Obsessive Love Disorder

Obsessive Love Disorder
Bertemu lagi dengan Danu



Aditya sudah memesankan tiket penerbangan untuk ku dan ke tiga teman ku setelah keputusan yang panjang beberapa hari karena aku tidak mau terburu-buru seperti apa yang diminta Aditya. Dan kami memutuskan berangkat di hari weekend agar Caca dan Sisil bisa ikut ke Bali untuk menemani ku.


Bagi mereka ini adalah liburan kedua yang menyenangkan setelah mereka merasakan berlibur gratis ke Sumba tahun lalu,dan kali ini mereka merasakan liburan gratis kembali dengan tanpa pekerjaan yang akan di lakukan mereka disini. Mungkin hanya aku saja yang bertugas sementara mereka hanya menyemangati ku.


Kita sampai di Villa Aditya yang sebelum nya pernah aku tinggali bersama nya. Teman-teman ku begitu bahagia dan senang ketika mereka masuk kedalam villa yang begitu megah dan memiliki kolam renang pribadi yang begitu estetik dengan pemandangan pantai.


“Gilaaa mimpi apa sih gue kemaren bisa nginep di Villa Bali kaya gini” seru Sisil dengan meloncat ke atas tempat tidur yang begitu lebar.


“Lo pernah kesini Dheb?” Tanya Caca.


“Iya. Waktu itu Aditya ngajak gue nginep disini,awal-awal kita kesini dia males banget tidur di rumah nya” ucap ku mengingat pertama kali dia begitu enggan untuk tidur di rumah orang tua nya.


“Eh lo tau ga rumah Aditya kaya apa?” Ujar Caca kepada Sienna dan Sisil yang sedang berbaring di tempat tidur.


Sienna dan Sisil saling melempar pandang dengan bingung.


“Nih gue kasih liat” ujar Caca sambil mengeluarkan ponsel nya.


Sienna dan Sisil langsung menghampiri Caca dan duduk di kedua sisi nya. Mereka ikut menatap layar ponsel Caca menunggu apa yang akan di tunjukan Caca.


Aku hanya berdecak pinggang menatap Caca yang akan mulai lagi dengan gosip nya.


Lalu dia mencari di internet kediaman keluarga Christian Caterison yang merupakan adalah orang tua Aditya. Dan muncul lah sebuah bangunan megah bak istana yang begitu besar dan memiliki pilar-pilar tinggi seperti bangunan eropa.


“Waaaawwwww” seru mereka semua begitu takjub dan tak percaya.


Sisil langsung merebut handphone Caca.


“Ini rumah Aditya?” Tanya Sisil tak percaya dengan mata nya yang membulat.


Aku mendelikan mata ku dan menyeret koper ku menuju tempat tidur utama ku yang berada di sebrang nya.


“Gila gede banget Dheb” seru Sisil terus mengotak atim handphone Caca untuk melihat rumah orang tua Aditya.


Aku berhenti di ambang pintu dan membalikan tubuh ku.


“Gue mau ganti baju dulu terus istirahat ntar sore gue mau ke pantai,kalau kalian mau makan tinggal telepon Restaurant yang ada di ujung sana, nomor nya ada di samping telepon ruang tamu,bilang aja atas nama Aditya dia udah confirmasi ke Restaurant milik nya itu” ujar ku yang lagi-lagi membuat ketiga teman ku takjub.


“Sumpah dia beruntung banget dapetin Aditya” ujar Sienna.


“Enak banget jadi Aditya ya, kayak nya dia ga pernah kelaparan” ujar Sisil dengan ocehan nya yang begitu polos.


Caca dan Sienna menatap nya dengan aneh.


“Kalo lo bukan Aditya emang lo pernah kelaperan?” Tanya Caca dengan sinis,karena ucapan dia sangat tidak masuk akal.


“Ngga pernah” jawab Sisil dengan cemberut.


“Ya udah” cibir Caca dengan kesal.


Aku menggelengkan kepala sambil kembali berjalan meninggalkan mereka dan masuk ke dalam kamar utama.


