
Keesokan nya aku segera menyelesaikan tugas ku yang terakhir untuk melakukan finishing. Aku pergi di antar teman-teman ku kali ini,mereka bilang ingin membantu ku agar segera selesai agar bisa mengajak ku jalan-jalan.
“Kemana lagi ini?” Tanya Caca setelah kami menyelesaikan pekerjaan di bagian keamanan penjagaan pantai.
“Gue masih mau cari orang yang jaga di sini” ujar ku ketika kami mulau berjalan lagi di pesisir pantai.
“Ya udah beli minum dulu di belakang gue haus” ujar Sienna.
“Iya gue juga” timpal Sisil.
“Ya udah sana beli minum dulu gue mau coba hubungi nomer penjaga yang tadi di kasih Pak Kadir” ucap ku mengotak atik handphone mencari nomer yang baru saja aku dapatkan dari Pak Kadir sang penjaga pantai Nusa Dua.
“Ya udah tunggu ya” Caca dan Sisil segera pergi ke warung kecil yang berada di samping pantai jauh di belakang kami.
“Eh tunggu gue juga mau” ujar Sienna mengejar mereka berdua.
Sedangkan aku diam di tempat ku berdiri dengan mencari nomer kontak yang akan aku hubungi,setelah menemukan nya aku langsung menekan tombol hubungi dan menempelkan ponsel di telinga ku.
Namun nomor nya tidak dapat di hubungi.
“Kok ga aktif sih?” Gumam ku kepada diri sendiri. Lalu kembali mengecek nomor tujuan nya,aku takut jika aku sala memanggil nama kontak. Dan mencoba menelepon nya kembali.
Namun tetap saja nomor nya masih tidak aktif dan tidak dapat di hubungi.
“Ih” kesal ku berdecak dengan kencang menatap layar ponsel ku.
“Hay” sapa seseorang di hadapan ku.
Aku melihat siapa pria itu. Dia memakai baju kemeja berwarna putih dengan kancing atas sampai dada nya di biarkan terlepas. Dan juga memakai celana pendek yang besar berwarna biru dongker. Dia melepaskan kaca mata hitam nya lalu di masukan ke saku celana besar nya.
Rambut nya masih saja di ikat walaupun pendek,dan dia tampak begitu eksotis sekali penampilan tanpa baju menyelam nya
Danu. Aku mengkerutkan kening ku begitu melihat nya di hadapan ku.
“Ada apa?” Tanya ku dengan ketus.
“Pagi ini tidak ada kegitan diving?” Tanya nya.
“Kenapa? Mencariku?” Tanya ku begitu percaya diri meledek nya.
“Ya” jawab nya dengan singkat dan begitu dingin.
Untuk apa dia mencariku? Tanya ku dalam hati.
Aku langsung mendelikan mata ku dan kembali memainkan ponsel ku tak mengkhiraukan nya.
“Bagaimana kaki mu?” Tanya nya melihat kaki ku yang sudah terlepas dari plester yang kemarin di pasangkan nya.
“Sudah lebih membaik” jawab ku tanpa menoleh nya.
“Aku sudah bilang kan,pemanasan yang benar sebelum diving itu begitu penting sekali untuk lancar nya acara menyelam kita” ucap nya menggurui ku.
Aku menatap nya dengan tajam dan begitu sinis.
“Biasanya aku pemanasan hanya seperti itu,tidak pernah ada masalah. Tapi kemarin mungkin karena ada kamu aku jadi merasa sial” cibir ku dengan ketus.
“Jika tidak ada kepentingan boleh pergi dari hadapan ku?” Pinta ku dengan begitu tegas menatap nya.
Dia hanya menatap ku dengan diam dan memasukan kedua tangan nya ke dalam saku celana. Aku membuang wajah ku lalu hendak pergi meninggalkan nya.
“Tunggu” ucap nya menghentikan langkah ku.
Aku memutarkan tubuh ku dan menatap nya dengan dingin.
“Terimakasih karena telah mengajari ku tentang menikmati indah nya alam laut. Selama ini memang aku hanya menggunakan laut sebagai pengganti kolam renang saja agar terlihat lebih berbeda. Kamu memang benar,di bawah laut begitu indah dan aku selalu melewatkan nya,dan menyelam di pagi hari memang lebih menyejukan di bandingkan siang hari yang memiliki terik nya matahari”
“Dan nanti jika kamu akan pergi lagi diving,aku mau ikut dengan mu untuk di kenalkan dengan semua penghuni bawah laut yang sudah lebih lama mengenal mu” ucap nya membuat ku mengkerutkan kening ku.
