
Keesokan harinya,akhirnya aku bisa pergi ke kampus namun aku meminta Sienna untuk tidak mengikuti kelas saat itu.
“Please Syen gue mau cerita” ucap ku dengan begitu memohon kepadanya.
Sienna menatap ku dengan kasihan,dia pasti bisa melihat jika aku bersungguh-sungguh membutuhkan dia.
Lalu kita berdua pergi ke kosan nya yang tidak jauh dari kampus menggunakan motornya.
Di dalam kamar Sienna aku mulai menangis. Sienna memeluk ku sebelum dia tahu apa yang sudah terjadi antara aku dan Aditya.
“It's oke” ucap Sienna dengan lembut,dengan terus mengelus punggung ku.
Aku melepaskan pelukan nya.
“Gue ga tahu harus mulai cerita darimana”
“Ga apa-apa,lo cerita aja gue siap dengerin kok”
“Gue ga tau kalo Aditya ternyata se posesif itu sama gue” ucap ku dengan menahan isakan tangisku yang terus saja mengucur.
Sienna memberikan ku tissue untuk aku menghapus air mata ku.
Aku mulai menceritakan kepada Sienna awal mula Aditya terlihat posesif,lalu menceritakan tentang bagaimana cemburunya dia dengan Zio,lalu mulai bercerita dengan Jimmy,bagaimana Aditya begitu cemburu dengan Jimmy sampai hampir semua barang-barang di sekitar Aditya di lempar,bahkan handphone ku pun di rusak nya. Alhasil sekarang aku masih belum ada handphone. Sebenarnya aku sedikit beruntung karena Aditya belum mengganti handphone ku,jadi aku bisa sedikit merasa bebas dari dirinya yang selalu setiap saat menghubungiku.
“Gue udah ga sanggup Syen” ucap ku dengan mulai menangis lagi.
“Lo sabar yaa, mungkin Aditya perlu waktu buat ngerubah sikap nya”
“Sampai kapan gue harus nunggu? Gue udah ga bisa,gue udah ga tahan sama sikap nya”
“Tapi apa pernah dia lukain lo? Misalnya mukul atau bikin lo memar?” Tanya Sienna memperhatikan tubuhku.
Aku menggelengkan kepala ku.
“Dia sama sekali ga pernah kasar sama gue,dia cuma melampiaskan amarah nya sama barang-barang yang ada di sekitarnya”
Sienna menganggukan kepalanya.
“Berarti dia bener-bener sayang sama lo Dheb,dia ga bisa lukain lo, mungkin itu cara dia nunjukin kalo dia ga mau kehilangan lo”
“Dengan cara bikin gue ga nyaman?” Ucap ku.
Sienna mengangkat kedua bahunya.
“Kalo lo emang udah ngerasa ga tahan dengan sikap dia, lo tinggal pergi kan Dheb”
“Syen lo tuh ga ngerti, Aditya terlalu overprotective sama gue. Gue ga bisa ninggalin dia gitu aja”
“Ya terus gimana?”
Aku menutup wajah ku dengan kedua tangan ku.
“Gue harus cari kesalahan dia sekali lagi,biar memperkuat gue untuk bisa tinggalin dia”
Aku tahu itu bukanlah ide yang bagus, namun tak ada pilihan lain. Aku tidak ingin meninggalkan dia begitu saja tanpa ada kata berakhir nya hubungan. Aku ingin benar-benar menyelesaikan nya namun dengan menyudutkan kesalahan dari dia bukan karena kesalahan ku.
Suatu hari aku menghubungi Glenn untuk menemui ku di sebuah cafe. Dan menceritakan semua pengalaman ku kepadanya. Dan Glenn tidak percaya dengan apa yang aku ceritakan kepadanya,Glenn tidak pernah menyangka jika Aditya se toxic itu menjalani hubungan dengan ku.
“Aku ga nyangka Aditya se posesif itu Dheb” ucap Glenn ketika aku menceritakan semua penderitaan ku kepadanya.
Sama seperti Sienna dia pun tidak percaya jika Aditya sekeras itu kepadaku.
