
Aku membawa piring berisi potongan kepiting ke meja ku kembali. Aku menyembunyikan segenap kekesalan ku kepada Anandita,aku harus kembali ceria berhadapan dengan calon mertua ku dan aku tidak ingin Aditya mengkhawatirkan raut wajah ku yang sudah kusut.
Aku menyimpan piring putih itu di hadapan Aditya. Aditya menatap ku dengan dengan tersenyum aku begitu mengerti dia sudah mengucapkan rasa terima kasih dengan tatapan dan senyuman nya. Lalu aku ikut duduk di samping nya. Aku melihat semua mata sudah tertuju padaku dengan raut wajah mereka yang bingung.
“Kamu tahu Aditya tidak bisa makan kepiting?” Ucap Nenek kepada ku dengan raut wajah yang begitu khawatir.
Papa dan Mama ku menatap ku,mungkin mereka mulai merasa takut jika aku memepermalukan mereka karena tidak tahu apa-apa tentang Aditya.
Aku bingung harus bagaimana menjelaskan kepada mereka tentang ini. Jika tadi aku begitu berani menjelaskan tentang masalah ini kepada Anandita,sekarang mulut ku begitu terkunci ketika berhadapan dengan keluarga Aditya
“Aku sudah bisa lagi makan kepiting Nek” jawab Aditya membantu ku. Membuat semua tersentak tak percaya.
“Rasa takut kamu sudah hilang?” Tanya Nenek lagi.
“Nek aku sudah besar,aku sudah bisa lebih berhati-hati sekarang. Mungkin dulu aku masih terlalu kecil dan begitu ceroboh” jawab Aditya.
“Apa? Benar kamu sudah bisa makan kepiting lagi?” Tanya mama Aditya begitu tak percaya.
“Sebenarnya sudah lama sekali Ma,tapi aku masih menyembunyikan nya dari kalian semua karena aku hanya bisa makan kepiting jika Dhebi yang menyiapkan nya” ucap Aditya dengan begitu kagum dan membuat ju malu.
“Apa benar Dhebi?” Tanya Mama menatap ku dengan mengkerutkan kening nya.
“Iya Ma” jawab ku dengan kaku.
Mama Aditya terlihat begitu lega mendengar jawaban ku.
“Akhirnya. Sudah lama sekali dia sulit sekali untuk mencoba kembali makan kepiting,karena dia begitu trauma dengan masa kecil nya. Mama dan Papa pun bersikap wajar tentang itu. Tapi kami semua tahu bahwa Aditya memiliki makanan favorit yang sama dengan Kakek nya,yaitu kepiting dan kami selalu kasian melihat Aditya yang selalu terlihat ingin makan kepiting tapi dia terlalu takut untuk kembali memakan nya. Kami pun tidak pernah tahu bagaimana mengatasi rasa trauma nya itu Dheb. Dan ternyata kamu bisa mengobati itu” ucap Mama Aditya dengan begitu haru menatap ku dan memegang tangan ku dengan lembut.
Aku tidak tahu harus menjawab apa. Aku hanya bisa tersenyum dengan pilu menatap Mama Aditya.
Aku melirik semua orang di sekitar ku,ternyata semua mata sudah tertuju kepada ku. Termasuk Mama dan Papa ku yang sekarang menatap ku dengan begitu bangga nya.
Aditya mulai makan kepiting dengan begitu semangat nya.
“Aditya pelan-pelan!” pinta Nenek nya dengan khawatir melihat Aditya begitu semangat nya
Mama dan Papa Aditya tersenyum melihat Nenek nya yang sangat khawatir. Lalu Mama Aditya menyentuh tangan Nenek nya dengan lembut.
“It’s Ok Mah,Aditya akan baik-baik aja” ujar Mama nya menenangkan.
“Hallo selamat malam” sapa seorang laki-laki yang baru saja datang dan menghampiri meja kami.
Andre. Mataku terbuka lebar dan senyum ku mereka begitu melihat nya. Aku tidak bisa menyembunyikan rasa bahagia ku ketika melihat nya akhirnya pulang.
