
Hari sabtu pun tiba.
Pagi sekali aku sudah bangun dan bersiap untuk memulai aktifitas ku. Namun ketika aku berbalik di tempat tidur aku sudah tak mendapati Aditya di samping ku.
Aku langsung membuka mata dengan lebar dan bangkit mencari Aditya di sekitar ku.
“Dii” panggil ku melirik pintu kamar mandi. Namun tak terdengar suara orang di dalam sana,dan lampu kamar mandi pun mati.
Aku menyingkapkan selimut dan turun dari tempat tidur. Aku membuka pintu kamar dan terdengar suara aktifitas seseorang di dapur yang berada tepat di samping kamar Aditya. Aku berdiri di depan pintu dan menatap Aditya yang sedang sibuk memasak di depan kompor. Aku melipat kan tangan ku dan terus memperhatikan nya yang sedang serius memasakan tanpa menyadari kehadiran ku.
Dia memakai baju oversize berwarna abu berkotak kotak kecil dan memakai baju celana panjang yang juga besar. Rambut dia tampak berantakan. Aura nya begitu terpancar dan ketampanan nya pun bertambah 100% setiap kali aku melihat nya memasak. Dia benar-benar seperti artis hollywood,dan tampak sangat berkarisma.
“Sedang apa suami ku?” Sapa ku membuat dia terkejut menatap ku.
“Hay. Pagi” jawab nya dengan tersenyum.
“Aku buatkan kamu sarapan” lanjut nya lagi.
“Kenapa ga bangunin aku di?” Tanya ku dengan menatap nya dingin.
“Kamu tidur nyenyak sekali,lagian hari ini aku libur kerja,jadi tidak apa-apa kan sesekali aku buatkan sarapan untuk kamu?”
Aku mengangkat halis ku dan duduk di meja makan menunggu nya memasak.
“Oh iya tadi Mama telepon” seru Aditya teringat sesuatu.
“Mama siapa?”
“Mama kamu. Tadi aku sudah bilang jika kamu masih tidur”
Sambil mendengarkan Aditya berbicara aku kembali turun dari tempat duduk ku dan mengambil dulu handphone ku di dalam kamar.
“Aku telepon dulu Mama ya” ucap ku kepada Aditya.
Aditya terlihat menganggukan kepala nya dari belakang. Lalu aku segera menekan tombol dial untuk menelepon balik Mama ku.
“Hallo Ma” sapa ku.
“Hallo sayang. Kamu baru bangun?”
“Iya Ma,aku telat bangun. Ada apa Ma?”
“Bagaimana keadaan kamu?”
“Aku baik Ma,walaupun masih mual-mual”
“Trimester 1 memang akan terasa seperti itu Nak. Memang setiap ibu hamil itu berbeda-beda rasa nya,tapi hal semacam itu memang wajar”
“Iya Ma” jawab ku.
“Mama sekalian mau bilang,kamu dapat undangan dari teman kamu Stefani”
“Stefani?” Tanya ku berusaha mengingat nama itu.
Aditya terlihat selesai memasak dan dia menaruh pancake di atas piring ku.
“Terimakasih” ucap ku kepada Aditya.
“Itu loh teman kamu yang mama inget dekat dengan kamu di acara camping sekolah kamu” jawab Mama membuat ku kembali ke masa sekolah ku.
Dulu saat kelas 1 SMA aku memang pernah mengikuti acara sekolah Camping di sebuah lembah gunung di kota Bandung. Dan aku ingat aku memiliki teman yang bernama Stefy,dan dia ini adalah teman satu kelas ku sejak SMA dan sebelum pergi camping waktu itu dia menginap di rumah ku dulu satu hari sebelum nya karena dia ingin mempersiapkan segala nya bersama dengan ku.
“Oh Stefy maksud Mama” ucap ku membenarkan ucapan Mama.
“Oh iya Stefy,Mama lupa Nak,Mama ga baca lagi undangan nya”
“Kapan acara nya?”
