
“Suka?” Tanya Aditya ketika telah memilih beberapa baju yang sudah di lihat nya cocok untuk ku.
“Aku suka. Tapi kan cuma satu yang aku mau Di” rengek ku bersedih melihat beberapa baju yang di pilih Aditya lebih dari satu dan harga nya begitu fantastic.
“Ini kan untuk kamu juga. Kemarin keluarga aku banyak begitu memuji kamu yang tampil elegant. Aku mau mereka terus menilai kamu seperti itu Dhebi” ujar Aditya.
Lalu aku hanya bisa menggigit bibir bawah ku. Merasa sayang dengan semua baju branded yang di beli Aditya. Padahal aku bisa saja mencari dress yang bagus di boutique teman ku di Bandung.
“Mas baju nya mau di ambil sekarang atau nanti?” Tanya pekerja itu dengan manis ketika berbicara dengan Aditya.
“Bisa di kirim kerumah kan ?” Tanya Aditya.
“Oh boleh mas. Nanti kurir dari kami yang akan mengantar kan kerumah Mas Aditya”
“Oke” jawab Aditya.
“Untuk ukuran nya apa sudah pas?” Tanya lagi pelayan toko itu kepada Aditya.
Aditya bingung menatap ku. Begitu pun aku yang sudah mulai kesal dengan ketus nya pekerja itu kepadaku.
“Hello Mbak” aku melambaikan tangan tepat di depan wajah nya. Membuat pekerja itu terkejut melihat tangan ku yang hampir mengenai wajah nya.
“Yang beli baju kan saya kenapa ga tanya saya ya?” Kesal ku dengan mengerut kan kening ku.
Dia terlihat menghela nafas begitu malas.
“Baik Mbak. Bagaimana semua baju yang di coba apa sudah pas?” Begitu berbeda cara dia berbicara dengan ku. Dia terlihat begitu ketus dan Jutek membuat ku menjadi semakin kesal.
“Sudah!” Jawab ku dengan sedikit emosi.
Lalu dia pergi dari sana dengan memberikan senyuman yang tampak begitu di paksakan.
Aku menatap sinis pekerja centil itu yang berjalan memunggungi ku.
Lalu menatap Aditya yang sudah tersenyum melihat ku.
“Apa?” Tanya ku dengan kesal.
Dia menertawakan ku lalu menggelengkan kepalanya dengan lemah.
Aditya segera membayar semua belanjaan di kasir,dan ternyata yang menerima pembayaran Aditya adalah pekerja centil tadi. Aku heran,kenapa harus dia yang menerima pembayaran,padahal pekerja di sini lumayan banyak yang sedang berdiam diri. Dia terlihat centil ketika bertransaksi dengan Aditya di kasir. Sesekali dia mengibaskan rambut nya yang panjang dengan bergairah. Juga mengibas-ngibas kerah baju nya seolah panas. Terlihat sekali pekerja itu berusaha menggoda Aditya. Dan untunglah Aditya terlihat tak acuh kepada pekerja centil itu.
Aditya menghampiri ku yang sedang duduk di sofa tamu. Aku melirik nya dengan tajam.
“Kenapa?” Tanya Aditya mengerutkan kening nya dan duduk di samping ku.
“Tidak” jawab ku dengan mengangkat kedua halis ku lalu membuang muka ku.
Dia benar-benar tidak menyadari pekerja itu berusaha mencuri perhatian Aditya,dia malah heran melihat ku yang tampak kesal. Dan tak lama pekerja itu kembali dengan membawa sebuah mesin EDC ATM. Dia berjalan berlenggok dan tatapan begitu tajam menatap Aditya.
“Maaf Mas pin nya tadi salah” ujar pekerja itu berdiri di hadapan Aditya.
Aditya langsung berdiri,begitu pun dengan aku yang langsung menghalangi Aditya dan berdiri di depan pekerja itu.
“Biar saya saja yang kasih pin. Karena saya juga tahu pin Mas Aditya” sinis ku tajam kepada pekerja centil itu.
Pekerja itu balas menatap ku dengan malas lalu memutarkan bola matanya. Aku melipat kedua tangan ku untuk siap memarahinya.
