Obsessive Love Disorder

Obsessive Love Disorder
Perdebatan di meja makan



Mama Aditya melepaskan pelukan nya. Dan menatap ku sambil tersenyum.


“Aditya sudah banyak cerita tentang kamu” ujar nya sambil mengelus bahu ku,seolah tahu aku sedang gugup.


“Terimakasih sudah menjaga Aditya selama ini”


aku masih saja shock dan tersenyum kaku kepadanya. Aku menganggukan kepala ku dengan kikuk.


Aku masih diam tidak tahu harus berbicara apa saat itu.


“Kita makan dulu ya” Mama Aditya berjalan dahulu mengajak kami ke ruang makan.


Aku menatap Aditya dengan tajam.


“Kenapa?” Tanya nya seolah tidak mengerti arti tatapan ku.


“Apa saja yang sudah kamu ceritakan sama Mama kamu?” Sinis ku.


“Semuanya” ketus nya dengan dingin.


Aku mendelikan mata ku dan meninggalkan nya disana mengikuti kemana pergi nya Mama Aditya.


Aku melihat meja makan yang berbentuk persegi panjang itu sudah begitu banyak ragam makanan di atasnya. Dari makanan besar seperti steak,sayuran,buah-buah an,dessert,dan appetizer.


Aditya menggeserkan kursi untuk ku duduk,dan dia duduk di samping ku. Aku melihat pelayan nya pun melakukan hal yang sama kepada Mama Aditya untuk mempersilahkan nyonya nya duduk. Pelayan itu memberikan serbet untuk Mama Aditya dan berdiri di ujung ruangan.


“Silahkan makan” ucap Mama Aditya dengan manis.


Aku menganggukan kepala ku dengan malu dan menatap Aditya.


“Makan saja” ujar Aditya membantu ku membawa kan beberapa makanan ke atas piring ku.


Beberapa sendok ,garpu dan pisau kecil ada di samping piring itu memudahkan aku bisa memilih alat makan mana yang akan aku gunakan.


Kita mulai makan malam dalam diam. Tidak ada yang berbicara atau pun beraktifitas lain selain makan. Dan beberapa menit kemudian aku melihat Mama Aditya sudah menutup sendok dan garpu nya juga me ngusap bibir dengan serbet bersih nya.


“Papa besok pulang Aditya” ujar Mama nya tiba-tiba.


Aku melirik Aditya yang sepertinya tidak memperdulikan Mama nya berbicara. Aku menyenggol kaki Aditya dengan kaki ku. Meminta dia untuk memperhatikan Mama nya.


Aditya melirik ku. Namun aku pura-pura tak memperhatikan nya. Aditya tahu aku meminta nya untuk menyauti Mama nya.


“Aku tidak menunggu Papa” jawab nya ketus dengan masih terus sibuk menghabiskan makanan nya.


Mama nya terdengar menghela kan nafas nya begitu berat.


“Sampai kapan sih kamu mau seperti ini sama Papa kamu sendiri Dit?”


“Ma. Bisa kita tidak bicarakan itu sekarang?” Pinta Aditya dengan menghentikan dulu makan nya dan menatap Mama nya dengan emosi.


“Tapi nak, Papa kamu sudah mulai sakit memikirkan kamu. Selama ini dia benar kan ? Selama ini apa yang di takutkan Papa kamu terjadi”


Aku tahu apa maksud Mama Aditya. Semua ucapan nya pasti menyinggung pemberitaan dia yang tidak benar di luar sana. Dan Mama nya pasti sudah tahu juga berita tentang ku. Aku semakin canggung dan takut menghadapi orang tua Aditya.


Aditya tetap dingin tak mengacuhkan Mama nya.


“Aditya. Please,penuhi keinginan Papa. Papa hanya ingin yang terbaik untuk kamu”


“Terbaik seperti apa ?!” Kesal nya dengan meletakan garpu dan pisau nya dengan kasar ke atas piring sehingga menimbulkan bunyi nyaring.


Aku terkejut mendengar nya dengan reflek aku memegang paha Aditya dan melototi nya.


