
Malam itu aku pulang ke rumah orang tua Aditya. Seperti biasa aku tidur di kamar tamu dan Aditya di kamar nya.
Aku sudah membersihkan diri ku dan mengganti pakaian dengan baju piama berbahan kaos berwarna abu dan bercorak bintang bintang putih. Aku duduk di samping jendela dan menatap keluar nya untuk melihat langit yang indah malam itu.
Aku memikirkan ucapan Danu. Dia sangat misterius menggangguku di mana pun. Dia sudah tampak seperti apa yang di lakukan Aditya dulu. Sikap cuek nya,sikap tak peduli nya bahkan rasa berani nya pun begitu sama dengan Aditya.
Bahkan Danu sekarang terkesan lebih berani dari Aditya dulu. Dia sudah tahu jika aku akan menikah namun dia tidak memperdulikan hal itu. Dia mengatakan hal yang hampir sama dengan Aditya jika dia sudah mencintai ku tanpa alasan.
Padahal jika di ingat aku bertemu dia hanya ketika di Apartemen dan di Bali ketika diving. Setelah itu aku tidak pernah lagi bertemu dengan nya. Namun mengapa Danu seperti mengagumi ku berlebihan seperti itu?
Aku memeluk kedua lutut ku yang ku angkat ke atas kursi. Dan membayangkan bagaiman jika Aditya tahu semua itu. Aku takut Aditya akan mendapatkan masalah yang baru disaat semua sudah kembali menjadi normal.
Keesokan hari aku dan Aditya mulai mengantar Mama ke tempat penjahit busana pengantin tradisional di Bali. Mama begitu antusias dan bahagia ketika akan melihat kami memakai contoh baju adat nikah Bali. Pakaian adat Bali itu di sebut payas agung,dan untuk wanita terdiri dari stagen di lengkapi dengan selendangkan di bahu,bawahan memakai songket Khas Bali yang panjang sampai ke mata kaki dengan semua bercorak Bali yang begitu indah.
“Nah nanti untuk model rambut nya bisa di lihat dari contoh gambar yang aku punya” ucap designer pria yang sedikit lembek seperti wanita.
Pria itu memakai baju begitu berwarna warni. Namun tampak begitu mewah dan begitu modis. Tempat designer pakaian ini pun bukan tempat yang biasa saja,tempat ini tampak seperti boutique namun memiliki lantai khusus untuk menjahit gaun tradisional Bali. Sekeliling ku banyak sekali gaun-gaun pesta dan baju adat yang benuansa Bali.
Aku memandang diriku di cermin yang berbentuk setengah lingkaran dan memantulkan bayangan di sekeliling ku.
“Kamu suka?” Tanya Mama kepadaku.
Mama juga memakai pakaian yang begitu modis hari ini. Memakai baju putih dan memakai jas panjang berwarna orange gelap.
“Aku suka Ma” jawab ku dengan tersenyum.
Aditya keluar dari tempat ganti pakaian dengan memakai Payas Agung Pria nya. Dengan menggunakan kemben coklat terang senada dengan pakaian ku,memakai kampuh dan umpal bermotif keemasan. Rambut dia yang belum di tata pun sudah membuat dia begitu cocok dengan pakaian Bali itu.
Aku melihat dia begitu tampan dan gagah memakai pakaian adat Bali. Dia pun terpana melihat ku dengan baju yang senada dengan yang dia kenakan. Kami saling memperhatikan dengan kagum. Aditya begitu terlihat tampan sekali dengan pakaian tradisional seperti itu,dan aku ingat ketika aku dan Aditya memakai baju pernikahan adat Sumba. Dia juga sama gagah nya seperti ini.
“Cantik sekali” puji Aditya dengan tersenyum manis melihat ku.
“Ya aku tahu itu” sahut ku dengan begitu percaya diri.
Aditya tersenyum menertawakan jawaban ku.
Lalu aku dan Aditya kembali mengganti pakaian kami. Dan sang designer segera meminta pekerja nya yang lain untuk mengukur badan ku dan juga badan Aditya untuk menjahit pakaian yang akan di pakai kami di pernikahan.
“Dan untuk gaun resepsi nya?” Tanya sang designer.
“Ya sekalian dengan gaun resepsi nya. Euh.. saya mau gaun nya itu yang kaya di putri dongeng gitu yang cantik mewah bawah nya mengembang” pinta Mama Aditya dengan tangan terus bergerak menggambarkan seperti apa yang di ucapkan nya.
Aku dan Aditya sambil melempar pandang dan tersenyum melihat semangat Mama.
“Oh itu bisa di atur,boleh” jawab pria lembek itu.
