Obsessive Love Disorder

Obsessive Love Disorder
Apakah benar aku siap?



Acara pun selesai aku dan Aditya segera keluar dari studio besar itu bersama dengan yang lain nya. Di luar studio sudah ada beberapa artis yang mengobrol dan membuat lingkaran dengan sesekali mereka tertawa.


“Hey dit” sapa Glenn ketika melihat kami berdua.


“Hay Dheb” sapa nya dengan lembut kepadaku.


“Hay Mas” jawab ku.


“Gimana kabar lo?” Tanya Mas Andhika sambil memeluk dan menepuk punggung nya.


“Baik”


“Gila. Jadi orang kantoran lo ya hebat” ledek Andhika membuat dia di tertawakan oleh semua teman nya.


“Kalo aja gue tau lo salah satu orang terkaya di Indonesia. Gue pasti bakalan temenin terus lo dari dulu,dan bakalan mau jadi kacung lo deh di Apartemen” lanjut Andhika semakin membuat tertawa semua orang.


Cateline menghampiri ku dan tersenyum untuk menyapaku.


“Hey Dhebi” sapa nya dengan pelan karena tidak ingin mengganggu percakapan yang lain.


“Hay Mbak”


“Bagaimana?” Tanya nya membuat ku mengkerutkan kening.


“Bagaimana apa nya?”


“Pernikahan mu?”


Aku tertawa karena mengerti apa maksud nya.


“Baik-baik saja Mbak. Dan semua berjalan dengan lancar,walaupun sesekali Aditya masih saja terlihat posesif sekali,padahal aku selalu diam di rumah dan tidak melakukan apapun” ucap ku melirik Aditya yang masih berbincang dengan teman-teman nya.


“Itu wajar Dheb. Aku tahu dia begitu mencintai kamu,dia akan terus menjaga kamu walaupun kamu sekarang sudah menjadi istri nya. Dia pasti akan terus memastikan bahwa kamu baik-baik saja. Apalagi ketika kamu hamil nanti” ucap Cateline membuat raut wajah ku berubah seketika.


“Dia pasti akan lebih overprotective kepada kamu. Dia akan lebih menjaga kamu dan tidak akan membiarkan kamu kelelahan” lanjut nya dengan begitu bahagia. Mungkin itulah yang di rasakan nya sekarang.


Aku menganggukan kepala ku dengan semu dan tersenyum dengan kaku.


“Kamu belum hamil?” Tanya Cateline membuat ku terdiam sejenak mencerna pertanyaan nya sebelum menjawab.


Lalu menggelengkan kepala ku dengan lemah.


“Belum mbak”


Cateline tampak tersenyum.


“Pasti kalian menunda kehamilan nya” tebak Cateline membuat ku malu.


“It’s Ok Dheb. Pada awal nya aku pun sangat ingin menunda kehamilan ku karena masih banyak pekerjaan yang belum selesai dan masih banyak kegiatan yang ingin aku lakukan sebelum memiliki anak. Tapi ternyata insting ku sebagai ibu sudah mulai tumbuh Dheb,dan aku memutuskan untuk merubah keinginan ku untuk cepat merasakan bagaimana menjadi Ibu” ujar Cateline dengan manis.


Aku terdiam tak menjawab nya. Karena apa yang di katakan Cateline sangat tepat. Saat ini aku sudah sangat memiliki keinginan untuk bisa memiliki seorang anak di masa muda ku. Dan aku sudah khawatir dengan rasa mual-mual ku yang sudah berlangsung dari kemarin. Namun aku masih belum berani mengatakan nya kepada Aditya,karena aku saja belum pasti apakah aku hamil atau tidak.


Aditya melirik ke arah ku dan Cateline lalu dia tersenyum kepada kami berdua. Aku membalas senyuman nya dengan kaku dan kembali berbincang dengan Cateline.


“Eh Danu!!” Teriak Cateline membuat ku tersentak dan memandang ke arah yang di panggil Cateline.


Danu baru saja keluar dari studio dengan teman nya yang lain. Dia sempat berdiri dulu sebentar menatap ke arah kami lalu berpamitan kepada teman nya disana dan berjalan ke arah kami dengan raut wajah nya yang dingin. Aku tidak bisa melangkah kemana mana,aku terus diam di tempat ku dan memalingkan wajah ku bertahan untuk tak menatap nya. Aku melirik ke arah Aditya,dia menyadari Danu sedang menghampiri kami namun dia tampak tak memperdulikan itu dan kembali berbicara kepada teman nya.


“Hay Cat” sapa Danu dengan menempelkan pipi kanan kiri nya ke pada kedua pipi Cateline.


