
Perjalanan dari Bali ke Jakarta aman dan lancar. Perasaan ku masih sedikit terusik dengan kejadian di rumah Nenek Aditya. Bagiku itu adalah salam perpisahan yang amat sangat buruk. Dan semua itu karena Andre.
Kita sampai ke Apartemen Aditya di pagi hari. Aku langsung melemparkan diriku di sofa menghilangkan rasa pegal dari tubuh ku. Di ikuti Aditya yang menenteng tas besar dan menarik koper kami masuk kedalam Apartemen.
“Hari ini kita ngapain ya?” Tanya ku dengan menerawang menatap langit-langit.
Aditya tersenyum dan menggelengkan kepala nya.
“Kita baru saja sampai” ujar nya sambil menaruh tas dan koper di lantai dekat sofa.
Aditya masih berdiri di samping ku dan menatap ku bingung. Aku melirik Aditya yang masih menatap ku entah sedang memikirkan apa.
“Aku boleh main keluar sama temen-temen aku?” Pinta ku dengan manis agar di perbolehkan olehnya.
Aditya memutarkan bola mata nya dan pergi meninggalkan ku menuju kamar nya.
“Dii….!” Teriak ku.
“Diam berarti boleh kan?” Teriak ku sebelum dia masuk ke kamarnya.
“Menurut kamu?” Tanya nya lalu dia menghilang di balik pintu kamar nya.
“Ya ngga sih” jawab ku dengan pelan seolah memberi tahu diri sendiri.
Lalu aku kembali merebahkan diri dengan santai di atas sofa. Aku kembali mengingat kejadian di Bali kemarin.
Kenapa Andre bisa berbuat sejahat itu? Kenapa dia masih saja mengganggu ku dan Aditya?
Lalu aku merasa mata ku lelah. Dengan perlahan aku menutup mata ku dan tertidur di sofa.
Sore menjelang aku dan Aditya sudah mandi dengan segar nya. Seperti biasa aku memakai baju oversize Aditya yang besar menutupi celana pendek ku. Kali ini warna baju yang ku pinjam adalah cream cerah. Dan Aditya memakai kaos mustard dan celana longgar warna putih.
“Kenapa pakai baju itu?” Tanya Aditya ketika aku keluar dari kamar dan memakai baju santai nya.
Aku terpatung di ambang pintu terkejut dengan teguran Aditya dan melirik baju yang ku pakai.
“Kenapa ? Ga boleh?” Tanya ku kaget.
“Kita kan mau keluar” ujar nya membuat ku melotot senang.
“Keluar? Kemana ?”
“Bukan nya tadi pagi kamu minta untuk menemui teman-teman kamu?”
“Boleh?” Tanya ku tak percaya.
“Iya” jawab nya dengan dingin.
“Yes” aku begitu bahagia dan langsung masuk kedalam kamar Aditya kembali untuk mengganti pakaian dengan semangat.
Aku mengganti pakaian dengan baju berkancing lengan panjang kotak kotak coklat dan longgar lalu memasukan bagian bawah nya nya ke skinny jeans ku sehingga bentuk pinggang ku masih bisa terlihat. Di padukan dengan sepatu kets hitam.
“Ayok” ajak ku begitu keluar dari kamar Aditya.
Dia tersenyum senang melihat ku yang amat bersemangat.
Aditya melajukan mobil nya ke luar Apartemen.
“Aku telepon dulu Sienna” ujar ku sambil mencari handphone ku di dalam tas.
“Sudah aku hubungi” ucap nya.
“Sudah? Lalu apa katanya?”
“Aku mengajak mereka bertemu di Mall Of Indonesia”
“Hah? Mau apa disana?” Tanya ku sambil mengerutkan kening.
“Aku mau makan di luar hari ini”
Aku menganggukan kepala ku.
Setelah bermacet-macetan akhirnya kita sampai di Mall Of Indonesia yang termasuk besar di Jakarta.
“Mereka dimana?” Tanya ku sambil meliuk liukan kepala ku mencari teman-teman ku.
“Belum sampai mungkin” jawab Aditya.
“Aku mau membelikan baju untuk mu” ujar nya.
“Beli baju untuk aku?”
“Aku suka melihat kamu memakai gaun anggun” lalu dia tersenyum kepada ku dan menarik tangan ku.
Wajah ku masih kikuk di buat nya.
Aditya membawa ku ke sebuah toko baju yang begitu megah dan besar. Yang berada di sekitar sana adalah orang-orang yang memakai baju rapih dan terlihat kaya.
