Obsessive Love Disorder

Obsessive Love Disorder
Upacara adu tombak



Keesokan paginya kita berkumpul di Restaurant untuk mendapatkan sarapan pagi. Aku dan teman teman ku beriringan mengambil makanan di meja hidangan.


Aku melihat Aditya yang sudah duduk dan makan di salah satu meja dengan semua teman artisnya. Dia melihat ku dengan dingin, aku langsung memutarkan bola mataku begitu mata kami bertemu. Menunjukan betapa malas nya aku bertemu dengan nya.


Setelah membawa sarapan ku ke meja, aku pergi membasuh tangan ku ke wastafel dan seseorang mengejutkan ku dengan ikut membasuh tangan nya di samping ku. Aditya.


“Aku minta maaf” ucapnya dengan pelan.


“Untuk?” Tanya ku dengan ketus tanpa menolehnya.


“Semalem aku ga bermaksud buat bikin kesel”


Aku mengeringkan tangan ku di hand dryer.


“Kamu ga salah, mungkin biasanya memang wanita wanita di sekitar kamu banyak yang ke GR an dan memanfaatkan kedekatan dengan kamu, tapi kamu tenang aja, aku bukan salah satu dari mereka”


Aku meninggalkan senyuman yang begitu sinis kepadanya lalu pergi. Dan dia masih diam terpatung di tempatnya.


Setelah selesai sarapan,kita diminta untuk mendengarkan pengumuman dari Mas Dias untuk jadwal kepergian kita selanjutnya.


“Oke untuk hari ini kita akan mengunjungi ke berbagai titik dengan berpencar seperti apa yang sudah di rencanakan Dhebi”


Kita semua memperhatikan tapi dengan melanjutkan makan.


“Hari ini kita akan bagi masing masing team dengan tempat yang berbeda untuk kebutuhan promosi film”


“Dheb!” Panggil Mas Dias.


Aku bersigap mendengar Mas Dias memanggil nama ku.


“Iya mas?”


“Aku minta data sekarang ya, masing-masing dari team kamu akan berpencar menemani para aktor untuk fhoto di tempat-tempat yang menakjubkan di Sumba, itu boleh di penduduk desa,bisa di pantai, tebing, utan atau lain-lain. Pokok nya tempat-tempat yang menurut kamu bagus untuk memperkenalkan Sumba kepada semua orang yang menonton”


“Oh oke mas”


“Bisa langsung tentukan sekarang pembagian team dan tempatnya? Usahakan setiap masing masing pemandu dengan suasana berbeda yaa,ada yang di pantai misalnya,satu nya lagi pemukiman tradisional,satu nya di dalam hutan pokoknya suasana nya berbeda aja”


Aku langsung membuka catatan ku dan memilih beberapa tempat yang diminta Mas Dias.


“Iya mas, nanti Sisil ke Waikelo Sawah,itu seumber mata air yang besar, terus Caca ke Laguna Weekuri yang kaya danau Amazon itu” aku terus membulak balikan catatan ku memilih tempat yang tepat.


“Lalu Sienna ke Desa Kampung Tarung dan aku..” ucapan ku menggantung mengingat sesuatu sambil membaca catatan ku.


“ke acara Pasola mas,upacara adu tombak di wanokaka” ucap ku hati-hati.


Semua orang merenyitkan dahi.


“Adu tombak?”


Bukan Mas Dias saja yang terheran, semua orang yang mendengar pun pasti heran. Bahkan teman teman ku pun saja bingung untuk apa aku kesana.


“Itu acara adat Sumba mas, acara itu di adakan setiap bulan Februari dan Maret,dan kebetulan sekarang bulan februari kan? pasti ada acara Pasola disana. Dan menurut aku dengan menyaksikan dan berfhoto di acara Pasola itu,kita bisa memperkenalkan adat Sumba yang hanya di lakukan sekali dalam setahun”


“Acara adat?”


