Obsessive Love Disorder

Obsessive Love Disorder
Perpisahan



Aku dan semua teman ku sudah duduk di meja makan. Terlihat ada Glenn duduk di meja di sebrang ku dan aku melihat ada sedikit luka yang masih tersisa di bibirnya. Dia melihatku lalu tersenyum mendekatiku.


“Hey deb,udah mendingan ?” Tanya nya.


“Katanya tadi kamu masi ga enak badan” aku tersenyum kikuk, Glenn berpegangan ke kursi dan meja di depan ku.


“Udah mas,aku udah sehat kok”


Aku merasa risih dia berbicara dekat denganku seperti ini.


“Weitsss Aditya” sapa Mas Dias ketika melihat sosok Aditya berjalan masuk ke resto.


Aditya langsung melihat Glenn dan aku yang sedang berbincang. Namun dia seperti sudah tak perduli dan duduk di meja di depan ku bergabung dengan teman-teman nya yang lain. Glenn menhampiri Aditya.


“Heyy bro,udah sadar loo?”


Sepertinya hantaman Aditya tadi malam tidak membuat Glenn marah ataupun dendam.


“Lu tidur dimana semalem hah? Di telpon ga di angkat, dicari di kamar ga ada,gue kira lu nyelem di laut” semua pun tertawa dengan lelucon yang di lontarkan Glenn.


“Gue nginep di hotel” ujar nya singkat.


Aditya mencuri pandang kepadaku.


“Nginep di hotel?” Tanya Glenn.


“Gue bosen aja tidur di Resort” jawab Aditya.


Seketika tenggorokan ku terasa kering mendengar Aditya dan Glenn berbincang.


“Boleh minta waktunya sebentar!!”


Mas Dias berdiri di antara kami semua menyita perhatian kami.


“Gue ada berita penting nih buat kalian tapi gue ga bisa mastiin ini badnews atau goodnews yaa” ujarnya.


Semuanya duduk dengan serius mendengarkan Mas Dias.


“Kita kehabisan tiket”


Aku dan semua teman ku melempar pandang,terlihat mereka begitu panik dan mengerutkan keningnya.


“Jadi kemarin itu sebenernya gue dan beberapa crew masih mau stay disini sekitar 2 hari kedepan buat nge set tempat dan lain lain,tapi karena ada kerjaan yang amat urgent buat gue dan mengharuskan gue harus pulang cepet, akhirnya gue pun harus pulang juga, tapi ternyata tiket nya itu ga cukup”


Aku semakin risau.


“Deb di antara kalian harus ada 1 orang yang stay disini sampe 2 hari kedepan ya, tentuin siapa nanti gue langsung pesenin tiketnya”


Teman teman ku langsung merunding bersama,dengan wajah kepanikan mereka.


“Gue ga bisa pulang nanti nanti lagi nih, ada acara keluarga,kakak gue ada tunangan dirumah gue ga mungkin ga hadir” ucap Caca.


“Gue juga ga bisa,ada janji sama dosen, malah besok siang janji nya,kalo di tunda lagi gue bisa bisa ga dapet kesempatan lagi ketemu dosen ini” ucap Sienna.


Lalu aku memandang Sisil yang sudah pasti tidak mau ditahan kesini.


“Please deb gue mau pulang” wajah nya begitu memelas, dan memang tidak ada pilihan lagi aku harus mengalah demi kepentingan besar teman teman ku ini.


Aku mengangguk lemas.


“Jadi siapa ?” Tanya Mas Dias.


“Aku aja yang stay mas” ucapku.


“Oke yang lain berarti gue langsung pesen tiket pulang malam ini, dan lo tiket selanjutnya ya,untuk lo ya lo berarti stay aja disini selama 2 hari bareng Glenn,Natalie,Cateline dan Aditya”


Aku langsung membuka mataku lebar lebar mendengar nama Aditya di sebut.


“Eh mas euh kayanya Sisil aja deh yang disini Aku pulang, ya Sisil please, gue juga ada perlu penting ini” panik ku menggoyang goyang tangan Sisil.


Sisil langsung melotot dan menggelengkan kepalanya nya dengan cepat.