“Beli baju disini?” Tanya ku melirik nya dengan heran.
“Iya”
“Di kita beli di tempat lain ya. Nanti kita main ke butik temen aku di Bandung dia banyak bikin gaun bagus kok” aku berusaha untuk menolak di belikan baju disini.
Karena aku begitu tahu harga baju-baju yang di jual di toko bermerk ini berapa. Bahkan gajih ku satu bulan saja tidak akan cukup untuk membeli baju disini.
“Jangan berisik. Ikut saja” lalu Aditya menggenggam tangan ku untuk menemui seorang pegawai yang begitu rapih di dalam sana.
“Selamat sore Mas Aditya”
“Saya mau cari baju dress wanita tolong bantu pacar saya ya” ucap Aditya kepada pegawai itu.
Wanita itu melirik ku dengan tatapan dingin.
“Baik Mas” Aku tidak mengerti mengapa dia menatap ku seperti itu.
Aku berfikir mungkin dia masih terbawa dengan gosip yang panas tentang aku dan Aditya. Sehingga dia bersikap dingin kepadaku.
Aku menatap Aditya dengan sedih. Namun sepertinya Aditya tidak menyadari jika pelayan itu begitu berbeda menanggapi ku.
Aku di minta untuk duduk di kursi dan di wawancara sebentar oleh nya.
“Baju warna apa yang mau di cari?” Ketus nya dengan masih bersikap profesional.
“Hitam,peach,biru” ujar ku memikirkan warna-warna yang mungkin akan pantas untuk ku pakai.
Lalu dia mengambil kan beberapa dress dan meminta ku untuk mencoba nya satu persatu di change room.
Baju pertama adalah baju yang berwarna hitam mode off shoulders atau baju dengan bahu terbuka dengan lengan panjang dan sedikit blink blink di luar baju nya. Panjang nya di bawah lutut ku dan begitu cantik ketika ku lihat di cermin.
Aku keluar dari changeroom dan menunjukan nya kepada Aditya yang sudah menungguku di luar pintu.
Dia melihat ku dari atas hingga bawah lalu menatap ku dengan sedikit senyuman.
“Bagus aku suka. Coba lagi yang lain nya”
Aku mengangkat halis ku. Lalu pegawai tadi memberikan dress lain yang berwarna peach kepadaku. Aku langsung mengganti nya lagi.
Kali ini dress yang ku pakai berwarna peach begitu seksi dengan bagian leher berbentuk V memperlihatkan sebagian dada ku dan punggung terbuka. Gaun itu memiliki mode selempang sepaha tak beraturan.
Aku keluar dari changeroom dan meminta Aditya untuk menilainya.
Aku menutupi bagian dada ku karena malu di lihat pekerja lain yang berada disana. Aditya menatap ku dengan sinis begitu tirai changeroom di geserkan.
“Aku bisa saja menghajar siapapun yang melihat kamu memakai pakaian seperti ini” ucap nya dengan sinis.
Sebenanrnya aku sudah tahu dia tidak akan menyukai dress ini. Namun aku hanya ingin mendengar pendapat nya saja bagaimana jika aku memakai baju seperti ini. Dan jawaban nya tetap sama,dia tidak akan membiarkan ku memakai ini.
Aku masuk lagi dan mencoba baju lain yang berwarna biru laut.
Yang ini adalah dress berwarna biru muda atau biru soft seperti warna lautan dangkal dan bermodel V neck tanpa lengan namun tak terlalu memperlihatkan dada ku. Gaun ini sedikit mengembang dan ada mutiara-mutiara kecil melingkar di atas perut ku untuk menjadi pembatas antara bagian atas perut dan rok nya.
Tirai changeroom aku buka lebar-lebar dan aku memeperlihatkan dress yang aku pakai di hadapan Aditya.
Dia begitu terpaku begitu melihat ku. Warna biru langit nya begitu menyerap dengan kulit putih ku. Dan warna ini adalah warna favorit kita,aku yakin Aditya pasti akan menyukai nya.
“Cantik sekali” puji nya dengan menatap ku kagum.
“Aku suka ini” ucap ku dengan senang.
Aditya tersenyum dengan manis mendengar ku mengatakan itu.
Karena selama ini aku tidak pernah menginginkan apa-apa dari Aditya bahkan aku selalu enggan setiap kali dia mengajak ku untuk shopping. Karena menurut ku baju-baju ku masih begitu bagus dan layak untuk di pakai. Namun untuk yang ini, aku sangat menginginkan nya.