
Siang itu aku dan Aditya mulai berbelanja ke supermarket yang sama seperti sebelumnya,untuk membeli kebutuhan memasak kita dan segera kembali ke Apartement.
Untuk kali ini dia membantu ku memasak. Dia membantu ku mencuci bahan,mengiris bawang dan dia membantu ku merebus dulu kepiting nya. Dia terlihat senang membantu ku memasak, dan bahkan sesekali dia terus mengecup kening ku memberikan ku semangat untuk memasak.
Aditya yang ku kenal kini begitu hangat dan begitu penuh kasih sayang. Berbeda sekali dengan Aditya yang pertama kali ku temui, begitu dingin,ketus, dan menyebalkan. Bahkan dulu dia tak pernah mau berhadapan dengan ku. Namun kini malah sebalik nya. Hidup itu memang lucu.
Zio menelepon ku saat kita tengah menyantap makanan kita. Aditya melirik ku dengan tatapan nya yang seperti biasa,dia masih saja curiga dengan Zio,senyuman dia yang sebelumnya begitu saja hilang.
“Hallo io”
“Hallo Dheb, lo dimana ?”
“Gue lagi di luar, kenapa?”
“Di luar dimana ? Gue mau minta temenin nih survey ke bogor”
“Hah ke bogor, kapan?”
Aditya langsung memperhatikan ku dengan raut muka nya yang penasaran.
“Niat nya sih sore ini, lo bisa ga?”
Aku melirik Aditya.
“Kayak nya ga bisa deh io, gue udah ada janji, lagian lo ngedadak sih. Atau ngga coba lo ajak Sienna atau Caca”
“Yah elo Dheb, gue kan mau nya sama lo. Soalnya lo kan pinter banget ngomong,makannya gue ajak lo”
“Ya gue ga bisa gimana dong?”
“Ya udah deh kalo lo ga bisa ga apa-apa,bye”
“Sorry ya io, bye”
Lalu aku menutup telepon nya dan menyimpan nya di meja.
“Ngapain ke bogor?” Tanya Aditya dengan ketus.
“Survey tempat buat komunitas MAPALA”
“Ga bisa ajakin yang lain?”
“Dia bilang ga bisa, karena yang biasa jadi juru bicara kan aku”
Aditya terlihat tak nyaman dan kembali memakan makanan nya dengan wajah yang kembali dingin.
Selesai makan, aku mecuci semua piring dengan bersih. Dan membersihkan remah-remah yang berserakan di lantai bekas ku memasak.
Aditya memeluk ku dari belakang.
“Besok kamu ikut ya” ucap nya sambil mengecup pundak ku dengan mesra.
“Kemana ?”
“Aku ada pemotretan”
“Kenapa aku harus ikut?”
“Ya aku mau kamu ikut aja”
Aku membalikan badan ku dan mengerutkan kening kepadanya heran menatap nya.
“Kamu ga khawatir ada orang lain yang liat aku sama kamu?” aku mencoba mengingatkan nya tentang itu.
“Gak apa-apa”
“Loh kok bisa? Film kamu kan belum juga tayang Di , masa ia kamu mau buat film kamu ga laku”
“Tapi aku mau kamu ikut ke pemotretan aku besok”
“Untuk apa?”
Raut wajah nya berubah menjadi kecewa mendengar ku terus berusaha menolak ajakan nya.
“Emang kenapa ? Ga boleh aku minta pacar aku sendiri buat nemenin aku?”
“Bukan gitu Dii”
“Kamu mau kemana ? Nemenin temen kamu itu ke bogor? Siapa namanya? Zio ?”
“kok jadi bahas Zio sih”
“Ini juga kan buat kebaikan karir kamu, apa aku salah?”
“Ya terus apa aku juga salah minta kamu untuk temani aku pemotretan?”
Permintaan nya memang tidak salah. Dia hanya ingin aku ada bersamanya,mungkin dia sudah ingin merasakan hubungan yang normal seperti orang pada umumnya,menemani kehiatan, menyaksikan pekerjaan nya, dan menyemangati semua yang di lakukan nya. Namun aku tetap saja bingung,apa yang di inginkan Aditya ini benar atau salah ?
“Okee” jawab ku akhirnya.
Raut wajah nya berubah menjadi senang, dia kembali memeluk ku dengan begitu erat.
“Thank you” ucap nya dengan masih terus memeluk ku.
Aku menganggukan kepala,namun perasaan ku tetap saja gundah.
Aku berusaha untuk memahami nya,walaupun aku tidak akan tahu bagaimana esok aku akan menyembunyikan diriku dari semua orang.