“Di..” aku memperingati nya agar lebih bersabar.


Aditya menatap ku dengan kesal. Akhirnya dia mengontrol emosi nya dengan terpaksa. Mama Aditya melihat ku dengan raut wajah yang tidak dapat ku mengerti. Aku tersenyum kaku kepadanya dan meletakan garpu dan pisau di atas piring dengan perlahan.


Acara makan malam kami berubah menegangkan. Aku sungguh tidak mengerti apa yang di bicarakan Mama nya kepada Aditya sehingga membuat Aditya begitu marah.


Setelah acara makan malam selesai dengan di tutup oleh perdebatan yang tidak enak,aku di antarkan pelayan menuju kamar tamu dengan di bawakan koper yang di titipkan Aditya. Sementara Aditya pun pergi ke kamar nya untuk segera mandi.


Malam itu aku melamun di kamar tamu yang super megah ini. Kamar tamu saja sudah sebesar ini dan se lengkap ini dengan bathtub,aku membayangkan bagaimana kamar utama nya jika kamar tamu saja di buat seperti ini.


Aku terbayang dengan perdebatan Aditya dan Mama nya di meja makan tadi. Kenapa Aditya tidak pernah mau menceritakan tentang Papa nya ? Ada apa dengan mereka ? Aku jadi semakin penasaran,dan semakin ingin tahu semua tentang Aditya.


Esok pagi aku sudah mandi dan bersiap dengan berpakaian rapih untuk berhadapan dengan keluarga Aditya lagi. Penampilan diriku semalam jauh dari kata anggun ketika berhadapan dengan Mama Aditya. Dan kini aku ingin memperbaikinya.


Aku memakai dress kuning mustard dengan leher yang terbuka dan berlengan pendek. Memakai heels orange hak tinggi dan mencatok rambut ku agar terlihat bervolume terurai indah. Tak lupa memakai kalung emas juga anting yang bergantung di telinga ku. Aku juga berdandan sedikit untuk mempercantik wajah ku. Aku menatap diriku di cermin,aku tersenyum kagum melihat diriku yang jarang sekali terlihat seperti ini,aku bangga karena masih memiliki sisi keanggunan seperti ini.


Seseorang mengetuk pintu. Dengan anggun aku berjalan mendekati pintu dan membuka nya.


Dia adalah seorang pelayan yang langsung membungkukan badan nya ketika melihat ku.


“Nyona sudah di tunggu di ruang makan untuk sarapan”


“Oh iya terimakasih” jawab ku dengan tersenyum manis.


Lalu aku menghela nafas ku sebelum aku berjalan menuju ruang makan.


Aku melihat Mama Aditya sudah duduk sendiri di meja makan dengan pakaian yang rapih.


“Pagi Tante” sapa ku sambil menganggukan kepala ku dengan malu.


Mama nya terpaku melihat ku. Dia memperhatikan ku dari atas sampai bawah kaki ku.


“Kamu cantik sekali Dhebi” puji nya sambil tersenyum.


“Terimakasih”


Aku begitu senang mendengar Mama nya begitu baik kepadaku. Lalu aku melihat sekitar ku.


“Aditya belum bangun?” Tanya ku.


“Dia tidak pernah ikut sarapan Dhebi” jawab nya dengan manis.


‘Tidak pernah ikut sarapan ?’ Itu sangat tidak mungkin,mengingat di apartement dia selalu meminta aku membuatkan sarapan untuknya setiap hari.


“Boleh aku membangunkan Aditya?” Tanya ku meminta izin.


“Off course. Saya yakin kamu pasti bisa membangunkan dia” ujar Mama nya seolah telah mengetahui semuanya tentang ku.


Tentu aku bisa. Gumam ku dalam hati.


Seorang pelayan mengantar ku ke kamar Aditya yang berada di lantai atas. Dan pelayan itu berhenti di depan pintu kamar yang besar dan berwarna coklat.


“Silahkan nyonya” pelayan itu mempersilahkan aku sendiri yang membuka pintu nya.