“Aku juga ga pernah tau dia punya sifat kaya gitu”
“Karena selama ini aku ga pernah liat dia beneran punya pacar Dheb, dia itu kaya kaku,kaya males aja punya pacar. Mungkin ini yang di takuti Aditya,kalo dia punya pacar dan pacar nya ga bisa terima dengan pekerjaan Aditya,dia malah memperlakukan pacarnya seperti ini”
“Mas,aku selalu terima bagaimanpun pekerjaan Aditya,aku selalu sabar liat dia dengan wanita manapun di media. Aku ga pernah permasalahin itu,bahkan aku ga pernah ngebahas sedikit pun tentang itu sama dia. Tapi giliran aku dekat dengan laki-laki lain dia malah beranggapan aku macem-macem padahal tidak sama sekali”
“Dia terlalu sayang sama kamu Dheb”
Anggapan nya sama persis dengan Sienna.
“Mas aku tau dia sayang sama aku, tapi aku ga bisa terus terus an jalani hubungan toxic seperti ini, aku ga sanggup”
“Oke kalo gitu aku bisa bantu kamu apa?”
Akhirnya Glenn mau membantu ku setelah penjelasan yang begitu panjang dan meyakinkan. Keputusan ku sudah benar-benar bulat untuk meninggalkan Aditya, dan aku sudah tak bisa lagi menahan nya. Aku tahu ini akan sangat menyakitkan untuk ku atau pun untuk Aditya,tapi aku pun yakin ini adalah pilihan yang terbaik untuk ku.
Beberapa hari telah berlalu. Glenn akhirnya ada menghubungi ku.
Di Club Holly Wings jam 9 malam.
Aku menghela nafas begitu dalam sebelum aku melakukan hal yang akan begitu berat malam ini.
Hari itu Aditya mengatakan jika dia akan ada meeting dengan team project baru nya. Dan aku yakin dia akan pulang larut malam lagi.
Aku bersiap mengganti pakaian ku dengan pakaian yang pantas untuk pergi ke club. Aku melajukan mobil ke tempat yang telah di beritahukan oleh Glenn hari itu. Tempat dimana Aditya berada.
Katanya itu adalah hari ulang tahun Lucy, anak dari pemilik rumah produksi di Indonesia. Si Lucy ini telah menyewa club malam untuk ulang tahun nya dan mengundang beberapa kerabat nya. Aku bisa masuk karena akses dari Glenn yang telah mencatat nama ku di daftar tamu. Glenn tidak bisa menemani ku karena dia datang bersama teman artis lain nya.
Aku sengaja memakai kacamata hitam untuk menutupi wajah ku karena takut jika ada orang yang mengenali ku di dalam sana. Bahkan aku takut jika Aditya sendiri yang memergoki ada disana.
Aku duduk di salah satu meja bundar yang masih kosong di ujung dekat dengan bar tenders.
Aku melirik kanan kiri mencari sosok Aditya. Dia seperti nya belum datang.
Seorang perempuan masuk ke dalam club dan di soraki oleh seluruh tamu undangan. Itu Lucy dengan baju yang begitu sensual dan riasan nya yang begitu cantik elegant.
Aku masih mencari sosok Aditya di sekitar sana dan membuka kacamata ku.
“Hay, boleh duduk disini” ucap seorang laki-laki yang entah dari mana datang nya.
Aku tak menjawab nya namun dia langsung duduk di hadapan ku.
“Aku ga biasa dateng ke tempat seperti ini”
“Kamu dateng sendiri atau dengan artis lain?”
Aku baru mengerti sekarang. Dia pasti mengira aku artis yang telah di undang Lucy di acara private ini.
“Hey” sapa nya dengan melipat kedua tangan nya di meja dan menatap ku serius.
“Club ini sudah gelap,kenapa masih pakai kaca mata hitam”
Aku tersentak dengan ucapan nya. Tujuan ku memakai kacamata hitam ini juga sebenarnya bukan untuk bergaya,demi menutupi diriku dari orang-orang yang akan mengenali ku. Namun dia benar sangat tidak lucu aku memakai kacamata hitam di dalam ruangan yang gelap seperti ini.
Aku membuka kaca mata dengan perlahan dan menaruh nya di meja. Pria itu terpaku melihat ku lalu menyodorkan tangan nya.
“Aku Andre”
Aku menatap nya bingung. Dia mengangkat satu halis nya menungguku untuk menyambut tangan nya.
“Dhebi” sambil bersalaman dengan nya.
“Aku emang bukan artis,jadi pasti kamu ga kenal aku” ujar nya.
