Obsessive Love Disorder

Obsessive Love Disorder
Karena sebuah kebetulan



“Dheb gimana masalah lo? Udah selesai?” Tanya Sienna ketika kami sedang duduk di meja perpustakaan.


“Sebenernya udah tapi gue ngerasa belum sempurna aja penyelesaian nya” jawab ku sambil terus mengotak atik laptop ku.


“Maksud nya?”


“Cewe yang kemarin sama Aditya itu namanya Lucy, anak dari ketua Industri Film. Selama ini Aditya berhasil menjalin hubungan sama Lucy cuma demi sebuah suksenya film yang di bintangi Aditya” ucapku dengan perasaan yang masih tak terima.


“Hebat banget si Aditya” ujarnya membuat ku merenyitkan dahiku.


“Kok hebat sih, dia udah bohongin gue dong Syen”


“Iya dia bohongin lo karena takut lo ga terima alasan dia Dheb”


“Ya kenapa ga dia coba dulu buat jujur sama gue sih”


“Gue udah bilang dia itu takut,itu aja. Dia takut kalo seandainya dia jujur ngejelasin hubungan dia sama si Lucy ini ke lo, lo ga akan terima alesan dia Dheb,dan lo malah ninggalin dia,jadi mungkin dia sembunyiin ini sebisa dia karena mungkin itu lebih baik”


Lagi-lagi Sienna benar.


“Udah lah Dheb,akhirnya lo tau juga kan apa yang di sembunyiin Aditya,dan Aditya juga akhirnya tau kalo lo ga pernah tinggalin dia walaupun lo tau semuanya”


Aku memikirkan kata-kata Sienna. Dia benar, Aditya memang terlihat terlalu takut kehilangan aku sampai dia selalu mengkang ku dan membatasi pergaulan ku. Dia takut jika aku merasa nyaman dengan orang lain di bandingkan dengan dia yang selalu menyembunyikan ku.


“Udah ya Dheb, ga usah galau lagi. Semua kan udah jelas,lo akhirnya tau cewe yang sama Aditya itu siapa. Dan biarin dia ngerjain kerjaan nya sampe dia nepatin janjinya buat nge publish hubungan kalian oke ?”


“Iya iyaaa thank you Sienna” ucap ku dengan centil.


Handphone ku berdering, nomor tak di kenal terpampang di layar ponsel ku.


“Hallo”


“Hay” sapa seorang laki-laki di sebrang sana.


Suara ini begitu tak asing di telingaku. Aku berusaha mengingat suara siapa disana.


“Jimmy?” Tebak ku. Membuat Sienna melotot melihatku dan ikut menempelkan telinganya di handphone ku.


“Tebakan kamu bagus Dheb”


“Ada apa?” Ketusku.


Sienna berisyarat meminta aku untuk me load speaker kan telepon nya. Aku mengibaskan tangan ku untuk membuat dia diam.


*“Aku lagi bosen aja jadi aku telepon kamu”*ucap nya terdengar ada suara tawa kecil dalam ucapan nya.


Aku mendelikan mataku,begitu malas mendengar alasan nya.


“Maaf aku lagi sibuk,bisa cari orang lain aja buat nemenin bosen nya” ketus ku dengan kesal.


“Dhebi,Dhebi,Dhebi wait” panggil nya seolah tahu aku akan menutup telepon nya.


“Aku ada project bikin Video klip Dheb”


“Lalu?”


“Aku mau minta referensi kamu untuk lokasi nya”


“Sorry,emang ga ada yang lain?”


“Aku cuma terima saran aja dari Mas Dias tentang ini, tadi aku sempet ngobrol sama dia,dan dia nyaranin aku untuk coba hubungin kamu jadi aku hubungin kamu”


Sial sekali dia membawa bawa nama Mas Dias untuk membuat ku berat menolak keinginan nya. Selama di Sumba Mas Dias sudah begitu baik terhadap ku dengan teman-teman ku ,dan dia pun memberikan tips yang begitu besar untuk ku dan semua teman ku. Bahkan dia membirkan kami untuk menonton film perdana nya yang amat sangat Privacy itu. Aku tak bisa mengecewakan Mas Dias dengan mempermalukan dia dengan menolak saran yang di tujukan dia.


