
Aku segera mengabari Sienna tentang kepergian ku kembali ke Bandung. Aku menceritakan segala masalah yang menimpa ku kepadanya agar dia mengerti mengapa aku meninggalkan Jakarta. Aku telah memutuskan untuk beristirahat sejenak dari kuliah ku dan tinggal di Bandung.
“Lo yakin Dheb?”
“Gue yakin Syen”
Terdengar helaan nafas dari Sienna.
“Gue minta lo untuk sembunyiin ini semua dari yang lain ya, biar nanti gue yang kasih alesan lain sama mereka”
“Oke dheb, tapi jangan lama-lama ya, kita disini juga butuh lo”
“Oke Syen”
Terdengar begitu sedih ucapan dari Sienna yang membuat ku mengingat semua kebahagiaan saat bersama teman-teman ku.
Aku menutup telepon nya dan merenung di depan sebuah jendela besar di dalam kamar.
Pagi setelah Aditya pergi dari Apartemen aku langsung kabur dari sana dengan membawa beberapa baju yang sudah berada di dalam koper. Aku melajukan mobil ku ke Bandung dan menemui orang tua ku dulu sebentar disana, lalu memutuskan untuk menyewa Apartemen untuk beberapa bulan,aku pun sudah berniat akan banyak bolos kuliah untuk beberapa waktu sampai aku bisa merasa aman untuk kembali kuliah,tidak apa jika aku mendapatkan peringatan dari dosen,yang penting fikiran aku bisa kembali aman dan aku bisa kembali menjalani aktifitas ku setelah semua ini berakhir. Orang tua ku sama sekali tak ada yang curiga mengapa aku ingin menyewa Apartemen di Bandung,mereka mengira aku hanya sudah lelah hidup di Jakarta. Dan mereka benar,aku memang lelah.
Apartemen ini memang tak sebesar Apartemen yang dimiliki Aditya, namun semua fasilitas disini sama persis dengan yang dimiliki Apartemen Aditya hanya saja semuanya terlihat versi kecil nya saja,seperti dapur mini,ruang tamu,meja makan,dan 1 kamar besar. Apartemen ku pun memiliki balkon yang menyuguhkan pemandangan indah karena letaknya ada di lantai 20. Setiap malam aku bisa melihat lampu kota dan kendaraan yang lalu lalang di bawah sana,dan pagi harinya aku bisa menghirup udara segar kota Bandung yang sangat aku rindukan.
Setiap malam aku selalu keluar dan diam di balkon untuk menikmati keindahan kota malam yang berkelap kelip di bawah sana. Aku masih selalu memikirkan Aditya. Bertanya-tanya bagimana kabarnya, apa Aditya juga masih memikirkan ku seperti ini? Atau malah dia telah melupakan ku dengan mudah nya?
Beberapa minggu terakhir aku mulai terbiasa pulang pergi ke kampus dari Bandung - Jakarta demi memenuhi tugas tugas penting untuk menyelesaikan skripsi ku. Aku begitu bekerja keras untuk bisa menghindari segala gangguang kegiatan lain demi berfokus menyelesaikan tugas akhir. Aku tak lagi mengikuti acara komunitas,aku tak lagi ada waktu untuk bermain dengan teman-teman ku di waktu luang.
Dan beberapa bulan kemudian aku mendapatkan pekerjaan di Bandung di sebuah Agency perfilman sebagai crew yang membantu mempromosikan sebuah film. Aku mulai di sibukan dengan pekerjaan ku disana sebagai team lapangan.
“Dheb, jadwal buat Road Show nanti udah lo buat kan ?” Tanya sang bos kepadaku.
“Oh udah Mas, ini tinggal result aja nanti aku meeting in lagi sama team lapangan”
“Oke, nanti hotel dan lain-lain pun harus di meeting in lagi sama gue ya”
“Oke oke mas”
Aku membuat jadwal untuk sebuah Road Show ke berbagai bioskop di Bandung untuk mempromosikan sebuah film baru mereka. Sebelum mengambil Job biasanya aku melihat siapa saja nama-nama artis yang akan aku temui, dan sejauh ini tidak ada satu artis pun yang aku kenal saat aku bekerja di lapangan. Jujur saja,aku takut jika artis yang akan aku temui adalah Aditya.
Hari itu pun tiba. Pekerjaan ku di lapangan membuat ku sibuk mempersiapkan segala macam kebutuhan para artis untuk Road Show promosi film mereka selama di Bandung.
“Dheb udah siap? Mereka hampir sampai disini”
Ujar salah satu teman ku yang mencegat ku di lobby hotel.
“Udah udah udah,kamar mereka udah gue atur”
“Kamar tambahan untuk Samuel Andreas udah aman?”