“Kenapa liat saya seperti itu mbak? Tidak suka liat saya disini? Kalo tidak suka saya bisa batalkan semua belanjaan saya sebelum saya payment,dan saya bisa buat viral toko ini,mengatakan bahwa pelayanan disini tidak ramah terhadap perempuan!” ancam ku dengan berani memelototi nya.
Pekerja itu terlihat terkejut dengan ancaman ku. Lalu dia membulat kan matanya.
“Eh ngga ngga ngga Mbak” panik nya dengan mengibaskan tangan nya dengan cepat.
“Mohon maaf Mbak jika sikap saya membuat Mbak tidak nyaman. Saya mohon maaf sekali jangan cancel semua pesanan nya ya Mbak” panik nya dengan terus memohon.
Aku menimbang permohonan nya dengan menatap sekitar. Pekerja itu semakin panik melihat aku yang seperti sudah tidak ingin menatap nya.
“Mas Aditya. Mas maaf mas,saya bukan bermaksud membuat Mbak nya tidak nyaman. Tolong jangan di cancel ya Mas” dia menyatukan dua tangan nya memohon dengan berharap jika Aditya bisa mendengar nya.
“Bukan saya yang beli,tapi calon istri saya” ujar Aditya sambil melingkarkan tangan kanan nya di leher ku.
Aku malah terkejut dengan ucapan Aditya. Aku melirik wajah nya yang begitu dekat di samping ku. Dia tersenyum manis namun aku malah menatap nya dengan kikuk.
“I..iya Mas maaf kan saya ya Mbak. Saya salah,saya mengaku salah,saya minta maaf mbak mohon maafkan saya” ujar pekerja itu dengan terbata bata melihat Aditya dan aku mulai terlihat tak acuh.
“Gimana?” Tanya Aditya yang masih saja di posisi nya. Aku melihat wajah tampan Aditya yang begitu dekat dengan ku. Sampai aku bisa merasakan nafas nya di wajah ku.
“Mau di cancel atau di beli saja?”
“Beli saja,aku kasihan sama dia” ucap ku membuat pekerja itu lega dan menyodorkan kembali mesin EDC ATM.
“Silahkan Mbak Pin ATM nya”
Aku memijit beberapa nomor di dalam EDCnya. Lalu dia pergi sambil membungkukan kepala nya dengan masih saja terlihat takut dan panik.
Aditya melepaskan tangan nya dari leher ku dan aku berbalik menatap nya dengan tajam.
“Calon istri?” Tanya ku dengan mengangkat kedua halis ku.
“Kenapa? Ada masalah?” Tanya nya dengan ketus.
Aku memicingkan mata ku menatap nya.
“Kamu sedang melamar aku secara tidak langsung apa hanya menggertak pelayan itu?”
Dia tersenyum mendengarkan ocehan ku.
“Kamu kesal?” Tanya nya.
“Kamu tidak sadar sejak tadi dia sudah terlihat gatel banget di hadapan kamu? Dia berusaha cari perhatian kamu” ucap ku dengan kesal.
Lalu dia menatap bingung pekerja tadi yang aku maksud.
“Mungkin pelayanan nya memang seperti itu”
Aku memutarkan kembali bola mata ku.
“Dia baik cuma sama kamu aja,dan aku tidak suka”sinis ku.
“Kamu cemburu?” Tanya nya dengan masih saja tersenyum melihat ku yang tampak kesal.
Aku melingkarkan kedua tangan ku di leher Aditya dan menatap nya dengan tajam.
“Aku tidak suka ada orang lain yang coba-coba buat curi perhatian kamu” ucap ku tajam yang tambah membuat nya tersenyum.
“Aku suka melihat kamu cemburu seperti ini” ujar nya dengan lembut memegang kedua pinggang ku.
Aku menatap nya dengan bingung.
“Aku bisa membuat semua wanita di sekitar aku untuk coba menggoda ku agar aku bisa terus liat kamu cemburu seperti ini” ujar nya berkhayal terlalu jauh.
Aku memicingkan mataku kembali.
“Jangan coba-coba lakukan itu Aditya. Jangan sampai aku membasmi mereka semua yang mencoba menggoda kamu” ancam ku membuat dia malah tersenyum begitu bahagia.