Keesokan nya,acara pemotretan Aditya berjalan dengan lancar, aku meminta Aditya untuk menunggu dia di Lobby sambil membaca buku,Aditya tidak keberatan aku hanya menu ggu dia,dan ternyata banyak orang yang tidak menyadari siapa aku sebenarnya,mungkin orang lain menyangka aku ini hanyalah orang dari team nya,padahal aku membawa barang2 nya saja tidak, Aditya punya asisten pribadi sendiri yang akan menemani Aditya saat akan bekerja saja,dan asisten nya pun tidak pernah bertanya kenapa aku ada bersama Aditya,mungkin Aditya sudah membuat dia bungkam untuk tidak banyak bertanya kepadaku atau untuk menyebar luaskan hal ini. Karena dari awal aku dan asisten nya bertemu di basemant Apartement dia hanya tersenyum padaku,dan tidak menunjukan jika dia terkejut kenapa aku bisa bersama bos nya ini.
Hari berganti bulan. Tak terasa sudah 3 bulan aku menjalani hubungan tersembunyi ini dengan Aditya. Namun masalah selalu datang setiap waktunya.
Sikap Aditya semakin posesif. Dia tak pernah mengijikan ku untuk pergi tanpa seijin nya. Bahkan dia memintaku pindah dari kostan dan tinggal bersama nya di Apartement.
Setiap kali aku pergi ke kampus Aditya selalu menghubungi ku dan meminta ku pulang cepat walau dia tak ada di Apartement. Bahkan jika aku sedang pergi meluangkan waktu dengan teman-teman ku Aditya selalu menggangguku dengan terus menelpon ku. Teman-teman ku pun sudah menyadari perubahan sikap ku. Namun aku selalu berdalih jika itu hanya perasaan mereka saja. Bahkan kepada Sienna pun aku enggan untuk bercerita lagi,aku tidak mau Sienna mengkhawatirkan aku dengan sikap Aditya yang begitu posesif.
“Dari mana aja kamu?” Tanya Aditya yang sudah menungguku bersandar di meja makan dengan melipat kedua tangan nya.
“Aku baru pulang bareng temen-temen aku” ucap ku dengan malas dan melempar tas selempang ku ke sofa.
“Ga bisa kabarin aku dulu?”
Aku sudah malas untuk terus berdebat dengan nya seperti ini setiap kali aku pergi dengan teman-teman ku selalu saja dia memarahi ku seperti ini.
“Dii, aku cuma keluar sama temen-temen aku,bukan main yang ngga ngga” kesal ku.
“Ya terus kenapa tiba-tiba telepon kamu ga aktif?”
“Karena aku cape di hubungi terus sama kamu,aku juga mau habisin waktu aku sama teman-temen aku”
“Aku ganggu kamu ? Salah aku cuma mau tau kamu lagi dimana ?”
Aku memutar kan bola mataku, begitu lelah dengan sikap nya yang seperti ini. Aku duduk di sofa tak mengacuhkn nya.
Handphone ku berdering, pesan masuk ke handphone ku. Aditya menghampiri ku dengan cepat dan merebut ponsel ku.
“Apa sih di!!”
“Aku mau liat kamu pergi sama siapa aja tadi”
“Aku udah bilang kan, aku pergi sama temen-temen aku” aku terus berusaha merebut kembali ponsel ku.
Dia membuka kunci handphone ku dan membuka pesan ku.
Itu dari Reza teman kampus ku.
Reza.
-Oke Deb, kita bahas nanti ya
Aditya terlihat begitu kesal setelah dia membaca isi pesan ku sebelum dia bertanya apa maksud dari pesan Reza itu.
“Kamu udah bohongin aku kan?”
“Apasih Di ?!”
“Kamu bilang kamu keluar sama temen kamu”
“Ya dia emang temen kampus aku, menurut kamu temen aku cuma itu itu aja, kampus aku itu besar di, temen aku banyak disana?!”
Aditya hanya diam dengan raut wajah nya yang terlihat begitu emosi. Dia melemparkan handphone ke atas sofa sampai memantul. Dia berbalik dan berjalan kesana kemari dengan gelagat yang yang bingung, cemas dan marah.
“Aku ga mau liat kamu keluar lagi dengan laki-laki lain” ucap nya dengan berusaha tenang.
Terlihat sekali jika dia sedang mengontrol emosi nya.
Aku hanya diam tak menggubris nya. Menatap nya begitu sedih, merasa telah kehilangan Aditya yang dulu begitu hangat dan penuh cinta.
Tidak ada yang bisa ku perbuat jika dia sudah emosi seperti ini. Aku tidak ingin dia melakukan hal lain yang akan menambah masalah untuk ku.