
Aku dan Aditya sampai di Bandara. Dia berjalan dengan santai menarik koper nya dan menyimpan satu tangan di dalam saku celana. Dia memakai kaca mata hitam nya namun tidak menutupi wajah nya yang dapat di kenali oleh semua orang yang melintas di depan kami. Aditya berjalan bak model dengan wajah nya yang dingin terus menatap lurus kedepan,kulit putih nya yang tersorot lampu-lampu terang Bandara,dan dengan rambut messy nya yang terlihat berantakan namun sexy membuat semua mata tertuju kepadanya. Aku jadi teringat artis korea Lee Min Ho jika melihat dia berpenampilan seperti ini.
Sementara aku terus berusaha menarik kupluk ku agar menutupi kepala dengan berjalan cepat mengimbangi langkah Aditya yang lebar. Aku menundukan kepala ku dan sesekali melihat sekitar untuk memastikan mereka tidak ada yang memperhatikan. Namun seperti nya usaha ku hanya sia-sia,wajah Aditya terlalu di kenali oleh banyak orang sampai tidak mungkin semua orang tidak memperhatikan kami.
Aku melihat Aditya menghentikan langkah nya.
“Kenapa?” Tanya ku melirik dia yang sudah menatap ku kesal.
Aku terus melirik orang-orang yang sudah diam mengeluarkan ponsel nya dan merekam kami.
“Ayo di kita harus cepet!” Ucap ku kembali melangkah.
Aditya menarik ku dengan kencang. Lalu dia membuka paksa kupluk ku membenarkan rambut ku agar terurai indah dan memegang kedua pipi ku. Dia hanya menatap ku,tidak berkata apapun dan tidak melakukan apapun. Wajah ku mulai panik,karena sepertinya mulai banyak handphone yang merekam kami. Lalu dia menggandeng tangan ku dan melanjutkan langkah kami dengan menyeretku menjauhi orang-orang.
Beberapa orang ada yang mengikuti kami dengan terus merekam. Entah apa yang mereka katakan aku berusaha untuk tak mendengar nya. Mereka bisa di sebut paparazzi,yang selalu seenak nya mengambil tambar atau video orang lain tanpa izin lalu menyebar luaskan nya. Aku menatap Aditya yang terus bersikap dingin,mungkin dia sengaja ingin orang lain merekam kami seperti ini,karena dia benar-benar ingin memberikan Lucy pelajaran.
Sampai di dalam kabin pesawat pun beberapa orang ada yang memperhatikan dengan berbisik bisik. Aditya memasukan barang ke bagasi di atas tempat duduk kami. Aku terus saja menundukan kepala ku merasa malu di tatap semua orang.
Aku duduk di dekat jendela dan Aditya duduk di samping ku. Wajah ku masih saja terlihat risau dengan mereka yang melihat ku sebagai penjahat.
“Kenapa?” Tanya Aditya.
“Aku ga enak aja di tatap mereka seolah aku ini penjahat”
Aditya kembali menggenggam tangan ku dan menatap ku dengan khawatir.
“Mereka akan menyesal sudah menganggap kamu seperti itu” ucap nya dengan sungguh-sungguh.
Aku harap semua ini segera berakhir. Aku tidak tahan di tatap semua orang seperti ini. Aku jadi ingat dahulu ketika aku di sembunyikan oleh Aditya dari semua orang,saat itu aku merasakan begitu tenang tidak di kenali oleh siapapun,namun dulu pun sangat menyakitkan karena harus selalu bersembunyi dan melihat Aditya bersama wanita lain di semua media. Tapi sekarang saat aku sudah di publish oleh Aditya,rasanya malah semakin sulit. Namun aku tetap harus menghadapinya.
Beberapa jam berlalu. Pesawat sudah landing di Bandara Ngurah Rai Bali. Udara panas di sana tidak kalah dengan di Jakarta.
Aditya menarik koper nya menuju mobil MPV hitam yang sudah berada di depan pintu keluar Bandara. Supir nya segera turun begitu melihat Aditya menghampiri nya dan membantu Aditya memasukan barang ke bagasi mobil. Dan aku sadar jika mobil ini adalah mobil pribadi yang di minta untuk menjemput kami di Bandara.
Aku dan Aditya masuk kedalam mobil dan supir itu segera melajukan mobil nya pergi dari Bandara.
