
Aku di bawa duduk di sofa oleh Aditya. Dia mengobati kening ku yang sedikit terluka. Glenn duduk di kursi lain nya memperhatikan ku dan Aditya.
“Aku harus memberi dia pelajaran atas perbuatan dia yang di luar batas” kesal Aditya dengan tidak bisa menerima perbuatan Jimmy yang sudah membuat ku terluka.
“Jangan Di. Jangan tambah masalah lagi” tahan ku agar dia tidak lagi tersulut emosi.
“Glenn sudah memberi dia pelajaran yang setimpal” ujar ku dengan menatap nya sayu.
“Dhebi benar Dit. Lo jangan malah cari lagi masalah. Lo kan baru aja klarifikasi dan lo lagi bersihin nama lo di media. Lagian gue udah hajar habis wajah Jimmy” ucap Glenn membantu ku untuk menenangkan Aditya.
“Gue belum puas kalau bukan gue sendiri yang menghajarnya” aku dan Glenn saling melempar pandang.
Glenn pun sudah tahu jika Aditya tidak bisa di hentikan. Glenn hanya bisa menarik nafas nya dan menyandarkan diri di kursi mendengar keinginan teman nya.
Esok pagi aku terbangun dan mendapati Aditya sudah tidak ada di samping ku. Aku panik karena aku masih trauma di tinggalkan sendiri di Apartemen.
“Di..” panggil ku dengan langsung meloncat dari atas tempat tidur dan keluar dari kamar.
“Di..” aku terus memanggil nya melihat luar kamar,lalu aku mendapati nya sedang memasak di dapur dengan kaos putih nya. Aku pun bernafas lega ketika melihat Aditya disana.
Aditya melirik ku dan tersenyum manis dengan tangan sibuk memasak sesuatu di atas teflon. Aku langsung bernafas lega ketika mendapatinya masih ada di apartemen.
“Selamat pagi” sapa nya.
Aku menghampiri Aditya dan mengecup lembut bibir nya.
“Kamu sedang apa?” Tanya ku melihat teflon yang sudah berisi pancake beraroma pisang.
“Membuat sarapan untukmu”
“Biar aku saja” ujar ku berusaha merebut teflon itu.
“Kamu duduk. Sebentar lagi aku selesai” pinta nya menatap ku dengan dingin.
Aku menghela nafas menyerah dan membuka lemari es dulu membantu nya menyiapkan margarin dan gula syrup,lalu aku simpan di atas meja dan duduk menunggu Aditya menyiapkan sarapan.
Baju yang ku pakai adalah kemeja besar berwarna biru gelap milik Aditya. Begitu nyaman sekali aku memakai semua pakaian Aditya karena ukuran nya yang besar dan membuat leluasa di badanku.
Sarapan pun siap di sajikan Aditya. Dia menaruh pancake di atas piring besar dan memberikan satu ke atas piring ku.
“Terimakasih” ucap ku dan segera mengoleskan margarin dan gula syrup.
Aditya ikut duduk dan ikut menyantap sarapan buatan nya.
Aku memotong kecil pancake dengan pisau dan memakan nya dengan garpu.
“Enak?” Tanya Aditya begitu aku mengunyah pancake pisang itu.
Aku menatap Aditya lalu menganggukan kepala ku sambil tersenyum manis.
Telepon ku berdering di atas meja makan. Semalam memang aku meninggalkan nya disini.
Mama.
Aku mengangkat telepon nya dulu.
“Hallo sayang kamu gak apa-apa?” Tanya Mama begitu khawatir.
“Aku baik-baik saja Ma” jawab ku mengerutkan kening.
“Mama liat pemberitaan kamu Nak”
Aku terkejut dengan apa yang di ucapkan Mama dan menatap Aditya yang sedang sibuk menyantap sarapan nya. Aku turun dari kursi dan menjauh dari Aditya.
“Pemberitaan apa?”
