
“Jawab. Apa Andre sering datang kesini?!” Tanya nya dengan masih penuh kesabaran.
Aku menganggukan kepala ku dengan berusaha untuk memberanikan diri melawan ketakutan ku.
“Iya”
“Seberapa jauh kedekatan kamu sama Andre?” Aditya berdiri dan berjalan perlahan kearahku.
“Kenapa? Apa urusan kamu?” Tanya ku dengan tatapan yang begitu melawan.
“Seberapa dekat kamu sama Andre ?!” Dia mulai berteriak lagi.
“Aku sudah sangat dekat sama Andre, dan iya,Andre sering datang kesini. Lalu kenapa?” Ucap ku begitu menantang menatap langsung matanya yang begitu tajam.
“Apa yang sudah kamu lakukan sama Andre disini?”
“Memang nya kenapa? Apa yang aku lakukan disini sama Andre itu sudah bukan urusan kamu” lawan ku tak lagi aku diam diri dan hanya termenung melihat dia selalu seperti ini.
“Kamu tidak tau Andre itu seperti apa Bi,dia ga seperti apa yang kamu fikirkan?!”
“Aku tahu persis Andre seperti apa,dia begitu baik sama aku,dia begitu menghargai aku. Bahkan dia bisa sangat tulus mencintai aku, tidak seperti kamu!”
Aditya mengusap wajah nya begitu kasar. Dia terlihat sudah begitu emosi.
“Aku lebih tahu Andre di banding kamu”
Ucapan nya terdengar begitu meyakinkan. Dia mengatakan nya dengan bersungguh-sungguh. Namun aku tidak mengerti,dengan apa yang di ketahui Aditya tentang Andre dan aku tidak mengetahuinya.
Suara ketukan pintu terdengar di antara pertengkaran ku dan Aditya yang sudah semakin memanas.
Kami berdua terdiam mendengar suara ketukan pintu.
“Dhebi.. kamu di dalam ?” Itu suara Andre.
Mataku membulat terkejut mendengar suaranya di luar.
Aditya tersenyum menyeringai.
“Itu dia kan?”
Aku menatap Aditya. Aku tahu dia pasti akan berbuat nekat.
Aditya langsung melewati ku dan keluar begitu cepat dari kamar.
“Aditya” aku mengejar nya dengan suara begitu pelan.
Dia berjalan cepat mendekati pintu ruang tamu yang tak berhenti berbunyi ketukan.
“Dhebii” teriak Andre.
Aditya terus berjalan mendekati pintu dan terlihat tak sabar untuk membuka pintu nya.
“Aditya”
aku berusaha mencegahnya,menahan tangan nya yang sudah memegang handle pintu.
“Dhebii kamu di dalam” teriak Andre yang malah mengundang Aditya untuk ingin segera membuka pintu.
Dengan terpaksa aku menarik wajah nya dan mencium bibir Aditya. Aku harus melakukan nya untuk membuat dia diam. Aku mencium bibir nya membuat dia terdiam dan terhipnotis dengan ciuman itu. Dengan perlahan aku melepaskan tangan nya dari handle pintu. Aku menyeret tubuh nya menjauh dari pintu dengan terus mencium bibirnya dan berusaha untuk tak membiarkan dia bersuara sedikitpun. Aku tidak bisa membiarkan Aditya bertemu Andre di saat dia sedang emosi seperti ini,aku harus meredan emosi nya.
Aditya melepaskan ciuman nya dan menatap ku dengan begitu dalam. Tangan nya menyentuh kepala ku dengan lembut. Tersirat dari matanya jika dia begitu merindukan ku,aku bisa merasakan nya.
Aku tidak tahu harus berkata apa. Aku tidak ingin mengakui bahwa selama ini aku juga merindukan dia. Bagaimana pun dia sudah menjadi milik orang lain,aku tidak boleh melupakan keinginan Lucy yang meminta ku untuk menjauh dari Aditya. Dan Aditya kembali mencium ku seolah meminta ku untuk melupakan semua itu. Dia melepaskan pakaian ku dan pakaian nya,dan semua itu terjadi lagi.
Keesokan harinya. Aku dan Aditya pergi ke mall untuk berbelanja karena dia tidak memiliki lagi baju selain baju oversize yang aku pinjamkan untuknya,bahkan ****** ***** pun dia hanya beli di supermarket,akhirnya dia meminta aku untuk membelikan nya baju di mall. Kita pergi ke mall dengan cepat membeli pakaian untuk Aditya,seperti biasa aku meminta Aditya untuk memakai kacamata hitam dan topi agar tidak ada yang mengenali Aditya di sini. Aku tidak ingin media langsung memberitakan aku dan Aditya sekarang,aku masih begitu memikirkan perasaan Lucy dan Andre. Aku merasa bersalah,tapi tidak ada yang bisa aku perbuat.
Aku dan Aditya menurunkan semua belanjaan dari dalam bagasi mobil ku dan segera membawanya masuk kedalam apartemen. Lalu kami di kejutkan dengan sosok Andre yang sudah duduk di loby utama yang terlihat menungguku. Andre berdiri ketika melihat aku dan Aditya datang dengan membawa beberapa kantung belanja di tangan kami.
Andre menatap ku tak percaya. Dan Aditya menatap dia begitu dingin.
“Di,kasih kesempatan aku buat bicara sama dia” ucap ku meminta Aditya untuk diam tak menghampiri Andre.
Aditya menatap ku lalu memalingkan wajah nya terpaksa mengabulkan keinginanku.