Lalu aku dan Aditya kembali di antar ke bagian baju pesta. Dan kami kembali memilih model gaun nya lalu mengukur badan kami kembali.
Mama Aditya tampak begitu senang dan bersemangat meminta setiap detail yang akan di pasang di baju pernikahan ku.
“Untuk orang tua Dhebi nanti akan mengirimkan ukuran baju nya lewat whatsapp nanti saya kirim kamu ya” ucap Mama Aditya mengingat Papa dan Mama ku masih belum bisa kesini untuk mengatur pernikahan ku.
Akhirnya mereka memberikan sepenuhnya kepercayaan kepada keluarga Aditya untuk mengatur semuanya.
Dan setelah semua nya selesai aku dan Aditya mengantar Mama pulang. Dan berdiri di depan rumah untuk berpamitan.
“Ma aku harus pulang” ujar Aditya berpamitan kepada Mama nya ketika kami baru saja sampai di rumah.
“Kenapa buru-buru Dit?” Tanya Mama menyentuh lengan Aditya.
“Dhebi ada tugas yang harus di kejar besok Ma” jawab Aditya.
“Sayang. Segeralah selesaikan kuliah mu agar kamu bisa segera menikah dan tinggal disini” ujar Mama nya membuat ku tersentak bingung.
Karena sampai saat ini aku dan Aditya belum pernah memutuskan dimana kami akan tinggal setelah menikah. Dan aku kira aku dan Aditya akan tinggal di Apartemen nya.
Aku menoleh ke Aditya dengan bingung.
“I.. iya Ma” gugup ku menjawab.
“Baiklah. Kalian hati-hati ya,kabari Mama jika ada apa-apa”
Aku menganggukan kepala ku dengan manis.
“Baik Ma”
Aku memeluk nya dengan lembut,lalu Aditya pun memeluk Mama dengan lembut.
“Baju sudah di bawa semua?” Tanya Mama.
“Sudah di mobil,tadi pelayan membereskan nya” jawab Aditya menunjuk mobil Nya yang sudah ada di depan.
“Baiklah”
Di perjalanana menuju Bandara aku melamun di dalam mobil nya memikirkan apa yang di ucapkan Mama Aditya.
“Kenapa kita belum pernah membicarakan ini sebelum nya ya?” Tanya ku kepada Aditya.
“Tentang?”
“Tentang dimana kita akan tinggal setelah menikah” jawab ku.
Aditya menghela nafas nya.
“Kamu jangan mendengar apa yang di katakan orang tua ku. Kamu boleh meminta untuk tinggal dimana pun yang kamu mau,jangan terpaksa karena keinginan orang lain” ujar Aditya mengelus tangan ku.
“Tapi bagaimana kalau Mama memaksa kita untuk tinggal disana?” Tanya ku khawatir.
“Ini bukan pertama kali nya aku akan membantah nya” ujar Aditya mengingatkan begitu membangkang nya dia dulu.
“Aditya” panggil ku dengan nada dan raut wajah yang kesal.
Lalu Aditya tersenyum karena melihat ku sudah memasang wajah marah.
“Tidak. Aku akan memberikan mereka pengertian tentang itu,aku hanya akan mengikuti mu dimana pun kamu mau”
Aku terharu mendengar nya. Dan aku menganggukan kepala ku kembali untuk mempercayainya.
Aku dan Aditya sampai di Bandara.
Aku sudah mengganti pakaian ku ketika kami di Bandara. Karena kami takut ketinggalan pesawat yang akan mengantarkan kami pulang. Jadi aku mengganti pakaian ku di toilet Bandara.
Aku sudah berganti pakaian dengan pakaian yang begitu santai. Karena udara nya panas di Bali,aku memakai tank top berwarna putih ku yang croop pendek memperlihatkan pusar ku,lalu aku balut dengan cardigan panjang berwarna coklat gelap berukuran oversize tanpa aku kancing sehingga memperlihatkan baju tanktop dan celana hotpants ku yang memiliki lingkar di atas pinggang ku,sehingga jenjang kaki pu begitu terlihat tinggi dan indah. Aku mengikat rambut ku di gulung dengan messy hair namun begitu enak untuk di pandang. Ya teman-teman ku bilang gaya ku selalu terlihat seperti ala korea,walaupun aku tak pernah tahu bagaima fashion mereka disana.
Aku menatap diriku di cermin, dan merapikan sedikit rambut ku. Lalu meraih tas selempang kecil ku yang aku taruh di samping wastafel.
Aku keluar dari toilet dengan cepat dan tidak sengaja menabrak seseorang di hadapan ku. Tas ku terjatuh.
“Maaf saya..” ucap ku menggantung ketika aku melihat orang yang mengambilkan tas ku di lantai.
Danu.