
Akhirnya kita menginjak hari weekend hari dimana Aditya libur dari pekerjaan nya dan tidak ada satu pekerjaan pun yang boleh mengganggu hari libur nya. Dan saat itu lah waktu Aditya hanya untuk ku.
“Kamu sudah mulai baikan?” Tanya Aditya sambil membuat teh susu sendiri di meja makan.
“Sudah” ucap ku dengan menyium punggung nya dengan mesra.
“Pusing nya sudah hilang?” Tanya nya lagi memastikan.
“Sudah di”
“Ga perlu ke rumah sakit?” Tanya nya membuatku tersenyum menertawakan nya.
“Aku cuma pusing. Aku cuma kelelahan aja karena mungkin aku sudah jarang sekali berolah raga” ucap ku mengingat hal menyeramkan terakhir kali aku jogging di sky garden dan bertemu Danu.
“Aku kan sudah bilang,kamu jangan terlalu banyak pekerjaan di apartemen. Aku bisa minta bagian cleaning service untuk membersihkan Apartemen kita” ujar Aditya dengan wajah nya yang khawatir.
Dia membalikan tubuh nya dan menyandarkan badan ku di tubuh Aditya,lalu mengusap dada nya.
“Dii. Aku hanya ingin merasakan bagaimana menjadi istri seutuh nya. Bagaimana mengurus suami,mengurus rumah kita,dan menjadi sepeti istri-istri lain pada umum nya. Aku tidak mau hanya diam saja di rumah,hanya mengurus suami ketika dia ada saja dan setelah suami bekerja aku malah bermalas-malas an dan tidak mengurus tempat tinggal kita” ucap ku dengan merayu nya agar dia tidak keberatan dengan apa yang aku lakukan.
“Tapi kamu tidak perlu melakukan nya secara harfiah. Jangan terlalu bersemangat,dan jangan menghabiskan tenaga mu hanya untuk membereskan seisi rumah. Karena akan percuma juga jika kamu malah lelah seperti ini karena banyak aktifitas dan tidak bisa mengurus suami kamu kan?” Ucap Aditya membuat ku memainkan bibir ku dan mencerna kata-kata nya.
“Tapi aku tidak mau menyewa asisten rumah tangga. Selama aku bisa melakukan nya sendiri aku tidak mau ada orang lain yang mengerjakan pekerjaan ku mengurus kamu” ucap ku dengan permintaan Aditya nanti ketika kita pindah ke rumah di sebuah cluster dia bersikeras ingin menyewa asisten rumah tangga untuk mengurus rumah.
“Kenapa?” Tanya Aditya sambil tersenyum.
“Aku di ajari Mama untuk tidak selalu meminta tolong kepada orang lain selagi kita bisa melakukan nya. Di rumah ku memang ada asisten rumah tangga,tapi dia bekerja hanya untuk Mama dan membantu Mama,aku tidak perbolehkan Mama untuk meminta tolong kepada asisten itu selama kedua tangan dan kaki ku tidak sibuk melakukan sesuatu. Jadi sampai besar pun jika aku meminta tolong sama asisten rumah tangga ku,aku selalu merasa tidak enak dan bahkan aku selalu berkata maaf kepada dia” ucap ku dengan mengingat pelajaran yang selalu Mama berikan kepada ku.
Aditya memegang kedua bahu ku.
“Oke. Kita akan lakukan apa yang di ajari Mama kamu. Rumah yang akan kita tinggali nanti itu cukup besar bi,dan rumah itu 5 kali lebih besar dari Apartemen ini” ucap nya membuat ku melotot terkejut mendengar nya.
“Belum lagi ada taman dan kolam renang. Aku tidak mau kamu membersihkan nya sendiri,dan aku puk tidak cukup punya waktu untuk membersihkan sudut rumah kita nanti. Jadi,kita mempekerjakan asisten rumah tangga hanya untuk membantu kita membereskan rumah selagi kita lelah ya” ujar Aditya membuat pengertian untuk ku.
Lalu aku pun membayangkan sendiri bagaimana aku akan membersihkan rumah kita nanti jika rumah itu 5 kali lebih besar dari ini. Apa aku akan sanggup setiap hari membereskan rumah itu sendiri? Belum lagi debu-debu kan gampang sekali menempel. Lalu bagaimana aku akan menguras kolam renang seperti yang di lakukan mamang kebung di rumah ku? Mungkin memang benar,asisten rumah tangga itu perlu untuk kita yang memiliki rumah yang besar. Dan aku harus sadar jika suami ku ini adalah orang besar dan orang terkaya di Bali jadi tidak mungkin rumah dia hanya sebesar ini di cluster nanti.
