
Aditya membawaku ke Apartemen nya. Apartemen yang pernah aku tinggali bersama nya dengan waktu yang cukup lama. Aku begitu mengingat masa-masa ketika aku tinggal disini bersama nya. Bagaimana aku memasak di dapur,mengajak dia makan di meja makan, menonton tv di ruang tengah dan tidur dengan mesra di kamar nya. Semua nya tampak sama seperti terakhir aku meninggalkan tempat ini.
Aditya duduk di sofa mengistirahatkan dirinya. Aku langsung menuju kamar nya mengambil kotak obat.
Aku duduk di samping nya dan kembali membersihkan luka Aditya,padahal luka kemarin saja saat dia berkelahi dengan Jimmy pun belum kering di tambah dengan luka lain nya membuat wajah dia penuh dengan luka.
“Kenapa hobi banget berantem sih?” omel ku sambil membersihkan luka nya.
“Luka kamu yang kemarin aja belum sembuh” tambah ku terus memarahinya.
“Biar kamu bisa obatin aku terus” ujar nya menatap ku dingin.
Dia terus saja membuat ku kaku setiap kali dia membuat ku malu seperti ini.
“Jadi ada apa sebenarnya?” Tanya ku dengan tangan terus membersihkan darah yang sudah mengering di pelipis dan kening nya.
“Kamu sudah dengar semua kan?”
“Ngga, kamu masih hutang penjelasan tentang ciuman kamu di Club malam itu” mengingat kejadian yang membuat ku pergi dari sini,sebenarnya itu masih terasa menyakitkan dan aku masih butuh penjelasan.
Dia membenarkan duduk nya agar lebih nyaman bercerita kepadaku, dia menyimpan kapas dari tangan ku, dan memegang tangan ku dengan lembut agar aku bisa mendengarkan dia dengan seksama.
“Lucy bercerita tentang keluarga nya yang menyedihkan, orang tua nya tidak ada yang datang malam itu ke acara ulang tahun nya”
“Kenapa?”
“Dia broken home. Walaupun Lucy punya segala yang bisa dia beli,tapi dia tidak punya keluarga yang sempurna dan utuh. Ayah nya berselingkuh meninggalkan Ibu nya, ayah nya tinggal dengan selingkuhan nya dan Ibu nya pergi ke luar negri meninggalkan Lucy disini dengan ayah nya, dia merasa kesepian”
Memang begitu menyedihkan kehidupan yang di alamai Lucy,tapi itu bukan berarti dia harus melakakukan hal yang akan membuat rugi orang lain seperti ini.
“Selama ini Lucy tertutup, tidak mau berteman dengan siapapun. Sampai akhirnya aku di perkenalkan oleh manager ku kepadanya, Lucy akhirnya mau berteman dengan ku. Lucy banyak membantu produksi film aku selama ini,manager aku banyak memanfaat kan kedekatan ku dengan Lucy. Awal nya Lucy membantu ku secara cuma-cuma dan mengatakan jika hanya membantu seorang teman. Tapi semakin lama Lucy bersikap lebih aneh kepadaku,dia menggantungkan hidup nya kepada ku,dia selalu cemburu melihat ku dekat dengan yang lain,bahkan selalu menunjukan kepada orang-orang jika dia adalah kekasih ku. Dan manager aku meminta untuk mempertahankan kedekatan aku dengan Lucy demi lancar nya produksi film”
Aku akhirnya mengerti apa yang selalu di keluhkan Aditya tentang tidak memiliki ruang gerak sendiri.
“Lucy semakin terlihat berbeda menyikapi hubungan kami. Saat itu,aku sengaja menyembunyikan kamu dari media agar Lucy tidak mengganggu kamu Bi,agar dia tidak mengusik hubungan kita,karena aku yakin dia pasti akan berbuat nekat seperti ini. Aku sedikit demi sedikit menjauhi dia, aku berusaha membuat dia untuk tidak bergantung dengan aku, dia menyadari perubahaan sikap aku, dia tahu aku punya pacar, tapi dia tidak pernah menanyakan itu, dia takut aku jujur, dan akhirnya dia malah mau mengacaukan produksi film Adventure yang kita jalani di Sumba ,dia mempersulit produksi film kita,dan manager aku meminta agar memperbaiki semuanya. Akhirnya aku harus bersandiwara lagi dengan terus menemani nya. Aku minta maaf Dhebi, kamu harus jadi korban dari semua ini”
Semua pengakuan nya malah membuat ku menyesal dulu tidak pernah mempercayainya. Dia berusaha menjelaskan nya saat dulu tapi aku tidak mau mendengar semuanya. Sampai sekarang aku sadar bahwa cinta yang dimiliki Aditya memang hanya untuk ku.