“Tapi aku teman baik nya Lucy. Oh iya kamu artis pemain film atau penyanyi?” Tanya nya membuat ku kikuk.
“Bukan kedua nya” ketus ku.
“Oh sorry” dia terlihat menyesal dengan pertanyaan nya sendiri.
“Aku jarang nonton tv jadi aku tidak tau”
Aku melirik nya. Seolah ingin menjawab ‘begitupun dengan aku’
“Tidak masalah kan aku duduk disini? Aku ga ada temen, aku datang kesini juga karena menghargai undangan Lucy”
Aku menganggukan kepalaku dengan ketus dan tanpa menatap nya.
“Mau pesan minum?” Tanya nya.
“Boleh” jawab ku yang masih saja ketus.
Lalu dia menghentikan pelayan yang kebetulan melintas.
“Mas aku mau pesen coklat panas aja ya. Kamu minum alkohol?” Tanya nya menunjuk ku.
“Ngga. Aku pesan coklat panas juga”
Dia tersenyum mendengar ucapan ku dan meminta 2 cokelat panas untuk pesanan nya.
“Kamu ga minum alkohol?” Tanya Andre.
Aku menggelengkan kan kepala ku. Seperti nya Andre menyadari jika aku sedang tidak ingin banyak bicara dengan nya. Lalu dia memutuskan untuk diam dan Andre mengeluarkasesuatu dari tas nya.
“Hp aku mana sih” ujar nya mengoceh sendiri.
Lalu dia menaruh sebuah buku di atas meja dan kembali mencari hp nya di dalam tas.
“Ini dia” lalu Andre kembali mengembalikan buku itu.
Aku melirik judul buku itu ketika ada sedikit cahaya yang bisa membuat ku sekilas membaca judlu buku nya. Mangata.
“Buku itu!” Ucap ku membuat dia terkejut dan terpatung.
“Kenapa?” Tanya nya kaget.
“Euh buku itu boleh aku liat”
Dia memberikan buku yang hampir di masukan nya lagi ke dalam tas.
Ternyata benar buku itu berjudul Mangata. Aku mulai membuka buku itu namun sulit sekali melihat tulisan nya karena terlalu gelap di dalam sana. Lalu sebuah cahaya putih menyinari buku itu. Andre menyalakan flash handphone nya dan mengarahkan cahayanya kepada buku itu. Aku tersenyum kepadanya untuk mengucapkan rasa terimakasih.
Begitu indah rangkaian kata yang di tulis di dalam buku itu. Semua cerita tentang keindahan laut dan suasana alam yang selalu ku kagumi tertulis dalam buku itu.
“Kenapa ? Kamu suka buku nya?” Tanya nya.
Aku melirik nya sebentar,lalu menutup buku itu.
“Mangata itu artinya bayangan..”
“Bayangan bulan di atas air yang terbesit seperti jalanan” potong ku sambil menyodorkan buku nya kembali.
“Aku belum selesai baca buku ini, nanti kalo udah selesai aku bisa kasih pinjam kamu”
“Ga usah,aku udah punya satu dirumah”
“Mangata juga?”
“Swastamita”
“Pemandangan indah saat matahari terbenam” aku terkejut mendengar Andre juga mengetahui tentang buku ku yang berjudul Swastamina.
“Wow kebetulan sekali. Kamu kayak nya pecinta keindahan alam deh”
Aku mulai menyukai percakapan dari orang asing ini. Aku merasa mendapatkan teman satu frekuensi di saat yang tepat seperti ini.
“Aku memang suka travelling apalagi suasana pantai”
“Waw sama dong ,aku juga lebih suka suasana pantai di banding gunung ,ya walaupun sesekali aku sering hiking tapi aku lebih nyaman dengan suasana pantai apalagi di malam hari”
Aku tersenyum mendengar nya.
“Kenapa suka suasana pantai di malam hari?” Aku berusaha mengorek alasan nya,apakah akan sama dengan fikiran ku.
“Lebih damai, suara ombak nya lebih nyaring, angin malam nya lebih enak”
Aku kembali terkekeh mendengar nya. Dan dari situlah aku merasa memiliki teman yang sepemikiran dengan ku. Aku tidak menyangka ternyata ada juga orang yang menilai suasana pantai di malam hari tampak lebih indah.