“Hay Andre” sapa Nenek dengan merentangkan kedua tangan nya meminta untuk di peluk.
“Hay Nek,Nenek baik?” Tanya Andre memeluk nya dengan lembut.
“Lancar Nek”
“Syukurlah”
“Hay ndre” sapa Aditya dengan menjabat tangan Andre dengan begitu ramah nya.
“Hay dit,baik?”
“Baik,sukses ya karir lo disana” ucap Aditya.
“Pasti,lo juga sukses ya jalanin bisnis Kakek jangan sampe ga bener,kalo sampe ga bener gue bisa ambil alih perusahaan Kakek” ancam Andre dengan di ikuti tertawa semua orang di meja makan itu.
Semua itu sudah tidak akan lagi menjadi masalah untuk keluarga ini,karena mereka sudah menyelesaikan semua masalah itu dengan baik dan persetujuan yang begitu adil.
Lalu Andre menyapa semua orang di meja itu dengan ramah, dia menyapa Papa dan Mama ku,lalu Andre menatap ku dengan tersenyum,aku ingin sekali menyapa nya dan bercerita tentang semua masalah ku yang sudah terpecahkan pada akhirnya kepada nya,namun aku begitu kaku ketika melihat keluarga Aditya yang sebelum nya sudah tahu dulu kami sempat memiliki kedekatan.
“Makan dulu ndre ayok,makanan masih banyak” ujar Papa Aditya.
“Siap siap Om,aku mau samperin dulu Mama sama Papa disana” ucap Andre, dia menganggukan kepala nya kepadaku, aku membalas anggukan kepala nya.
Lalu aku melihat Andre menghampiri meja orang tua nya yang sudah berada Anandita juga duduk di sana. Andre juga terlihat begitu dekat dengan Anandita,mereka tertawa bersama dan begitu akrab juga seperti Aditya. Bisa jadi Andre juga adalah teman masa kecil Anandita.
“Dia juga teman nya Andre” ucap Aditya menjawab fikiran ku. Dia berbicara dengan pelan tidak ingin mengganggu percakapan orang tua kami.
Aku menatap Aditya dengan dingin.
“Kalian bertiga berteman semasa kecil?” Tanya ku dengan pelan juga.
“Tentu. Tapi aku lebih sering di tinggalkan mereka bermain,karena sejak kecil mereka memang memiliki karakter yang sama,dan berbeda dengan aku” ucap nya bercerita sambil membersihkan tangan nya dengan tissue kering dan tissue basah di samping nya.
“O yah?”
“Ya. Mereka sama-sama suka membaca buku sewaktu kecil. Andre sering mengajak Anandita melihat lihat koleksi buku nya yang begitu banyak dirumah Nenek,Nenek memang menyediakan ruangan bermain untuk kami,dan Kakek selalu memberikan buku-buku bacaan untuk Andre sewaktu kecil,dan membuat Anandita keracunan hobby Andre”
“Kamu ga pernah di ajak?” Tanya ku merasa kasihan. Aditya tertawa mendengar pertanyaan ku.
“Aku yang tidak pernah mau di ajak mereka. Itu membosankan,aku tidak pernah mau membuang waktu ku untuk itu,akhirnya aku sering sekali keluar rumah sendiri dan kabur ke pantai,juga ke tebing di dekat rumah Nenek” ucap nya membuat ku mengangkat halis ku.
“Sejak kecil memang kamu sudah terlihat agresif ya” ledek ku.
Aditya menatap ku dengan tajam dan membenarkan tempat duduk nya dan mencondongkan badan nya mendekati ku.
“Ya,aku sudah seperti ini sejak kecil. Dan setelah menikah nanti aku akan lebih agresif dan posesif untuk kamu” ujar Aditya dengan menatap ku begitu tajam.
Aku tersenyum mendengar nya. Aku sudah tidak akan keberatan lagi jika dia bersikap seperti itu setiap kali nya. Karena aku akan lebih kehilangan dia jika dia bersikap dingin kepadaku.