
Esok hari nya Aditya benar-benar menemani ku beraktifitas dari pagi hingga sore hari. Dia mengantar ku menemui pengusaha di sekitar sana. Dia terus berdiri di samping ku dan terus menjaga ku kemana pun aku pergi.
Menjelang sore aku segera pulang kembali ke Villa dan melihat teman ku sudah bersiap untuk kembali ke Jakarta dengan semua barang-barang mereka yang sudah di kemas di dalam koper kecil nya dan juga tas berisi oleh-oleh nya.
“Kalian udah mau pergi sekarang?” Tanya ku.
“Iyalah Dheb. Gua masih ada tugas di kampus besok” ucap Caca dengan menarik koper nya dan di simpan di ruang tamu.
“Kita udah puas banget kok liburan nya” sahut Sienna yang sedang duduk di sofa ruang tamu dengan handphone di tangan nya.
Aku tertawa mendengar ocehan nya.
“Ya udah. Thank ya udah nemenin gue disini,walaupun sebenarnya ga berguna juga ada kalian disini” ledek ku dengan raut wajah yang begitu terlihat malas.
“Yee. Kalo ga ada kita bisa-bisa lo di ganggu terus sama si …” ujar Sisil hampir saja menceritakan tentang Danu yang selalu mengganggu ku.
Namun dia terlanjur di pelototi oleh Caca yang berdiri di belakang Aditya. Mata Caca begitu tajam mengancam Sisil jika saja dia melanjutkan kebodohan nya.
“Sama si tukang pedagang keliling kan?” Sambung Sisil dengan kikuk.
Caca terlihat masih saja memperingati Sisil dengan memicingkan mata kepadanya.
“Pedagang keliling?” Tanya Aditya seperti ragu tak pernah tahu tentang itu.
“Iya Dit. Jadi kemarin ada pedagang keliling yang maksa gitu,jualan hasil tangkapan ikan atau apa gitu terus dia minta Dhebi buat beli jajanan nya. Ngotot banget tu orang bener.” ujar Sienna begitu meyakinkan dengan tak bergerak di tempatnya membantu Caca untuk berbohong.
Sedangkan Sisil terus saja berdiri si belakang Caca dengan raut wajah yang bersalah.
“Emang ada?” Tanya Aditya dengan mengkerutkan kening tak percaya.
“Ada” seru Caca dan Sisil dengan semangat.
“Ada kan Dheb? Kemarin kesini,terus katanya emang dia suka maksa maksa gitu dateng ke setiap pengunjung buat beli jualan nya” ujar Caca terus berbohong.
Aku hanya diam tak bisa berkata apapun. Aku takut Aditya bisa membaca kebohongan ku jika aku ikut bicara.
“Tapi sekarang udah ga ada kok,kita aman sekarang,dia udah ga balik-balik lagi” ujar Sienna dengan tersenyum kaku.
Aditya terlihat menganggukan kepala nya seolah dia percaya walaupun wajah nya masih saja ragu.
“Ya udah kita pergi ya, yuk Sil” ajak Caca menarik tangan Sisil dengan kencang dan terlihat kesal.
Karena Sisil hampir saja membahayakan kami semua.
“Ya udah,supir udah nunggu di depan. Kalian di antar dia nanti ya” ucap Aditya menunjuk supir nya yang sudah menunggu di dalam mobil pribadi nya.
“Oh iya oke thank ya Dit buat semuanya” ucap Sienna.
“Gue juga makasih ya”
“Aman Dit. Kita pulang ya” semua memeluk ku dengan lembut,dan menjabat tangan Aditya untuk berpamitan. Mereka melambaikan tangan kepada kami sebelum mereka masuk ke dalam mobil.
“Bye Dheb”
“Bye kalian,hati-hati ya”
“Iya. Have fun ya”
Lalu mereka meninggalkan ku dan Aditya berdua sekarang.
“Baiklah. Sekarang aku harus mengetik tugas ku dulu agar bisa pergi tenang ke acara pesta teman mu” ucap ku dengan berkacak pinggang.
“Oke” jawab Aditya.
“Aku akan tidur dulu sebentar”
“Oke” lalu Aditya membawa ku masuk ke dalam Villa.
