Obsessive Love Disorder

Obsessive Love Disorder
Awal permasalah antara Aditya dan Andre



Aku dan Aditya sudah berdiri di balkon berdampingan dengan memandang laut lepas di depan kami. Merasakan dingin nya malam itu yang menembus tubuh kami.


“Aku kagum dengan keberanian kamu” ujar Aditya dengan melirik ku. Kita masih ada di dalam suasana ketegangan tadi di meja makan.


Aku menghel nafas ku dengan terus menatap lurus ke depan.


“Aku ingat dengan apa yang kamu bilang saat di basement waktu itu. Kamu merasa Dhebi yang kamu kenal selama ini sudah hilang. Dan aku pun merasa jika memang jati diri ku selama ini sudah hilang,entah sejak kapan. Dan aku berusaha membangun jati diri ku lagi,mengembalikan Dhebi yang dulu,yang berani,tidak pernah takut dengan masalah sebesar apapun yang tengah di hadapi,dia pasti bisa melewati nya,dan akhirnya aku bisa menjadi diriku kembali” ucap ku dengan menyemangati diri sendiri.


Aditya tersenyum bangga mendengar nya.


“Aku senang karena Dhebi ku telah kembali”


aku menatap nya dengan sinis lalu menggelengkan kepala ku sambil tersenyum.


“Permisi tuan muda. Nyonya besar ingin bertemu Anda” ujar seorang pelayan yang tiba-tiba datang menghampiri kami di belakang.


Tentu saja Nyonya besar yang di maksud disini adalah Nenek Aditya.


“Baik. Saya kesana” lalu pelayan itu kembali membungkuk dan pergi.


“Kamu tunggu di sini”


Aku hanya menganggukan kepalaku lalu Aditya pergi.


Aditya pergi menghampiri Nenek nya dan tersisa lah aku sendiri di balkon ini merasakan dingin nya malam itu dan melihat laut lepas yang begitu gelap. Dari sini tentu aku sulit untuk mendengarkan debur ombak,karena jarak yang terlalu jauh.


Aku memeluk diriku sendiri dengan mendekap nya lalu berjalan mengitar balkon itu untuk melihat keindahan pantai di sisi lain.


Seseorang berdiri di hadapan ku dengan memakai jas rapih nya dan tangan yang di masukan ke dalam saku celana nya.


Andre. Raut wajah ku berubah seketika saat melihat nya. Aku masih merasa kesal dengan perbuatan dia dan Papa nya di meja makan tadi.


Aku berusaha melewati nya namun dia menghalangi.


“Ada apa?” Tanya ku sinis.


Dia diam dan hanya menatap ku dengan dingin.


“Kamu cantik dengan gaun ini” sanjung nya menatap ku sayu,namun sama sekali aku tak merasa tersanjung dengan pujian nya.


“Terimakasih. Aku juga baru tahu itu” sinis ku dan kembali berusaha melewati nya.


Dia masih saja menghalangi ku. Aku menatap nya dengan kesal dan membalikan badan ku mencoba mencari jalan lain di belakangku. Andre menahan tangan ku.


Aku menatap tangan nya yang masih berani menyentuh tangan ku. Lalu aku menatap nya dengan sinis.


“Lepaskan!” Pinta ku dengan tegas dan penuh emosi.


“Aku mau bicara” ucap nya menatap ku begitu dalam.


“Apa lagi yang mau di bicarakan? Belum cukup kamu dan Papa mu membuat aku malu di depan Nenek dan orang tua Aditya?” Kesal ku dengan emosi yang tak lagi terbendung.


“Apa benar dengan apa yang kamu ucapkan? Kamu hanya menganggap ku sebagai teman selama ini?” Tanya nya dengan raut wajah yang kecewa.


Aku menyilangkan kedua tangan ku di dada dan berdiri dengan tegas di hadapan nya.


“Kamu mengharapkan apa?” Ucap ku dengan sinis.


“Selama ini aku memang menganggap mu hanya sebagai teman baik”


Tatapan nya seolah tak percaya dengan pernyataan ku.


“Aku sudah menemani kamu selama ini,aku selalu memberikan kebahagiaan untuk kamu,bahkan di saat kamu sedih pun aku yang selalu ada untuk kamu. Apa kamu tidak pernah memiliki perasaan sedikitpun untuk aku?”


Dia bertanya dengan bersungguh-sungguh. Dia terlihat kecewa dan tak percaya.


Aku menatap nya cukup lama. Mengingat kebersamaan aku dan dia selama ini. Apa yang di ucapkan Andre memang benar. Selama Aditya tidak ada,Andre lah yang menjadi pengganti nya selama ini. Mata ku mulai basah mengingat semua itu.


“Ndre. Aku pernah mempercayai kamu,aku juga pernah menilai kamu berbeda dengan pria yang lain,bahkan aku juga pernah berfikir untuk membuka hati sepenuh nya untuk kamu. Tapi itu semua hampir. Belum sempat aku membuka hati untuk kamu,aku harus mengetahui kenyataan pahit tentang kamu. Kamu tidak pernah tulus menyayangi aku,kamu hanya terobsesi dengan perasaan yang kamu punya, dan kamu terlalu terobsesi untuk memiliki aku sampai menyingkirkan orang-orang yang juga memiliki perasaan untuk aku. Kamu sebenarnya tahu bahwa perasaan yang aku punya bukan lah untuk kamu,tapi kamu menutupi kebenaran itu dan memaksa ku untuk menerima kamu”


Andre merenungi ucapan ku. Dan terlihata tidak terima dengan semua kebenaran yang aku ucapkan.


