
“Deb ayo sarapan”
Itu suara Caca di balik pintu. Aku yang masih duduk di kasur dengan selimut ku yang menutupi seluruh tubuhku sebenarnya tidak ingin meninggalkan kamarku ,tetapi perutku sudah meronta ronta meminta makanan.
Aku pergi mendekati pintu dan membukanya dengan lemas. Aku sandarkan kepalaku di depan pintu.
“Oh my god deb,muka lo kacau banget abis di perkosa siapa lo?” Celetuk Sisil, membuat ku kembali mengingat kejadian mengerikan itu.
Aku menekukan wajahku.
“Boleh gue minta makanan nya di anterin ke sini ga ?” Rengek ku dengan manja.
“Lo masih sakit?”
Aku menganggukan kepalaku dengan pelan meyakinkan mereka bahwa apa yang mereka lihat itu benar.
“Yaudah yaudah gue ambilin makanan nya aja ya”
Ucap Sienna.
“Makasih yaa” aku berusaha terlihat memprihatinkan agar mereka percaya bahwa aku sedang sakit.
Mereka bertiga segera pergi dan aku kembali ke kamarku. Bernafas lega,akhirnya aku tidak perlu menemui Aditya, bukan nya aku takut,hanya saja aku bingung memberikan sikap kepadanya setelah apa yang sudah terjadi tadi pagi buta. Aku bergegas mandi dan menunggu sarapan ku di kamar.
“Cuma ini?” Kaget ku saat melihat makanan yang dibawakan Caca hanya roti lapis dan air minum.
“Iyaa lu mau gue bawain apa?,kan lo lagi sakit lo ga boleh dong makanan yang sembarangan dulu biar lo cepet pulih”
Bibirku berubah mengerucut,aku kesal karena tidak bisa menikmati sendiri makanan yang ada di Resto. Padahal perut ku sudah begitu lapar,karena jika di ingat makanan terakhir ku adalah kepiting di Resto kemarin sore dengan Aditya,dan sampai malam aku malah tidur dengan nyenyak nya.
“Kita mau siap siap lanjutin trip lo istirahat aja ya,gue udah minta izin sama Mas Dias buat lo istirahat dulu, gue bawa catetan lo aja ya biar gue yang ambil alih kerjaan lo”
Ucap Sienna membuatku terharu.
“Aahhh thank yaa”
Ada rasa bersalah dalam diriku karena sudah membohongi mereka,tapi apa boleh buat, aku sama sekali belum siap bertemu lagi dengan Aditya.
Menjelang siang, aku sudah tidak bisa lagi menahan rasa laparku. Aku keluar dari kamar hotel ku dan berharap semua orang sudah pergi agar aku bisa mencari makanan di resto sendirian.
Aku meliak liukan kepalaku berusaha mencari sosok yang mungkin aku kenal, tetapi ternyata sejauh mata memandang tidak ada orang yang aku kenal di sekitarku. Ini aman,aku bisa leluasa menjajahi seluruh makanan di Restaurant. Dengan tergesa gesa aku mengambil piring dan mengambil makanan yang masih tersedia di meja hidangan.
“Bukan nya kamu sakit”
Seseorang sudah berdiri tepat di belakangku saat aku baru saja merasa lega. Dan sialnya seseorang itu adalah orang yang benar benar sedang aku hindari.
‘Kenapa harus Aditya sih’ gerutuku dalam hati
Aku tidak berbalik untuk melihat nya dan hendak pergi melangkahkan kakiku. Aditya menarik tangan ku.
“Di please,bisa bersikap biasa aja ga?” Aku langsung mengatakan itu tanpa basa basi sambil melepaskan tangan nya dari lenganku.
“Aku biasa aja,kamu yang ga biasa”
Aku terdiam karena memang akulah yang terlihat aneh dan tidak biasa saja,dan malah berusaha menghindarinya.
“Kamu kenapa ada disini sih?” Risihku.
“Ya aku mau cari makan” ucapnya.
“Kenapa kamu ga ikut nge trip lagi sama yang lain?”
“Dias tau kemarin aku ikut Adu Tombak,dia minta aku untuk istirahat” ujarnya.
Aku memejamkan mataku untuk menahan emosi ku. Jika tahu seperti ini,aku lebih baik ikut trip dengan teman-teman ku.
Aku berusaha membiarkan nya,mengacuhkan nya dan bersikap seolah tidak pernah terjadi apa apa antara aku dengan dia.
Lalu aku mulai mengambil makanan ku, agar cepat mengisi perut ku dengan kenyang dan kembali ke kamar.