“Udah udah udah”
“Oke”
pagi itu kami memang di sibukan di sebuah hotel dengan memakai kaos lapangan berwarna hitam crew yang sama. Dengan tugas masing-masing yang sudah di persiapkan.
Tugas ku disana adalah membuat schedule yang banyak untuk para artis selama di Bandung. Seperti mempersiapkan check in hotel mereka,acara makan nya,acara pergi nya dan menentukan jadwal kunjungan ke beberapa bioskop. Semua itu sudah biasa aku lakukan ketika aku masih berada di komunitas MAPALA dan menjadi ketua group untuk mengunjungi sebuah tempat. Bahkan dulu aku pun pernah menjadi ketua team untuk membantu film “Round The World in Country” yang di bintangi Aditya ketika di Sumba. Tugas ini tidaklah sulit.
“Mereka datang!” Seru salah satu kerabat kerja ku,dan mereka segera berlari ke depan lobby hotel menyambut para artis yang akan turun dari mobil.
Aku melipat kertas ku dan ikut menyambut para artis itu. Aku berdiri di balik pintu lobby dan menonton mereka di balik sana.
Semua artis sudah mulai turun dari mobil-mobil nya dengan menggandeng sebuah tas besar dan ada juga yang membawa koper kecil di bawakan oleh orang yang seperti nya adalah asisten mereka.
Crew yang bertugas sebagai pengarah mereka,segera memperkenal kan diri dan menuntun mereka masuk ke hotel. Aku terus bersembunyi di balik pintu hotel dengan memantau crew-crew lapangan.
Beberapa artis telah masuk ke dalam hotel.
“Nadia sini” aku memanggil seorang crew yang tengah berbicara dengan petugas hotel. Nadia langsung menghampiri ku.
“Itu supir-supir nya nanti di pandu sama Dery aja di parkiran bawah,lo suruh Dery nyusul para supir nya ke bawah terus bawa makan dulu disini”
“Oke siap” lalu Nadia segera mengerjakan perintah ku.
Aku lihat ada seseorang yang baru saja turun di mobil terakhir berwarna putih.
Dia memakai kaos abu dengan celana jeans dan sepatu casual nya berwarna putih. Dia juga memakai kaca mata hitam dan sebuah topi,dia menggandeng tas besar nya masuk kedalam hotel.
Aku yakini dia adalah Samuel Andreas sang penulis dari film ini yang berjudul “Love to the Moonlight”. Film ini sepertinya akan begitu menggelegarkan jagad raya dengan para pemain film yang sangat terkenal dan promosi film yang begitu fenomenal di dalam nya.
Pria itu berjalan masuk ke hotel dengan menundukan kepalanya. Aku terus memperhatikan wajah nya yang masih tertutup dengan topi nya. Dia menengadahkan kepala nya begitu melewati ku, dia memandang lurus kedepan dengan terus berjalan.
Jantung ku berhenti sejenak ketika melihat jelas wajah pria tampan itu. Mataku membulat dan mulut ku terbuka.
“Andre?” Bisik ku dengan terkejut.
Dia tidak melihat ku yang berada di balik pintu hotel,dan dia terus berjalan mengikuti salah satu crew pekerja ku. Aku masih terpatung disana dengan wajah yang masih tak percaya dengan apa yang aku lihat.
Aku terus bertanya tanya mengapa Andre ada di acara ini. Aku memikirkan dengan penulis yang bernama Samuel Andreas, apakah itu nama asli Andre? Dengan cepat aku melihat lagi kertas tugas ku.
Samuel Andreas. Jangan-jangan memang benar itu adalah Andre yang ku kenal di Club malam itu. Aku tidak pernah tahu jika dia adalah seorang penulis.
“Dheb!” Panggil seorang pria dengan menepuk bahuku.
Aku terkejut melihat dia.
“Lo kenapa ?”
“Hah ? Ngga gue ga kenapa napa”
“Ayo ke aula” ajak nya.
“Oke”
Aku masih terlihat panik dan gelisah melihat Andre ada di acara Road Show ini. Aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan jika nanti aku bertemu dengan Andre. Apakah dia masih mengingatku ?
Moment ketika kami bertemu di club malam itu pun begitu tiba-tiba dan sangat singkat. Namun walaupun begitu ,dia sudah menjadi teman yang amat sangat menyenangkan untuk ku,bahkan Andre adalah orang pertama yang ku kenal yang memiliki pemikiran sama tentang alam yang sangat indah selain Aditya.
Andre mengingatkan ku kembali ke malam mengerikan itu. Saat dimana Aditya dan Lucy berciuman di acara ulang tahun Lucy.