turuti saja keinginan Mama.
Aku berjalan dengan gugup menuju ke barisan paling depan dan berdiri di samping Mama Aditya. Dia tersenyum manis kepadaku namun aku membalas senyuman nya dengan kaku.
Lalu Mama Aditya kembali menoleh kebelakang dan menatap Aditya.
“Sayang. Kalau kamu mau istirahat,istirahat lah. Biar Dhebi yang menemani Mama” ujar nya.
Aditya menganggukan kepala nya dengan sedikit tersenyum. Lalu dia pergi dari barisan di ikuti beberapa orang lain nya,yang seperti nya itu adalah pelayan khusus Aditya.
“Ayok” ajak Mama.
Mama Aditya tampak berjalan begitu tegak dan dengan tatapan yang terus menatap lurus ke depan. Aku mengikuti cara berjalan nya,namun raut wajah ku tetap tak bisa di sembunyikan jika aku begitu gugup.
Dia berhenti di setiap sisi ruangan,dan menjelaskan setiap ruangan yang kita singgahi. Seperti aula yang besar ini. Mama Aditya menjelaskan kenapa ruangan aula harus di buat seperti ini, dengan konsep yang menarik dan wallpaper yang sangat elegant karena menurut nya aula ini akan di pakai oleh semua kalangan dan akan terlihat kesan mewah nya begitu orang lain masuk kedalam ruangan itu.
Aku hanya terus menganggukan kepala setiap dia menjelaskan semua nya. Walaupun aku tidak tahu apa guna nya dia membuang waktu untuk menjelaskan semua itu kepada ku.
Lalu ketika kami sampai di bagian luar utama. Mama Aditya menjelaskan seluruh keluarga nya sangat menyukai suasana pantai sehingga seluruh hotel dan rumah Nenek pun haris berada dekat dengan pantai. Karena pantai di anggap sebagai tempat terdamai untuk keluarga mereka.
Aku dan Mama Aditya melihat pemandangan di luar yang sangat indah. Banyak sekali pulau pulau kecil yang terlihat di luar sana,dan juga terik panas matahari membuat seperti ada gelombang cahaya di atas permukaan air.
“Dhebi” panggil Mama nya.
“Ya” saut ku dengan tersenyum ramah.
“Mama ingin berterima kasih kepada kamu. Karena jika saja kamu tidak pernah bertemu dengan Aditya,Mama tidak yakin kalau dia mau memenuhi keinginan mendiang Kakek nya” ujar Mama nya begitu tulus mengatakan itu.
“Sebenarnya dia juga ingin menerukan bisnis itu,tapi dia terlalu gengsi untuk kembali” ucap ku mengingat sifat jelek Aditya.
Aku dan Mama Aditya tertawa bersama.
“Mama semakin percaya untuk kamu menjaga Aditya” Mama Aditya terlihat sedih menatap ku. Aku hanya terus diam tidak tahu lagi harus berbicara apa.
Mama Aditya tiba-tiba memeluk ku dan mengelus rambut ku.
“Mama merestui kalian nak” bisik nya.