Aku menganggukan kepala ku.


“Bagus juga ide kamu. Kamu bener,jadi kita bisa memperlihatkan adat dari Sumba yang jarang sekali terdengar kan,bahkan pasti banyak yang tidak tahu dengan acara Pasola itu”


Aku tersenyum mendengar persetujuan nya. Dan semua orang yang mendengar pun tidak mengajukan protes.


“Oke sekarang keputusan kalian mau ikut kemana? Coba Andhika ?”


Ucap Mas Dias kepada Andhika yang masih terlihat sedang berfikir.


“Kayaknya aku lebih suka ke Waikelo Sawah deh, itu sumber mata air besar kan ya, yang ada gua terus tebing2 besar gitu?” ujar Andhika , aku mengangguk.


“Kalo aku ke pantai,apa tadi namanya Laguna Weekuri” ucap artis yang bernama Leonita.


“Nah gue juga kesitu aja yaa” diikuti mba Catelin yang super cantik dan seksi.


Catelin ini adalah wanita yang di pasangkan oleh Pak Sutradara menjadi lawan main dari Aditya.


“Gue ke acara Pasola” ucap Glenn dengan senyum yang manis saat melihat ku.


Tidak tahu kenapa, aku merasa lega jika Glenn yang akan aku temani ke acara Pasola,karena dari semua artis yang disana aku lebih nyaman dengan dia.


Maksud dari nyaman ku bukan ke arah lain,hanya saja aku merasa luas jika di dekat Glenn,kita masih bisa mengobrol santai atau berbicara tanpa sungkan,dan aku memang merasa nyambung jika berbicara dengan dia.


“Mmhh Glenn,Kayak nya lo ke desa adat lokal deh”


Ujar Mas Dias membuat Glenn mengerutkan kening.


“Lo kan duta lokal. Lo itu paling di kenal ramah dengan penduduk lokal di penjuru indonesia, lo lebih pantes ke KampungTarung kalo menurut gue, disana pasti lebih banyak adat istiadat nya deh,lo jadi bisa lebih mudah berbaur sama penduduk Sumba”


“Loh tapikan upacara Adu Tombak itu juga pasti banyak penduduk lokal” tangkis Glenn.


“Ya beda lah, itu kan Festival paling juga cuma fhoto doang situasi nya kaya gimana terus paling cuma nonton,nah kalo terjun ke penduduk lokal nya langsung lo bisa sekalian wawancara bikin potongan video buat pembukaan film kita nanti,terus lo bisa tanya-tanya tentang keseharian mereka kaya gimana”


Glenn menyandarkan punggung nya ke kursi dengan malas.


“Kayak nya yang pantes ke acara adu tombak itu lo deh dit” ucap Mas Dias membuatku benar-benar terkejut.


Mataku langsung terbuka lebar dan melirik Aditya yang ada di depan ku.


Hatiku terus berkata ‘Please jangan mau ,jangan mau jangan mau’ berharap dia akan mendengar isi hatiku.


“Oke”


Tubuhku lemas seketika mendengar dia menyutujui saran Mas Dias.


Aku melirik Aditya menatap dia begitu tajam dan kesal,dia mengangkat halis nya dan mengangkat dagunya, seolah bertanya ‘kenapa?’ Kita seperti sedang berbicara lewat telepati. Dia tentu bisa lihat jika aku keberatan,tapi dia seolah tidak perduli.


Kita mulai berpencara dengan masing-masing team yang sudah di tentukan. Dan betapa sialnya aku harus kembali menemani Aditya seharian ini,padahal rasa kesal tadi malam saja masih begitu terngiang di kepalaku.


Perjalanan kami di antar dengan memakai mobil yang tadi malam aku tumpangi dengan Aditya untuk mencari kepiting. Namun kali ini, yang menyetir adalah asisten Aditya, dia yang akan memotret Aditya disana dan membantunya untuk mencari spot fhoto.