“Sampai seperti itu pengaruh Lucy untuk kamu”
“Ini semua bukan untuk aku pribadi, banyak orang yang akan jadi korban karena kekacawan yang dia buat”
Aku terdiam dan berusaha untuk mengerti semua nya.
Aditya menatap ku.
“Aku sudah jujur, dan aku minta maaf selama ini aku selalu memperlakukan kamu tidak baik”
Aku terus diam, karena apa yang di ucapkan Aditya benar, dia selalu bersikap kasar kepadaku.
“Aku ga tau bagaimana aku menunjukan kalau aku begitu khawatir kamu pergi dari aku,aku sayang sama kamu, aku cinta sama kamu, aku mau kamu menerima pekerjaan aku, tapi aku ga tau cara mempertahankan kamu, aku ga tau bagaimana caranya agar kamu hanya mencintai aku dan tidak mencintai orang lain lagi, aku ga tau bagaimana cara mempertahankan kamu, dan ternyata aku sadari bahwa yang aku lakukan malah menyakiti kamu”
Dia menyadari semuanya, dia menyadari apa yang di lakukan itu salah.
“Tolong, mengerti aku”
Aku begitu terharu mendengar semua pengakuan nya. Selama ini Aditya tidak salah, dia hanya tidak tau cara memperlakukan ku layak nya seorang kekasih, di samping itu Aditya juga harus tetap menyembunyikan aku dari jahat nya media di luar sana. Selama ini Aditya hanya menyelamatkan hubungan kita, namun dia tidak tau melakukan nya dengan cara benar.
“Aku sayang kamu Aditya” ucap ku tak tahu harus berkata apa lagi selain mencurahkan apa yang ada di dalam hatiku sekarang.
Aditya tersenyum, dia terharu, aku bisa melihat kebahagiaan begitu terpancar di wajah nya. Dia menarik ku ke dalam pelukan nya.
“Jangan pernah pergi lagi tanpa izin dariku” ucap nya dengan terus memeluk ku.
Aku menganggukan kepala ku dengan tersenyum.
Pagi hari aku berniat pergi untuk jogging di taman belakang Apartemen Aditya. Karena sudah lama aku tidak berolah raga, dan pagi ini aku sudah bersiap pergi dengan memakai lakbong ketat berwarna biru juga celana pendek berbahan parasit berwarna hitam yang panjang nya hanya satu jengkal tangan ku.
Aku pergi dengan mengendap endap berusaha untuk tidak membangunkan Aditya yang tertidur pulas.
Pagi buta aku terus berlari di sekitar taman yang tampak masih sepi. Aku tidak takut lagi untuk bertemu orang-orang,biarkan mereka melihat ku disini, aku dan Aditya akan membuktikan semua kebenaran yang sebenarnya.
Handphone ku berdering. Itu dari Sienna aku lupa mengabari nya.
“Hallo Syen”
“Elo dimana Dheb,ini udah jam 5 pagi lo masih belom nongol di kosan gue. Gue khawatir lo di apa-apa in sama Aditya”
Aku tertawa mendengar nya.
“Gue di Apartemen Aditya”
“Hah? Kok lo bisa disana?”
“Kemarin gue abis pergokin Andre sama Lucy di hotel Cavetarian”
“Hah? mereka lagi ngapain?”
“Oke oke oke gue tunggu disini ya, kalo ada apa-apa segera kabarin gue”
“Iya Syen”
Lalu dia menutup telepon nya.
Aku kembali berlari mengitari taman sampai melihat matahari sudah hampir muncul dan menyinari ku, aku segera berlari masuk kedalam Apartemen sebelum banyak orang yang keluar dan melihat ku.
