Obsessive Love Disorder

Obsessive Love Disorder
“Pregnancy”



Hari periksa kandungan pun telah tiba. Seorang dokter spesialis kandungan datang ke Apartemen atas permintaan Aditya. Dia memeriksa perut ku dan memeriksa suhu tubuh ku.


“Minggu depan jika mau melihat janin nya kalian bisa datang ke rumah sakit untuk di UDG” ujar Dokter setelah merapikan stetoskop nya.


“Maaf dok. Apa tidak bisa memeriksa nya di sini?” Tanya Aditya membuat ku menggelengkan kepala ku.


“Maaf Pak. Alat USG tidak bisa di bawa keluar dan hanya bisa di pakai di rumah sakita,jika Bapak mau melihat janin nya Bapak bisa langsung datang ke rumah sakit” jawab Bapak Dokter dengan bijak.


“Tapi istri saya..”


“Kita akan kesana pak” potong ku sambil memegang tangan Aditya agar dia diam.


Aditya menatap ku dengan tajam dan aku balas menatap nya dengan kesal.


“Baiklah. Resep akan saya buat dan Bapak bisa membeli nya di apotik”


“Terimakasih”


“Sama-sama”


“Kalau begitu saya pamit dulu”


“Baik Dok. Silahkan” ujar Aditya mengantarkan Dokter nya sampai depan pintu.


“Di. Kita harus memeriksa nya ke Dokter. Aku tidak akan kelelahan,lagian jalan-jalan juga perlu untuk Ibu hamil di. Kamu harus banyak baca tentang Ibu hamil sayang,aku itu bisa stres kalau terus diam di rumah dan itu tidak baik untuk baik kita” ucap ku membela diri.


“Benarkah?” Tanya Aditya ragu.


Aku langsung masuk ke dalam kamar dan memberikan sebuah buku tebal ber cober putih kepada Aditya. Buku itu berjudul “Pregnancy”


“Buku itu aku dapat dari Andre, aku meminta dia untuk mencarikan buku itu dan aku mau kamu membaca nya”


“Buku setebal ini?” Tanya Aditya dengan menunjukan buku tebal itu kepada ku.


“Iya”


Aditya menghampiri ku dan ikut duduk dengan ku di sofa empuk ini.


“Kamu sudah baca?”


“Baru sebagian”


“Kalau begitu,tolong ceritakan yang sudah kamu baca sebagian itu” ucap Aditya membuat ku memicingkan mata untuk menatap nya.


“Emang dasar kamu pemalas ya” ledek ku.


“Oke. Menurut yang sudah aku baca,Ibu hamil itu memang tidak boleh kecapean dan dia tidak boleh mengangkat barang-barang yang berat karena akan bahaya ke baby. Lalu asupan nutrisi juga sangat penting untuk perkembangan kehamilan aku, makanan harus selalu di jaga,tidak boleh banyak makan yang berminyak apalagi jajanan yang tidak sehat karena katanya bayi juga ikut makan di dalam perut. Ibu hamil juga tidak boleh stres, karena akan berpengaruh buruk kepada bayi nya bahkan bisa sampai membuat keguguran. Dan satu lagi,ngidam” ucap ku menggantungkan ucapan ku agar Aditya mencerna dulu kata-kata ku.


“Ngidam?” Tanya nya.


“Ya. Kamu tahu,dari dulu hingga sekarang katanya rata-rata Ibu hamil itu pasti akan ada keinginan yang aneh-aneh,entah itu dari makanan,atau hal yang mau di lakukan atau misalnya hal yang ingin dia lihat. Dan permintaan Ibu hamil itu harus di penuhi,jika tidak suatu saat anak nya lahir,akan membuat anak nya ngiler” jawab ku dengan menatap nya serius.


“Benarkah?” Tanya nya lagi.


“Iya. Coba saja kamu tanya sama Mama kamu atau Mama ku,atau Nenek mungkin” ucap ku berusaha membuat dia percaya.


“Aku memang pernah dengar keinginan Ibu hamil itu memang selalu aneh-aneh tapi sampai sekarang aku tidak percaya mitos tentang anak nya yang akan ngiler ketika dia lahir”


“Kamu mau coba?” Tanya ku menantang.


Aditya diam dan dia tampak sedang membayangkan hal itu terjadi.