Seperti biasa, di sepanjang perjalanan begitu hening sekali di dalam mobil, tidak ada yang berbicara satupun ,Aditya sibuk dengan ponsel nya, sang supir sibuk memperhatikan jalan, dan aku tentu saja sibuk menyaksikan pemandangan yang tengah ku lewati. Aku berusaha menutupi rasa kesal ku dengan terus menatap pemandangan indah di sekitar ku.


Aku merasa Aditya memperhatikan ku lewat spion yang ada di tengah bagian depan itu,tapi aku enggan untuk memastikan,aku terus berusaha untuk tak melirik nya karena aku takut di sebut lagi GR oleh nya.


Sesampainya di sebuah desa kecil nan indah, kita berjalan mengikuti arah sang penduduk desa ke tempat Pasola berada.


Dan ternyata tempat Pasola atau Adu Tombak itu di adakan di halaman luas berumput segar hijau dan berada tepat di atas tebing, yang pasti menyuguhkan pemandangan laut yang begitu indah.


Sudah ada yang berkerumun melingkari lapangan hijau itu. Aku langsung berlari mendekati kerumunan dan berdiri di barisan paling depan, di ikuti Aditya dan rekan nya.


“Udah mulai emang?” Tanya nya.


Pertandingan itu di lakukan oleh dua orang suku sumba asli dengan menaiki kuda dan memakai pakaian adat sumba ,juga tombak di tangan nya. Katanya, acara ini di percaya demi menyuburkan tanah mereka dan menghibur para dewa dewa marapi demi kesuburan panen yang sukses. Setiap daerah pasti memiliki kepercayaan nya masing-masing,dan di Sumba ini adalah salah satu adat istiadat yang cukup mengesankan untuk ku,karena mereka begitu mendalami peran sebagai seorang pahlawan dengan baju adat yang sangat terlihat zaman dulu sekali, dan konon katanya dulu,acara Pasola ini bisa sampai meregut nyawa,akan tetapi di era sekarang acara ini hanya untuk sebagai mengenang masa di kerajaan dulu,jadi paling hanya bercanda saja tidak sampai betul melukai lawan nya.


Acara pun dimulai. Dua kuda berada saling jauh di kedua sisi,lalu ketika aba-aba di mulai,kuda mereka langsung berlari begitu saja mendekati satu sama lain dengan cepat,para ksatria itu terlihat memegang tombak nya dengan di posisikan kedepan seolah-olah mereka akan menusuk satu sama lain dan satu tangan memegang perisai untuk melindungi diri. Aku masih santai menonton acara yang aku kira hanya sebuah festival sampai ketika mereka semakin mendekat satu sama lain tombak itu tidak di hindarkan dari lawan nya,dan begitu terkejutnya aku ketika melihat mereka berusaha saling melukai satu sama lain,aku tidak tahu jika acara ini adalah acara serius.


Semua orang bersorak dan bertepuk tangan,namun tidak dengan aku,aku menonton nya dengan perasaan takut dan panik. Lalu,salah satu dari mereka mengambil ancang ancang untuk mulai melawan, dengan memposisikan tombak mengarah ke lawan nya lalu menendang kuda untuk segera berlari. Aku tidak sanggup melihatnya,aku langsung menarik baju Aditya di samping ku, membenamkan wajah ku di dalam dadanya. Awalnya Aditya hanya diam, namun akhirnya dia memegang kedua bahuku berusaha melepaskan ku,namun sekuat tenaga aku menarik baju nya untuk bersembunyi.


“kamu ngapain sih!”


Aku terus membenamkan wajahku di dadanya.


“Dheb kamu jangan nyari kesempatan ?”


Ujarnya dengan kesal.


Namun dia merasakan ada yang aneh, dia merasa tangan ku bergetar dan tubuhku mulai lemas.


“Dheb,kamu kenapa?” Tanya Aditya terdengar cemas.


