
Aku mencoba untuk menutup kembali pintu ku dan dia menahan nya dengan satu tangan.
“Kenapa Dheb? Aku cuma mau ngobrol sama kamu” ucap Jimmy dengan masih menahan pintu ku.
“Pergi kamu dari sini Jim. Atau aku hubungi Aditya!” Ancam ku dengan berusaha terus menghalangi dia masuk.
“Aku tahu Aditya sedang tidak ada disini” ujar nya dengan terus menatap ku menyeringai menyeramkan.
“Kamu mau apa?” Tanya ku panik.
Lalu dia mendorong sekuat tenaga pintu yang ku tahan itu membuat ku terpental ke belakang dan terjatuh.
Jimmy masuk dan melempar paket yang seperti nya kosong karena terpantul di lantai lalu menutup pintu nya dengan kencang.
“Kamu mau apa Jim?” Tanya ku takut dengan berdiri perlahan.
“Selama ini aku cuma mau ngobrol sama kamu Dheb. Kenapa kamu selalu menghindar? Kenapa kamu ga bisa kasih kesempatan aku untuk lebih dekat sama kamu?” Ujar nya dengan berjalan perlahan mendekati ku.
“Kamu tahu Aditya seperti apa kan? Kamu tahu aku tidak bisa buat dia cemburu?” Aku berusaha mengingatkan nya bagaimana sifat keras Aditya. Aku terus mundur menjauh dari Jimmy.
“Dhebi. Aditya tidak akan tahu kalo kamu tidak berecerita. Kita bisa main dengan diam” dia semakin mendekat dan aku semakin terpojok ke meja makan,langkah mundur ku terhenti disana.
“Jim aku minta jangan macam-macam” aku terus memohon kepadanya dengan takut.
“Kenapa Dheb?” Jimmy semakin mendekat dan dia menyentuh dagu ku.
“Jika Aditya dan Andre saja bisa dekat denganmu kenapa kamu tidak bisa menerima aku” dia berbicara begitu dekat di wajah ku.
Aku berusaha menghindarkan wajah ku dari nya. Tangan ku berusaha meraih sesuatu di meja makan. Tangan ku menyentuh botol minum plastik yang masih terisi penuh,bekas ku minum. Aku tahu ini tidak akan menyakiti nya tapi setidak nya aku bisa melepaskan diri ku dan berlari ke kamar mengunci pintu. Jimmy terus menyentuh wajah ku dengan tatapan yang bergairah. Aku langsung melayangkan botol itu ke kepala nya secepat dan sekuat mungkin.
Itu berhasil membuat aku berlari melepaskan diri. Terlihat raut wajah nya yang hanya kesal dan mengejar ku ke kamar. Lagi-lagi aku gagal menutup pintu karena Jimmy mengejar ku dengan cepat dan membuat ku terbentur pintu kamar ketika Jimmy membuka pintu ku dengan kencang. Kening ku terluka karena terkena tajam nya ujung pintu itu.
“Jim aku mohon jangan berbuat yang macam-macam” aku begitu takut kepada Jimmy dan terduduk di tempat tidur Aditya.
“Kenapa Dhebi? Kamu takut? Kamu hanya tinggal tutup mulut Dheb” ujar Jimmy mengejar ku yang terus menjauh dari nya.
Aku sudah tidak tahu harus berlari kemana lagi. Aku sudah tidak bisa lagi berlari keluar. Jimmy semakin mendekat dan dia mencengkram lengan ku dan berusaha mencium ku. Aku berusaha melepaskan diri ku.
“Toloonnngggg!!” Teriak ku berharap ada yang mendengar.
“Diam Dheb!” Ancam nya dengan terus mendekap ku di dalam pelukan nya.
“Jimmy lepasin aku jim aku mohon” aku terus memberontak melepaskan diri ku dari dekapan nya. Jimmy berusaha mencium ku dan terus menahan ku dalam pelukan nya.
“Gue bilang diem diem!!” Teriak nya. Aku tak mendengar kan dia dan terus berteriak.
Aku menangis sejadi jadi nya dan memegang pipi ku yang kesakitan. Jimmy menghampiri ku kembali di kasur dan coba menyentuh tubuhku. Aku terus meronta ronta melepaskan diriku dari pelukan nya, namun tiba-tiba di terhempas kebelakang dengan seorang pria yang meninju nya dengan keras.