“Banyak gosip beredar kalau teman kamu ada yang berusaha macam-macam sama kamu Nak”
Aku semakin terkejut. Apa maksud Mama itu adalah Jimmy? dan dari mana pemberitaan itu bisa beredar ?
“Hallo Nak” panggil Mama menyadarkan ku yang sedang berfikir.
“Iya Ma. Aku baik-baik saja,aku sudah aman ada Aditya disini” ucap ku menenangkan nya.
“Telepon Mama dan Papa jika ada apa-apa nak”
“Iya Ma”
Lalu aku menutup telepon nya dan menatap layar handphone. Memikirkan tentang pemberitaan yang beredar yang di ucapkan Mama. Aku menyalakan tv dan mencari acara entertainment berusaha mencari pemberitaan yang di maksud Mama. Aku terus menekan remote tv begitu penasaran dengan hal itu.
Dan ada satu acara gosip yang menunjukan sebuah isi percakapan antara Jimmy dan Lucy. Isi percakapan nya adalah Lucy meminta Jimmy untuk menghampiri ku di Apartemen Aditya ketika Aditya sedang mengisi acara tv kemarin. Jimmy meminta imbalan yang besar kepada Lucy, dan Lucy memenuhi permintaan Jimmy asalkan Jimmy bisa membuat aku hancur karena Aditya sudah membuat Lucy malu di depan media.
Aku terkejut melihat isi percakapan itu di layar tv. Lalu ada rekaman cctv yang di putar juga di acara itu. Cctv yang menujukan Jimmy datang ke Apartemen Aditya dengan berpura-pura menjadi pengirim paket dengan memakai topi dan masker juga menenteng box di tangan nya berdiri di depan pintu Apartemen Aditya. Dia melirik kanan kiri sambil mengetuk pintu. Dan begitu pintu terbuka Jimmy membuka masker dan topi nya,wajah dia begitu terlihat jelas di cctv. Pintu kembali tertutup namun terlihat sekali Jimmy memaksa masuk begitu aku berusaha menutup pintu nya. Akhirnya Jimmy berhasil masuk dan pintu tertutup kembali. Dan tidak lama Glenn datang dan berusaha mengetuk pintu namun tak ada yang membuka kan nya. Glenn membuka pintu dan masuk kedalam,beberapa menit kemudian terlihat Jimmy yang terlempar keluar Apartemen Aditya dengan banyak luka di wajah nya. Aku ingat betul bagaimana Glenn menghajar Jimmy tanpa memberi nya ampun.
Aku membalikan badan ku dan menatap Aditya yang ikut menonton tv dengan santai nya dan terus memakan pancake nya.
“Semua ini pasti ulah mu kan?” Tanya ku mencurigai nya.
“Dia pantas mendapatkan itu” ujar Aditya dengan dingin tanpa melirik ku.
Aku menghampiri nya dan kembali duduk di kursi ku.
“Bagaimana bisa kamu mendapatkan isi percakapan itu?” Tanya ku dengan menaruh kedua tangan ku di meja.
“Semalam aku menyuruh orang untuk mencari Jimmy dan sadap handphone nya” ucap nya dengan melirik ku.
“Dan cctv nya?”
“Aku minta Glenn untuk mengurus itu di bawah” dia memasukan potongan pancake ke dalam mulut nya sambil melihat ku dengan dingin.
Aku menggelengkan kepala ku.
“Di aku sudah bilang kan. Jangan menambah masalah baru,kamu baru saja klarifikasi kemarin di media,aku takut kamu di kejar-kejar lagi wartawan di” ucap ku mengkhawatirkan dia.
“Yang mengirimkan bukti foto itu ke media bukan lah aku. Jadi aku aman,dan kamu juga aman sebagai korban. Aku hanya memberi pelajar yang setimpal untuk mereka” ujar nya dengan merasa puas.
“Makan. Pancake nya nanti dingin” perintah nya menunjuk pancake di hadapan ku.
Aku menatap nya dengan gelisah karena takut akan ada sesuatu yang baru menimpa kami. Namun aku berusah mempercayai Aditya dan segera menghabiskan makanan ku.