“Ini pasti akal-akalan kamu saja kan biar kamu di perbolehkan makan apa saja dan pergi kemana saja semau mu” ucap Aditya dengan menatap ku tajam.


“Kamu mau coba?” Tanya ku lagi,membuat dia semakin berfikir dan mulai terlihat takut.


“Tentu tidak” jawab nya.


“Kalau begitu,mulai dari sekarang kamu harus penuhi semua yang aku mau” ucap ku dengan senang.


“Kalau aku mau kita Babymoon gimana?” Tanya ku.


“Babymoon?” Tanya Aditya sambil mengkerutkan kening nya.


“Iya Baby moon,menikmati waktu bersama sebelum kelahiran si Baby”


“Memang itu di anjurkan?”


“Sangat di anjurkan,biar Ibu hamil tidak stres dan biar kita menghabiskan waktu bersama dulu”


“Tapi…” ucap Aditya bergantung dengan menggaruk kening nya.


“Kita masih bisa berhubungan di,bahkan itu pun di anjurkan agar kandungan aku kuat”


“Tidak akan bahaya?” Tanya Aditya dengan khawatir membuat ku tertawa.


“Itu sebab nya aku meminta kamu untuk membaca ini di” jawab ku dengan melir ik buku itu kembali.


Lalu dia menganggukan kepala nya dengan tersenyum kaku. Aku tahu apa yang di fikirkan nya,dia pasti menyangka ibu hamil tidak boleh berhubungan badan,karena dia kira Bayi yang ada di dalam perut akan tertekan.


“Dan kapan kita akan memberi tahu keluarga kita?” Tanya ku kepada Aditya.


“Oh iya. Aku berniat sekarang menelepon Mama dan Papa. Sebentar” ucap Aditya lalu dia pergi masuk ke dalam kamar dan kembali keluar membawa laptop nya.


Dia menghubungi orang tua nya dengan memakai laptop agar layar nya lebih besar dan kami berdua bisa masuk ke layar berdua.


“Hay Aditya,hay Dhebi” sapa Mama.


Dia terlihat sedang bersantai di rumah nya. Karena terlihat dia sedang duduk di dalam ruangan dengan jendela terbuka di belakang nya.


“Hay Ma” jawab kami berdua.


“Bagaimana kabar kalian?” Tanya Mama.


“Aku baik Ma. Tapi Dhebi seperti nya sedang tidak sehat beberapa hari ini”


“Kamu sakit apa Dheb?”


Aku menatap Aditya,bermaksud bertanya bagaimana aku menceritakan nya.


“Dia sakit Ma,sudah beberapa minggu”


“Beberapa minggu? Sudah periksa ke dokter?”


“Kami baru mau pergi ke sana minggu depan”


“Kenapa di tunda di,kamu pasti kelelahan kan Dheb. Mama kan sudah bilang,lebih baik kalian menyewa asisten rumah tangga agar Dhebi tidak mengerjakan pekerjaan rumah sendiri”


“Betul Ma. Aku sudah meminta Dhebi untuk banyak istirahat di Apartemen,karena setiap pagi dia selalu muntah-muntah dan mengeluh pusing” jawab Aditya membuat Mama nya membuka mata lebar tampak sekali terkejut.


“Dhebi. Hamil?!” Tanya Mama nya dengan terkejut.


Aku tertawa melihat Mama terkejut bahagia.


“Iya Mah” jawab ku.


“Yang benar,Dhebi hamil?”


“Iya,aku Hamil sudah hampir 5 minggu”


“Oh My God. Mama harus kasih tahu Papa sekarang” ucap Mama lalu dia membawa telepon nya sambil berjalan dengan cepat entah dia mau bawa kemana handphone nya.


“Mah,pelan-pelan jalan nya” pinta Aditya khawatir Mama nya akan terjatuh.


Lalu berita bahagia ini di sambut hangat dengan keluarga ku maupun keluara Aditya. Mereka terlihat sangat senang dan meminta ku agar menjaga diri dan bayi ku. Bahkan Mama meminta kami untuk pindah ke Bali agar aku bisa di urus dengan baik oleh Mama nya disana. Namun Aditya menolak nya dan dia mengatakan jika dia bisa di andalkan untuk menjaga ku dan menjaga sang buah hati.


Aku senang karena kehamilan ku telah membuat mereka begitu bahagia.