Kamar utama ku berada tepat di depan kamar teman-teman ku berada. Dan juga kedua kamar kami memiliki pintu samping dari kaca geser yang akan membawa kami langsung ke kolam renang dan pantai yang berada di belakang villa ini.


Kamar utama ini di tempati oleh aku sendiri. Karena Aditya bilang hanya dia yang boleh menyentuh kamar pribadi itu dan kini bertambah menjadi aku dan Aditya saja yang boleh tidur disini tidak boleh ada yang lain.


Teman-teman ku sudah berganti pakaian dan bersantai di pesisir pantai di kursi panjang. Mereka sudah memakai kacamata hitam dengan pakaian seksi nya untuk memanjakan tubuh mereka di terik nya matahari sore itu. Begitu lah mereka,seperti memiliki kesempatan langka untuk memakai pakaian seksi nya disana. Pantai merupakan salah satu tempat yang tepat untuk mereka memakai pakian tak senonoh seperti itu,aku pun belajar dari mereka bisa memakai pakaian seperti itu ketika kita KKN.


“Gue ngejar tempat usaha deket sini keburu tutup” ujar ku terburu-buru.


Lalu pergi meninggalkan mereka. Aku berjalan dengan cepat di pesisir pantai menuju salah satu tempat penyewaan apapun yang berada. Aku harus menganalisis bagaimana hasil dari usaha mereka saat ini.


Aku bertemu dengan seorang penyewa boat yang seperti nya aku kenal dari jauh. Dia memicingkan matanya begitu melihat ku. Tubuh nya besar berotot tidak memakai baju,kulit nya gelap dan sedikit lebih muda dari ku.


“Kak Dhebi” sapa dia menunjuk ku.


Aku mengkerutkan kening ku memandang nya. Aku berusaha mengingat siapa namanya.


“Wayan” ujar ku mengingat nama itu.


“Kakak ingat saya?” Tanya dia.


Aku langsung menjabat tangan nya dengan senang.


“Ingat lah bli. Bli masih kerja disini?” Tanya ku melihat dia sedang membersihkan perahu boat yang selalu di sewakan nya dulu kepadaku.


Bahkan terkadang dulu aku sering di berikan penyewaan gratis jika aku akan pergi diving dengan mereka. Mereka selalu memberikan ku tumpangan gratis ke tengah pantai. Aku sudah berteman baik dengan mereka sejak KKN dulu.


“Mau kemana Ka Dhebi?” Tanya orang yang bernama Wayan itu.


“Aku sedang ada tugas lapangan dari kampus ku”


“KKN lagi bukan?” Tanya nya.


“Oh bukan,hanya beberapa hari saja disini”


“Ka Dhebi bersama teman-teman yang lain kah?” Tanya nya.


“Iya teman ku aku tinggal di Villa,yang memiliki tugas hanya aku,jadi aku sendiri yang berkeliling sekarang”


Aku memperhatikan boats nya yang masih saja sama. Berwarna putih dan memiliki corak indah di samping samping nya.


“Kak Dhebi mau diving kah?” Tanya nya mengira jika aku ingin menaiki boats nya.


“Oh. Tidak,tidak untuk saat ini. Aku masih harus menyelesaikan tugas ku”


Tidak lama seseorang datang menghampiri Wayan dengan memakai pakaian menyelam nya yang begitu ketat. Rambut nya tampak terlihat di ikat walaupun hanya sedikit. Kulit nya begitu putih pucat dan berbadan tinggi besar.


“Hay Kak Danu” sapa Wayan kepada pria itu.


Aku terkejut melihat pria yang bernama Wardanu itu juga berada disini.


Danu juga tak kalah terkejut melihat ku,dia menatap ku dengan mengkerutkan kening nya.


“Euh ya udah Bli aku lanjut jalan lagi ya” ucap ku memecahkan keheningan kami.


“Oh iya,nanti kalau mau diving Kak Dhebi bisa panggil aku disini ya”


“Pasti” jawab ku dengan tersenyum dan tidak menoleh lagi ke arah Danu.


Aku pergi dari sana dengan tanpa mengacuhkan nya yang terus menatap ku dengan bingung.