Aku menghampiri Andre yang sudah menatap ku dengan kecewa. Dan Aditya hanya bisa memantau ku dari jauh di samping sebuah pillar besar.
“Apa yang kamu lakukan Dheb?” Tanya nya ketika aku menghampirinya.
“Ndre, aku ga bisa jelasin sekarang”
“Kenapa kamu malah sama dia ? Kamu tau kan dia udah jadi tunangan Lucy temen aku sendiri”
“Iya aku tau Ndre, tapi please kamu jangan kasih tau ini sama siapapun termasuk Lucy”
“Ya tapi kenapa Dheb?”
“Apa Dheb?”
“Aku ga bisa jelasin sekarang,tapi aku janji nanti aku pasti ceritain semuanya sama kamu”
Andre terlihat begitu kecewa.
“Ndre please,semua ini ada penjelasan nya,aku mohon kamu ngerti,dan jangan sampai Lucy tau Aditya disini”
“Kapan kamu akan cerita?” Tanya nya dengan begitu kesal.
“Kamu percaya aku kan? Aku pasti akan cerita semuanya sama kamu,tapi aku minta kamu janji dulu kamu akan rahasiakan Aditya disini”
Andre menghela nafasnya. Dia menatap Aditya di belakang sana yang masih menunggu kami.
“Oke kalo begitu,aku tunggu kabar kamu”
Lalu Andre mendekati wajah ku dan mencium kening ku. Membuat ku tersentak dengan apa yang baru saja di lakukan nya di depan Aditya. Namun aku tak bisa menolak nya ,karena bagaimana pun selama ini dia lah yang sudah menemani ku. Aku yakin di belakang sana Aditya pun menyaksikan apa yang di lakukan Andre dengan sengaja.
“Kamu jaga diri ya” ucap nya sambil mengelus pipi ku.
Aku tahu apa yang dia lakukan ini adalah tindakan sengaja untuk membuat Aditya cemburu.
Aku menganggukan kepala ku dengan kaku.
Dia melihat ke arah Aditya sejenak dengan kesal lalu pergi dari Apartemen ku. Aku membalikan badan ku melihat Aditya, dia menatap ku dengan penuh rasa kecewa.
Aku dan Aditya segera pergi darisana.
“Berani banget dia?” Kesal Aditya begitu masuk ke dalam Apartemen dan menaruh semua barang belanja di meja.
Aku benar-benar sudah lelah berdebat dengan nya.
“Udah lah Di”
“Dia sengaja bikin aku cemburu”
“Iya udah kalo kamu tau dia sengaja kamu ga perlu kepancing kaya gini dong” kesal ku.
“Dia lancang banget cium kening kamu di depan aku” dia masih saja mengoceh.
Bisa bisa nya dia cemburu hanya karena Andre mencium kening aku di bandingkan dengan apa yang dia lakukan dulu dengan Lucy.
“Terus kenapa? Kamu marah? Kamu marah liat dia cuma cium kening aku di depan kamu?”
Dia tahu aku menyinggung dia dengan kejadian di club malam itu.
“Aku lebih marah ngeliat kamu cium bibir orang lain di depan mata aku sendiri. Bahkan mungkin saja apa yang kamu lakukan sama dia bisa lebih di belakang aku tanpa aku tahu selama ini kan ?”
Emosi ku yang akhirnya tak bisa tertahan kan.
“Kenapa kamu masih bahas tentang itu sih?”
“Karena kamu yang mulai!” Teriak ku.
“Dheb, bisa ga kamu anggap apa yang kamu liat saat di club itu sama persis dengan apa yang kamu liat di tv, anggap semua itu hanya acting”
“Ga bisa Di ga bisa! Semua itu jelas-jelas bukan acting, semua itu nyata”
“Dheb sampai kapan kamu bisa ngerti semua itu sih? Selama ini aku sudah berusaha untuk jujur tentang semua pekerjaan aku”
Aku menggelengkan kepala merasa sudah lelah mendengar semua alasan nya.
“Udah lah di, semua ini sudah selesai, kamu ga perlu cape-cape buat jelasin semua nya lagi aku udah ga peduli,dan aku bener-bener ga mau tau. Kita udah selesai lama sekali,di mata aku kamu tetap milik orang lain,dan aku ga mau jadi perusak hubungan orang lain,aku juga udah ga mau lagi berurusan sama kamu!”
Aditya menatap ku. Dia tak percaya dengan apa yang dia dengar.
“Kamu udah ga peduli ?” Tanya nya dengan memperhatikan wajahku.
“Iya. Aku udah ga berharap dengan hubungan kita yang sudah selesai sejak lama”
Aku mengatakan nya dengan penuh keyakinan. Walau sebenarnya hatiku begitu sakit.
Dia menganggukan kepalanya.
“Oke” ucap nya menatap ku dengan kecewa.
Dia mengambil semua barang-barang nya dan memasukan nya dengan kasar ke dalam tas nya.
Aku pun tidak tahu kenapa aku jadi merasa bersalah telah mengatakan seperti itu kepadanya. Mengapa melihat nya akan pergi seperti itu membuat ku menjadi sedih.
Dia menyambar tas besar nya dan pergi melewatiku begitu saja.
Aku terdiam di tempat ku berdiri. Mulai meneteskan air mata merasakan sakit hati yang begitu membuat ku bingung. Kenapa aku menangis ? Bukankah ini yang aku mau ? Melihat Aditya pergi dan tidak lagi menggangguku ?