Obsessive Love Disorder

Obsessive Love Disorder
Pertanda buruk



Danu membawa ku menuju tangga boats dan membantu ku untuk meraih tangga nya. Aku segera di tarik oleh Wayan dari atas dan di bantu duduk di atas boats. Wayan terlihat khawatir.


Aku duduk dengan meluruskan kaki ku. Wayan segera melepaskan kaki katak ku dan memeriksa kaki ku yang telah berdarah.


“Wah Kak Dhebi ini sobek nya seperti nya lebar Kak” ujar Wayan membuat ku semakin panik.


Aku terus menahan perih luka ku yang masih terkena air laut yang asin. Danu terlihat ikut panik menghampiri ku dan memegang kaki ku.


“Tidak apa-apa” pinta ku menahan tangan nya agar tak menyentuh ku.


Danu menatap ku dengan tajam.


“Kamu mau membiarkan luka mu seperti ini?” Tanya nya dengan ekspresi marah membuat ku bingung dan kembali diam.


“Jef ambilkan kotak obat nya” pinta Danu kepada rekan nya.


Dan dia segera mengambil kan kotak obat di dalam tas yang di bawa mereka. Danu segera mengambil nya dan membuka kotak obat itu.


“Ambil kan dulu air minum ku” pinta nya lagi dengan mengeluarkan sebuah cairan di dalam kotak juga obat luka nya.


Air minum itu di tumpahkan tepat di luka ku untuk membersihkan nya dari darah yang mulai mengalir. Lalu Danu membuka cairan infusan dan ikut di tumpahkan di luka ku juga. Aku tersentak ketika cairan infusan ikut di tumpahkan di luka ku.


“Kenapa? Ini bukan alkohol tidak mungkin sakit” tanya nya bingung.


“Ya aku tahu” jawab ku dengan kikuk.


Aku hanya berfikir kenapa dia mau membantu ku bahkan mau menyentuh kaki ku. Aku jadi merasa tidak nyaman karena sebelum nya aku telah berbuat begitu tidak ramah kepadanya.


Danu menekan nekan luka ku dengan kapas.


“Sakit!” Teriak ku mengerjapkan kaki ku.


“Terlalu keras?” Tanya nya , aku tak menjawab nya dan terus menatap nya dengan bingung.


Lalu dia kembali menekan luka ku dengan kapas.


“Sudah cukup!” Pinta ku menarik kaki ku kembali.


“Iya sudah” ucap nya kembali menarik kaki ku.


“Aku tutupi dulu luka mu dengan plester ini. Ini anti air,kamu tenang saja” ujar Danu.


Lalu dia melepaskan perekat plester itu dan memasangkan pleser ke luka ku yang lumayan panjang.


Akhirnya dia melepaskan kaki ku. Aku menyentuh plester besar itu yang tampak seperti plastik tebal dengan busa obat di dalam nya. Aku melirik Danu dengan sedikit rasa malu.


“Terimakasih” ujar ku dengan kaku dan tanpa menatap nya.


“Sama-sama” jawab nya dengan tersenyum manis.


“Kita lanjutkan?” Tanya pelatih nya yang tampak sedikit lebih tua itu.


“Kita putar balik,kita kembali nanti sore” ujar Danu dengan masih terduduk di hadapan ku.


“Diving nya selesai?” Tanya wayan.


Aku menatap Danu dengan heran. Aku semakin merasa tidak enak.


“Ya. Dhebi harus segera mengistirahatkan kaki nya” ujar Danu lagi semakin membuat ku mengkerutkan kening.


Kenapa dia berbuat seolah peduli kepadaku?


Boats benar-benar berputar balik kembali ke pesisisir pantai. Aku membereskan barang-barang ku dan ku simpan ke dalam tas. Aku berusaha berdiri dengan satu kaki ku dan segera turun dari boats.


Danu berusaha membantu ku dengan menyentuh kedua lengan ku.


“Biar aku saja” pinta ku dengan menunjukan dengan menghindar,itu adalah sebuah tanda penolakan.


Danu menatap ku dengan dingin. Dan dia melepaskan tangan nya dari tubuh ku. Aku berusaha menahan rasa sakit di kaki ku dan turun dari tangga.


“Kak Dhebi bisa jalan nya?” Tanya Wayan melihat ku kesulitan berjalan.


“Aku bisa tenang saja. Terimakasih untuk hari ini ya” ucap ku manis kepada Wayan.


Lalu raut wajah ku berubah dingin ketika menatap Danu yang berdiri di samping Wayan ikut memperhatikan ku.


“Dan aku minta maaf sudah mengacaukan acara diving mu” ucap ku dengan ketus dan merasa sedikit bersalah.


“Dimana hotel mu?” Tanya Danu tanpa menggubris permintaan maaf ku.


“Aku tinggal di Villa” jawab ku dengan dingin lalu berbalik meninggalkan dia.


Lagi-lagi dia membuat ku risih.


“Aku tinggal di Villa pacar ku. Dan aku tidak ingin pacar ku melihat kamu mengantar kan aku ke sana dan membuat dia marah karena melihat kamu bersama ku” ucap ku menakuti nya dan berusaha terlihat meyakinkan.


Dia menatap ku dengan ragu.


“Kalau memang iya pacar kamu ada di Vila mana mungkin dia meninggalkan kamu sendiri untuk diving setiap pagi? Aku juga sering melihat mu keluyuran di siang hari sendiri,tidak pernah melihat ada satu orang pun yang menemani mu” ledek nya membuat ku bungkam.


