
Aku dan Aditya kembali ke Villa kami sebelum nya. Villa di samping pantai nusa dua dan yang kemarin kita pakai untuk acara bridal to shower ku.
Aku menaruh bunga biru itu di dalam vas bunga dan aku lepas kan dari buket nya,bunga mawar berwarna biru itu tampak indah dan mengagum kan sekali,dan persis dengan warna kesukaan ku yaitu warna biru ocean. Aku membawa vas bunga ke tengah rumah dan aku taruh di meja ruang tamu.
“Biii” teriak Aditya di dalam kamar.
“Yaa sebentar!” Sahut ku ikut berteriak,aku menatap sekali lagi bunga itu lalu berlari menghampiri Aditya.
“Kenapa di?” Tanya ku ketika aku melihat dia sedang membereskan pakaian.
“Besok kita pergi ke Sumba,tapi kita sudah tidak ada baju bi” ujar Aditya dengan berkecak pinggang.
“Lalu?” Tanya ku mengangkat kedua halis ku dan mendekati Aditya.
“Seperti nya kita harus berbelanja” ucap nya membuat ku tersenyum menertawakan ucapan nya.
“Baiklah” jawab ku dengan menatap nya yang begitu manis.
Aku sudah mengganti pakaian ku dengan memakai celana blue denim dan memakai kaos berlengan pendek berwarna putih polos. Aditya memakai sweater berwarna kuning dan celana pendek berwarna coklat,rambut nya tak di buat jambul lagi seperti kemarin di acara pernikahan kami,kini rambut coklat tua nya di buat berantakan dan terlihat begitu calm.
“Akan beli apa saja kita?” Tanya Aditya ketika kita berdua sudah sampai ke salah satu mall besar di Bali.
“Kamu bilang hanya beli baju saja kan?” Tanya ku dengan terus melingkarkan tangan di lengan nya. Tak canggung lagi kini aku terus berdekatan dengan Aditya di depan umum,karena seluruh manusia di negri ku akhirnya tahu jika aku dan Aditya telah menikah.
“Kamu tidak mau membeli yang lain nya?” Tanya Aditya tanpa menoleh ku.
Aku langsung menoleh ke arah nya dan mengerutkan kening ku.
“Kamu minta aku buat jadi wanita lain pada umum nya? Harus membeli barang yang sebenarnya tidak aku perlukan? Apa harus aku seperti itu?” Tanya ku dengan heran.
Aditya menatap ku dengan dingin lalu dia tersenyum melihat aku begitu serius menanggapi nya.
“Bukan itu maksud ku” ucap nya sambil tersenyum.
“Kita kan perlu peralatan mandi juga,atau obat-obatan untuk di jalan” ujar nya membenarkan maksud nya.
Aku menghela nafas ku dengan kesal.
“Baiklah” jawab ku dengan malas.
Lalu lagi-lagi Aditya menertawakan ku melihat ku yang mulai cemberut karena salah memahami ucapan nya.
Beberapa saat kemudian ada 4 orang wanita yang tiba-tiba mendekati ku dan Aditya. Lalu dia dengan heboh nya menghentikan langkah kami.
“Kak Aditya Kak Aditya minta fhoto nya dulu dong” ucap mereka dengan memegang handphone nya masing-masing.
“Kak Aditya minta fhoto nya sekali aja”
“Iya boleh ya Kak please”
“Oke boleh” lalu mereka satu persatu secara bergantian berfhoto dengan ku dan Aditya memakai handphone nya masing-masing. Aku dan Aditya hanya terus tersenyum kepada kamera saja berusaha ramah kepada mereka.
“Kak Dhebi boleh minta fhotoin kita ga Kak sama Kak Aditya?” Pinta mereka dengan malu-malu.
“Oh boleh boleh dong,sini mana handphone nya” ujar ku namun terlihat Aditya begitu keberatan mereka menyuruh ku untuk memotret mereka.
“It’s Ok dii” ucap ku membaca raut wajah nya.
Mereka bertiga berdiri di kanan kiri Aditya dengan begitu bahagia,namun Aditya malah terlihat kesal menatap kamera
“Ayooo senyum” pinta ku namun Aditya masih saja berwajah dingin menatap kamera.
“Dii senyum dong” pinta ku dengan memaksa.
Lalu Aditya akhirnya tersenyum walaupun terlihat terpaksa.
“1..2..3” aba-aba ku lalu menekan tombol potret.
“Sekali lagi yaa” ujar ku. Lalu ke empat wanita itu mengganti gaya mereka.
“1..2…” belum sempat aku menghitung angka terakhir untuk memotret mereka aku melihat sosok yang melintas di belakang mereka di dalam kamera handphone.
