
“Kita akan kembali ke Bali” ujar Aditya ketika aku keluar dari kamar mandi bersiap untuk tidur dengan piyama ku namun Aditya sedang membereskan baju-baju nya ke dalam koper.
“Hah? Kenapa mendadak ?” shock ku karena Aditya tidak bicara apapun tentang kembali ke Bali.
“Ada yang mau di bicarakan Nenek”
Aku mengerutkan kening ku dengan ekspresi yang begitu panik.
“Tentang apa?” Aku begitu gelisah takut jika Nenek masih ingin menanyakan tentang berita hoax ku.
“Aku juga belum tahu. Tapi Nenek minta kita secepat nya kesana”
Aku menganggukan kepala ku.
“Aku perlu ikut emang nya?” Tanya ku berharap aku bisa pulang saja ke Bandung atau tinggal sementara di kosan Sienna.
Aditya membalikan badan nya menatap ku dengan tajam.
“Aku sudah bilang. Aku tidak akan pernah lagi meninggalkan kamu sendiri”
“Aku bisa pulang ke Bandung” Aditya kembali membalikan badan nya dan meneruskan kembali membereskan pakaian nya di atas tempat tidur.
“Tidak bisa”
“Di..”
“Dhebi” kesal nya kembali berbalik.
“Aku mau kamu ikut. Aku mau nenek lebih mengenal kamu. Aku ingin menunjukan kepada Nenek bahwa kamu tidak seperti apa yang di katakan Andre waktu itu”
Aku diam menatap nya dengan resah. Aku tidak bisa membantah Aditya.
Aditya benar. Aku memang harus membersihkan nama ku kepada keluarga Aditya. Aku harap kemarin mereka menyaksikan pengakuan Aditya di media dan juga melihat kejahatan orang lain yang berusaha menjatuhkan kita.
Aku membereskan barang-barang ku kembali untuk segera pergi ke Bali besok pagi. Kali ini aku sudah memakai pakaian yang rapih untuk bertemu orang tua Aditya. Dengan memakai baju lengan panjang berwarna putih polos dengan kerah yang berbentuk V memperlihatkan sedikit dada ku. Dan celana katun cream yang panjangnya sampai mengenai heels ku. Aku memasukan baju kedalam celana ku sehingga masih bisa memperlihatkan tubuh ramping ku.
Kami sampai di Bali di rumah orang tua Aditya di sambut oleh kedua orang tua nya di dalam rumah dengan begitu hangat. Aditya sudah tak terlihat lagi kaku bertemu dengan Papa nya dan mau memeluk Papa nya tanpa harus ku pinta. Mama Aditya begitu bahagia melihat kami di rumah nya dan segera meminta kami untuk makan dulu sebelum istirahat.
Tak ada perdebatan atau pun pembicaraan yang serius yang membuat kita tidak nyaman selama makan. Setelah makan siang kami di minta untuk istirahat dan sore hari nya diminta segera menemui Nenek.
Setelah aku mandi dan berganti pakaian dengan lebih sopan. Aku dan Aditya segera pergi ke rumah Nenek dengan di ikuti mobil yang membawa Papa dan Mama Aditya.
“Cantik banget kamu pakai ini” ujar Aditya memperhatikan dress ku yang berwarna biru laut yang baru saja di belikan oleh nya.
“Terimakasih” ucap ku tersenyum manis kepadanya. Aku menyingkap kan rambut ke ke belakang telinga dan terlihat anting panjang berwarna perak ku pakai untuk menambah ke anggunan ku.
“Kira-kira apa yang mau di bicarakan Nenek ya?” Tanya ku kepada Aditya dengan masih saja gelisah.
“Aku tidak tahu,dan aku tidak perduli” jawab nya dengan dingin.
Aku berdecak dengan kesal karena dia masih saja terlihat tak acuh.
Kami semua sampai di rumah Nenek dengan di sambut oleh pelayan disana.
“Silahkan kalian sudah di tunggu di ruang makan” ucap pelayan dengan membungkukan tubuh nya kepada kami berempat.
Aku terus melingkarkan tangan ku di lengan Aditya seperti apa yang Mama nya lakukan kepada Papa Aditya. Mama nya juga terlihat anggun dengan dress berwarna lylac yang dia kenakan,dress di bawah lutut dengan lengan panjang senada dengan jas yang di pakai Papa nya yang berwarna lylac juga. Sedangkan Aditya hanya memakai kemeja panjang berwarna biru langit menyamakan dengan dress yang aku pakai.
Aku terkejut ketika masuk kedalam ruang makan dan melihat Andre sudah duduk di meja makan menatap ku dengan terpaku. Aku melirik Aditya yang sudah menatap tajam Andre dengan penuh dendam. Aditya menyentuh tangan ku yang melingkar di lengannya,seolah meminta ku untuk tenang.
Aku duduk tepat di hadapan Andre. Dia terus menatap ku dengan dingin, aku berusaha untuk tak berkontak mata dengan nya, karena hati ku masti terasa sakit karena ulah nya. Aku merasa risih terus di tatap nya seperti itu,apalagi Nenek sudah tahu jika aku dan Andre pernah begitu dekat.
