Obsessive Love Disorder

Obsessive Love Disorder
Dia hanya membutuhkan ku



Aku sudah selesai dengan semua tugas-tugas ku di kampus.


“Dheb lo jadi pulang ke Bandung?” Tanya Caca.


“Ga tau gue, males sih, tapi pengen banget pulang”


“Mau gue anter?” Ucap Zio.


“Ga usah io, kapan sih gue mau pulang minta anter kalian”


“Ya kali aja lo cape butuh orang tukeran setir mobil”


“Lo fikir Bandung sejauh apa , pake harus giliran nyetir” ledek ku sambil menertawakan nya.


“Kalo ga jadi ke Bandung kita hangout yuk, nongkrong di caffe gitu atau di club” ide Sisil yang membuat ku menggelengkan kepala mendengar ide nya.


“Lo emang ga ada cape nya ya, kita baru aja pusing mikirin tugas bukan nya istirahat malah hangout sih” omel Sienna.


“Tapi gue oke sih” timpal Caca.


“Yee sama aja”


“Lo gimana Dheb, lo pasti ikut dong yuk, kalo lo ikut Sienna sama Zio pasti ngikut juga” ajak Sisil.


“Kayak nya ngga dulu deh, gue cape. Bener kata Sienna kita harus istirahat,dan menghadapi tugas-tugas yang masih menumpuk, ya ngga ?” ucap ku yang terdengar sangat aneh.


Semua orang saling melemparkan pandang mendengar pernyataan ku.


“Sejak kapan lo so rajin kaya gini Dheb, biasa nya juga lo ga pernah mikirin tugas kaya gini” ujar Caca heran melihat ku tak seperti biasanya.


“Iyaa, kesambet apa lo?” Timpal Sisil.


“Dih serba salah ya gue ,rajin di omelin males-malesan tambah diomelin. Mau kalian tuh apa sih sebagai teman gue, gue ga ngerti deh”


“So drama lo, jijik gue”


lalu semua orang tertawa lagi.


Aku sampai ke kostan ku ketika aku dan teman-teman ku memutuskan untuk pulang berisitirahat dan me-reschedule kan acara hangout di lain waktu.


Tak henti henti nya aku mengecek handphone ku dari tadi sore. Menunggu kabar dari Aditya. Aku tidak ingin menjadi yang pertama menghubungi nya, karena aku takut mengganggu nya yang sedang meeting dengan semua team management nya atau menganggu aktifitasnya yang lain.


Tidak lama suara handphone ku berdering,hatiku begitu senang mendengar deringan di handphone ku karena aku kira itu dari Aditya namun ternyata aku di kerjai oleh handphone ku sendiri.


Mas Glenn. Kenapa dia menelepon ku, apa ada hal penting?


“Hallo mas?”


“Halo Dheb,kamu dimana?”


“Aku di kostan,ada apa mas?”


“Aditya sakit, tadi pulang meeting kita ada meet and great di mall tapi tiba-tiba dia batuk-batuk gitu, kamu bisa kesini ga temenin dia? Soalnya aku masih ada urusan”


Aku teringat tentang gangguan kecemasan yang dimiliki Aditya, apa dia di serang gangguan kecemasan nya? Aku begitu panik mengingat jika memang itu terjadi.


“Oke mas aku kesana”


“Perlu aku jemput ga?”


“Ga usah mas aku tahu kok Apartement nya Aditya”


“Kamu tau?” Tanya nya membuat ku mengigit bibir ku malu.


“Iya mas, aku kesana sekarang” aku menutup telepon nya.


Berfikir sejenak memikirkan Aditya, lalu pergi menyambar tas dan sweater ku.


Aku sampai di Gedung Apartemen Aditya, aku terus berlari menuju kamar nya. Ketika sampai di depan pintu kamarnya, aku membuka kode Apartement yang baru aku ketahui kemarin dari Aditya lalu masuk dengan cepat mencari keberadaan Aditya. Dia di kamar.


“Dheb..” panggil Glenn begitu melihat ku masuk ke kamar nya.


“Hay mas, Aditya udah mendingan?” Tanya ku.


