Obsessive Love Disorder

Obsessive Love Disorder
Kerja sama



“Nna lo udah bikin bahan kan untuk besok?” Tanya ku berbicara dengan Lisna teman satu kampus ku.


“Oh udah, besok gue kasih lo ya”


“Oke gue tunggu”


“Oke gue cabut dulu deb”


Lalu aku kembali berjalan di koridor kampus.


“Dhebi!” Panggil seseorang dengan berteriak di ujung koridor.


Sisil. Siapa lagi jika bukan dia yang tidak pernah memiliki rasa malu walaupun seluruh mata telah menatap dia dengan aneh karena teriakan dia yang begitu menggema.


“Apaan sih lo teriak mulu deh”


“Hehe, Lo di panggil Zio itu di ruang MAPALA” ujar Sisil dengan menunjukan sederet gigi nya.


“Ada apa?”


“Project baru katanya”


“Project apa?”


“Ya gue juga ga tau. Udah ayok ikut dulu aja” Caca menyeret tangan ku menuju ruang MAPALA.


Kita masuk ke ruang MAPALA yang telah ada Zio disana dengan telepon di telinga nya.


“Nih io orang nya” ujar Sisil seperti telah menyerahkan seorang buronan.


“Oke tunggu sebentar” ucap Zio dan kembali berbicara dengan telepon nya.


“Gue ke kelas dulu ya, bye”


Tinggalah aku dan Zio berdua di dalam ruangan. Zio menyudahi percakapan nya di telepon.


“Dheb,gue punya kabar gembira buat lo”


“Apa?”


“Kita ada project film”


“Dari?” Tanyaku yang masih belum mendapatkan moment excited.


“Dari acara Tv Petualangan judulnya ‘100 hari mengenal Indonesia’ “


Mata ku membulat mendengar nya. Namun tak begitu merasa bahwa kabar ini akan menjadi baik u tuk ku.


“Wow bagus dong, komunitas kita makin keren kalo gitu”


“Ini bukan bagus lagi dheb, si Produser ini pengen kita langsung yang nemenin mereka di acara itu,ya kaya jadi penentu tempat yang akan di kunjungi selama 100 hari”


“Ya udah lo tinggal tunjuk aja siapa yang bisa ikut acara itu, yang pasti ngurus nya harus bener ya. Harus pilih tempat yang bener,penjelasan yang bener,profesional dan jangan sampe malu-malu in kita”


Zio mendengar ocehan ku dengan mengangkat kedua halisnya. Aku mencerna kembali kata-kata ku dan menyadari tatapan Zio.


“Ngga ngga ngga,gue ga mau Zio” ucap ku mengangkat kedua tangan ku menolak mentah permintaan nya.


Aku langsung keluar dari ruangan itu tidak ingin melanjutkan percakapan yang akan membuat ku malas.


“Dheb..dheb bentar dulu” Zio menahan tangan ku.


Aku berdecak kesal.


“Dheb,tapi ini peluang kita buat bisa lebih Up lagi, ini project besar loh Dheb”


“Ya gue ga larang itu,silahkan. Tapi jangan gue,please gue ga mau io”


“Dheb tapi masalahnya si Produser ini pengen lo yang ikut”


“Kenapa harus gue?” Kesal ku yang sudah tak tahan lagi.


“Ya mana gue tau,Mas Jimmy cuma bilang kalo dia pengen lo yang ikut acara itu”


“Hah?! Jimmy” begitu terkejut nya aku mendengar nama Jimmy di sebutnya.


“Iya Mas Jimmy. Dia yang punya acara itu”


Aku memegang kepala ku tak percaya jika Jimmy adalah dalang dari semua ini.


“Zio dengerin gue, kalo lo mau bawa project film itu silahkan, tapi kalo lo maksa gue buat ikut acara itu gue ga akan mau,itu terserah lo,gue ga mau di paksa,kalo sekali gue bilang ga mau gue ha mau,silahkan cari orang lain” tegas ku dengan serius.


“Tapi Dheb..” Zio masih saja bersikeras memaksaku.


Handphone ku berdering membuat Zio dan aku diam. Nama Jimmy terpampang di layar ponsel ku. Aku menunjukan nya kepada Zio,seolah aku berkata pada dia jika telepati kita sampai kepada Jimmy.


“Gue yang akan bilang sama Jimmy,tapi kalo dia bersikeras dengan permintaan nya, gue bakalan batalin kerja sama itu” ancam ku membuat Zio mengusap wajah nya dengan kasar.


“Hallo” ucap ku sambil berjalan menjauh dari Zio yang masih terlihat gemas dengan keras kepalaku.


“Hallo Dheb bisa kita ketemu?”


“Oh tentu ,kebetulan ada yang harus aku bicarakan sama kamu”


“Ga perlu,aku bawa mobil sendiri. Aku tunggu di Caffe PlusOne sekarang” aku langsung menutup telepon nya dan segera pergi ke Caffe tersebut.