Danu tidak menoleh ke arah ku,dia menganggap ku tidak ada disana.


“Bener-bener hebat kamu nu. Aku ga nyangka lagu kamu bisa si booming ini dalam waktu cepat” ujar Cateline membahas lagu yang sudah mengganggu fikiran ku.


“Ya. Aku juga tidak akan tahu” jawab nya dengan santai tanpa sama sekali menoleh ke arah ku.


“Setiap lagu yang kamu ciptakan itu selalu bermakna besar nu. Namun lagu nya ini,aku yakin kamu membuat nya begitu dari hati yang terdalam. Seperti nya ada yang sudah mengusik hati mu” ledek Cateline dengan wajah nya yang begitu jahil menggoda Danu.


Danu tampak tersenyum.


“Ya memang. Wanita itu sudah lama sekali mendapatkan hati ku”


“Tapi?” Tanya Cateline dengan menunggu kelanjutan curahan hati nya.


“Dia sudah bahagia dengan yang lain” lanjut nya membuat ku tersentak dan membuat ku salah tingkah. Entahlah aku merasa jika dia sedang menyindir ku.


Aku mulai merasa tidak nyaman. Aku berusaha untuk tenang dan tidak menatap nya. Namun Cateline menatap Danu dengan menyelidik raut wajah nya,berusaha mencari tahu apa maksud nya.


“Gilbran mana?” Tanya Danu mengalihkan pembicaraan.


“Oh dia disana” jawab Cateline menunjuk belakang nya.


Gilbran suami Cateline sedang berbicara dengan teman nya duduk di belakang sana.


“Aku kesana dulu ya” ujar Danu. Lalu dia menatap ku dan tersenyum,aku membalas senyuman nya dengan kaku.


“Dheb. Boleh antar aku ke toilet?” Bisik Cateline mengajak ku untuk ke toilet.


Aku menganggukan kepala ku.


“Sebentar aku bilang dulu Aditya. Takut nya dia cari aku nanti”


“Oke”


Aku berjalan menghampiri Aditya dan menyentuh tangan nya untuk mendapat perhatian,dan dia menoleh ke arah ku.


“Aku antar Cateline ke toilet sebentar”


“Oke” jawab Aditya dengan tersenyum.


Lalu aku mengantar Cateline dengan hati-hati ke toilet. Dia memang tidak memakai hak tinggi seperti biasanya,namun tetap saja,toilet itu licin dan aku khawatir dia akan terjatuh atau terjadi sesuatu jika dia tidak di dampingi.


Aku dan Cateline masuk ke dalam toilet. Dan kebetulan sekali perut ku mual-mual,aku langsung masuk ke salah satu toilet dengan cepat dan mengeluarkan semua isi perut ku ke dalam closet.


Begitu mual sekali perut ku dan rasanya seperti di peras habis semua nya. Aku menyeka mulut ku dengan tissue dan menekan flash untuk membuang muntahan ku di dalam closet dengan bersih.


Aku keluar dan mencuci mulut ku di wastafel. Cateline keluar dari toilet dan dia menghampiri ku dengan khawatir.


“Kamu kenapa Dheb?” Tanya Cateline menyentuh punggung ku.


“Seperti nya aku masuk angin mbak” jawab ku dengan membalikan tubuh ku dan bersandar di wastafel.


“sejak kapan kamu mual-mual?” Tanya Cateline menyelidik. Aku merasa jika Cateline tahu ada terjadi sesuatu dengan diriku.


“Beberapa hari yang lalu” jawab ku dengan lemah.


“Kamu sudah memeriksa nya?”


Aku menatap Cateline dengan sayu dan menggelengkan kepala ku.


“Kenapa Dheb. Kamu dan Aditya belum siap menerima kenyataan?” Tanya Cateline seolah sudah bisa menebak jika aku sudah hamil.


“Aku sudah siap Mbak. Tapi Aditya..” Tanya ku dengan menggantungkan ucapan ku.


“Dia harus tahu Dheb,apapun reaksi nya nanti. Kamu harus memastikan dulu apakah kamu hamil atau tidak. Dan jika memang iya,mau tidak mau dia harus menerima nya,karena itu adalah buah hati kalian yang akan semakin menguatkan pernikahan kalian” ujar Cateline memberikan nasehat untuk ku.


Aku pun berfikir,jika memang seharusnya aku tak membiarkan rasa sakit ku tambah parah. Aku harus memeriksa nya dan aku harus memastikan keraguan ku tentang iya atau tidak nya aku sudah hamil.


Tapi apakah Aditya siap jika memang benar aku hamil?