“Dia lagi istirahat, tadi aku udah kasih obat”


“Kok bisa sih mas langsung sakit gini?”


“Oh ya udah, dia tenang kayak nya” ucap ku begitu khawatir melihat nya yang sedang tertidur.


“Ya udah aku pulang dulu ya Dheb, masih ada urusan, tolong jagain Aditya sampai dia sadar”


“Oke Mas,makasih ya”


“Oke bye”


“Hati-hati”


Lalu Glenn keluar dari Apartement Aditya.


Aku berjalan menghampiri Aditya dan duduk di samping tempat tidur nya,memandang dia yang sedang memejamkan matanya.


Aku teringat kata-kata Aditya ketika di pantai Sumba.


Aku pun ga tau kenapa gangguan kecemasan aku seketika hilang kalo sama kamu.


Dia mengerjapkan matanya.


“Bii..” panggilnya lirih.


“Hey”


“Kamu ngapain disini, bukan nya ke Bandung” tanya nya dengan suara yang begitu berat.


“Aku ga jadi pulang, nanti aja kalo udah tugas aku selesai di kampus baru aku pulang. Kamu udah baikan?”


Aku benar-benar merasa khawatir melihat nya begini.


“Udah”


“Ya udah tidur lagi ya kamu perlu istirahat” ucap ku penuh perhatian.


Dia memegang tangan ku dengan lembut.


“Aku cuma butuh kamu” lalu dia menarik tangan ku membuat kepalaku mendekat ke wajah nya dan dia mencium bibir ku dengan lembut.


Terasa sekali panas suhu tubuh nya. Dia menatap ku begitu dekat lalu menarik ku ke dalam dekapan nya. Dia memintaku untuk tidur dalam pelukan nya. Jika memang seperti ini membuat dia tenang aku akan membiarkan nya sampai dia kembali tertidur.


Esok pagi aku terbangun dengan selimut yang mengerubun di tubuh ku. Aku mengerjapkan mataku dan melihat cahaya matahari yang sudah mulai muncul di sela-sela tirai kamar Aditya.


Aku mencari Aditya di sekitarku, aku rasa tadi malam dia masih memeluk ku dengan erat, tapi sekarang dia malah menghilang. Aku mengumpulkan seluruh nyawaku berjalan mendekati jendela dan membuka lebar tirai yang sudah menutupi cahaya yang akan masuk ke dalam kamar nya.


Terdengar suara gaduh di dapur, aku membuka pintu kamar nya dan melihat Aditya dengan baju oversize berwarna coklat dan celana boxer berwarna putih tengah sibuk di dapur.


“Di..” sapaku.


“Pagi” sapanya dengan senyuman yang begitu manis.


“Masak apa?” Tanya ku sambil duduk di kursi pantry menyaksikan nya memasak sebuah telur.


“Sarapan” singkat nya.


Aku lihat di atas meja sudah ada beberapa sayuran yang sudah di irisnya dan ada beberapa buah-buah an juga di atas mangkok besar mungkin untuk di buat menjadi jus.


“Kamu ga ada kerja hari ini?’ Tanya ku.


“Aku ambil libur, mau menghabiskan waktu” ucap nya.


“Menghabiskan waktu? Kemana ?”


“Hmmmm…” dia terus berfikir sambil menyajikan telur yang sudah di masak nya ke atas piring.


“Masak kepiting misalnya” jawab nya membuatku tertawa.


“Kamu emang ga bosen ya, makan terus kepiting, ga mau gitu bikin makanan lain,seperti steak, atau barbeque,suki, sushi, atau spaghetti”


“Ngga” ucap nya menatap ku begitu dekat.


Dia mencondongkan badan nya di sebrang meja untuk memperhatikan wajah ku begitu dekat.


“Aku mau menghabiskan waktu dengan kamu dan dengan kepiting buatan mu” ucap nya lalu mengecuk bibir ku dengan manis.


Aku selalu senang dengan sikap manis Aditya yang seperti ini. Aku seperti memiliki Aditya di dua sisi,satu sisi manis dan satu lagi sisi menyebalkan.