“Mungkin memang kita harus menyewa asisten ya? Ga mungkin kan aku mengelap seluruh rumah kita nanti sendirian, disini saja aku selalu mengeluh lelah dan pusing,apalagi 5 kali lebih besar dari ini. Bisa-bisa pusing aku ga sembuh-sembuh” celoteh ku membayangkan hal yang mengerikan itu.
Aditya kembali tertawa mwndengar celotehan ku.
“Oke berarti deal ya kita menyewa asisten rumah tangga”
“Oke”
“Tapi kapan kita mulai pindah kesana di?” Tanya ku menanyakan rumah yang masih dalam proses pembangunan di cluster dan perumahan dia sendiri.
“Baru 80%” jawab nya dengan mengira-ngira sendiri hasil pembangunan nya.
Aku hanya menganggukan kepala ku sambil terlihat memikirkan sesuatu.
“Kenapa?” Tanya nya melihat raut wajah ku yang tiba-tiba berubah.
“Hah? Ngga. Ga sabar aja untuk segera tinggal disana”
“Sudah mulai bosen disini?” Tanya Aditya menyelidik.
Aku menganggukn kepal ku.
“Ya”
“Thank you”
“Samasama”
“Oh iya aku lupa”
Aku langsung melepaskan pelukan nya dan menatap Aditya.
“Hari kamis kita dapat undangan dari IMAA di studio televisi GMA” ujar Aditya membuat ku mengkerutkan kening.
“IMAA?” Tanya ku.
“Indonesian Movie Actor Award” jawab Aditya membuat ku membulat kan bibir.
“Kamu masih di undang?” Tanya ku heran.
“Masih”
“Bukannya kamu sudah keluar dari team management kamu?” Tanya ku.
“Ya”
“Lalu?”
“Yang mengadakan acara itu adalah rekan kerja Papa nama nya Pak Sanusi. Dan Pak Sanusi sudah lama tahu kalau aku adalah anak tunggal dari Pak Christ rekan kerja dekat dia. Aku pasti di undang oleh Pak Sanusi walaupun bukan sebagai nominasi lagi,tapi aku di undangan sebagai tamu VVIP oleh Pak Sanusi dan Papa kebetuln tidak bisa menghadiri acara itu dan meminta aku untuk bisa mewakilkan nya”
“Ketemu teman-teman arti kamu lagi dong?” Tanya ku menatap nya senang.
“Kenapa?” Tanya nya heran melihat ku yang tampak senang.
Aku menggedikan bahu ku.
“Aku sudah lama tidak melihat kamu bergabung lagi dengan teman-teman artis kamu. Bahkan aku sudah tidak pernah lagi melihat kamu keluar dengan teman-teman kamu. Kenapa ? Kamu malu” ucap ku mengingat Aditya sudah seperti tidak memiliki teman.
“Aku bisa keluar dengan teman-teman ku jika aku mau. Tapi sampai saat ini aku masih belum mau. Dan untuk apa aku malu” jawab Aditya menatap ku dengan tajam.
“Ya malu. Karena ternyata Aditya Nugraha ini adalah anak dari orang terkaya di Bali atau orang lain sebut nya Crazy Rich Bali”
“Yang kaya itu orang tua aku. Bukan aku,jadi seharusnya mereka tidak perlu membahas itu bukan?”
“Tapi kan sekarang kamu menjalankan bisnis juga. Jadi kamu ikut jadi Crazy Rich juga dong”
“Dan kamu adalah istri ku sekarang,berarti kamu juga sudah menjadi seorang Crazy Rich”
“Hah? Ya ngga lah di. Kan..” Ucap ku berusaha menyangkal namun sulit karena apa yang di katakan Aditya memang benar.
“Apa?”
“Ya pokok nya aku ga mau di sebut Crazy Rich!”
“Aku juga bi” ucap nya menatap ku dengan senyum.
Aku baru mengerti. Dia memang tidak memanfaatkan keadaan yang dia miliki. Dia tidak memakai tameng keluarga nya untuk mendapatkan eksistensi,dia benar-benar tidak peduli dengan latar belakang keluarga nya. Dan dia hanya ingin menjadi Aditya biasa saja yang tidak di agung-agungkan.