“Debiii, gamau” rengek nya, karena memang kasian juga Sisil itu satu satunya teman ku yang super manja. Tidak mungkin dia ditinggalkan disini sendiri tanpa kami.


“Oh Caca aja” tunjuk ku pada Caca.


“Apasih deb kan gue ga bisa” kesal nya, belum sempat aku menyebut nama Sienna dia sudah memelototiku.


“Jadi mau siapa nih?” Tanya Mas Dias.


“Debi aja mas Debi udah” ucap Sisil.


Aku melihat Aditya yang begitu dingin dan terlihat tak perduli dengan masalah ini.


Aku menekukan wajah ku,begitu sialnya. Terperangkap lebih lama disini dengan Aditya. Padahal aku sudah mengharapkan kepulangan ini segera terjadi dan urusan ku dengan Aditya akan pudar seiring berjalan nya waktu.


Aku sudah tidak sanggup lagi di tahan disini dengan kondisiku yang sudah seperti ini. Apalagi harus dengan Catein,Glenn dan Aditya.


Sorenya aku menemani teman teman ku berkemas dengan lemas.


“Deb lo kenapa sih ? Kok lemes gini?” Tanya Caca.


“Iyaa lo ga biasanya kayak gini cemberut mulu deh gue liat liat” sahut Sisil.


“Harusnya lo seneng dong bisa lebih lama disini buat liburan, gratisan lagi ya kan?” Tambah Sisil meminta dukungan teman teman nya.


Aku menghela nafasku dengan lemah.


“Aaahhhh so sweet, lagian gue udah puas banget kok liburan nya. Lo juga kan cuma 2 hari lagi disini ga akan kerasa lama lah, ntar kita langsung meet up yaa” ujar Sisil.


Dia tidak akan pernah tau 2 hari disini bersama Aditya akan terasa begitu lama pastinya.


“Ca temenin gue dulu ke Mas Dias yuk ngasih flashdisk ini gue lupa” ajak Sisil.


“Bentar bentar” ujar Caca sambil meresleting kopernya, lalu mereka pun pergi dari kamar sienna.


Sienna mendekatiku dan duduk di samping ku.


“Deb” aku melirik nya.


“Gue tau ada yang lo sembunyiin dari kita” wajahku berubah menjadi kikuk dan sedih.


“Lo mungkin bisa sembunyiin dari semua orang,tapi ngga dari gue” tambah nya membuatku semakin merasa bersalah.


“Gue tau kalo lo udah sembunyiin sesuatu kayak gini, ini sudah pasti ada suatu hal yang begitu besar sampe lo ga bisa bilang sama kita kita” aku masih terdiam dan merasa sedih.


“Kalo lo belum siap buat cerita juga gak apa apa ko deb, yang pasti gue cuma pengen lo tau kalo kita semua akan selalu ada buat lo,dan lo ga usah takut. Lo harus inget,kita ini sahabat”


mataku mulai berkaca, aku memeluk Sienna dengan sedih dan penuh rasa bersalah karena telah menyembunyikan sesuatu hal yang besar darinya.


“Thank ya syen,lo emang paling peka,lo emang paling pengertian, gue juga ga tau harus mulai cerita dari mana sama kalian, gue bingung dan tertekan selama ini” Sienna menepuk pundak ku dengan lembut.


“It’s okay deb, gue tau lo, hal ini pasti begitu besar buat lo sampe bikin lo kaya gini, gue yakin lo bisa lewatin nya ya”


Aku tersenyum begitu bahagia bercampur sedih mendengar ucapan Sienna.


“Tapi lo ga apa apa kan gue tinggal disini?” Tanya nya sambil melepaskan pelukan nya. Wajahnya berubah menjadi khawatir.


Aku menganggukan kepalaku.


“Im fine, gue bakalan nikmati hari hari tambahan gue buat berlibur disini”


Namun hatiku berkata lain, sebenarnya jauh di dalam hatiku,aku begitu gelisah, aku begitu takut dengan perasaan yang ku miliki sekarang. Aku takut terlalu jauh masuk kedalam kehidupan Aditya jika masih selalu ada di samping nya.


