Obsessive Love Disorder

Obsessive Love Disorder
Promises



Satu hari terlewati aku dan Aditya bisa berbuat rapih menjalin hubungan. Ketika malam tiba,Aditya mengajak ku untuk jalan mencari makan,atau bahkan menikmati pulau Sumba ini yang penting kita selalu bersama-sama.


Sesekali kita memang harus menahan diri ketika Catelin atau Glenn mendekati kita. Akan ada rasa cemburu,namun kita harus menahan nya.


Sebenarnya,menahan rasa cemburu, untuk ku tidak lah terlalu sulit. Karena aku sudah mengerti dengan keadaan Aditya sekarang yang mengharuskan dia dan Catelin terlihat selalu bersama. Dan di sisi lain pun,aku memiliki sifat yang cuek dan tidak mudah cemburu.


Namun berbeda dengan Aditya. Memang dia selalu berusaha untuk menenangkan diri nya ketika melihat Glenn bersama ku. Bahkan setiap kali makan di Resto Glenn selalu duduk di samping ku dan selalu memperlihatkan jika dia begitu peduli dengan ku. Aditya selalu risih melihat kedekatan ku dengan Glenn,dan dia memilih menghindar untuk menahan emosi nya.


Itu membuat ku tidak nyaman. Bagaimanapun aku harus menghargai perasaan Aditya dengan tidak menanggapi Glenn lebih jauh. Dan Glenn pun mengharagi ku dengan tidak memaksakan kehendak nya untuk bisa jalan dengan ku.


“Charger aku rusak” ucap ku kepada Aditya yang masih berbaring di atas tempat tidur ku.


Pagi itu aku mendapati charger ku yang sudah rusak karena terkena air laut.


“Sore nanti kita beli” ucapnya.


“Eh bukan nya hari ini kamu harus pergi sama Catelin dan Glenn ya” ucap ku teringat tentang itu.


“Tau darimana ?” Tanya nya yang mulai curiga.


“Glenn” ucap ku begitu bersalah.


“Ya harusnya aku pergi, tapi aku bilang hari ini ada urusan”


“Kenapa? Bukan nya alasan kamu disini buat kepentingan project film ya” ucapku.


“Ya awal nya,tapi sekarang alasan aku lain”


“Diii, jangan sampe mereka curiga kamu ngilang terus kaya gini. Aku juga ga mau jadi penghambat kamu untuk nyelesai in kerjaan kamu” omel ku.


Dia menghela nafas nya,lalu beranjak dari tempt tidur nya.


“Okee. Aku akan pulang nanti sore”


Aku menganggukan kepalaku dengan manis. Lalu Aditya masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan dirinya.


Sore pun menjelang,dan Aditya masih belum juga pulang dari urusan nya. Handphone ku sudah mati total,dan aku sudah merasa bosan tanpa handphone ku.


Aku memutuskan untuk membeli charger sendiri di pasar yang tidak jauh dari Resort.


Aku sudah berada disana di sebuah toko handphone di antara banyak nya toko pakaian di pinggir jalan raya. Itu merupakan pasar pusat kota untuk para wisatawan yang datang ke Sumba.


“Debii..” seseorang menyapaku di belakang.


“Mas Glenn” kaget ku ketika melihat nya.


“Mas Glenn ngapain disini bukan nya pergi sama Aditya dan Catelin?” Tanyaku mencari sosok Aditya di sekitarku.


“Iya udah selesai,aku tadi pulang duluan soalnya mau beli sesuatu buat kameraku,kebetulan banget ketemu disini ya” ucap nya.


“Iya mas” jawab ku kikuk sambil tersenyum aneh.


“Udah selesai belanja nya?”


“Oh ngga,aku cuma beli charger aja mas,charger aku rusak dan handphone aku mati” ucapku menunjukan kantung kecil di tangan ku.


“Ya udah kita pulang bareng ya” ujarnya membuat ku panik.


“Oh,ngga usah mas aku masih ada keperluan beli yang lain”


“Ya udah gak apa-apa aku temenin”


“Ngga mas, ga apa-apa aku bisa pulang sendiri kok”


“Aku juga sekalian mau beli sesuatu,aku sekalian anter kamu ya”


Dia begitu terlihat memaksa. Aku tidak tahu lagi harus bagamana. Tidak mungkin aku kabur dan tidak ada alasan lain untuk ku menolak nya. Aku harap Aditya tidak melihat ini.


Sesampainya di parkiran Resort aku sudah melihat Aditya duduk di kursi dengan raut wajah nya yang begitu gelisah. Seketika rasa takut menyelimutiku.


“Ngapain si kampret nongkrong disitu” ucap Glenn begitu melihat Aditya.


Aku begitu panik dan takut. Aku berharap Aditya tidak melakukan hal yang macam-macam yang akan membahayakan aku atau dia.


