
Malam hari aku masih menunggu Aditya pulang di sofa ruang tengah dengan menonton tv. Tidak biasanya dia pulang selarut itu. Aku menunggunya sampai aku tertidur disana.
Dalam tidur ku aku mendengar suara pintu terbuka. Namun sulit sekali aku untuk membuka mata dan membangun kan diriku sendiri karena rasa kantuk yang tak bisa di kalahkan. Aku merasa seseorang menggeser tubuh ku di sofa dan ikut berbaring di samping ku,dia memeluk ku begitu erat lalu kami berdua tertidur di sofa.
Pagi hari aku sudah menemukan diriku dalam pelukan Aditya di atas sofa yang lembut dan panjang ini. Aku bangun perlahan,dan melepaskan tangan Aditya dari tubuh ku namun bukan melepaskan nya dia malah semakin mempererat pelukan nya.
“Ayo di, aku ada kelas pagi ini” ucap ku ketika mengetahui dia sudah bangun walaupun matanya masih tertutup.
“Sebentar lagi”
“Dii, aku ga bisa telat pagi ini”
“Aku bilang sebentar lagi”
Aku membalikan tubuh ku berhadapan dengan nya. Matanya masih tertutup dan baju nya pun tak di ganti dari semenjak dia pergi kemarin pagi.
Dia membuka matanya perlahan berusaha untuk bangun.
“I Miss You” dia mengatakan nya dengan berusaha mengumpulkan kesadaran nya.
“Miss You too,tapi pagi ini aku harus cepat pergi ke kampus” dia menatap ku dan menyisir wajahku lalu dia mencium bibir ku.
Ya aku rasa dia memang benar-benar merindukan ku,dari ciuman hebat yang di lakukan nya sudah membuktikan dia begitu merindukan ku.
“Bagaimana dengan Jimmy?” Tanya Aditya ketika kami telah selesai mandi dan duduk untuk sarapan.
“Kesepakatan kami sudah fix, hari ini aku ada meeting dengan team nya”
“Kamu ikut?”
“Ya aku ikut,acara meeting nya nanti sore di gedung Trans Tv”
“Aku juga ada acara tv nanti siang disana”
“Oiya? Kita bisa ketemu dong disana”
Dia mengangkat bahu nya.
“Aku pergi sekarang ya, bye di” pamit ku sambil mengecup bibir nya.
“See you in there”
Di kantin kampus aku kembali memberikan kisi-kisi kepada Sienna untuk meeting hari ini. Aku memberikan beberapa recommend tempat kepadanya. Dan pendapat Sienna dengan ku ternyata sama,ini akan mempermudah Sienna untuk memberikan referensi jika pemikiran kami sama seperti ini.
“Kalo aja lo ga ada deket sama Aditya gue yakin lo pasti bakalan ambil job ini kan Dheb?” Tebak Sienna mengingat aku begitu menyukai travelling apalagi secara gratis.
“Entah lah syen, kalopun gue ga jadian sama Aditya kayak nya berat buat gue pertimbangin nya karena Jimmy keliatan banget pengen deketin gue”
“Dheb tapi lo baik-baik aja kan ? Akhir-akhir ini lo udah jarang banget cerita tentang Aditya ke gue”
Aku sudah bilang jika Sienna sepeka itu kepadaku,dia khawatir dengan aku,namun aku tidak bisa menceritakan sisi gelap dari Aditya,aku tidak ingin Sienna ikut emosional dengan sikap posesif Aditya.
“I’m Ok Syen”
Aku dan Sienna melajukan mobil ke gedung Trans tv tempat dimana meeting kami berlangsung. Jimmy menyambut kami di depan pintu gedung,dan dia menuntun kami ke ruang meeting.
