Obsessive Love Disorder

Obsessive Love Disorder
Keras kepala!



Kita sampai di depan Apartemen ku. Aku turun dari mobil Sisil dan melambaikan tangan kepada mereka.


“Bye kalian”


“Bye Dhebi”


Mobil Sisil melesat begitu cepat menghilang dari pandangan ku.


Aku sangat bahagia akhirnya aku bisa melepas rindu dengan semua teman ku. Sejak saat aku pergi ke Bandung belum pernah sekali pun lagi aku menghabiskan waktu dengan mereka seperti ini, sekali nya bertemu kita hanya makan bersama di kantin kampus. Mereka tidak pernah menuntut ku untuk seperti dulu,karena mereka tahu aku sudah banyak kesibukan yang membuat ku pasti lelah,aku mencintai mereka.


Aku berjalan menuju Apartemen ku dengan terus menunduk memperhatikan jalan yang aku pijak dan tidak melihat kedepan,ternyata sudah ada seorang pria yang telah menunggu ku disana.


“Kemana aja sih kamu?” Ucap seorang pria yang berdiri tegap di hadapan ku.


Aku begitu terkejut seperti telah melihat hantu di hadapanku.


“Aditya?!” Bisik ku dengan mata melotot tak berkedip sedetik pun.


Aditya berdiri dengan tegap dan dengan raut wajah yang begitu kesal.


“Kamu dari mana aja? Kenapa baru pulang?” Oceh nya membuat aku mengerutkan kening ku.


“Kamu ngapain disini?”


“Aku nunggu kamu dari tadi siang”


“Untuk apa?”


“Untuk ketemu kamu!”


Aku semakin tak mengerti dengan apa yang di ucapkan nya. Apakah dia lupa bahwa tadi malam dia telah bertunangan. Dan apa dia lupa dia sudah bersikap begitu menyeblakan kepadaku,dan malam ini dia berdiri di hadapan ku dengan tanpa bersalah sedikitpun.


“Kamu gila ya? Kamu baru aja tunangan tadi malem di, sekarang kamu malah disini nemuin aku?”


“Lalu kenapa?” Ucap nya yang mulai dengan sikap menyebalkan nya lagi.


Wajah Aditya terlihat begitu pucat. Mata nya begitu sayu, bibir nya kering dan dia terlihat begitu lemas.


Aku menghampiri nya dengan cemas.


“Kamu sakit?” Tanya ku dengan memegang kening nya.


“Astaga Di, badan kamu panas banget”


Suhu badan Aditya begitu panas, pantas saja dia terlihat begitu pucat dan lemas.


“Kamu lagi sakit,kenapa ga pulang aja sih?”


“Aku udah minta supir aku untuk pulang”


Aku menggelengkan kepala ku melihat tingkah laku nya yang sama sekali tidak berubah. Aditya terlihat begitu lemas tak berdaya, dia terus terbatuk batuk kesakitan.


Aku berdecak kesal melihat nya, kenapa bisa aku melihat dia kasihan seperti ini.


Aku menarik baju nya masuk kedalam Apartemen. Aku tidak habis fikir dengan apa yang di lakukan Aditya saat ini. Kenapa dia begitu nekat menghampiri ku? Padahal berita dia hari ini sedang panas-panas nya di sorot di berbagai media. Aku takut jika ada yang melihat dia ada di Apartemen ku dan membuat ku ikut tersorot dalam beritanya. Aditya memang sudah gila.


Aku membiarkan dia masuk ke Apartemen ku. Dan dia langsung duduk di sofa tanpa ku beri izin dulu, dia terlihat menidurkan kepala nya di sofa dan memejam kan matanya.


Dia benar-benar demam. Kenapa dia harus pergi kesini ? Dia fikir ini rumah sakit?


Aku terus bergumam dalam hatiku.


Aku memasak air hangat di atas kompor ku. Pergi ke kamar dan menaruh semua barang-barang ku di atas kasur.


Aku membuatkan dia air hangat untuk mengompres kepala nya.


“Kamu nyusahin banget sih” kesal ku dengan mengompres kening nya dengan handuk kecil.


Mata nya masih terpejam tak menggubris ocehan ku.


“Kenapa kamu ga langsung pulang aja? Atau ngga ke rumah sakit aja biar langsung di tangani?”


“Atau ngga kamu kan bisa hubungi Lucy buat bantu kamu” ucap ku menyinggung tentang Lucy.


Dia membuka matanya dan melirik ku dengan perlahan.


“Aku ga butuh bantuan Lucy untuk ini”


“Kenapa? Dia kan tunangan kamu” sindir ku.


Tatapan dia begitu tajam kepadaku walaupun di keadaan dia sedang tidak berdaya seperti ini,tatapan nya tetap menyeramkan.