“Terimakasih”


Aku coba membuka kedua pintu itu,yang tidak terkunci sama sekali.


Aku takjub melihat isi kamar Aditya yang dua kali lebih luas dari kamar tamu dan tentu lebih mewah lagi. Kamar ini layak nya kamar istana yang begitu megah.


Aditya masih tidur dengan nyenyak di tempat tidur besar nya dengan selimut yang tebal berwarna putih yang menutupi tubuhnya. Jendela kamar Aditya masih tertutup rapat membuat ruangan kamar nya tampak gelap. Aku berjalan mendekati jendela dan membuka lebar gordyn tinggi itu.


Aditya terlihat terkejut dengan sinar yang masuk dari jendela dan menyilaukan wajah nya. Dia mengerjapkan mata nya sebentar dan kembali mengerubuni diri nya dengan selimut. Dia tahu bahwa yang telah mengganggunya adalah aku.


Aku menggelengkan kepala ku dan menghampiri nya.


“Aditya bangun” pinta ku dengan menyingkap kan selimut nya.


Wajah nya terlihat begitu kesal dan dia malah menarik bantal putih di samping nya untuk menutupi wajah nya.


“Adityaaaa!!!” Panggil ku dengan emosi.


“Mau bangun atau aku siram pakai air?” Ancam ku.


Pelayan yang masih menungguku dan Aditya bangun,terlihat menahan tawa di ambang pintu yang terbuka.


“Iya iya iya”


dia menyerah dengan kesal dan bangun dari tidur nya. Dia menggaruk kepala nya dengan mata yang masih tertutup.


“Cepet mandi,lalu sarapan” perintah ku dengan melipat kedua tangan ku.


Aditya akhirnya membuka mata nya sedikit demi sedikit dan melihat ke arah ku. Mata nya terbuka lebar ketika melihat penampilan ku. Dia memperhatikan dari wajah sampai ke ujung kaki ku.


“Mau kemana?” Tanya nya dingin.


“Mau sarapan!”


Aditya mengusap kening nya dengan raut wajah yang malas ketika tahu jika aku merubah penampilan ku demi keluarga nya.


“Kenapa ? Aku tidak pantasa memakai baju seperti ini?” Tanya ku dengan cemberut.


“Tidak Dhebi. Kamu terlalu cantik. Dan aku tidak suka”


Aku mengangkat kedua halis ku dan melirik pelayan yang berpura-pura tidak memperhatikan kami.


Aku heran kenapa di tidak pergi? Apa yang pelayan itu tunggu di luar kamar Aditya?


Aditya turun dari tempat tidur nya dan berdiri di hadapan ku.


Aku tahu apa yang akan di lakukan Aditya. Dia akan memberikan kecupan selamat pagi kepadaku, namun aku memberikan kode jika ada seseorang yang melihat kita di ambang pintu.


Dia melihat ke arah pelayan itu berdiri.


“Kamu turun saja, biar dia yang siapin baju saya” perintah nya dan membuat pelayan itu pergi sambil menutup pintu Aditya.


Aku menghela nafas menatap malas Aditya di hadapanku.


“Jadi kamu anggap aku sebagai pelayan?” Ledek ku dengan melingkarkan tangan di leher nya.


Aditya mengerutkan kening nya.


“Siapa yang bilang kamu pelayan?”


“Tadi kamu bilang,biar aku aja yang siapin baju kamu ga usah pelayan kamu”


“Mereka cuma pelayan yang hanya harus nurut apa kata aku,tapi kamu adalah orang yang bisa buat aku nurut sama kamu”


Aku tersenyum mendengarnya.


“Jadi aku lebih dari seorang bos?”


“Kamu,bukan hanya seorang bos untuk ku,tapi juga segalanya”


Aku tertegun mendengar rayuan nya. Dia selalu berhasil membuat ku berbunga bunga seperti ini.


“Selamat pagi Dhebi” ucap nya seperti biasa dengan menghadiahkan kecupan manis di bibirku.


Aditya memeluk ku dengan erat dan terus mencium bibir ku dengan manis sebelum akhirnya dia pergi mandi.