Dan malam pun tiba, setelah makan malam aku pergi untuk melepaskan kepergian ketiga teman ku di parkiran resort. Memeluk semua teman ku dengan begitu sedih.


“Deb lo baik baik ya disini”


“Iyaa ca,kalian selamat sampai tujuan juga yaa, kabarin gue kalo udah sampe rumah” ucap ku begitu sedih.


“Okeee bye deb” aku terus melambaikan tangan ku kepada semua teman ku yang masuk kedalam mobil rombongan dengan semua team yang akan berpulang bersama mereka.


Teman teman ku membuka jendela dan terus melambaikan salam perpisahan kepadaku yang semakin membuatku sedih.


“Bye semua hati hati” ucap ku menahan kesedihan.


Lalu mobil itu pun pergi menjauh membuatku semakin sedih dan kesepian.


“Sedih banget kaya yang mau di tinggalin mudik aja” ucap seseorang tiba tiba di belakangku. Glenn lalu tersenyum melihatku terkejut.


“Iya mas, ternyata sedih juga ya di tinggal sendiri sama temen temen aku” ucapku tanpa menoleh nya kebelakang.


“Kamu ga sendiri kok, kan ada aku”


biasanya aku akan tersipu malu mendengar Glenn menggoda ku. Namun kini semua terdengar aneh. Aku menundukan kepalaku begitu bingung bagaimana aku harus menanggapi Glenn sekarang.


“Deb..”


“Euh mas aku masuk dulu ke hotel ya mau charge handphone dulu hp aku lowbat” belum sempat dia melanjutkan kata katanya aku sudah memotong dan berusaha menghindarinya.


Glenn menarik tangan ku.


“Bentar deb, ada yang mau aku omongin” aku begitu tersentak kaget Glenn menarik tangan ku.


Aku tak menjawab dan terus melirik tangan nya yang masih memegang lengan ku, aku memperlihatkan begitu risihnya aku. Glenn menyadari itu lalu dia melepaskan nya.


“Sorry” ucapnya.


“Gak apa apa mas, mau ngomong apa ?”


“Deb,sebenernya aku…”


“Woyyyyy malah berduaan aja nih” seru Natalie memotong lagi omongan Glenn.


“Apaan sih lo, ini..” Glenn berusaha mencari alasan.


“Guee lagi ngobrol aja sama Debi”


Aku hanya tersenyum melihat Glenn yang salah tingkah. Lalu begitu terkejut nya aku melihat Aditya yang berdiri jauh di belakang Glenn, dengan tatapan nya yang begitu dingin dan tangan nya yang di masukan ke dalam saku celana hawai nya.


Entah berapa lama dia sudah diam disana,tapi dia menatap ku dengan tatapan yang tidak suka lalu pergi. Sekarang aku tahu kenapa dia bersikap seperti itu,dia memang benar-benar serius ketika mengatakan jika dia tidak suka melihat ku dengan Glenn.


“Euh mas, mba aku permisi dulu ya” panik ku


lalu meninggalkan mereka berdua dan segera pergi menuju kamar ku sambil mencari sosok Aditya. Dia tak terlihat di sekitar Resort, mungkin dia kembali ke kamar nya.


Tanpa aku sadari,aku sudah menunggu nya semalaman. Aku menunggu Aditya menghubungi ku atau mengajak ku untuk jalan-jalan malam. Namun Aditya tak kunjung mengabariku.


Aku bingung dengan perasaan yang aku miliki sekarang. Terkadang aku ingin sekali melupakan Aditya dan menghindarinya, namun terkadang aku pun selalu merindukan nya dan memikirkan nya. Aku selalu merasa bahagia mengingat saat saat menyenangkan bersama nya. Apa yang di ucapkan Aditya memang benar, setiap kali ada di samping nya aku juga selalu merasa tenang dan aman.


Sudah lewat tengah malam, Aditya masih saja tak mengabariku. Apa Aditya masih merasa kesal melihat aku dan Glenn berbincang ?


Aku menyingkirkan semua fikiran ku dan berusaha untuk tidur.