
Keesokan hari nya. Aku sudah bersiap berpakaian dengan memakai kemeja berlengan pendek berwarna abu dan berbahan licin,aku pun memadukan nya dengan celana jeans berwarna telur asin.
Aditya keluar dari kamar mandi dan terdiam melihat ku.
“Di biasakan jangan memakai celana ketat seperti itu bi” pinta Aditya dengan nada nya yang mulai kesal.
“Kenapa?” Tanya ku menatap celana ku.
“Celana kamu teralu ketat,dan bagian perut pun terlihat kencang sekali itu. Ganti celana kamu!” Pinta Aditya.
“Perut ku kan belum membesar di” ucap ku dengan memelas.
“Aku sudah membaca ini” ucap Aditya sambil mengambil buku bersampul putih yang ada di meja samping tempat tidur.
Baju berjudul “pregnancy” yang ternyata sudah di baca penuh oleh Aditya.
“Walaupun perut kamu belum membesar,kamu tetap harus membuat ruang untuk kulit kamu. Nanti bisa menimbulkan stretch mark di sekitar pinggul dan paha kamu”
“Iyakah?” Tanya ku dengan mengangkat halis.
“Baca saja” ucap Aditya sambil membalikan badan nya dan mengambil pakaian yang sudah aku siapkan di atas tempat tidur.
“Baiklah” ucap ku sambil membuka kembali lemari pakaian dan mencari lagi pakaian ku.
“Yang ini?” Tanya ku sambil menunjukan sebuah baju berwarna kuning dan mode leher terbuka.
“Jangan pakai baju terbuka seperti itu,nanti kamu masuk angin”
Dengan cemberut aku kembali memasukan baju itu dan memlilih baju lain.
“Kalo ini?” Tanya ku sambil menunjukan sebuah dress berwarna pink dan ber model rok mini.
“Dhebii!!” Panggil Aditya dengan menatap ku tajam.
“Lalu yang mana?” Tanya ku dengan raut wajah yang cemberut.
“Ya yang mana saja,asal jangan pakai yang macam-macam bi. Kalau tidak ada,besok kita belanja baju” ucap Aditya dengan tajam membuat ku mengangkat halis menatap nya.
“Ada ada ada” jawab ku dengan cepat memilah milah baju kembali di dalam lemari karena takut Aditya menyeret ku untuk shooping.
“Ini baju tertutup dan tidak menyebabkan masuk angin” ucap ku sambil menunjukan baju berlengan panjang dan celana jogger berwarna lylac.
Aditya hanya tersenyum melihat ku yang begitu takut di ajak berbelanja dengan nya. Entahlah,aku hanya merasa jika shoopinh adalah hal paling membosankan yang aku tahu. Apalagi kita harus banyak mengitari seiasi mall untuk mendapatkan baju yang kita sukai. Aku akan membeli baju jika aku membutuhkan nya,dan aku akan memilih baju dengan cepat dan tidak banyak memilih.
Aku dan Aditya sampai di Siloam Hospital. Salah satu rumah sakit terbesar di Jakarta. Rumah sakit ini lebih seperti Hotel berbintang dengam gaya yang modern dan kebersihan yang dimiliki pun begitu patut di acungi jempol. Ketertiban rumah sakit pun sangat di taati di rumah sakit ini,aku dan Aditya pun di layani dengan baik oleh pekerja Rumah sakit.
“Silahkan masuk” ucap salah satu perawat menunjuk pintu besar di hadapan kami.
“Terimakasih” ucap Aditya sambil terus memegang punggung ku masuk ke dalam ruangan itu.
“Selamat siang” sapa seorang Dokter yang berdiri dari duduk nya ketika melihat kami masuk.
“Siang Dok” sapa Aditya sambil menjabat tangan dokter gagah itu.
Lalu kamu mulai membahas percakapan kami tentang seputar kehamilan ku,dan keluhan ku selama hamil. Dokter mencatat di dalam sebuah buku nya dengan terus bertanya dengan begitu rinci. Setelah mewawancarai ku,dokter meminta ku berbaring di atas tempat tidur dan seorang suster perempuan membantu ku untuk membaringkan ku di tempat tidur.
Suster itu menyelimuti ku dengan kain tipis dan dia menyiapkan alat USG di samping ku. Dokter itu berdiri dan memakai sarung tangan karet yang di berikan sang suster kepadanya.
Sang suster sudah begitu hafal dengan apa yang di butuhkan si dokter. Dokter itu mengoleskan suatu Gel kedalam perut ku dan dengan sebuah alat yang terasa dingin di perut ku dokter itu terus menekan alat itu ke sekliling perut ku sambil melihat layar yang ada di hadapan nya. Di layar yang 4D itu masih belum terlihat bentuk sang bayi namun Dokter itu menjelaskan jika janjin ku aman dan sehat.