Sudah ada beberapa orang di dalam sana,sebagian nya aku pernah lihat di dalam tv namun aku tetap tidak tahu siapa mereka. Meeting pun di mulai, sambutan dari Sienna mendapatkan tepuk tangan. Sienna mulai memberikan pendapatnya terkait beberapa tempat yang di jadikan referensi nya untuk acara tv itu. Sebenarnya jantung ku juga ikut berdebar karena takut Sienna salah menjelaskan ataupun penyampaian nya tak di mengerti semua orang disini. Seseorang bertanya tentang tempat yang berada di sulawesi tengah. Sienna menatap ku,namun aku tidak mau membantu nya karena tidak ingin ikut andil dalam meeting ini. Sienna membuka buku catatan nya dan mulai menjelaskan nya dengan hati-hati. Dia berhasil.
Meeting pun segera berakhir dan akhirnya penyampaian Sienna begitu di sukai oleh para pendengar. Dan Sienna di terima dalam acara tersebut. Aku bersorak dalam hati, dan memberikan tos di bawah kursi kepadanya agar orang lain tak melihat itu.
“Yess akhirnya lancar juga, gue udah deg deg an banget Dhebii…” seru Sienna di luar ruang meeting.
“Gue kan udah bilang,gue yakin kok lo bisa. Selamet ya,jangan lupa aja belanja buat gue ntar” ledek ku menyindir upah yang akan di dapat nya nanti.
“Iyaa beres kalo itu. Eh kita jadi makan di luar kan?”
“Iya jadi”
“Ya udah gue ke toilet dulu ya”
“Cepetan syen”
Jimmy menghampiri ku.
“Hmmm padahal aku harap persentasi temen kamu ga berjalan lancar”
Jimmy masih saja berusaha agar aku ikut ke dalam project nya.
“Aku kan udah bilang, bukan cuma aku yang bisa di andalkan, semua teman ku juga bisa di percaya termasuk Sienna”
“Haha iya iya Ok aku percaya”
Aku tersenyum penuh kemenangan.
“Kamu langsung pulang?”
“Ngga, aku mau makan dulu di luar bareng Sienna”
“Oh kalo gitu bareng aja”
“Hah?”
“Hey Jimmy” sapa seorang perempuan menghampiriku dengan seorang laki-laki di samping nya.
Aditya dan Cateline. Aku tersentak melihat mereka berdua. Aku tahu jika Aditya sedang disini dengan para pemain film Adventure itu, namun setiap kali aku melihat mereka berdua aku masih saja merasa tidak nyaman.
“Hay cat”
“Hay Dhebi” sapa Cateline dengan gembira.
“Hay mbak Cateline, hay mas Aditya”
aku ingat betul dia tidak suka aku panggil dengan mas, namun dia tidak bisa berkomentar di situasi seperti ini.
“Kalian udah selesai meeting nya?” Tanya Cateline.
“Udah ini kami baru mau makan” aku membulatkan mata ku kepada Jimmy saat dia menyebut kata ‘kami’ .
“Oh bagus sekalian bareng aja yuk kita juga mau makan” ujar Cateline.
Aditya masih tak bersuara dan terus mencuri pandang menatap ku.
“Hah ngga,aku cuma mau berdua pergi sama Sienna keluar”
“Ya gak apa apa kita sekalian aja bareng makan di luar”
“Ngga Jim makasih,aku sekalian ada urusan sama Sienna”
“Katanya tadi mau makan di luar”
“Iya tapi sambil ngurusin kerjaan lain”
Aku terus berusaha menolak ajakan nya.
“Ya udah mas mbak aku permisi dulu ya,aku mau susul sekalian Sienna”
aku melangkahkan kaki hendak pergi meninggalkan mereka. Namun sebuah tangan menahan ku.
Jimmy menahan tangan ku membuat ku terkejut dan refleks menatap Aditya yang masih mengawasiku. Aku melepaskan pegangan nya.
“Sorry” ucap nya ketika tahu aku tidak nyaman dengan cara dia menahan ku.
“Kamu yakin ga akan ikut kita?”
“Ngga Jim”
“Oke,kabari aku kalo ada apa apa ya Dheb”
secara tidak sadar,ucapan Jimmy telah membuat Aditya kesal dan membuang mukanya.
“Terimakasih” lalu aku pergi dari sana.