Aku melepaskan hoodie ku yang sudah mulai terasa panas di tubuh ku. Dan tertinggal lah kaos ketat berwarna biru langit dengan sedikit corak garis melingkar di lengan kanan ku. Aku membereskan rambut ku yang berantakan merapihkan baju yang ku masukan ke dalam celana overiseze ku,dan menatap wajah ku di dalam cermin kecil memastikan tidak ada noda sedikit pun di sana. Aku masih merasa gugup karena akan segera bertemu keluarga Aditya.
Aditya tersenyum melihat tingkah ku.
Mobil itu masuk kedalam pekarangan rumah yang sangat luas. Bahkan dari gerbang menuju parkiran mobil pun lumayan jauh jarak nya jika harus berjalan kaki. Dan supir itu memberhentikan mobil nya tepat di depan rumah untuk menurunkan kami terlebih dahulu.
Rumah itu begitu besar cat nya berwarna putih dan sinar lampu kuning membuat cahaya rumah berwarna emas terekesan megah. Rumah nya sudah tampak seperti istana dengan pilar-pilar tinggi ala eropa dan ada sedikit polesan emas di kedua ujung pilar.
“Ayok masuk” Aditya menarik tangan ku.
“Bentar.. bentar Di” aku menahan diri ku.
“Aku gugup banget ketemu Mama Papa kamu”
Dia terkekeh mendengar ucapan ku.
“Udah lah,ayo” dia memaksa ku masuk dengan menyeret tangan ku.
Seorang pelayan wanita muda sudah menunggu kami dengan membuka kan pintu tinggi yang berwarna coklat itu. Penampilan pelayan itu sama saja seperti pelayan rumah tangga orang kaya pada umum nya. Dengan menggunakan baju dress hitam selutut berlengan panjang dengan apron putih di luar nya ada kantung di bagian perut apron nya dan rambutnya di cepol rapih ke belakang.
Dia membungkukan tubuh nya ketika melihat Aditya masuk dan kedua tangan nya saling mengenggam agar terlihat sopan menyambutnya.
“Mama,Papa mana?” Tanya Aditya melihat pelayan itu.
Pelayan itu tak berani untuk menatap langsung wajah Aditya. Dia terus menundukan kepala nya.
“Nyonya dan tuan besar sedang di panggil di atas tuan muda”
pelayan itu juga memanggil Aditya dengan tuan muda. Aku melirik Aditya karena menganggap itu suatu keanehan untuk ku.
“Oke”
Aditya melangkah pergi meninggalkan ku yang masih berdiri disana dengan pelayan yang terus menundukan kepala nya kepadaku.
“Silahkan masuk Nyonya Muda” aku mengangkat kedua halis ku ketika dia memanggil ku dengan sebutan Nyonya Muda.
Aku tersenyum kaku kepadanya dan mebungkukan tubuh ku sekali untuk menghargai pelayan itu dan mengejar Aditya.
Begitu besar dan tinggi langit-langit rumah Aditya sampai suara dia berbicara pun terdengar menggema.
Seseorang turun dari tangga. Seorang wanita setengah paruh baya sekitar 45 tahun, berjalan dengan rambut nya yang sebahu bergelombang indah berwarna coklat emas. Dia turun dengan anggun dengan high heels nya yang cukup tinggi berwarna hitam, memakai baju selutut berlengan panjang berwarna biru gelap dan riasan wajah nya yang begitu mencolok namun tidak mengurangi kesan mewah nya. Dan di ikuti seorang pelayan lain dengan seragam yang sama dengan pelayan yang tadi menyambut ku dan Aditya.
Wanita itu terus tersenyum sambil menghampiri Aditya.
“Welcome home sayang” wanita itu memeluk erat Aditya.
Itu adalah Mama nya. Aku semakin gugup melihat dia begitu anggun dan elegan,di bandingkan dengan aku yang sangat santai dengan pakaian yang aku kenakan.
Tangan ku berkeringat,jantung ku berdetak tidak karuan,sepertinta sudah ada keringat yang keluar dari kening ku.
“Hay Dhebi” sapa Mama nya begitu melihat ku.
Aku terkejut mendengar dia tahu nama ku. Lalu Mama nya memeluk ku dengan lembut.
Mataku membulat mulut ku sedikit terbuka dan langsung menatap Aditya dengan bingung di dalam pelukan Mama nya. Aditya hanya tersenyum menggedikan bahu nya.