Setelah konsultasi,aku dan Aditya kembali ke luar menuju tempat pengambilan obat. Kita masih harusa menunggu antrian untuk mengambil obat,tidak ada jalur VIP seperti apa yang selalu di inginkan Aditya agar mendapatkan sesuatu lebih cepat.
“Aku mual di” ucap ku berbisik kepada nya.
“Aku antar ke toilet”
“Aku bisa sendiri. Sebentar lagi giliran kita mengambil obat,aku tidak akan lama”
“Baiklah”
Lalu aku segera pergi ke toilet untuk mengeluarkan rasa mual ku di dalam closet. Tidak banyak yang aku keluarkan,karena pagi ini aku hanya memakan selai roti dan susu,sehingga yang aku muntahkan pun hanya itu. Setelah selesai aku keluar dari toilet dan kembali ke tempat Aditya berada.
Ketika di lorong aku melihat seorang wanita keluar dari ruangan dengan stetoskop di leher nya. Aku melihat wajah wanita yang tidak asing itu.
“Mira” ucap ku dengan pelan mengingat teman semasa SMA ku.
Dia adalah teman satu sekolah ku namun kita berbeda kelas. Dulu aku berada di kelas IPA1 sedangkan dia di IPA6. Kelas kami berjauhan namun dulu selama sekolah aku dekat dengan nya karena ada di satu extra curricular.
“Danu?!” Aku langsung membalikan badan dengan cepat dan kembali ke dalam toilet.
Aku bersembunyi di balik tembok dan menunggu mereka pergi dari sana,aku mengintip sedikit ke luar pintu dan melihat Danu dan Mira berjalan mendekati toilet ini.
Aku berlari masuk ke salah satu closet dan segera menutup pintu closet itu.
“Ya udah,nanti aku kabarin ya,kalau ada apa-apa kamu bisa hubungi aku”
“Oke Mir. Thank you”
“Sama-sama nu”
“Aku pergi dulu ya
“Oke”
Seperti itulah percakapan yang aku dengarkan dari dalam closet,lalu terdengar suara langkah kaki masuk ke dalam toilet wanita ini yang aku yakini adalah Mira.
Lalu setelah aku memastikan tidak ada suara Danu,aku keluar dari closet dan berpura-pura mencuci tangan di depan wastafel di samping Mira berada.
“Mira?!” Sapa ku dengan terkejut melihat nya.
“Dhebii?!” Dia tak kalah terkejut melihat ku di hadapan nya.
“Ya tuhan Dhebi” lalu dia memeluk ku dengan erat dan begitu bahagia.
“Lo kenapa bisa disini?” Tanya dia dengan masih terlihat tak percaya.
“Gue lagi periksa kandungan gue”
“Lo hamil?”
Aku hanya menganggukan kepala ku dengan tersenyum senang.
“Sama Aditya?”
“Iyalah,masa ngga”
“Dia dimana?”
“Lagi ambil obat,tadi gue mual-mual terus ke toilet dulu”
“Oh lagi nikmati masa kehamilan” ledek nya.
“Lo udah married?” Tanya ku.
“Gue udah punya anak 1 Dheb. Masih kecil tapi”
“Wih hebat”
Aku ingin sekali bertanya tentang Danu kepadanya,karena terdengar dari percakapan mereka seperti nya mereka sudah mengenal satu sama lain. Namun aku sedang mencari pertanyaan yang tepat dan tidak terdengar mencurigakan.
“Oh iya. Tadi gue sempet liat lo ngobrol sama siapa di luar?” Tanya ku dengan berusaha terlihat biasa saja.
“Siapa?”
“Ga tau kedengeran nya cowo” ucap ku menggedikan bahu dan membuat raut wajah tak peduli.
“Oh itu Danu Dheb. Iya bener!” Seru nya terlihat antusias memberi tahu ku. Namun aku bingung melihat ekspresi nya.
“Itu Danu Dheb lo lupa?” Tanya Mira semakin membuat ku tak mengerti.
“Dia penyanyi kan?” Tanya ku dengan menjawab pertanyaan nya.
Mira terdengar berdecak dan dia seolah berusaha mengingat kan ku sesuatu.
“Dheb,dia satu sekolah dengan kita waktu kelas 1 terus dia pindah ke Jakarta saat kelas 2” aku semakin terkejut mengetahui Danu satu sekolah dengan ku.
“Iya?” Tanya ku tak percaya.
“Dheb. Kalian pernah kecebur di kolam air terjun waktu acara camping kita saat kelas 1 di gunung puntang,dan lo bilang lo kena ranting pohon tumbang. Lo masa lupa sih?”
Aku tersentak mendengar cerita Mira. Jantung ku tiba-tiba saja berdetak kencang,fikiran ku mulai kembali mengingat kejadian itu.
“Dia tadi lagi konsultasi tentang adik nya yang sakit…” cerita Mira yang tak lagi ku dengarkan dan ku perhatikan.