Obsessive Love Disorder

Obsessive Love Disorder
Pertikaian antara Aditya dan Danu



Kenapa bisa Danu berada di sini dan tiba-tiba menanyakan hal kemarin.


“Bukan urusan mu” ucap ku dengan mendelikan mata dan membuang wajah ku.


Danu terus berdiri di tempat nya dan terus menatap ku dengan tajam.


Aku sudah mulai merasa risih dan tidak nyaman dengan keberadaan nya disini. Akhirnya aku memutuskan untuk pergi dan kembali ke Apartemen.


“Dheb” panggil Danu dengan memegang lengan ku menghentikan langkah ku.


“Apa yang Aditya lakukan sampai membuat kamu menangis kemarin?”


Aku diam tak menjawab nya dan terus membelakangi nya. Pertanyaan Danu malah semakin membuat ku sedih dan ingin menangis mengingat sikap Aditya kemarin yang begitu marah mengetahui aku hamil.


“Lepaskan aku Danu” ucap ku dengan sinis dan tanpa membalikan badan ku,karena aku tidak ingin air mata ku di lihat oleh nya.


“Aku hanya tidak mau melihat orang yang aku cintai tersakiti” ujar nya lagi membuat ku menatap nya dengan tajam walaupun air mata ku bercucuran.


“Dheb..” panggil nya dengan khawatir melihat ku yang sudah bergenang air mata.


“Kamu kenapa?” Tanya nya begitu panik hampir menyentuh pipi ku.


Aku melepaskan diri ku dan berjalan dengan cepat menghindari nya. Aku menyeka air mata ku dan segera masuk ke dalam lift. Sebelum pintu tertutup aku melihat Danu sempat mengejar ku dan berusaha ikut masuk ke dalam lift namun pintu lift sudah tertutup dengan rapat walaupun Danu sudah berusaha memijit tombol di samping nya untuk menahan pintu lift kembali terbuka.


Di dalam lift hanya ada aku sendiri dan aku bisa menangis sepuasku di dalam sana sebelum akhirnya pintu lift terbuka. Setelah beberapa lantai terlewati,Pintu lift terbuka di lantai Apartemen ku berada,aku berjalan dengan cepat ke setiap lorong dan aku terkejut melihat Danu yang keluar dari pintu tangga darurat jauh di depan ku dan melihat ke arah ku. Aku tahu dia berusaha mengejar ku dan dia penasaran dengan apa yang terjadi dengan ku. Aku berjalan dengan cepat menuju kamar ku yang berada di tengah-tengah antara aku dan Danu. Aku berhasil berdiri di depan pintu kamar ku dan segera menekan kode akses masuk,membuka pintu kamar ku dan segera masuk ke dalam. Danu berhasil menahan pintu kamar ku agar tidak tertutup.


“Dheb,aku hanya mau bicara”


“Aku tidak mau bicara apapun,lebih baik kamu pergi” ucap ku berusaha menutup pintu ku.


“Dhebi tolong! Aku hanya mau bicara sebentar” paksa nya dengan terus menahan tangan nya di pintu agar tidak tertutup.


Aku menyerah dan akhirnya aku menjauh dari pintu dan masuk ke dalam. Aku menyeka air mata ku dan berkecak pinggang menatap Danu yang membuka pintu ku dengan lebar.


“Cepat bicara sebelum Aditya pulang dan dia melihat mu disini”


“Kemana Aditya? Bukan nya dia harus pulang setiap sore?”


“Bukan urusan kamu,cepat katakan apa yang mau kamu bicarakan!” Ucap ku dengan tegas.


“Apa yang sudah Aditya lakukan sampai buat kamu seperti ini?”


“Aku sudah bilang itu bukan urusan kamu Danuu” kesal ku dengan memegang kepala ku dan begitu gemas dengan pertanyaan nya.