Di perjalanan,aku menyempatkan diri untuk mengirim pesan kepada Aditya agar dia tahu jika aku akan bertemu dengan Jimmy dan pertemuan kami hanya untuk membahas project. Namun pesan ku hanya terkirim dan tidak langsung di bacanya, mungkin Aditya masih sibuk dengan shooting nya.


Setiba nya aku di Caffe PlusOne aku langsung menghampiri Jimmy yang ternyata sudah datang lebih dulu duduk di sana.


“Hay Dheb, aku juga baru nyampe mau pesen apa?”


“Macchiato saja” jawab ku dengan segera karena aku ingin langsung membahas topik tujuan kita bertemu.


“Oke mas Macchiato satu Kopi Latte satu”


“Macchiato dingin atau panas?” Tanya pelayan itu.


“Dingin” ketus ku dengan cepat agar pelayan itu segera pergi.


“Oke terimakasih”


Jimmy membenarkan duduk nya dan menyimpan kedua tangan nya di meja.


“Oke aku mau bahas tentang sebuah project film,aku yakin Zio pasti udah cerita tentang ini sama kamu” ujar nya menebak gelagat ku yang tidak terlihat baik.


“Iya dan kenapa kamu minta harus aku untuk ikut acara itu ?”


“Ya karena Zio bilang kamu yang lebih pantas untuk dapet pekerjaan itu, aku juga ga minta dia untuk pilih kamu. Tapi film ini kan ga main-main Dheb,aku ga mau orang yang sembarangan yang ikut acara Tv itu. Aku mau orang yang berpengalaman,dan orang yang bener-bener bisa di percaya. Zio bilang cuma kamu yang seperti”


Aku menggelengkan kepalaku.


“Jim,ada orang lain selain aku yang bisa handle semuanya. Aku disana pun bukan pemimpin, semua anggota aku juga bisa di percaya kok. Kenapa harus aku?”


“Ya kenapa ngga kamu? Kenapa harus mereka?” Tanya nya yang membuat ku diam mencari alasan lain selain menjelaskan bagaimana posesif nya Aditya.


“Jim,aku udah ga berminat untuk ikut acara seperti itu. Udah cukup buat aku ikut bagaimana rasanya menjadi salah satu di acara tv. Aku udah ga mau lagi,aku mau kasih kesempatan ini untuk orang lain”


“Tapi mereka ga berpengalaman Dheb”


“Ada yang berpengalaman” Jimmy terdiam tak lagi berdalih.


“Aku bisa pilih salah satu dari mereka yang bisa bertanggung jawab dan bisa di andalkan”


Jimmy menghela nafas berat.


“Oke, tapi kamu harus ikut untuk meeting”


“Jimmy”


“Dheb ini hanya meeting, aku cuma mau kamu pantau orang kepercayaan kamu saat meeting nanti,kalo seandainya ada di antara crew aku yang complaint dan merasa tidak cocok,aku mau kamu ganti orang nya”


Aku menimbang dulu kesepakatan nya.


“Oke”


“Oke”


Aku kembali lagi ke kampus


setelah membuat kesepakatan dengan Jimmy di Caffe tadi. Aku segera mencari Sienna.


“Sienna mana?” Tanya ku kepada salah satu teman di kelas Sienna hari itu.


“Sienna tadi ke ruang MAPALA”


Aku langsung menuju sana mencari Sienna.


“Syen” panggil ku begitu aku membuka pintu ruang MAPALA.


Sienna dan Caca menatap ku bersamaan.


“Syen,lo dapet job” ucap ku.


Lalu aku menceritakan hasil kesepakatan ku tadi dengan Jimmy. Dan aku memberitahukan dia bagaimana film itu akan berjalan. Banyak sekali petuah yang ku berikan kepada Sienna agar dia bisa menjadi orang yang tepat untuk ku percaya.


“Dheb kenapa ga lo aja sih?” Tanya Sisil ketika dia ikut bergabung dengan kami di ruang MAPALA.


“Gue ga mau Sil,ini acara besar Sienna harus bener-bener ga boleh missed jalani kerjaan nya”


“Ya justru karena ini project besar kenapa ga lo aja ?”


“Gue juga udah bilang gitu tadi sama dia” ujar Zio yang masih saja terlihat kesal kepadaku.


Aku menatap Zio dengan tajam.


“Gue ga mau di paksa,gue udah bilang kalo kalian mau ambil project besar ini ya silahkan,tapi kalo masih paksa gue buat ikut andil,lebih baik cancel aja kerja sama nya” emosi ku yang sudah tak tertahan.


“Iya udah jangan marah-marah gini dong, takut gue” ujar Caca menyentuh punggung ku.


“Gue ga keberatan kok,gue juga bisa di percaya” ucap Sienna penuh pengertian.


Kalau saja dia tidak tahu dengan permasalahan ku,Sienna juga pasti akan meminta aku saja yang ikut ke dalam project tersebut,beruntung nya aku karena Sienna begitu mengerti aku.