
Hari-hari telah berlalu. Aku dan Andre semakin intens menjalani hubungan.
Hubungan kami memang masih belum jelas, namun Andre tak pernah memaksakan perasaan ku untuk memberikan kejelasan. Andre juga sering mengatakan jika dia sudah bahagia dengan adanya aku di samping nya. Itu membuat ku semakin menyukai nya, dia begitu pengertian dan begitu peduli kepdaku tidak menuntuk ku untuk mau mensahkan diri menjadi pacarnya.
Dia pun mengerti jika aku belum siap untuk si publikasi di sosial media nya. Aku belum siap untuk di kenal oleh banyak orang.
“Dheb, aku ada undangan tunangan dari temen aku” Ucap Andre di Apartemen ku.
Aku sibuk di dapur untuk membuatkan dia makan malam.
“Undangan ?”
“Iya acaranya di Bali deket Villa aku”
“Pinggir pantai dong”
“Iya memang, acaranya di hotel besar di Bali”
“Kapan?”
“Minggu depan, kamu bisa ya? Aku pesenin tiket sekarang”
“Aku liat dulu schedule aku Ndre,aku takut ga bisa”
“Ayolah Dheb” rengek nya dengan wajah yang memelas.
Dia berjalan mendekati ku dan diam di samping ku.
“Kita cuma sehari aja disana, datengin acara tunangan lalu pulang”
Aku melirik Andre yang masih saja memelas. Lalu aku tertawa melihat wajah lucunya.
“Iya iya iyaaa” akhirnya aku menyerah.
“Yes !! aku pesen tiket sekarang” serunya dengan bahagia.
Andre segera mengambil handphone nya dan dengan semangat dia langsung memesan tiket pesawat saat itu juga.
“Temen kamu orang Bali?” Tanya ku dengan tangan yang masih sibuk memasak.
“Temen aku nya orang Jakarta tapi cowo nya orang Bali”
Aku menganggukan kepalaku.
“Eh kamu inget kan sama Lucy?” Tanya Andre membuat ku terpatung.
“Iya aku inget” jawab ku dengan ketus.
“Iya yang tunangan itu Lucy sama pacar nya Aditya”
Aku menjatuhkan spatula ku ke lantai dengan refleks. Aku terkejut mendengar nama Aditya di sebutnya.
“Kenapa Dheb?” Panik Andre menghampiri ku.
Aku berusaha menyembunyikan rasa kaget ku di depan Andre. Aku tak ingin dia melihat ku yang menjadi salah tingkah.
“Ngga, gak apa apa” gagap ku terus berusaha tenang.
Dia membantu membawakan spatula di lantai, dan aku lanjut memasak.
“Ndre kayak nya aku ga bisa ikut ke acara tunangan temen kamu itu”
“Kenapa?” Heran nya karena tiba-tiba saja aku berubah fikiran.
“Aku ada kerjaan ternyata, aku baru inget”
“Dhebiii, please aku ga mau kesana sendiri”
“Andre, kamu bisa ajak yang lain”
“Ga ada Dheb, ya udah kalo kamu ga mau ikut aku ga akan pergi”
Ancam nya sambil menjauh dari ku dan duduk di sofa dengan raut wajah yang kecewa.
Andai Andre tahu orang yang selama ini aku ceritakan adalah Aditya dia pasti tidak akan memaksaku untuk ikut. Aku sangat tidak ingin bertemu lagi dengan Aditya,dan bahkan aku tidak pernah mengharapkan untuk bisa menyaksikan kebahagia dia dengan wanita yang selama ini di sembunyikan Aditya dari ku. Namun aku tidak mau membuat Andre kecewa,dan aku juga tidak ingin membuat dia semakin curiga kepada Aditya.
“Iya oke” ucap ku akhirnya membuat Andre melirik ku.
“Oke aku ikut, tapi janji kita langsung pulang ya”
Dia kembali tersenyum bahagia.
“Aku langsung pesen tiket sekarang,dan kamu ga bisa berubah fikiran lagi ya” ucap nya dengan serius.
Aku menggelengkan kepala ku dan tertawa melihat tingkah laku Andre yang begitu bahagia.
Aku lanjut memasak dengan fikiran yang berkecamuk di dalam kepala ku. Apakah semua akan baik-baik saja ?
Hari berikut nya aku masih termenung di depan jendelaku. Memeluk kedua lutut ku dan memandang keluar jendela merasakan dingin nya malam itu. Hujan turun cukap deras malam itu, membasahi jendela kaca ku. Aku kembali mengingat Aditya.
Dia akan bertunangan dengan Lucy akhirnya, jika selama ini Aditya menyangkal memiliki hubungan dengan Lucy kepadaku sekarang ternyata Aditya bertunangan dengan nya. Dia tidak bisa lagi mengelak,apalagi hubungan ku dengan Aditya sudah lama sekali berakhir.
