Obsessive Love Disorder

Obsessive Love Disorder
Kaki kram ketika diving



Keesokan pagi nya aku kembali ke tempat penyewaan boats untuk kembali berolah raga diving dengan sudah membawa peralatan diving ku di dalam tas besar yang ku gendong.


“Hay Bli” sapa ku dengan panggilan bali kepada Wayan yang sudah tersenyum dari jauh melihat ku.


“Pagi Kak Dhebi” sapa nya.


“Siap diving kak?” Tanya nya.


“Ya aku harus lebih pagi sekarang. Karena sudah ada janji nanti siang” ucap ku.


Aku melempar tas ku ke dalam boats dan menaiki tangga ikut naik ke atas sana. Wayan belum juga naik ke atas boats dia masih sibuk memainkan papan seluncur nya di pesisir pantai.


“Bli!!” Teriak ku kepada Wayan yang masih saja bersantai di bawah sana.


Wayan menoleh kepada ku yang berada di atas boats.


“Kenapa tidak langsung berangkat?” Tanya ku.


Karena sepagi ini biasanya hanya aku saja pengunjung pantai yang akan diving sendiri.


“Ada pengunjung lain yang sudah meminta aku menunggu pagi ini Kak Dhebi,boleh tunggu sebentar lagi?” Tanya Wayan membuat ku mengkerutkan kening.


Ya memang dalam satu boats Wayan bisa mengangkut sampai 8 penumpang sekaligus. Namun biasanya pagi hari seperti ini tidak ada yang bersedia untuk diving. Karena tidak ada yang mau merasakan dingin nya air pantai di pagi hari seperti ku. Mereka tidak tahu cahaya terbit matahari pun bisa menghangatkan kita selepas menyelam di laut.


Aku menganggukan kepala ku dan bersedia menunggu penumpang itu.


Terlihat lah 3 orang yang datang dengan memakai baju menyelam dan membawa peralatan yang begitu banyak di kedua tangan mereka. Satu orang di depan memakai pakaian selam berlengan pendek berwarna hitam. Rambut pendek nya di ikat di belakang dan dia menenteng masker lensa di tangan nya.


Danu. Artis itu! Dia berjalan sambil melihat ku dengan tersenyum.


Aku begitu kesal ketika tahu dia lah yang menjadi pengunjung yang akan ikut menyelam pagi ini dengan ku.


“Hay Kak Danu” sapa Wayan di bawah sana.


Mereka berbincang dulu sejenak di bawah lalu Danu dan kedua kerabat nya ikut naik ke atas boats. Aku memalingkan wajah ku dan berusaha tak memperdulikan mereka dengan duduk di paling depan.


Tiba-tiba seseorang duduk di samping ku membuat ku terkejut.


Danu duduk begitu dekat dengan ku dengan wajah yang begitu santai nya. Aku mengkerutkan kening ku menunjukan betapa risih nya melihat dia di samping ku dan aku terus menggeserkan badan ku sampai mentok dan kembali memandang laut lepas di samping ku berusaha tak mengacuhkan nya.


“Hay” sapa Danu.


Aku berusaha untuk pura-pura tak mendengar nya dan terus menikmati perjalanan ku.


“Kemarin kamu menyebutku gila karena memiliki hobi free diving yang berbeda dari apa yang kamu lakukan. Tapi menurut ku kamu juga tidak kalah gila nya karena mau diving di pagi hari seperti ini” ujar nya membuat ku menatap nya dengan sinis.


“Sebelum kamu pergi kesini kamu tidak berkaca diri? jika pagi ini kamu sudah berada di boats menuju tengah pantai dan membawa semua peralatan diving kamu! Berarti tetap saja kegilaaan kamu bertambah karena kamu mau diving di pagi hari seperti ini” cibir ku dengan sinis dan kembali membuang wajah ku.


“Aku hanya mau tau,apa enak nya diving di pagi seperti ini. Apa ikan-ikan sudah bangun di pagi seperti ini? Dan apa karang-karang yang indah pun sudah bisa terlihat ?” Tanya nya meledek ku dia berusaha memancing emosi ku.


“Dengar artis terkenal” ucap ku dengan sinis menatatap nya.


Dia terkejut karena aku memanggilnya dengan seperti itu.


“Mungkin pergaulan kamu belum jauh di dalam laut sana sehingga kamu belum begitu mengenal bagaimana para makhluk laut itu hidup di alam nya. Aku yakin kamu menyelam pun hanya sekedar melatih pernapasan yang kamu punya dan menguji kedalaman sedalam apa kamu bisa menyelam tanpa menyaksikan keindahan alam di bawah sana kan?” Cibir ku dengan begitu ketus nya.