Danu. Aku tersentak dan terkejut melihat kembali ke arah belakang mereka dengan mata kepala ku sendiri mencari sosok Danu,namun dia sudah menghilang entah kemana.
“Kenapa bi?” Tanya Aditya bingung. Dan mereka semua ikut menoleh ke belakang melihat apa yang sudah membuat ku terkejut
“1..2..3” setelah selesai aku mengembalikan handphone itu kepada pemilik nya.
“Terimakasih ya ka Dhebi” ujar wanita itu dengan terus tersenyum bahagia.
“Wah ternyata benar kak Dhebi baik ya” ucap wanita yang lain nya.
“Makasih” jawab ku dengan begitu manis.
“Iya Kak Dhebi baik banget,cantik lagi. Pantes Kak Aditya sayang banget sama Kak Dhebi kalian cocok sekali” ujar wanita yang lain nya lagi.
Aditya tersenyum melihat ku dengan bangga.
“Makasih yaa” ucap ku.
“Iya kita juga makasih ya Kak,permisi Kak Dhebi,Kak Aditya” pamit mereka dengan menganggukan kepala nya agar terlihat sopan.
“Iya silahkan”
Lalu mereka berempat langsung pergi.
Aditya menatap ku dengan tajam,lalu aku mendekati nya dan melekatkan tubuh ku di tubuh nya,aku memegang dada nya dengan lembut lalu menatap nya.
“Kenapa sih di?” Tanya ku merayu nya.
“Mereka nyuruh kamu buat foto aku dan mereka”
“Lalu kenapa?”
“Kamu ga cemburu?” Tanya nya membuat ku tertawa mendengar pertanyaan nya.
“Untuk apa? Mereka kan penggemar kamu,yang support kamu selama ini. Kalau aku harus cemburu sama mereka,pasti tidak akan ada habis nya dii” ucap ku dengan tulus.
Aditya tertawa mendengar nya.
“Kamu tahu? Aku pernah cemburu dulu melihat kamu dengan Andre berdua di aosial media nya,tapi sekarang malah aku merasa berterimakasih kepada nya karena dia sudah menjaga mu dengan baik”
“Menjaga ku?” Ledek ku mengingat masalah kita dulu dengan Andre dan Lucy.
“Iya secara tidak langsung dia sudah menjaga kamu Dhebi. Dia tulus sayang sama kamu,dan dia tidak berani berbuat macam-macam sama kamu? Malah dia membuat kamu bahagia selama ini”
“Kamu ga cemburu?” Tanya ku kembali meledek nya.
“Dulu iya,tapi sekarang tidak. Karena aku tahu,perasaan tidak bisa di paksakan,biar saja Andre memiliki perasaan sama kamu,karena semua sudah terlanjur kan? tapi aku yakin sekarang,Andre cukup tahu diri untuk tidak memaksakan perasaan kamu lagi” ujar nya membuat ku begitu bangga dengan kebijaksanaan nya.
“Kamu hebat,aku bangga banget sama kamu. Padahal kan dulu juga kamu sempat terobsesi sama aku dii,kamu selalu keras menanggapi orang-orang yang di sekitar ku” ucap ku mengingat masa-masa dulu dengan nya.
“Aku terobsesi karena aku terlalu takut kehilangan kamu,dan aku tidak tahu bagaimana cara menjaga kamu” ucap nya dengan bersungguh-sungguh.
“Kamu percaya kalo aku baru kali ini merasa terlalu sayang dengan perempuan?” Ujar nya membuat ku mengerutkan kening.
“Oya?” Tanya ku tak percaya.
“Kamu belum pernah merasakan sayang seperti ini?” Tanya ku lagi.
“Memang kamu pernah?” Tanya nya dengan raut wajah yang kesal.
“Kalo aku bilang,aku belum pernah jatuh cinta sebelum nya kamu percaya?” Ujar ku balik bertanya.
“Kamu? Belum pernah jatuh cinta sebelum nya?” Tanya Aditya dengan raut wajah yang tak percaya juga.
Aku tertawa melihat raut wajah nya.
“Kamu belum pernah berpacaran sebelum nya?” Tanya nya lagi.
“Ya pernah lah di. Tapi ya,aku selalu mengira setelah berpacaran dengan mantan-mantan ku perasaan ku akan tiba-tiba tumbuh seiring berjalan nya waktu. Ternyata tidak semudah itu,perasaan ku begitu dingin dan dan tidak bisa begitu jauh mencintai mereka”
Adity tersenyum dengan bahagia.
“Lalu? Sejak kapan kamu merasakan jatuh cinta sama aku ?”
“Saat aku tahu kalo kamu suka makan kepiting” ujar ku mengingat dulu masa-masa kita berjalan berdua di Sumba.