Aku membuka pintu Apartemen dan melihat Aditya sudah menungguku berdiri bersandar di meja makan melipat kedua tangan nya. Dengan wajah nya yang bareface ,kaos longgar berwarna putih pucat dan celana besar yang terbuat dari katun,dia begitu tampan dengan rambut yang berantakan dan wajah yang terlihat baru bangun dari tidur. Aku mengingat posisi dia selalu seperti ini jika tengah menunggu ku kembali ke Apartemen nya.
“Kamu tidak pernah mengerti tentang kamu harus minta izin setiap keluar” ketus nya dengan mata yang masih sayu.
“Aku hanya jogging Di”
Mulai lagi. Posesif nya yang selalu aku rindukan.
“Kenapa telepon kamu sulit di hubungi?” Tanya nya.
Aku menghampiri Aditya dan melingkarkan tangan ku di leher nya lalu menyandarkan tubuh ku di tubuh nya.
“Kapan ?”
“Tadi aku telepon kamu,tapi telepon kamu sedang sibuk”
Aku tersenyum melihat dia yang sudah mulai kesal namun tetap melingkarkan tangan nya di tubuhku.
“Lagi telepon siapa?” Tanya nya menebak jika telepon ku sibuk pasti aku sedang menelepon seseorang.
“Oh,tadi Sienna nanyain aku dimana,dan nanya kenapa aku ga pulang ke kosan nya”
“Kamu yakin yang telepon itu Sienna” aku tersenyum melihat dia yang selalu mencurigai ku seperti ini.
“Kamu mau cek handphone aku?”
Dia mengulurkan tangan nya untuk meminta handphone ku. Aku menggelengkan kepala ku melihat sikap nya yang masih saja takut jika aku menghubungi orang lain.
Aku memberikan handphone ku kepadanya. Dan dia malah menyimpan handphone itu di meja makan.
“Aku ga suka liat kamu pake pakaian gini keluar” ujar Aditya dengan terus melingkarkan tangan nya di pinggang ku.
“Ini kan baju olahraga” ucap ku mengangkat halis ku.
“Aku ga suka” ketus nya.
“Kenapa?”
“Aku ga suka tubuh kamu di liat orang lain”
Aku menghela nafasku.
“Ga ada yang berani liat aku Di, mereka akan tahu pacar aku begitu posesif dan aku akan bilang jika pacar aku akan menghajar mereka jika mereka berani menatap tubuh aku seperti itu”
“Dan kamu akan sering mengobati luka aku karena itu”
Lalu kami tersenyum,dan Aditya mencium bibir ku dengan lembut. Dia menggerakan bibirnya menikmati ciuman yang amat sangat kita rindukan.
Pagi itu aku dan Aditya telah mandi dan mengganti pakaian kami. Aku kembali ke aktifitas ku disini dengan membuat kan dia sarapan di pagi hari seperti ini.
“Aku mau kerumah Sienna siang ini” ujar ku ketika dia duduk di meja makan dengan rambut nya yang basah memakai baju kaos terang dan celana panjang.
“Ya” dingin nya.
“Hari ini kamu kemana?” Tanya ku sambil memberikan cream soup ke mangkuk nya.
“Mengantar kamu ke Sienna”
“Lalu?”
“Menunggu kamu disana”
“Dii…” panggil ku dengan lemah.
Karena dia malah ingin terus mengikuti ku seharian.
“Kenapa? Aku ga akan biarin kamu berkeliaran sendirian di luar sana” ujar nya melirik ku dengan ketus.
“Aku ga berkeliaran,aku cuma mau diem di kosan Sienna sama yang lain”
“Andre tau kosan Sienna kan?” Ujar nya dengan mengaduk soup cream nya.
“Iya tapi kan dia ga mungkin berani samperin aku lagi” ucap ku sambil terus memegang centong soup.
“Aku ikut ke Sienna!” Ucap nya dengan menatap ku dingin,seolah dia tidak peduli aku izinkan atau tidak dia akan tetap mengikuti kemanapun aku pergi.
Ya jika sudah seperti itu, aku tidak bisa lagi membantah nya.