Glenn turun lebih dulu untuk menghampiri Aditya. Aku menarik nafasku dan menenangkan diriku menyiapkan diri untuk kemudian turun dari mobil.


“Lo ngapain disini? Nungguin gue?” Tanya Glenn.


“Habis dari mana?” Tanya nya yang membuatku menutup mataku dengan reflek.


Bisa-bisanya dia bertanya seperti itu di hadapan Glenn. Kini Glenn terlihat begitu bingung.


Aku menghampiri Aditya dan Glenn dengan perlahan dengan rasa takut. Ekspresi Glenn sudah terlihat sangat penasaran dengan apa yang terjadi anatara aku dan Aditya.


“Aku udah bilang charger aku rusak” ucapku dengan tatapan yang begitu cemas.


“Kenapa ga bilang dulu?” Tanya nya.


“Aku harus bilang gimana ? Handphone aku mati” kesal ku.


“Kamu bisa kan sabar nunggu” ucapnya yang juga sudah mulai kesal.


“Ya aku harus nunggu berapa lama lagi? Aku perlu handphone aku” aku begitu kesal dengan sikap dia yang seperti ini.


“Tunggu…tunggu” ucap Glenn melerai perdebatan ku dengan Aditya.


“Kalian?” Tanya nya dengan bingung terlihat sulit melanjutkan pertanyaan nya.


“Mas..”


“Iya” ucap Aditya memotong ucapan ku seolah dia tahu apa yang ingin di tanyakan Glenn.


Aku menatap nya tak percaya.


“Mas aku masuk dulu ya, makasih tumpangan nya”


Glenn masih saja terlihat bingung dan shock. Aku pergi dengan memberikan tatapan tajam kepada Aditya dan pergi meninggalkan mereka berdua.


Biarlah Aditya menjelaskan apa yang terjadi antara kita kepada Glenn. Aku harap penjelasan nya dapat membuat Glenn mengerti dan tutup mulut. Aku mulai bingung, dengan kehadiran orang lain yang tahu tentang hubungan ku dengan Aditya. Aku takut akan semakin banyak orang lain yang tahu tentang ini semua. Aku harus lebih menjaga rahasia ku ini dengan lebih aman.


Aku membereskan pakaian ku kedalam koper untuk persiapan pulang besok pagi.


Suara pintu terbuka,dan tanpa ku menoleh nya aku tahu siapa yang datang.


Aku membiarkan Aditya masuk tanpa menyambutnya. Aku masih merasa kesal kepadanya. Aku tak menghiraukan nya yang duduk di kursi sebelah ku berdiri.


“Kenapa?” Tanya nya.


“Kamu yang kenapa?” Tanya ku balik tanpa menoleh nya.


“Aku cuma khawatir sama kamu”


“Kalo kamu khawatir,kamu bisa nunggu aku di sini kan? Kamu ga perlu berbuat seperti tadi di depan Glenn”


“Kenapa ? kamu ga suka Glenn tahu hubungan kita?” Tanya nya membuat kesal.


“Kamu sendiri kan yang bilang,karir kamu itu penting. Kamu ga bisa egois dengan meng-gugu perasaan kamu yang akhirnya bisa membahayakan project film kalian. Kamu sendiri yang bilang,bagaimana nasib para cew film dan artis lain kalo sampai film kalian ga sukses, Kamu lupa?” Tanya ku dengan penuh emosi.


“Aku udah ga bisa nahan emosi aku. Aku ga bisa bairin Glenn mencari kesempatan untuk deketin kamu”


“Aku udah bilang,kamu ga perlu khawatir dengan itu” ucapku yang begitu lelah memberi pengertian kepadanya.


“Di,aku itu bukan wanita sembarangan,aku ga mudah untuk tergoda sama orang lain apalagi sama Glenn, aku ga akan terpikat dengan apa yang dia lakukan. Aku bukan tipe cewe yang gampang mau sana sini walaupun mereka artis,jadi kamu ga perlu khawatir”


Aditya tetap terlihat tak tenang dengan semua perkataan ku.


“Aku khawatir dengan Glenn bukan dengan kamu”


Aku mengerenyitkan dahiku tidak paham dengan maksudnya.


Aditya menarik tanganku,aku berdiri di hadapan nya yang masih duduk. Kita hampir sepantar walaupun di sedang duduk,kita bisa bertatapan dengan lurus jika posisi seperti ini.


“Kamu cinta sama aku kan Dheb?” Tanya nya yang masih saja ragu karena aku belum mengatakan nya langsung dari mulutku.


“Kenapa ? Kamu masih ragu?”


“Jawab” pinta nya dengan serius.


Aku diam mencerna dulu sebelum aku menjawab nya.


“Aku ga pernah tahu arti cinta itu apa,tapi aku merasa sudah begitu sayang sama kamu,nyaman di dekat kamu,dan rindu saat kamu ga ada”


Dia tersenyum,dan kita berdua berpelukan begitu hangat.