Nenek terlihat begitu senang melihat seluruh anak dan cucu nya berkumpul. Dia segera meminta seluruh keluarga nya untuk makan hidangan yang ada di meja. Aku melihat Papa Aditya memang tidak terlalu akrab dengan Papa nya Andre, mereka terlihat perang dingin dan tak saling sapa.
Acara makan pun selesai. Semua orang tampak mengusap mulut nya dengan serbet bersih yang ada di atas meja.
“Aditya sudah menyetujui semuanya?” Tanya Nenek nya melirik Aditya. Dia meminta Aditya yang menjawab nya.
“Sudah” jawab nya dengan dingin.
Aku melirik Papa Andre begitu kesal dan terus melirik Papa Aditya dengan sinis.
“Bisnis Mayangdiri diri itu Nenek begitu percaya kan kepada kamu,karena kamu yang di ajarkan oleh Kakek bagaimana menjalan kan bisnis itu dengan baik” ujar Nenek nya serius menatap Aditya.
“Tunggu sebentar Mah” ujar Papa Andre menghentikan perbincangan Nenek Aditya dengan Aditya.
“Bukan kah tidak etis kita membicarakan masalah pribadi di hadapan orang asing” ujar Papa Andre menyinggung ku. Dia memang tidak memandang ku namun semua orang di dalam sana pun tahu yang di maksud dia adalah aku.
Aku menatap semua orang yang sudah memandang ku bingung.
“Oh maaf. Saya permisi” ucap ku panik dengan berusaha berdiri namun Mama Aditya menahan tangan ku. Dia duduk di samping kiri ku dan Aditya di sebelah kanan ku. Aditya pun bingung melihat Mama menahan tangan ku.
“Dia akan menjadi bagian keluarga kami” ucap Mama Aditya kepada semua orang disana termasuk kepada Nenek nya.
Mata ku membulat melihat Mama Aditya mengatakan hal yang membuat semua orang disana kembali tersentak diam.
“Duduk Dhebi” pinta Papa Aditya. Aku menganggukan kepala ku dan duduk dengan perlahan.
Ucapan Mama nya membuat ku resah. Aku malah menjadi canggung di hadapan semua orang. Dan Aditya menggenggam tangan ku yang ku simpan di lahunan ku.
“Kalian akan menikah?” Tanya Papa Andre dengan tak percaya.
“Iya” ketus Aditya.
Papa Andre menatap Andre yang ada di samping Mama nya.
“Bukan kah kamu bilang dulu kamu sempat dekat juga dengan dia?” Tanya Papa Andre menyudutkan ku.
Jantung ku berdebar begitu hebat. Aku terus menundukan kepala ku tak berani menatap orang-orang di sekitar ku.
“Iya. Aku pernah dekat dengan Dhebi” ujar Andre menatap ku dengan kaku.
Aku lihat Andre juga seperti nya sedang takut dan bingung. Namun tetap saja dia dan Papa nya sudah keterlaluan membuat ku malu seperti ini.
“Lalu kenapa bisa dia sekarang mau menikah dengan Aditya. Apa dia tahu jika Aditya akan meneruskan bisnis besar?” Cibir Papa nya begitu menghina ku.
Aditya tampak akan melontarkan kata-kata untuk melawan Papa Andre namun aku menarik tangan nya di bawah meja. Memperingati dia untuk diam.
Papa Aditya terdengar tersenyum.
“Kamu tidak pernah menonton berita atau setidak nya mendengar berita? jika Dhebi dan Aditya sudah jauh menjalin hubungan sejak lama sekali dan sebelum mengenal Andre,anak mu hanya sebatas teman nya. Bukan begitu Dhebi?” Tanya Papa Aditya menyebut nama ku.
Aku menatap Papa lalu menatap Andre di hadapanku dengan penuh dendam.
“Iya. Aku hanya mengenal Andre sebatas teman” jawab ku dengan begitu berani dan menatap Andre dengan penuh amarah.
“Tapi Andre terlalu menganggap pertemanan kami terlalu jauh” lanjut ku dengan sinis.
Lalu aku menatap Papa nya dengan sopan.
“Dan mohon maaf,saya mengenal Aditya jauh sebelum tahu latar belakang keluarga nya seperti ini. Saya mengenal Aditya dari dia hanya sebatas artis saja, Andre pun tentu tahu tentang hal itu,mengingat saat kami berteman dulu aku selalu menceritakan tentang Aditya kepadanya”
Andre masih saja terdiam.
“Saya pun tidak pernah menginginkan harta yang di miliki Aditya setelah mengetahui semua nya. Karena menurut saya kekayaan yang sesungguhnya bukan dari harta om, namun berasal dari hati. Dan saya cukup memiliki hati untuk tidak mengaharapkan harta yang bukan milik saya”
Ucap ku begitu sopan namun sedikit menyinggung nya. Karena aku tidak bisa terus di biarkan seperti ini.
Papa Andre terlihat begitu tertampar dengan ucapan ku. Dia tak lagi memojokan ku. Papa Aditya pun terlihat tersenyum dan membuang wajah nya. Dan aku begitu puas karena telah mengeluarkan segala isi hati ku kepada Papa nya.