Dia meminta ku mengerjakan tugas di atas tempat tidur,agar dia bisa berbaring di samping ku dan melingkarkan tangan nya di tubuh ku. Dia tertidur dengan lelap dengan memeluk ku yang duduk di samping nya. Aku mengelus kepala nya dan mencium rambut dia yang wangi dan halus itu. Aku langsung menyelasaikn tugas ku dengan mengetik semu hasil riset ku di dalam laptop. Aku berharap usaha ku kali ini tidak akan sia sia,dan akan di terima oleh dosen ku.
Aku keluar dari kamar mandi dengan sudah mengganti baju ku dengan dress yang berwarna biru gelap yang senada dengan Aditya. Seperti biasa aku membuat rambut ku bergelombang indah dan membuat gaya rambut half updo atau menjepit setengah bagian atas rambut dan memberi hiasan di jepitan nya.
Aku bercermin di meja rias dan memakai anting mutiara di telinga ku.
Aditya menghampiri ku dan diam di samping ku. Dia menatap ku di depan cermin.
“Kenapa kamu selalu terlihat cantik seperti ini?” Ujar Aditya dengan raut wajah nya yang dingin.
Aku tertawa dan membalikan tubuh ku.
“Kenapa? Kamu tidak suka?” Tanya ku.
“Aku takut ada orang lain juga yang menyukai mu” ujar Aditya dengan menatap ku sambil tersenyum.
Aku kembali tertawa dengan ucapan nya.
“Kenapa bisa sekarang kamu takut? Bukan nya kamu selalu menghajar semua orang yang berhasil mendekatiku akhir-akhir ini?” Ledek ku mengingat dia tak pernah bisa melihat orang lain berhasil mendekatiku.
“Entahlah,aku merasa kamu semakin cantik setiap harinya. Aku takut ada orang lain yang juga tahu ke istimewaan mu,dan mereka bisa tergila-gila bukan hanya dengan kecantikan mu tapi dengan hal lain yang kamu miliki” ujar Aditya lagi-lagi membuat ku cemas.
Dia seolah merasa jika memang ada orang lain yang tengah menggangguku dan orang itu merasa aku pun istimewa di mata nya.
Aku menyentuh pipi Aditya dengan lembut.
“Tapi aku tidak akan pernah berpaling dari kamu” ucap ku menenangkan nya.
Aditya tersenyum mendengar ucapan ku lalu dia mencium bibir ku dengan lembut.
Aku dan Aditya sudah berada di acara pesta tunangan teman nya. Acara itu di adakan di sebuah gedung hotel yang tampak besar.
“Hay Dit” sapa seseorang yang menghampiri kami.
“Glenn” panggil ku terkejut melihat nya di sini.
“Hay Dhebi” sahut nya memeluk ku.
“Kamu disini?” Tanya ku tak percaya.
“Iya aku juga di undang Dheb. Dan artis-artis lain juga di undang disini” ucap Glenn menyadarkan ku jika di sekeliling ku adalah orang-orang yang begitu tak asing untuk ku.
“Ini acara pertunangan siapa?” Tanya ku cemas.
“Cateline” ucap Aditya.
“Hah?”
Aku begitu terkejut kenapa Aditya tidak bilang jika acara pertunangan itu adalah Cateline, wanita yang pernah di gosipkan dekat dengan nya, dan begitu viral. Aku hanya malu dan takut bertemu dengan kalangan selebritis.
“Ayo samperin dulu Cateline” ujar Aditya terus menggandeng ku.
Aku terus diam tak menjawab nya dan hanya bisa mengikuti Aditya kemanapun dia melangkah.
Glenn pun mengantar kan kami kepada Cateline yang sedang mengobrol dengan teman nya yang lain. Cateline tampak cantik dengan ball gown panjang berwarna emas yang di kenakan nya. Rambut nya juga di gulung rapih dengan indah. Cateline begitu cantik dan anggun.
“Hay Cateline” sapa Aditya begitu menghampiri nya.
“Hay” sapa bahagia Cateline.
Lalu dia menempelkan pipi ke pipi Aditya.
“Hay Dhebi” sapa nya.
“Hay Mbak. Selamat ya” ucap ku ikut mencium pipi nya dengan pipi ku juga.
Dan tak sengaja aku melihat orang yang baru saja berbincang dengan Cateline.
Danu.