“Aku takut darah” ucapku dengan lirih dan lemah. Aditya terkejut mendengar ucapan ku lalu dia membawa ku menjauhi kerumunan, dan duduk di salah satu rumah adat di sekitar sana.


Aditya memberikan ku segelas air minum yang di dapatnya dari rumah itu,dia membaringkan tubuhku di dalam rumah penduduk disana,membiarkan aku beristirahat dan aku tertidur.


Beberapa menit kemudian akhirnya aku tersadar, aku mengerjapkan mataku sedikit demi sedikit. Memegang kepalaku yang terasa masih pusing dan bangun dari tempat tidurku yang terasa kasar ini. Aku memperhatikan sekitar ku,berusaha mengingat apa yang terjadi sebelum nya. Setelah mengingat semuanya aku berdiri dan hendak keluar dari rumah adat itu.


Cahaya dari luar membuat mataku silau. Terlihat masih ramai di luar sana,ternyata acara Adu Tombak masih berlangsung. Aku melirik kanan kiriku mencari sosok Aditya ataupun assistant nya. Tapi tidak terlihat mereka di sekitarku, aku berusaha menanyakan kepada penduduk di luar rumah itu.


“Hey pak, maaf apa liat Aditya ?” Berharap orang itu selalu menonton tv dan tahu Aditya yang aku maksud yang mana.


“Orang yang tadi gendong adik kesini?” Ujarnya, aku mengangguk kebingingan


“Oh dia di sana dik, lagi ikut acara Adu Tombak”


“Hah ikut acara adu tombak?” Teriak ku.


Lalu dengan cepat aku berlari ke tengah kerumunan mencari Aditya. Aku heran kenapa dia mau melakukan hal yang berbahaya seperti itu. Dia kan hanya diminta untuk berfhoto bukan ikut acara adu tombak nya,aku takut dia terluka lalu siapa yang akan bertanggung jawab jika artis besar ini terluka.


Akhirnya aku menemukan Aditya. Benar saja, dia sudah berada di atas kuda dan memakai baju adat Sumba, dan duduk dengan gagah nya. Dia sedang melakukan sesi fhoto di bantu dengan penduduk lokal agar kuda nya bisa diam. Tidak lupa tombak dan tameng yang di pegang di kedua tangan nya.


Begitu gagah dan tampan Aditya menggunakan pakaian adat sumba,dan di tambah dengan kuda yang di tunggangi nya menambah pesona ketampanan nya seperti benar-benar seorang Ksatria yang gagah berani. Aku menggelengkan kepala menyadarkan diriku yang telah tersihir ketampanan nya.


Kuda yang di tumpangi Aditya berjalan ke tengah kerumunan. Aditya siap bertarung.


Semua pengunjung wisata mengelurkan ponsel nya dan mengabadikan video Aditya yang sudah pasti langka ini.


Aku menghampiri assistant Aditya yang juga sedang memotretnya.


“Dia ngapain sih ?” Tanyaku sedikit kesal.


“Dia bilang mau coba sebentar”


“Temen lo gila ya, kok dia mau bahayain dirinya sendiri”


Assistantnya ini hanya tertawa dan terus memotret Aditya dari berbagai angle.


Aku menggelengkan kepalaku dan mendekati Aditya sebelum dia benar-benar melakukan hal gila nya. Aku harap dia masih memiliki sedikit kewarasan sebelum semuanya terjadi.


“Kamu ngapain?” Tanya nya ketika melihat ku menghampiri dia.


“Harusnya aku yang tanya,kamu yang ngapain? Ini bahaya” ucapku memperingati.


“Aku mau coba sekali”


“Aditya turun” ujarku pelan berusaha untuk tidak mencolok di hadapan semua orang.


“Apa sih” heran nya.


“Aditya bahaya” aku terus memintanya untuk berhenti, karena bagaimana pun aku tetap bertanggung jawab atas dirinya. Aku hanya mengajak dia untuk menyaksikan bukan untuk bermain.