“Lucy ga akan pernah bisa seperti ini”


Aku rasa jawaban dia tidak masuk kedalam topik yang sedang kita bicarakan. Aditya membahas tentang hal lain selain mengurus dia yang sedang sakit sekarang. Dia menyindir Lucy yang tidak pernah berhasil untuk menjadi seperti aku.


Aku tak lagi bicara dan kembali mengompres kepala nya yang masih menengadah di atas sofa.


“Kenapa di?” Tanyaku akhirnya penasaran dengan pertanyaan yang selama ini belum terjawab oleh ku dan Lucy.


“Kenapa kamu ga bisa buka hati untuk dia?”


“Karena dia bukan kamu”


“Kenapa harus aku?”


“Karena kamu punya segala nya yang aku ingin kan”


“Apa yang aku punya dan Lucy tidak ? Padahal dia bisa saja punya segala yang dia mau” kesal ku yang sudah tak tertahan kan.


“Kenapa kamu mau tau ?” Tanya nya dengan sinis menatap ku.


“Kamu mau kasih tau Lucy tentang itu?” Sindir nya mengingat kesalahan beberapa waktu lalu yang telah ku perbuat kepadanya.


Aku kembali diam dan tak menjawab nya. Padahal aku sudah berjanji untuk tak membantu Lucy lagi tentang itu, namun Aditya pasti tidak akan percaya.


Dia tertidur di sofa ku dengan terduduk. Dia terlihat begitu lelah dan lemah. Aku menyisir seluruh wajah nya yang selama ini aku rindukan. Kenapa aku bisa merindukan dia selama ini? Padahal Aditya sudah sangat menyakitiku. Kenapa bisa aku sulit untuk melupakan nya ? Padahal dia sudah memiliki orang lain di hidupnya,dan kenapa dia begitu mencintai aku dan sulit juga melepaskan ku padahal ini sudah berjalan hampir 1 tahun?


Aku mengingat kejadian kemarin malam di Bali. Ciuman dari Aditya masih terasa di bibirku. Aku teringat dengan cerita nya tadi malam, aku baru tahu jika dia trauma memakan kepiting dan bukan tidak bisa memakan nya, dan dia hampir mati karena itu. Dan aku malah terkesan memaksa dia untuk kembali suka dengan kepiting. Pantas saja dia bisa curiga dengan Lucy yang tiba-tiba membuatkan dia kepiting saus padang di Apartemen nya karena mendapatkan info dariku. Pantas saja Aditya langsung curiga.


Aku membiarkan dia tertidur di sofa,aku memberikan dia selimut cadangan ku dan aku pergi kamar untuk tidur.


Andre masih belum ada kabar sampai saat ini kepadaku. Apa dia benar-benar marah karena semua ini ? Aku tak berani menghubungi nya lebih dulu,biarlah Andre merasa cukup tenang untuk kembali menghubungi ku. Lagian,aku tidak bisa berkomunikasi dengan Andre saat Aditya masih ada disini.


Keesokan harinya aku membuatkan sarapan untuk ku dan untuk Aditya. Dia sudah bangun lebih dulu dari pada aku. Aku segera membuatkan dia bubur dan menaruh nya di depan meja nya.


“Makan!” Pinta ku dengan ketus dan kesal.


Dia mengambil mangkuk itu dan memakan nya dengan malas.


Aku masuk lagi kedalam kamar untuk bersiap bekerja. Aku keluar dari kamar ku dengan menggantungkan tas selendang di bahuku.


“Kamu mau kemana?” Tanya nya ketika melihat ku memakai sepatu di kursi meja makan.


“Ya aku mau kerja lah. Aku minta kamu pulang hari ini,dan pintu Apartemen ga perlu kamu kunci cukup di tutup aja”


“Aku ga akan pulang” Ucap nya dengan dingin tanpa menoleh ku dengan sambil menyantap bubur hangat itu.


Aku diam menatap nya tajam.


“Kamu harus pulang Di,kamu ga bisa diem disini terus”


“Kenapa?”


“Aku harus kerja, dan kamu lagi sakit, ga mungkin kamu diem disini sementara ga ada yang urusin kamu. Dan yang pasti,aku udah ga mau lagi urusin kamu” ketus ku dengan tegas.


“Aku bisa urus diri aku sendiri”


Dia masih saja keras kepala. Sedang sakit seperti ini pun dia masih tampak menyebalkan.


Aku berdecak begitu kesal tidak tahu lagi harus bagaimana untuk mengusir nya,aku benar-benar merasa tidak aman jika Aditya masih terus diam di apartemen ku. Tapi aku pun tau Aditya,jika dia bilang tidak berarti tidak,sulit sekali untuk membantah keras kepalanya.