Tidak lama seorang wanita datang menghampiri meja aditya, itu Catelin si lawan main nya di dalam film yang akan di bintangi mereka. Ternyata bukan kita berdua saja yang di tinggal di Resort, Catelin pun tidak ikut dengan yang lain nya. Catelin duduk di samping Aditya.
“Aku nyari kamu kemana mana, kok ga ngajakin aku kesini” katanya dengan nada centil nya.
Aku berusaha untuk tidak memperdulikan nya. Namun mataku tak henti untuk mencuri curi pandang dengan melirikan sedikit ke meja Aditya. Memang benar dari gelagat Catelin sepertinya dia begitu dekat dengan Aditya dan begitu menggoda Aditya dengan baju baju minim nya. Aditya tidak terlalu menggubris Catelin di samping nya. Dia terus memakan santapan nya dengan lahap.
“Aku laper” singkat nya.
“Ya kan kamu bisa ajakin aku,biar kamu ga kesepian makan sendiri”
Kenapa aku merasa gerah mendengar percakapan mereka. Aku terus berusaha mengacuhkan nya dan pura pura tidak memperdulikan mereka.
Handphone ku bergetar di atas meja.
‘Mas Glenn’ aku langsung mengangkatnya.
“Hay Mas Glenn” aku sedikit melirik ke arah Aditya, dia melirik ku dengan sudut matanya.
“Kamu udah baikan deb?” Tanya nya di sebrang telephone.
“Udah mas, ini aku lagi makan di Resto”
“kita mau lanjut diving nih, kita lewat lagi ke Resort,kalo kamu udah baikan kamu mau ikut? Kalo mau aku jemput ke resort?”
“Jemput? Boleh mas, ya udah aku siap siap dulu ya” aku sedikit mengeraskan suaraku agar Aditya mendengarkan itu.
Aku pun tidak tau persis apa yang aku lakukan, kenapa seolah aku ingin Aditya tau bahwa yang menelpon itu adalah Glenn. Dan begitu puasnya saat aku melihat Aditya dan Catelin sedang memperhatikan ku dan mendengarkan aku.
Aku langsung meninggalkan makanan ku dan pergi darisana, sudah muak aku melihat kemesraan mereka. Dan kenapa aku harus merasa seperti itu ?
Aku bersiap dulu di kamar hotel mengganti pakaian ku,dan mengambil beberapa perbekalan untuk diving. Baru saja aku selesai berkemas ponsel ku kembali berdering, Glenn kembali menelpon ku
“Hay mas udah di depan?”
“Loh katanya kamu bareng Aditya? Aku tadinya mau nanya kamu udah pergi apa belum?” aku langsung mengerutkan kening ku, dan terkejut.
“Hah ? Bareng Aditya?”
Badan ku langsung terasa lemas kembali,dan terduduk di samping kasurku.
“Siapa yang bilang mas? Aku ga bilang bareng Mas Aditya ko”
“Loh tadi Aditya telpon aku katanya dia dan Catelin mau nyusul terus sekalian aja kamu bareng, aku kira Aditya udah bilang”
Aku menggelengkan kepalaku dengan sedih.
“Mas Glenn ga bisa jemput aku?” Tanya ku rasanya ingin menangis sekali saat ini.
“Aku udah lewat Resort Deb, tadinya aku mau jemput kamu pake mobil crew, tapi pas tau kamu bareng Aditya jadi aku bareng yang lain pakai bis”
Aku benar benar ingin histeris, raut muka ku berubah menjadi sedih dan bingung.
Tidak lama suara ketukan pintu terdengar, aku yakin itu pasti Aditya. Dengan emosi aku berjalan membukakan pintu dengan kasar. Baru saja aku akan memaki nya mulut ku langsung tertahan ketika melihat siapa yang ada di balik pintu.
“Hey deb udah siap?” Tanya lembut Catelin, dengan cantik dan senyum nya yang manis.
Wajah ku langsung berubah kikuk dengan menderetkan sejumlah gigi padanya.
“Eh mbak, udah mbak” aku sedikit malu karena ku kira itu Aditya, untung saja aku belum memaki nya di balik pintu.
“Ya udah yok,Aditya udah nunggu di depan”
Aku menghela nafasku untuk menutupi rasa kesal ku di hadapan Mbak Catelin yang super baik dan cantik ini,dan aku mengangguk lalu mengikutinya setelah aku membawa tas dan mengunci kamar.
Aku harus tenang,dan berusaha bersikap seperti tidak terjadi apa-apa,Aditya saja bisa kenapa aku tidak.