Glenn. Aku terus menangis dan berlari ke sudur kamar untuk menjauh dari mereka. Aku menangis karena tak pernah membayangkan jika Jimmy bisa berbuat seperti ini kepadaku.
“Lo jangan coba macem-macem!” Ucap Glenn dengan menarik baju nya dan kembali meninju wajah Jimmy.
“Urusan lo apa?” Ucap Jimmy berusaha melawan namun Glenn berhasil menangkis dan malah balik memukul nya.
“Jangan sampai lo masuk penjara karena ulah lo ini!” Ucap Glenn memperingati nya.
Glenn membawa dia keluar kamar. Aku mengikuti nya sampai ambang pintu kamar dan aku berdiri bersembunyi di balik pintu dengan terus menangis menyaksikan Glenn menghajar Jimmy di ruang tengah. Jimmy sempat melawan dan menghajar Gleen namun tenaga Glenn lebih kuat darinya sehingga Glenn dengan pintar terus menghajar Jimmy dengan penuh emosi.
“Jangan pernah sekali lagi lo macem-macem sama Dhebi atau ngga lo bisa dapet hal yang lebih parah dari ini!” Glenn terus mengancam nya dengan mencengkram kerah baju Jimmy yang sudah mulai lusuh karena terus di tarik oleh Glenn.
Jimmy sudah terlihat begitu tak berdaya. Wajah dia sudah babak belur dan berdarah,dia tak mampu lagi untuk berbicara.
“Keluar dari sini!” Pinta Glenn dengan emosi lalu Dia membuka kan pintu dan mendorong Jimmy dengan sekuat tenaga keluar Apartemen.
Glenn menutup pintu Apartemen dengan rapat dan menghela nafas nya dengan cepat seperti kelelahan karena sudah mengeluarkan seluruh tenaga nya untuk menghajar Jimmy. Dia membalikan badan nya menatap ku yang ketakutan. Aku terus berdiri di ambang pintu dengan bersandar ke tembok dengan terus menangis.
“Maaf. Aku datang terlambat” ucap Glenn menatap ku dengan penuh penyesalan.
Aku tak sanggup lagi untuk berbicara. Aku hanya bisa menggigit jari tangan ku begitu ketakutan dengan apa yang baru saja aku alami.
“Aku di minta Aditya untuk kesini dan menjaga kamu tadi pagi,tapi aku terlambat membaca pesan nya”
Aku masih saja menangis terisak di tempat ku berdiri dan menatap Glenn. Aku menghapus air mata ku dan menganggukan kepala ku kepadanya.
“Aku jaga kamu disini ya,kamu bisa istirahat di kamar dan mengunci pintu nya,jika butuh apa-apa kamu bisa panggil aku disini” ucap Glenn membuat ku tenang.
Aku kembali menganggukan kepala dengan menenangkan diri. Aku menutup pintu kamar Aditya dan mengunci nya. Aku membaringkan diri ku di atas tempat tidur dan meratapi kejadian yang baru saja melukai hati ku.
Kenapa Jimmy bisa berbuat setega itu? Apa dia sebegitu kecewa nya aku tidak pernah menerima dia? Tapi kenapa Jimmy bisa berbuat seberani itu?
Beberapa jam berlalu aku masih saja melamun dan menangis di atas tempat tidur mengingat kejadian tadi. Suara ketukan pintu kamar terdengar. Aku begitu terkejut mendengar suara ketukan yang sama ketika tadi Jimmy mengetuk pintu di depan.
“Dhebi ini aku” itu suara Aditya.
Aku segera turun dari tempat tidur ku menghapus air mata ku dan segera membuka pintu nya. Lalu terlihatlah Aditya yang berdiri dengan cemas di balik pintu dan memperhatikan wajah ku yang terluka. Dia terkejut melihat ku seperti ini yang sudah begitu berantakan. Kening yang terluka,pipi yang terlihat merah dan mata yang begitu lebam karena banyak menangis.
Tiba-tiba aku kembali menangis melihat Aditya cemas seperti itu mengingat hal menyedihkan hampir menimpa ku. Dia langsung menarik ku kedalam pelukan nya.
“Maafkan aku Dheb maafkan aku” ucap nya dengan penuh penyesalan. Aku menangis dalam pelukan nya yang begitu erat. Aku merasa tenang dengan keberadaan Aditya sekarang.