Obsessive Love Disorder

Obsessive Love Disorder
Permintaan Papa Aditya



Beberapa hari kemudian aku sudah bisa begitu tenang pergi ke kampus. Orang-orang yang sering mengerumuni ku kini mereka tidak ada lagi. Mungkin mereka juga lelah karena tidak mendapatkan informasi apapun dariku.


Malam itu aku dan Aditya sedang berbelanja di supermarket untuk membeli peralatan mandi yang baru. Aku terus mendorong trolley belanja ku di setiap lorong.


“Lebih banyak snack di banding peralatan mandi nya” ketus Aditya meligat isi trolley ku.


“Lalu kenapa?” Sinis ku dengan terus memilih snack snack yang akan menjadi persediaan ku.


“Tidak ada” jawab nya dengan terus ikut berjalan di samping ku dengan memasukan tangan di saku hoodie nya.


Handphone Aditya berdering.


“Hallo Ma” sapa Aditya.


Aku langsung melirik nya begitu tahu jika yang menelepon adalah Mama nya.


“Aku di supermarket”


“Belanja bahan yang habis di Apartemen” jawab Aditya.


“Apa?!” Tanya Aditya bukan seperti dia tidak mendengar apa yang di katakan Mama nya di sebrang telepon. Tapi raut wajah nya seperti terkejut.


Aku langsung menempel telinga ku di belakang handphone Aditya untuk ikut mendengar percakapan mereka. Pipi kami saling beradu akhirnya.


“Iya Ma” jawab Aditya berusaha menghindarkan telepon nya dari ku.


Aku memukul kecil lengan nya.


“Baik” jawab nya lagi.


“Baik Ma”


“Sampai jumpa” jawab Aditya lalu dia menutup telepon nya.


Aku menatap nya dengan penasaran.


“Ada apa?” Tanya ku.


“Mama dan Papa menuju ke Jakarta” jawab Aditya menatap ku gelisah.


“Hah ?!”


“Sekarang?” Tanya ku tak percaya.


“Iya”


“Terus mereka ajak kita bertemu dimana?” Panik ku karena mengingat Apartemen belum di bereskan.


“Mereka minta bertemu di Hotel Raffles Jakarta”


Aku langsung bernafas lega.


“Tapi mereka ingin bertemu orang tua kamu juga”


Aku terkejut menatap Aditya dengan bingung.


“Bertemu orang tua ku?” Tanya ku lagi. Aditya diam tak menjawab nya.


Aku langsung memijat kening ku.


“Di ini kan terlalu mendadak. Aku juga belum mengenalkan kamu dulu ke Papa,aku takut Papa sibuk dan dia lagi banyak pekerjaan”


Ucap ku dengan panik.


“Kamu coba dulu tanyakan ini ke Papa kamu. Dia siap atau tidak bertemu keluarga ku?” Tanya Aditya penuh harap menatap ku.


Aku menghela nafas dan menatap nya begitu pilu.


“Baiklah” jawab ku.


Ketika sampai di Apartemen aku langsung menelepon Papa.


Jantung ku berdetak begitu hebat tidak bisa ku kendalikan. Aku begitu gugup untuk meminta Papa menemui orang tua Aditya.


“Hallo Pa” sapa ku.


“Hay sayang. Kamu apa kabar?” Tanya Papa di sebrang sana.


“Aku baik Pa. Papa dimana?”


“Papa di kantor nak. Papa punya kabar gembira untuk kamu dan Mama” ujar Papa begitu bahagia.


“Apa Pa?” Tanya ku tak sabar mendengar nya.


“Papa di percaya menjadi Pengembang Real Estate untuk sebuah Pembangunan perumahan di Jogja Nak” ucap Papa.


Aku langsung tersenyum bahagia.


“O ya?” Tanya ku.


“Iya Nak. Pak Christ meminta Papa untuk kembali menjadi pengembang di salah satu pembangunan nya” ucap Papa.


“Dhebi ikut senang ya Pa” ucap ku dengan penuh kebanggaan


“Aku masih ada kuliah Pa. Tugas akhir ku mulai menumpuk” ucap ku berdalih.


“Mama sempat bercerita tentang Aditya ke Papa”


Aku tersentak mendengar Papa lebih dulu bercerita tentang Aditya.


“Papa baru tahu jika dia artis”


“Iya Pa”


“Nak…” aku yakin Papa pasti akan menceramahi ku tentang profesi Aditya yang tidak di sukai nya lalu aku langsung memotong pembicaraan nya.


“Pa. Aku mau Papa sendiri yang mengenal Aditya. Aku tidak akan bercerita tentang siapa dia dan bagaimana dia sekarang. Biar Papa sendiri yang menilai. Papa begitu tahu aku kan? Aditya tidak seperti apa yang Papa fikirkan,dia tidak seperti artis yang ada di bayangan Papa”


“Baiklah Nak. Kapan Papa bertemu dengan nya?”