“Kenapa harus Aditya yang selalu mendapatkan kebahagiaan sedangkan aku tidak” kesal nya tanpa menatap ku.


“Andre. Kebahagiaan itu tidak bisa di paksakan,dia akan datang dengan sendiri nya asalkan kita mau membuka mata dan hati kita. Kebahagiaan itu tidak melulu tentang harta dan cinta,tapi dia juga bisa berasal dari keluarga,teman bahkan hal yang kita sukai. Aku tahu kamu begitu mencintai karir kamu sebagai penulis,tapi kamu tidak bisa membantah keinginan orang tua kamu untuk menjadi pengusaha, tapi kamu coba tanya kepada diri kamu sendiri,apa kamu akan bahagia dengan melakukan keinginan orang tua kamu? Apa kamu akan bisa meninggalkan semua karir kamu yang sudah kamu gapai sejauh ini?”


Andre diam tak menjawab nya. Dia terus memikirkan kata-kata aku.


“Kamu tidak akan pernah mengerti Dheb. Selama ini keluarga ku begitu mengharapkan aku bisa menjadi seorang pengusaha besar. Dia tidak pernah menyetujui ku sebagai seorang penulis. Dan sejak kecil Kakek dan Nenek memang hanya lebih memperhatikan Aditya di bandingkan aku. Aku selalu merasa kurang di Bandingkan Aditya”


Dia terlihat kesal mengingat hal itu.


“Kamu tahu ? selama ini Aditya telah menyesal memilih jalan nya sebagai artis entertainment. Dia terpaksa memilih jalan menjadi artis karena dia kira memiliki pilihan itu akan membuat dia menjadi bebas. Dia sudah lelah sejak kecil harus di atur oleh keluarga nya,dia berontak dan mengatakan kepada keluarga nya bahwa dia bisa hidup dengan bahagia dengan pilihan nya. Tapi kamu lihat kenyataan nya kan ?Banyak sekali masalah yang harus di lalui Aditya,dia tidak pernah merasa tenang,pasti kamu juga tahu apa saja masalah yang sudah menimpa Aditya selama ini,dia tidak ingin di atur oleh keluarga nya,tapi setelah menjadi artis dia malah lebih banyak di atur orang lain yang bahkan dia pun tidak kenal”


“Dan kalau kamu kira Aditya lebih mendapatkan perhatian dari Kakek sementara kamu tidak,kamu salah. Aku tahu sejak kecil kamu sudah gemar membaca dan menulis Ndre sehingga membuat kamu bisa diam terus di rumah tanpa perlu penjagaan ketat,tidak seperti Aditya”


Aku menceritakan kembali cerita dari Mama Aditya ketika pertama kali aku dan dia berbincang di balkon ini minggu lalu saat pertama kali kita bertemu di rumah Nenek dan Mama Aditya menceritakan masa kecil Aditya dan Andre. Sejak kecil Aditya paling di perhatikan oleh Kakek dan Nenek nya karena Aditya tidak memiliki kesibukan apapun di rumah sehingga dia sering kali bosan dan terus kabur-kabur an dari rumah. Sementara Andre dari umur 9 tahun dia sudah senang membaca buku,dia memiliki bakat yang di turun kan dari Kakek ibu nya,dan itu semua membuat Andre bisa diam terus di rumah tanpa perlu pengawasan ketat seperti Aditya.


“Aditya memiliki perhatian khusus karena sejak kecil dia selalu memberontak tidak ingin di atur orang lain. Dia merasa kehidupan nya membosankan bahkan sampai dia besar,dia selalu mengeluh karena banyak di atur keluarga nya,sehingga Kakek nya mencoba memberikan perhatian khusus kepada Aditya,agar dia mengerti, jika keluarga nya seperti itu bukan lah bermaksud untuk membatasi nya tapi karena keluarga nya ingin yang terbaik untuk dia. Sampai Aditya beranjak dewasa,Kakek mengajak Aditya untuk melihat bisnis nya. Dan tanpa Aditya sadari sedikit demi sedikit dia mengerti tentang apa yang di ceritakan Kakek tentang bisnis itu. Dan sekarang bukan tanpa sebab kenapa Kakek nya memberikan bisnis itu kepada Aditya”


Andre terlihat begitu meratapi kisah ku. Mata nya berlinang namun dia berusaha untuk tak meneteskan nya.


Aku menghampiri Andre dengan raut wajah ku yang ikut bersedih melihat nya. Aku menggenggam tangan Andre dengan lembut walaupun Andre tak mau menatap ku langsung.


“Kamu bisa memilih jalan hidup kamu sendiri Ndre. Hanya saja kamu harus bisa meyakinkan orang tua kamu jika menjadi penulis pun bisa membuat kamu akan menjadi besar. Mereka hanya harus mempercayai itu”