“Aku tahu itu bukan urusan ku. Tapi hati ku ikut sedih melihat kamu menangis kemarin disana Dheb” ucap nya dengan berusaha mendekati ku namun aku terus menjauhkan diri ku dari nya dan men-stop diri nya untuk tidak mendekati ku dengan isyarat tangan ku.


“Aku tahu aku tidak memiliki hak untuk mencampuri urusan mu. Tapi tidak ada salah nya jika aku ingin melihat kamu terus bahagia kan?” Ucap nya yang membuat ku malah semakin pusing.


“Dheb. Aku sudah merelakan kamu bahagia dengan orang lain,bahkan aku sudah mengorbankan perasaan ku untuk melihat kamu menikah dengan orang lain. Aku tidak mau pengorbanan ku sia-sia begitu saja melihat kamu malah di sakiti oleh Aditya seperti ini”


“Danu please. Kamu tidak tahu apa-apa,kamu lebih baik pergi nuuu. Please” ucap ku dengan terus menangis dan memohon kepada nya.


“Dheb,hentikan air mata mu aku mohon” ucap nya dengan lirih dan terus mendekati ku.


“Jangan dekati aku Danu!” Tegas ku dengan menatap nya begitu tajam walaupun masih terdengat isakan tangis. Tapi aku harus memperingati nya agar tidak berbuat macam-macam.


Seseorang berdiri di ambang pintu dengan menenteng sebuah tas besar dan jas di tangan nya. Dia menjatuhkan barang bawaan nya di lantai dan menatap ku dengan Danu bergantian.


“Aditya” panggil ku dengan pelan dan terkejut.


Dia terlihat mengepalkan tangan nya dan menghampiri Danu dengan raut wajah nya yang emosi dan begitu marah.


“Kurang ajar!” Ucap Aditya sambil melayangkan sebuah tinju nya yang keras kepada wajah Danu,sampai Danu tersungkur ke kursi.


Danu bangkit dan balik meninju Aditya. Membuat ku semakin takut dan terkejut. Baku hantam pun terjadi,Aditya dengan sekuat tenaga nya terus meninju Danu dengan penuh emosi.


“Adityaaa!” Teriak ku yang masih saja tak di gubris nya.


Aku khawatir jika aku melerai mereka aku malah akan menjadi sasaran nyasar di antara mereka. Akhirnya aku hanya bisa berteriak dan terus memohon agar mereka berhenti.


Danu terlihat tersungkur dan mulai tak berdaya,dia melirik ke arah ku yang terus menangis. Dan entah bagaimana bisa Danu malah menjadi bangkit dan tenaga nya menjadi terkumpul kembali setelah dia babak belur seperti itu.


Sekarang giliran Danu yang terus menghajar Aditya walaupun Aditya sesekali bisa menghindar. Lalu dengan keras dia mendorong Aditya ke atas meja makan membuat peralatan makan di atas nya terjatuh. Aditya sudah terlihat begitu terluka di wajah nya,dan dia memegang bagian perut nya yang baru saja kena hantaman tangan Danu.


Danu menghampiri Aditya dengan wajah dan pakaian nya yang sudah berantakan,namun Aditya sudah membalikan tubuh nya lebih dulu dan menghantam wajah Danu dengan tinju nya yang keras. Danu berusaha untuk berdiri dan akan kembali menghampiri Aditya walaupun dia sudah terlihat lelah,aku berdiri di depan Danu dan menatap nya dengan tangis.


“Danu please stop!” Lirih ku dengan memohon dan menghalangi mereka.


“Hentikan nuu aku mohon” Danu menatap ku dengan dingin dan raut wajah nya berubah menjadi sedih melihat ku yang masih saja menangis dan memohon kepadanya.


Lalu dia menatap kepada Aditya yang berada tepat di belakang ku.