Padahal dulu dia begitu meyakinkan ku jika dia tidak memiliki perasaan apapun kepada Lucy, dia meminta ku untuk percaya bahwa itu hanya sandiwara demi reputasi nya. Tapi sekarang, semua alasan nya sudah tak bisa lagi di percaya sebagai settingan.
Handphone ku berbunyi. Sebuah pesan masuk dengan nomor yang tak ku kenal.
‘Terimakasih untuk semuanya Dheb, aku tidak akan bisa sejauh ini jika bukan karena kamu’
Begitu sesak aku membaca pesan itu. Aku telah membantu dia sejak lama sekali. Dia selalu meminta pertolongan kepada ku tanpa tahu wajah ku yang mana. Dia hanya tahu nama ku namun tidak pernah tahu wujud asli ku. Tapi dia percaya, walupun kita tidak pernah bertemu dia merasa bahwa aku ini adalah orang baik,dan dia yakin aku pasti akan bersedia menolong nya untuk mendapatkan keinginan nya. Dan bantuan ku selalu berhasil,dia akhirnya bisa mendapatkan keinginan nya.
Hari itu telah tiba. Hari dimana Aditya dan Lucy akan bertunangan. Aku harus tegar, aku harus siap menyaksikan semua nya. Aditya juga harus tahu, jika aku sudah melupakan nya, dia akan melihat ku disana bersama Andre.
Jantung ku berdebar hebat ketika aku dan Andre melajukan mobil ke Hotel dimana acara pertunangan teman nya itu di gelar. Aku memakai dress khusus yang di buatkan Andre untuk acara ini. Dress berwarna biru laut, berlengan seperempat dengan boat neck yang memperlihatkan kedua bahu dan dada mulus ku. Dress ini panjang nya selutut ku, dan rok mengembang karena berumpak umpak begitu banyak bertumpuk sehingga membuat baju ini mengembang.
Rambut ku di buat keriting oleh perias Andre di Villa nya tadi, dan di ikat setengah dengan di buat messy namun tampak cantik. Hiasan bunga di tempel di ikatan rambut ku, rambut ku terurai keriting sangat indah.
“Dheb , Are you okay ?” Tanya Andre di dalam mobil.
Karena dia merasa ada yang aneh melihat ku yang terus melamun dan tak bersemangat.
“Aku baik”
“Kamu kayak yang sakit”
“Ngga, aku cuma kecapean aja”
“Ya udah, kita turun ya”
Andre turun dari mobil nya dan membuka kan pintu untuk ku. Dia membuka kan pintu dengan berlagak seperti seorang pangeran yang mempersilahkan tuan putri turun. Aku tersenyum menertawakan nya.
Dia menyodorkan tangan nya membantuku turun. Aku turun dengan hati-hati dan langsung menggandeng lengan nya. Kita berjalan memasuki tenda pesta yang semakin membuat jantung ku berdebar hebat.
Suasa begitu ramai namun tenang. Banyak orang berlalu lalang di sekitar sana dengan pakaian pesta mereka yang begitu anggun dan mewah.
“Dheb kayak nya Lucy lagi ganti pakaian deh kita samperin dia ya”
“Euh ngga Ndre, aku mau makan langsung boleh ga ? Aku laper” ujar ku berbohong.
“Ya udah kita makan dulu” ujar Andre menarik tangan ku.
“Eh kamu langsung samperin temen kamu aja gak apa-apa aku sendiri”
“Kamu gak apa-apa aku tinggal sendiri?”
“Gak apa-apa aku ada di sekitar sini kok”
“Ya udah aku tinggal yah”
Aku mengangguk dengan manis. Lalu Andre pergi ke ruangan dimana Lucy berada. Aku tak melihat Aditya sejauh ini, ini kesempatan ku untuk pergi dari pesta ini dan bersembunyi dari semua orang,rasanya tiba-tiba saja aku merasa belum siap bertemu Aditya lagi. Aku berjalan cepat dengan menundukan kepala ku pergi ke pesisir pantai yang berada tepat di samping hotel ini.
Dan akhirnya aku bisa bernafas lega setelah aku menjauh dari sana. Aku diam menatap laut lepas yang begitu gelap di hadapan ku. Terdengar suara debur ombak yang besar di telinga ku, dan suasana dingin mulai menyelimuti tubuh ku. Aku kembali memejamkan mata untuk menajamkn pendengaran ku kepada ombak-ombak di hadapanku,dan bukan mendengar suara riuh yang ada di dalam tenda pesta jauh di belakangku.
“Masih suka dengan suasa pantai di malam hari?” Tanya seorang pria di belakang ku.
Aku terkejut langsung membalikan tubuhku begitu mendengar suara yang telah lama tak ku dengar itu.
Aditya.