“Besok orang tua Aditya akan ke Jakarta,karena mereka berasal dari Bali. Dan mereka ingin langsung bertemu Papa dan Mama” ucap ku.


“Langsung bertemu orang tua Aditya?” Tanya Papa.


“Biar Papa tidak hanya mengenal Aditya saja,Papa pun harus mengenal orang tua nya” ucap ku.


Papa diam tak menjawab.


“Pa. Aku mohon” Panggil ku dengan nada begitu sedih.


“Baiklah” ucap Papa dengan pasrah.


“Besok Papa dan Mama ke Jakarta”


Aku tersenyum bahagia.


“Baik Pa. Terimakasih banyak,besok aku beri alamat akan bertemu dimana”


“Iya nak sama-sama”


“Sampai bertemu besok Pa”


“Sampai bertemu besok nak”


Lalu Papa menutup telepon nya.


Aku menatap layar ponsel ku. Memikirkan tentang hari esok. Apakah Papa akan setuju kepada Aditya. Aku berharap Aditya dan orang tua nya bisa membuat Papa percaya jika Aditya menjadi artis hanyalah iseng belaka dan tidak akan pernah kembali ke dunia entertainment. Tidak lah etis jika aku menceritakan kepada Papa sendiri tentang cerita Aditya bisa menjadi selebritis dan menjelaskan tentang latar belakang dia sesungguhnya,aku takut Papa menyangka jika aku hanya membela Aditya.


Keesokan hari nya aku segera bersiap memakai dress berwarna kuning emas dan memiliki lengan hanya 3 ruas jari dan memperlihatkan bahu dan dada mulus ku. Aditya memberikan kalung liontin yang indah untuk lebih memperindah leher ku.


Aku menggulung rambut ku untuk kali ini dengan model messy hair dan dengan hiasan mutiara dan bintang di sekitar sanggulan rendah ku. Terlihat berantakan namun begitu indah untuk di pandang. Aku uraikan sedikit rambut di kedua sisi pipi ku,dan aku buat bergelombang. Tampak seperti tuan putri yang akan menghadiri pesta.


Aku dan Aditya segera pergi ke Hotel Raffles dimana Papa dan Mama nya sudah disana sejak tadi malam. Hotel itu begitu besar dan mewah sekali. Aku mendengar jika hotel ini bisa mencakup harga ratusan juta rupiah untuk satu malam nya. Dan Papa Mama Aditya menyewa hotel ini untuk beberapa malam.


Menakjubkan.


Aku dan Aditya turun dari mobil dan segera menemui mereka di ballroom.


Aku masuk kedalam kamar nya. Dan ini sangat tidak tampak seperti kamar hotel biasa. Ini sudah tampak seperti rumah saja dengan semua fasilitas yang lengkap. Ruang tamu yang besar,ruang makan,ada dua kamar tidur dan ada kitchen set besar untuk kita memasak sendiri. Hampir semua warna disana adalah warna emas,jadi sangat terlihat memiliki kesan mewah.


“Hay Dhebi” sapa Mama nya begitu aku masuk kedalam sana.


“Hay Ma” sapa ku sambil menempelkan pipi ku ke pipi nya.


“Kamu cantik sekali” puji Mama nya melihat penampilan ku.


“Terimakasih. Mama juga begitu cantik” balas ku dengan melihan penampilan nya yang selalu elegant.


“Hay Pa” sapa Aditya memeluk Papa nya dengan satu tangan, dan tangan lain nya memegang jas yang di gantung di lengan nya.


“Hay. Papa tidak pernah tahu jika ternyata anak Papa bisa gagah dengan mamakai jas yang begitu rapih” puji Papa nya tidak ingin kalah dengan memandang Aditya.


Aku dan Mama tertawa dengan celotehan Papa.


“Orang tua kamu dimana?” Tanya Papa.


Aku kembali panik mengingat ini adalah pertemuan keluarga kami.


“Mereka segera sampai Pa”


Papa mengangguk dengan tersenyum bahagia.


“Baiklah”


“Ayo duduk dulu” ucap Papa mempersilahkan kami duduk di sofa ruang tamu.


“Tidak perlu Pa. Aku mau kembali ke bawah menyambut Mama dan Papa ku yang hampir sampai”


“Oh boleh silahkan”


Aku memandang Aditya.


“Kamu di antar pelayan ya” ucap nya.


Aku mengangguk dengan lemah. Lalu aku keluar dari kamar itu dan segera kembali turun ke loby hotel. Seorang pelayan terus mengikuti ku masuk ke lift sampai kembali ke loby hotel.