“Kok jadi ngatur ?!” kesal nya.


Aku menggerutu dalam hatiku,lalu pergi membiarkan nya. Aku kembali kerumah penduduk tadi dan diam di teras rumah nya membiarkan aditya melakukan apa yang dia mau.


Aku bingung, kenapa aku harus memperingati nya,kenapa aku harus peduli kepadanya padahal dia saja tidak peduli kepadaku. Harusnya aku biarkan saja dia terluka biar dia tahu rasa. Kalaupun berita dia akan heboh,toh aku akan menghilang dan tidak ingin ikut campur,aku akan menjauh sejauh mungkin dari artis arrogant ini.


Suara sorak semakin keras,aku berusaha mengalihkan perhatian ku kepada ponsel dan earphone ku,lalu aku memilih untuk mendengarkan lagu di banding mendengarkan dan menonton acara ini yang semakin membuat ku tidak nyaman untuk menikmatinya.


Dan beberapa lama kemudian Aditya datang dengan beberapa orang membopong nya yang terlihat kesakitan. Aku coba mengacuhkan nya dengan pura pura memainkan ponsel ku. Aditya masuk ke dalam rumah dengan terus meringis kesakitan. Aku terus berpura pura tidak mendengarnya, dan memainkan ponsel ku di luar rumah dengan berusaha tenang. Aditya terus berteriak di dalam rumah,entah apa yang di lakukan para penduduk lokal itu terhadap nya, namun seperti nya itu menyakitkan sampai-sampai suaranya bisa mengalahkan suara musik di earphone ku. Aku berdecak kesal kenapa aku harus khawatir dengan nya,aku melepaskan earphone ku menghampiri nya kedalam rumah dengan kesal, beberapa orang yang menolong nya pergi dan tersisa aku dan assistant nya yang menemani.


Aku lihat Aditya sudah melepaskan baju adat nya dan bertelanjang dada, pinggang nya sudah di lumuri tumbukan dedaunan, mungkin itu sebuah obat tradisional dari sumba yang sudah di buat oleh penduduk lokal untuk mengobatinya.


Aditya terus meringis kesakitan,dia tidak bisa menahan sakitnya. Badan nya terus bergerak kesana kemari dan membuat ramuan itu terjatuh. Dengan sigap aku memungut nya dan menyimpan nya kembali di pinggan nya yang terluka.


“Aawwwww aahhh sakit banget”


Aku tak menghiraukan ocehan nya.


Dia terus meronta ronta kesakitan,sepertinya ini efek dari racikan daun yang terasa perih di dalam lukanya.


“Bisa diem ga? Ini obat nya jadi jatoh mulu kan” omel ku dengan kesal.


“Ini sakit banget,ini tuh kaya luka di kasih cairan asam tau ngga”


Dia terus meringis kesakitan, aku menghela nafasku dan berusaha untuk sabar.


“Aaaa sakit” aku berdecak kesal.


“Siapa yang suruh ikutan acara itu? kamu kan liat sendiri itu acara bahaya buat orang lain apalagi buat kamu yang ga tau apa apa”


Aku terus memaki kelakuan nya yang bodoh.


“Aku cuma penasaran” enteng nya.


“Ya bagus penasaran kamu membuahkan hasil”


Dia menatap ku dengan diam, sambil menahan sakit.


“Kamu juga ngapain ke acara ini kalo ternyata kamu punya Phobia sama darah”


Kini aku yang dibuat diam oleh nya.


“Ya aku mana tau kalo ada pertumpahan darah kaya gini” jawab ku dengan sedikit rasa bersalah.


“Nama nya aja Adu Tombak udah pasti mereka akan beradu pake tombak kan?” maki nya membalas ku.


Dengan kesal aku menekan lebih keras ramuan obat kedalam luka nya agar membungkam mulutnya yang menyebalkan. Dia semakin teriak kesakitan.


“AAAAAA!!!! Dhebii”