
Aku keluar ruang ICU dan menemui semua orang disana. Aditya menghampiri ku dan aku menatap nya dengan begitu bahagia. Aku memeluk Aditya dengan terharu dan menangis di dalam pelukan nya.
“Kamu sudah menyelamatkan nyawa nya sekali lagi” ucap Aditya membuat ku tersadar jika yang di ucapkan nya adalah benar.
Danu sudah tersadar dan dia sudah bisa melewati masa kritis nya, dokter mengatakan jika kanker hati adalah salah satu penyakit yang sulit untuk di sembuhkan namun perjuangan Danu di dalam diri nya begitu kuat. Dia bertahan untuk tetap hidup dan dia akhirnya berhasil melewati operasi nya. Kanker nya belum parah,dan dia masih bisa di sembuhkan walaupun harus menjalani pengobatan.
Setelah beberapa hari di rawat di rumah sakit sesekali aku dan Aditya selalu menemui Danu untuk menyemangati nya agar cepat pulih dan mengajak nya berbicara walupun dia masih kesulitan untuk berbicara,tapi kami terus menemani nya disana. Danu memang belum bisa berbicara namun dia terlihat begitu senang setiap kali aku menemani nya.
“Aku keluar dulu sebentar ya” ucap Adtya meminta izin kepada ku ketika kami berdua tengah menemani Danu untuk yang ketiga kali nya.
“Oke” jawab ku.
Lalu Aditya keluar dan tinggalah aku berdua dengan Danu. Aku melihat Danu yang sudah menatap ku begitu dingin dengan peralatan medis yang masih menempel di tubuh nya.
“Kenapa disaat seperti ini pun kamu masih selalu terlihat dingin, cobalah tersenyum” pinta ku dengan sinis.
Mulut Danu masih di pasang selang oksigen untuk membantu nya bernafas karena dia masih sulit untuk bernafas dan berbicara.
Lalu aku mencondongkan tubuh ku dan melipat tangan ku di samping tempat tidur nya. Aku menatap Danu begitu dalam.
“Tersenyum lah untuk ku nu. Aku mohon” pinta ku dengan raut wajah yang begitu sedih.
Danu terus menatap ku dengan lemah dan aku menatap nya dengan tak berdaya.
Dan tiba-tiba bibir Danu bergerak,bibir nya menyimpulkan sebuah senyuman walaupun sedikit. Tapi aku melihat dia berusaha mewujudkan keinginan ku.
Aku tersenyum melihat usaha Danu.
“Terimakasih” ucap ku dengan terharu.
“Hari ini aku ada periksa kandungan, akhirnya aku bisa melihat jenis kelamin anak ku walaupun masih samar. Jenis kelamin anak ku perempuan,aku tidak menyangka keinginan keluarga Aditya untuk memiliki keturunan perempuan kahirnya terwujud…” cerita ku yang begitu sangat antusias untuk ku ceritakan.
Seperti itulah setiap kali aku bertemu dengan Danu. Aku selalu menceritakan tengan hari-hari yang telah aku lalui kepada Danu. Walaupun Danu tidak bisa merespond setidak nya dia bisa mendengarkan dan melihat ku. Aku sudah bersedia untuk menjadi teman nya ketika pertama kali menemui nya di dalam ICU dan aku berjanji akan menjadi temannya jika dia sadar dan berbuat baik kepadaku. Aku berharap Danu akan segera pulih dan kembali hidup normal. Dan dokter mengatakan jika Danu harus menjalani pengobatan yang serius. Papa Danu memutuskan untuk membawa Danu ke Singapura dan mengobati nya disana.
Hari ini adalah hari terakhir Danu di rawat di di Rumah Sakit Sriwijaya. Sebelum Danu di bawa pergi,aku dan Aditya memberikan sedikit perpisahan kepada nya di ruang ICU.
“Kamu harus cepat pulih,kamu harus cepat sehat. Aku tidak mau melihat kamu seperti ini lagi. Kita sudah berteman kan? Dan aku ingin mulai berteman dengan kamu dengan keadaan kamu yang sudah sehat” ucap ku dengan berdiri di samping ranjang tempat tidur nya.
Danu hanya menatap ku dengan lemah. Tangan nya bergerak berusaha meraih tangan ku. Aku langsung memegang tangan nya dengan lembut.
“Thank you” ucap Danu dengan begitu berat dan terlihat begitu sulit karena selang oksigen masih menempel di dalam mulut nya.
“Sama-sama Danu” ucap ku dengan begitu sedih,Aditya pun memegang punggung ku untuk menenangkan ku.
Beberapa bulan telah berlalu,dan perut ku sudah semakin membesar. Ini adalah kehamilan ku yang ke 5 bulan,dan aku sudah merasa begitu berat membawa perut ku kemana-mana.
Hari ini aku dan Aditya sedang di sibukan dengan persiapan acara pesta yang akan kita hadiri. Aku memakai gaun baru yang berwarna emas dan Aditya memakai kemeja berwarna putih dan jas berwarna coklat keemasan sama seperti ku.
Aku menggulung rambut ku ke atas dan merias sedikit wajah ku di depan meja rias.
“Di luar dii, coba kamu cari yang betul” teriak ku dengan terus memakai lipstik di bibir ku.
“Tidak ada”
“Ada” jawab ku.
“Kaos kaki nya dimana?”
“Di samping nya”
“Biii dasi nya?” Teriak Aditya lagi membuat ku menghela nafas untuk menahan rasa kesal ku.
“Dasi disini diii”
Ya hari itu kita memang telat untuk bangun dan bersiap pergi ke pesta. Karena acara di adakan satu jam lagi.
Setelah selesai bersiap aku dan Aditya segera pergi ke lokasi dengan memakai supir pribadi. Di dalam mobil pun aku dan Aditya masih membenarkan pakaian kami.
“Rambut ku sudah rapih?” Tanya Aditya kepada ku.
“Sudah” ucap ku sambil sedikit membenarkan jambul nya.
Aditya mengelus perut ku dan mencium nya dengan lembut. Aku tersenyum setiap kali Aditya melakukan itu,hal seperti itu selalu membuat ku senang dan bahagia.
Setelah sampai ke sebuah hotel besar aku dan Aditya segera pergi ke ballroom dimana keluarga kami berada.
“Hay Mah,hay Nek” sapa ku kepada keluarga Aditya yang sudah menunggu kami di sebuah tempat duduk VIP.
Mereka pun sama tengah memakai baju berwarna keemasan seperti kami. Karena tema acara ini adalah berwarna emas jadi seluruh keluarga di minta untuk memakai baju yang senada.
“Hallo cucu Oma” sapa Mama Aditya ketika melihat perut ku dan mengelus nya.
“Sehat kan kalian?” Sapa Mama.
“Sehat Ma”
“Mama sama Papa kamu jadi datang kan Dheb?” Tanya Papa.
“Jadi Pa mereka masih di perjalanan”
“Sini duduk Nak” pinta Nenek Aditya.
Aku duduk di samping Nenek dan mulai berbincang dengan mereka.
Lalu beberapa saat kemudian Mc mengatakan jika acara akan segera di mulai dan pengantin akan memasuki ballroom. Semua sudah berdiri untuk menyambut sang pengantin masuk. Dan terlihat lah pengantin wanita yang sudah berdiri di ujung karpet merah dengan gaun pengantin berwarna emas dan dengan riasan yang begitu cantik. Dia tampak seperti putri di negri dongeng, dengan gown ball nya yang sangat mewah. Terlihat Andre yang sudah menunggu nya di ujung althar dengan dua pihak keluarga yang sudah menunggu disana.