Aku membalikan tubuh ku dan melipat kedua tangan ku di hadapan nya.
“Dengar artis terkenal” panggil ku kepadanya.
“Danu” potong nya membenarkan ucapan ku.
“Ya siapapun kamu. Aku tidak bersedia menjadi pelatih menyelam mu atau sebagai tour guide mu. Jika kamu mau lebih mengenal bawah laut berkenalan lah dengan aquaman atau mermaid disana. Aku terlalu sibuk untuk melakukan itu” ketus ku dengan begitu sombong kepadanya.
“Bahkan menjadi teman?” Tanya nya membuat ku kembali diam.
“Tidak,aku tidak pernah mengharapkan itu terjadi” ujar ku mengingat Aditya. Dia bisa membunuh ku jika dia tiba-tiba tahu aku berteman dengan artis yang sebelum nya sering menggangguku.
Aku membalikan badan ku dan kembali menghindari nya. Namun Danu berjalan dengan cepat mengimbangi jalan ku.
“Kenapa kamu tidak mau berteman dengan ku?” Tanya nya. Dia berhasil menghentikan lagi langkah ku,dan aku menatap nya dengan kesal.
“Karena kamu seorang artis” jawab ku dengan tegas.
“Aku tidak perlu alasan lain untuk menolak berteman dengan kamu. Bukan karena aku takut,atau apapun itu tapi hanya karena kamu seorang artis aku tidak mau berteman dengan mu” tambah ku dengan sinis.
“Dhebi tapi kamu menarik perhatian ku ketika pertama kali aku melihat mu di Apartemen” ujar nya membuat ku tersentak menatap nya dengan kening yang berkerut.
Apa maksud nya ?
“Saat itu kamu begitu terdiam melihat hirup pikuk kota yang menurut ku indah dengan banyak nya lampu kota yang berkelap kelip,tapi kamu memandang nya begitu biasa saja. Sementara ketika pesawat melintas di atas mu,kamu begitu takjub dan terkagum,seperti saat itu adalah pertama kali nya kamu melihat pesawat dari jarak dekat” ujar Danu mengingatkan ku kejadian malam itu.
“Oh malam itu. Ya memang aku baru kali ini melihat pesawat jarak dekat. Kenapa? Terlihat rendah di mata kamu?” Tanya ku merendahkan diri.
Danu terdengar terkekeh menertawakan ku.
“Kamu kira kamu ke Bali selama ini naik apa? Bajaj?” Canda nya terus tersenyum tipis menertawakan lelucon nya yang ternilai garing untuk ku.
“Aku tahu kamu tidak serendah itu Dhebi. Kamu juga begitu baik dan friendly tanpa melihat siapapun dia,kamu pasti akan ramah kepada mereka jika mereka pun baik kepada mu,dan aku selama ini sudah berusaha baik kepada mu tapi tetap saja kamu begitu sulit sekali untuk mau menjadi teman ku” lanjut nya mencurahkan isi hati nya.
Aku heran kenapa dia begitu terobsesi untuk berteman dengan ku padahal pertemuan kita saja terbilang begitu singkat.
“Danu. Pertemuan kita saja hanya beberapa kali, dan kamu pun belum begitu mengenal siapa aku. Mungkin kamu tidak tahu aku sudah bertunangan bahkan aku juga akan menikah..”
“Aku tahu” potong nya dengan memandang ku seolah tidak peduli.
“Aku tahu kamu adalah calon istri Aditya,tapi apa kah salah,kalau aku hanya mau berteman dengan mu?” Tanya nya.
“Salah” jawab ku dengan begitu tenang dan menatap nya dengan dingin.
“Aditya tidak akan pernah membiarkan itu terjadi”
Jawab ku dengan benar-benar pergi meninggalkan nya.
Aku tidak paham,kenapa Danu begitu berani selalu menggangguku padahal dia sudah tahu jika aku adalah calon istri Aditya.
Ketiga teman ku melihat ku yang sudah emosi dan kesal menghampiri mereka.
“Dheb,itu Danu kan?” Tanya Caca terpatung menatap Danu.
“Lo abis ngobrol apa sama dia?” Tanya Caca penasaran.
“Ga penting” jawab ku menatap kembali Danu dengan sinis. Dan dia masih saja memperhatikan ku dan ketiga teman ku. Apalagi sekarang dia tampak memberikan senyuman indah nya kepada tiga teman ku, dengan memperlihat kan lesung pipi yang di miliki nya. Membuat ketiga teman ku tampak meleleh dan bahagia.
“Udah ayok pergi” ucap ku menyeret mereka semua.