“Oke, kamu mau tempat seperti apa?” Jawab ku akhirnya.


“Berarti kamu bersedia yah?”


“Iya” jawab ku dengan berat hati.


“Kalo gitu nanti aku hubungin kamu lagi ya setelah aku meeting dengan para crew”


“Oke bye”


Aku menutup telepon nya dan meratapi ponsel ku. Aku tak percaya akan kembali berurusan dengan artis lagi dan mereferensi kan sebuat project film.


“Dheb,kok Jimmy bisa hubungi elo?” Seru Sienna yang sudah tak sabar mendengar cerita ku dan Jimmy.


“Gue kasih nomer gue ke dia”


“Hah? Kenapa bisa ?”


“Gue ketemu dia di hotel tempat gue staycation kemarin” ucap ku menyesal telah berada di satu tempat yang sama dengan nya.


“Hah kok bisa kebetulan gitu?”


Pertanyaan Sienna membuat ku teringat dengan kisah kebetulan yang telah membuat aku dan Aditya bisa bersama seperti ini. Ini semua karena sebuah kebetulan.


“Gue juga ga tau dia ada disana Syen,ya perasaan dunia itu luas ya,tapi kok kebetulan yang hebat ini bisa nimpa ke gue”


“Emang hidup lo penuh dengan keberuntungan Dheb”


“Bukan beruntung Syen,ini kesialan” ucapku dengan sedih.


“Aditya tau kalo lo sempet ketemu Jimmy?”


Aku menggelengkan kepalaku.


“Lo harus ngomong sebelum Aditya tau dari orang lain,lo mau dia salah paham?”


“Lo bener”ucap ku membenarkan ke khawatiran nya.


Malam harinya di apartemen aku mengumpulkan segala keberanian ku untuk berkata jujur kepada Aditya tentang pertemuan ku dengan Jimmy.


“Hay” sapaku ketika melihat dia di meja kerja nya di kamar.


“Hay,lagi apa?” Tanyaku sambil bersandar ketubuh nya.


“Lagi cek schedule ,kenapa ?”


“Ada yang mau aku omongin” ucapku dengan berat hati.


“Tentang?” Tanya nya sambil menggiringku duduk di pangkuan nya.


“Tentang Jimmy”


“Aku udah tau” jawab nya membuat ku merenyitkan dahi.


“Udah tau dari mana?” Tanya ku.


“Tadi aku ketemu sama team Management dan Mas Dias di kantor nya, dan Jimmy cerita sama Mas Dias kalo dia ketemu kamu di hotel tempat dia menginap malam itu”


Aku menundukan kepala ku karena merasa bersalah dia telah mengetahui nya lebih dulu dari orang lain.


“Dia cerita di depan ku. Dia bilang sama Mas Dias kalo dia mau bikin project film dan cari referensi tempat nya,dan Mas Dias memang menyarankan untuk cari dari referensi kamu. Dan dia telepon kamu di hadapan aku”


“Kamu tau dia telepon aku?” dia menganggukan kepala nya.


“Yang aku tau, kenapa kamu mau ngasih no telepon kamu ke sembarang orang?”


Pernyataan Aditya memang membuat ku berat untuk mencari alasan yang luas.


“Tadinya juga aku ga mau kasih, tapi dia beralasan untuk nawarin kerja sama dengan komunitas aku, kalo udah berurusan dengan komunitas aku kaya gitu kan aku ga bisa nolak di. Aku kasih aja no nya,tapi kalo seandainya dia macem-macem tinggal aku blok aja


nomernya kan, gampang” ucap ku berusaha meyakin kan nya.


Aditya tersenyum kepada ku dan memeluk ku dari begitu erat.


“Aku berusaha untuk percaya sama kamu Bhi,aku tidak mau lagi terlalu mengekang kamu”


Aku begitu senang mendengar dia ingin berubah. Dia tak lagi terlihat posesif, tak lagi cemburuan dan tak lagi banyak melarang ku ini itu. Mungkin masalah kemarin mulai memberikan dia pelajaran,jika aku bisa dengan mudah meninggalkan nya.