Dia mengangkat kedua halis nya mendengarkan celotehan ku. Dan dia sama sekali terlihat ingin melawan ku.


“Padahal kolam renang di luar sana pun banyak yang memiliki kedalaman ekstreme yang bisa kamu selami dan kamu jadikan tempat pelatian mu jika kamu mau,dan aku yakin kamu pun tahu itu,tapi kamu malah memilih untuk melakukan nya di laut,karena apa? Karena kamu mau di lihat berbeda dari yang lain yang bisa menambah eksistensi kamu di sosial media kan? Aku terlalu bisa menebak itu. Dan sekarang aku minta kamu diam jangan pernah mengganggu ku dan lakukan kegiatan kita sendiri sendiri” ucap ku dengan berbicara cepat agar di tak berusaha memotong nya.


Dia menatap ku begitu serius lalu setelah aku selesai bicara dia hanya menyunggingkan senyuman nya. Tanpa di sadara boats telah berhenti di tengah lautan. Aku melihat dua orang pengikut Danu segera melempar tali ke bawah dan menahan ujung tali itu di atas boats dengan sebuah alat pemberat. Danu segera memakai peralatan menyelam nya begitu pun dengan ku yang ikut menggunakan alat selam dengan perasaan yang mulai tak nyaman.


Aku mulai pemanasan di atas boats sebentar lalu bersiap menyelam berdiri di pinggir boats.


“Apa yang kamu lakukan?” Tanya Danu melihat ku dengan mengkerutkan kening nya.


“Menurut mu?”


“Kamu pemanasan hanya sebentar saja? Kamu tidak pernah merasakan kram di bawah laut?” Tanya nya seolah dia peduli.


Aku memandang nya dengan kesal karena bisa-bisa nya dia seolah mengkhawatirkan ku.


Lalu aku memasang masker lensa ku dan segera meloncat ke dalam laut. Mulai berenang menyapa hewan-hewan laut yang berada di bawah sana. Lalu sebuah karang terlihat begitu menarik perhatian ku. Aku langsung turun berenang ke bawah dan langsung menyaksikan karang laut yang berwarna biru dan di putari oleh rumput laut yang menari kesana kemari mengikuti arus air. Terlihat ada beberapa ikan kecil yang berenang di dalam sana. Aku melihat di hadapan ku,Danu yang sedang berenang ke bawah mengikuti tali yang menjulang panjang ke bawah.


Nafas ku hampir habis aku segera mengambil nafas kembali ke atas,lalu melihat pelatih Danu yang akan ikut menyelam,dan satu orang lain nya menjaga tali panjang yang di pakai sebagai pengukur itu agar tidak terjatuh di atas boats.


Aku kembali berenang ke bawah laut mengayuh fins ku atau kaki katak ku untuk berenang kesana kemari. Lalu ketika di kedalaman aku merasa betis ku begitu keras,lalu urat-urat ku seperti tegang dan terasa sakit. Aku tidak bisa menggerakan kaki kanan ku. Aku kram.


Aku berusaha berenang ke atas permukaan laut namun tiba-tiba kaki kanan ku menendang karang yang begitu tajam sehingga betis ku berdarah. Aku kesakitan di bawah laut dan berusaha menjangkau permukaan laut yang tinggal sedikit lagi.


Dan begitu sampai ke permukaan laut aku melepaskan masker lensa ku dan melihat Wayan yang sedang berbincang dengan teman nya di atas boats.


“Wayan!!” Teriak ku meminta tolong.


Jarak ku dan boats memang cukup jauh sehingga aku harus berteriak kepadanya.


“Wayan!!” Panggil ku sekali lagi dengan kencang. Dan berusaha berenang dengan satu kaki ku yang sudah mulai terasa pegal.


“Iya Kak Dhebi” sahut Wayan dengan santai. Dia belum menyadari jika kaki ku sedang kram dan terluka.


Wajah ku begitu terlihat kesakitan.


“Kak Dhebi kenapa?” Tanya Wayan begitu panik. Dia langsung melepas baju yang di pakai nya dan bersiap meloncat ke dalam air namun tidak lama sebuah tangan melingkar di tubuh ku membuat ku terkejut.


Danu. Dia menyeret ku berenang sekuat tenaga menuju boats. Aku terus menatap wajah nya yang begitu dekat dengan ku dengan raut wajah yang terus shock menatap nya.


Seluruh wajah nya sudah basah dan kulit putih pucat nya begitu terlihat jelas. Matanya sedikit sipit dan dia memiliki dagu yang lancip seperti orang China. Aku bingung kenapa dia masih bersikap begitu baik kepadaku setelah aku memperlakukan dia begitu tak acuh.