“Dadakan gini. Besok aku ada janji sama dokter kandungan Mah” ucap ku sambil menuangkan minum air putih ke dalam gelas Aditya dan gelas ku.
“Iya dia bilang dia lupa,jadi dia baru kasih undangan nya kemarin”
“Oh ya udah. Biar nanti aku kirim gift aja buat dia dari sini ya”
“Iya sayang. Besok kamu ada periksa kandungan dimana?”
“Di Siloam Hospital Ma”
“Baik kalo gitu. Hati-hati ya Nak,salam untuk Aditya”
“Oke aku salamin ke Aditya ya”
“Bye sayang”
“Bye Mah”
Lalu aku menutup telepon nya.
“Kenapa?” Tanya Aditya.
“Ada undangan dari teman SMA ku,namanya Stefy dia menikah besok” jawab ku.
“Teman sekolah?” Tanya Aditya dengan heran.
“Baru kali ini aku mendengar tentang teman sekolah mu. Kamu tidak pernah menceritakan tentang masa-masa sekolah mu” ucap Aditya dengan mengkerutkan kening nya.
“Untuk apa? Tidak ada yang menarik” ucap ku sambil tersenyum dan mulai memasukan suapan pertama ku sambil menatap Aditya.
Aditya pun ikut mulai makan dengan ku.
Memang benar masa sekolah ku tidak ada yang menarik. Cerita nya sama saja dengan orang-orang yang pada umum nya,hanya bersekolah berteman dengan teman sebaya,berkelahi dengan siswa lain,bolos sekolah dan lain-lain nya. Namun ada satu hal yang aku ingat ketika aku duduk di kelas satu SMA di sekolah Negri 5 Bandung.
Saat itu aku sedang camping dengan seluruh angkatan ku,dan di pandu dengan Kakak kelas osis ku di dalam sebuah lembah hutang di Bandung. Waktu itu aku sempat bertemu dengan seorang siswa laki-laki yang tengah berdiri di samping air terjun dan dia sedang menangis. Tadinya aku akan membiarkan nya dan tidak ingin memperdulikan nya,namun aku melihat sebuah ranting pohon tepat di atas nya sudah rapuh dan akan tumbang. Siswa laki-laki itu terus berdiri di sana tidak menyadari bahaya yang akan menimpa nya.
Dengan refleks aku berlari ke arah nya sambil berteriak.
“Hey awaass!!” Teriak ku sambil terus berusaha mendekati nya.
Siswa itu berbalik melihat ke arah ku dengan tatapan nya yang dingin dan mata nya yang sembab.
Aku mendorong nya dengan kencang ke dalam kolam air terjun,sedangkan kaki ku tertimpa ranting besar itu dengan kencang dan membuat ku tercebur ke dalam kolam air terjun itu. Terasa sakit sekali kaki ku, dan saat itu acara camping langsung di hentikan karena kecelakaan yang di alami kaki ku sangat parah. Aku sampai di bawa langsung ke rumah sakit dan mendapat jahitan yang begitu dalam.
Aku menyentuh kaki ku sambil terus memakan sarapan ku.
“Kenapa” tanya Aditya yang melihat ku tiba-tiba menyentuh betis sebelah kanan.
“Aku baru ingat kalau dulu kaki ku yang ini juga pernah terluka” ucap ku kepada Aditya.
“Terluka kenapa?”
“Aku pernah tertimpa ranting pohon yang besar dan tajam saat di acara camping sekolah,dan aku pernah di jahit luar dalam” ucap ku berusaha mengingat kejadian itu.
“Kenapa bisa? Kamu pasti bepergian sendiri selama camping itu berlangsung?!” Tebak Aditya.
Aku terus mengingat ingat apa yang terjadi sebelum kejadian itu terjadi.
“Seperti nya iya” jawab ku dengan dingin.
“Memang dari dulu kamu sudah primitif ya” ledek Aditya yang malah membuat ku tersenyum dengan bangga.
Aditya hanya menggelengkan kepala nya melihat tingkah istrinya yang sangat berani ini sejak pertama kali dia mengenal ku.