“Dengar Aditya. Kalo lo ga bisa bahagiain Dhebi,lo bisa lepasin dia dan biarkan dia mendapatkan kebahagiaan yang sepantasnya. Dan lo harus tau,di luaran sana banyak sekali orang yang mau membahagiakan dia bagaimana pun cara nya,termasuk gue. Kalo lo masih terus buat dia bersedih seperti ini,biarin gue yang gantiin posisi lo untuk bahagiakan Dhebi!” Ucap Danu dengan bersungguh-sungguh dan begitu membuat Aditya kesal dan emosi.


Aku begitu terkejut dengan keberanian yang di ucapkan oleh Danu. Aku tidak menyangka dia bahkan masih membela ku setelah aku memperlakukan nya dengan buruk. Dan dia bahkan berani untui mengatakan hal seperti itu kepada Aditya langsung.


“Sialan!!” Ujar Aditya hampir mendekati Danu namun aku menghalangi nya.


“Danu pergi” ucap ku meminta Danu untuk keluar dari sini sebelum Aditya kembali menghajar nya.


Lalu Danu keluar dari Apartemen ku dan menutup pintu dengan kencang.


“AAARRRGGHHH!!” Teriak Aditya sambil menendang benda yang terjatuh di sekitarnya. Aku tahu ucapan Danu sudah membut dia begitu kesal.


Aku masih membelakangi Aditya. Aku harus mengumpulkan segenap keberanian ku untuk menghadapi nya dan menjelaskan semuanya.


“Kenapa dia bisa disini?!” Teriak Aditya di belakang ku.


“Apa yang dia lakukan di Apartemen ku Dheb?!” Tanya nya berteriak tepat di belakang ku. Aku terus berdiri di tempat ku dan terus menangis mendengar dia yang mulai menjadi seperti dulu.


“Dia menghampiri ku di rooftop,dan dia mengikuti ku sampai sini” jawab ku dengan berusaha untuk tenang.


Lalu terdengar helaan nafas dari Aditya dan dia diam sejenak di belakang ku,entah apa yang sedang di fikirkan nya.


“Apa dia sering kesini selama aku tidak ada?” Tanya Aditya membuat ku tersentak mendengar nya dan membuat ku membalikan badan menatap nya dengan tidak percaya.


“Apa maksud kamu?” Tanya ku dengan nada yang begitu kesal.


“Apa yang kalian lakukan di sini? Apa yang sudah kalian lakukan selama aku tidak ada?” Ucap nya yang semakin membuat ku terkejut dan mengkerutkan kening ku dengan kesal.


Aku menggelengkan kepala ku dengan perlahan dan menatap nya dengan tajam.


“Keterlaluan kamu Aditya” ucap ku dengan begitu pilu.


“Bisa-bisa nya kamu menganggap aku serendah itu. Bisa-bisa nya kamu memiliki fikiran sekotor itu kepada ku” ujar ku menatap nya dengan rasa tidak percaya karena dia sudah berfikiran macam-macam.


“Kamu benci kepada ku hanya karena aku sudah hamil anak kamu sendiri? Sikap kamu berubah drastis seperti ini hanya karena aku ingin memiliki anak dari kamu,orang yang benar-benar aku cintai? Dan sekarang kamu mengira aku sudah bermain api dengan orang lain ,yang bahkan kamu pun sudah tahu itu tidak akan mungkin terjadi,tapi bisa-bisa nya kamu mengatakan hal semacam itu yang membuat hati ku sakit hati Aditya”


Aditya terlihat menatap ku dengan dingin. Walaupun wajah nya sudah banyak dengan luka namun sikap nya sudah membuat ku kesal dan rasa kasihan ku telah hilang untuk nya saat itu.


“Danu benar. Seharusnya kamu melepaskan aku jika kamu tidak sanggup untuk membuat aku bahagia” ucap ku menyinggung nama Danu,dan aku berjalan dengan cepat keluar Apartemen dan berlari untuk segera pergi dari sana sebelum Aditya ataupun Danu mengejar ku.