Aku menatap nya dengan kesal.


“Jangan mengkhawatirkan ku. Kamu tidak tahu siapa aku” ucap ku dengan begitu ketus nya.


Lalu aku berbalik dan segera pergi dengan jalan terpincang menuju Villa ku.


Sesampainya di Villa ketiga teman ku menyambut ku dengan shock dan segera membantu ku berjalan masuk ke dalam Villa.


“Dhebiii” Caca begitu panik melihat kaki ku di balut plester besar dengan terus memipih ku masuk ke dalam Villa.


Aku di dudukan di sofa ruang tamu.


“Lo kenapa? Kok kaki lo bisa gini?” Tanya Sisil begitu heran melihat kaki ku.


“Duh kalo tau Aditya bisa abis lo ini” ujar Caca dengan masih saja panik memeriksa kaki ku.


“Kaki gue ke gores karang tadi pas diving,gak apa-apa ntar juga ilang kok kalian jangan lebay gitu deh” ujar ku seolah semua akan membaik,padahal aku sendiri tidak yakin dengan ucapan ku.


Jika nanti Aditya mengetahui ini,sudah pasti dia akan menceramahi ku karena aku tidak bisa menjaga diriku sendiri.


“Ya lo lagian ngapain sih diving mulu pagi-pagi heran deh gue. Kalo lo pengen olah raga kan ga perlu diving Dheb. Lo bisa lari pagi kek,lo bisa yoga di taman belakang kek,atau apa gitu yang ga bikin diri lo bahaya” ucap Sienna begitu kesal memarahi ku.


“Siapa bilang? Lari sama yoga juga bisa bahaya tau” sahut Sisil membuat kita menatap nya dengan bingung.


“Kalo lari nya dari sini sampe Jakarta kan bisa bahaya juga kan,Yoga juga bisa bahaya kalo kita berdiri pake tangan selama berjam jam,pegel tangan kita,bahkan bisa sampe putus juga tangan kalo yoga kaya gitu” celoteh Sisil membuat kita kembali menatap nya dengan emosi.


Caca menarik nafas nya begitu dalam.


“Iya. Dan kalo lo bikin temen-temen lo emosi mulu juga itu bisa bahaya. Bahaya buat keselamatan nyawa lo” kesal Caca dengan gemas nya.


“Lo mau gue lempar ke tengah laut lalu gue bilang ke keluarga lo,kalo lo iseng diving dan di makan hiu,mau?!” Tanya Caca dengan begitu menyeramkan.


Sisil tampak ketakutan dengan wajah nya yang begitu cemberut.


“Iya ngga mau” jawab nya.


“Makanya lo diem aja” sahut Sisil dengan nada yang masih saja kesal.


“Ada lagi yang lebih berbahaya dari itu semua” ucap ku dengan raut wajah begitu panik.


“Apa?” Tanya Sienna dan Caca bersamaan.


“Tadi tiba-tiba ada Danu ikut diving bareng gue, dan dia yang udah bantuin gue ngobatin luka gue” ucap ku dengan mengingat Danu yang memang terlihat aneh bisa ikut diving di pagi hari dengan ku.


“Apa!! Danu?” Tanya Sienna tak percaya.


“Ya” jawab ku dengan gelisah.


“Dheb. Lo jangan macem-macem deh. Lo mau bikin amarah Aditya bangun?” Panik Sienna yang begitu tahu bagaimana cemburunya Aditya.


“Wah itu lebih bahaya emang” sahut Sisil dengan kikuk nya.


“Iya gue tahu. Tapi gue bener-bener ga tau kalo dia ikut diving tadi,dan gue juga ga mau di obatin luka ini sama dia, dia sendiri yang langsung mau bantu obatin luka gue pake peralatan medis nya itu” ucap ku berusaha menjelaskan.


“Kenapa bisa Danu ada disini sih?” Tanya Caca yang sama-sama membuat ku heran.


“Gue juga ga tau” jawab ku dengan bingung,lalu aku mengingat kejadian aku bertemu dia ketika pertama disini.


“Tapi pas awal kesini memang gue sempet ketemu dia di penyewaan boats pas sore-sore. Terus kemarin pagi pas gue pulang diving gue juga gue sempet ketemu dia dulu,Wayan bilang memang Danu pelanggan setia dia yang suka sewa boats nya setiap siang sama sore hari,tapi sekarang malah dia ada ikut diving barengan sama gue pagi-pagi gini” ucap ku menceritakan hal yang mengganggu fikiran ku. Danu sempat bilang ingin tahu bagaimana suasana bawah laut di pagi hari seperti apa yang selalu aku lakukan.


“Dheb” panggil Caca dengan begitu khawatir.


“Ini pertanda ga baik Dheb” sambung nya membuat ku juga berfikir demikian.


“Pertanda ga baik apa sih?” Tanya ku seolah tak mengerti.


“Dia berusaha deketin lo Dheb lo masa ga peka sih?” Sahut Sienna memiliki satu pemikiran dengan Caca.


“Ngga,ngga,ngga” jawab ku dengan tegas berusaha menangkis prasangka mereka.


“Dia cuma gila aja. Dia cuma belum tahu kalau gue ini calon istri Aditya,lama kelamaan dia juga bakalan nonton berita gue sama Aditya married kan” jawab ku berusaha menenangkan mereka.