Obsessive Love Disorder

Obsessive Love Disorder
Status baru sebagai pacar



Keesokan nya di kampus.


Aku dan teman-teman ku sudah berkumpul di kantin untuk beristirahat dan mencari makan siang bersama. Namun fikiran ku sedang tak ada disana, aku masih melamun memikirkan Aditya.


“Lo ikut kan?” Tanya Caca tiba-tiba membuyarkan lamunan ku.


“Hah? Ikut kemana ?” Tanya ku dengan ekspresi wajah yang begitu kikuk,membuat semua teman ku heran.


“Lo ga denger ya tadi kita ngobrolin apa ?” Tanya Caca dengan kesal.


“Sorry,sorry,sorry tadi gue lagi mikirin skripsi. Kenapa ? Kita mau kemana ?” Panik ku dengan berusaha untuk tenang.


“Kita mau shooping sore ini, loe ikut kan?” Tanya Sisil.


“Hah ? Shooping ? Sore ini?” Tiba-tiba aku teringat janji ku kepada Aditya yang akan menemui nya lagi hari ini.


“Kayak nya ngga deh”


“Kenapa?” Tanya Sisil dengan wajah yang terlihat curiga,


“Lo kok akhir-akhir ini aneh sih, kaya yang lagi banyak fikiran, lo nyembunyiin sesuatu ya dari kita ?” lanjut Sisil,seperti nya mereka sudah bisa mencium kecurigaan terhadapku.


“Hah ? Nyembunyiin sesuatu apa Ngga kok, gue gak apa-apa deh, itu perasaan loe aja” jawab ku dengan tenang, berusaha meyakinkan mereka.


“Ya habisnya,gue liat-liat semenjak pulang dari Sumba lo ngelamun mulu,lemes mulu,kaya nya banyak banget beban di dalam kepala lo”


Ya memang tebakan Sisil benar,namun aku masih belum bisa menjelaskn semuanya kepada mereka,menurut ku waktunya belum tepat,atau mungkin memang tidak akan pernah ada waktu yang tepat untuk menjelaskan keadaan ku sekarang.


“Loe tau sendiri kan gue ga shooping, dan gue juga baru pulang dari Sumba, masih kerasa capek nya”


Mereka semua diam membenarkan alasan ku.


di antara mereka memang hanya aku yang tidak suka dengan shopping,jadi mereka selalu mewajarkan jika aku tidak ingin ikut serta dengan acara belanja mereka.


“Oke kalo gitu, jadi loe ga ikut ya”


“Iyaa”


Aku menatap Sienna yang sepertinya masih menaruh curiga terhadapku. Ya dia memang lebih peka di banding Caca dan Sisil.


Aku merasa bersalah karena masih terus saja membohongi mereka. Namun ini adalah yang terbaik menurutku.


Kelas ku akhir nya selesai. Aku membereskan semua buku-buku catatan ku ke dalam tas.


Sebuah pesan masuk kedalam handphone ku.


Aditya.


-aku sudah di luar-


Begitu membaca pesan nya aku langsung buru-buru berlari menuju parkiran kampus.


Aku takut ada yang melihat nya disana, dan membuat kampus ku menjadi heboh. Aku merasa seseorang ada yang mengikuti ku,namun aku tak menghiraukan nya dan terus berlari.


Aditya sudah menunggu ku di depan mobil nya. Aku berdecak kesal melihat nya yang tidak pernah mau menunggu di dalam mobil.


“Dhebiii” teriak seseorang ketika aku akan menghampiri Aditya.


Itu Sienna. Ini berbahaya, SIenna pasti akan curiga kalo dia lihat Aditya ada disini. Wajah ku berubah panik melihatnya berlari menghampiriku.


“Dhebiiii, loe mau kemana sih lari-lari” ujarnya saat sudah menghampiriku.


Aku menghalangi pandangan Sienna agar tak melihat Aditya di parkiran.


“Hah ? Ngga, guee.. lagi buru-buru balik ke kostan”


“Buru-buru balik? Ada apa ?” Tanya nya.


“Gue ada urusan penting, loe ngapain masih disini? Bukan nya loe mau ke mall?”


“Iya gue mau ke mall tapi..” kata-kata nya menggantung ketika dia melihat sosok yang tak asing di parkiran.


Aku panik ketika Sienna mempertajam penglihatan nya ke parkiran,aku berusaha untuk menutupi pandangan nya dengan kepala ku.


“Kok gue kenal ya”


“Syen,mending lo pergi deh nanti loe di tinggal” ucapku terus mendorong tubuh nya untuk pergi.


Namun pandangan Sienna tak lepas kepada sosok seseorang yang tengah berdiam diri di samping mobil hitam di parkiran kampus.


“Bentar, itu bukan nya Aditya” ucap Sienna akhirnya.


Dia memandang ku bingung.


“Dheb, loe..?” Tangan nya menunjuk kepadaku dan Aditya.


“Bentar dulu, loe di jemput Aditya?” Wajah Sienna masih saja terlihat syok dan tak percaya.


“Syen,please, jangan sampe ada yang tau masalah ini oke. Gue mohon banget sama loe,jangan sampe anak-anak tau tentang ini,yaa” aku harap Sienna bisa menutup mulut nya untuk ku,aku benar-benar panik sekarang.


“Iya tapi loe kok sama Aditya, bukan nya loe lagi deket sama…” kalimat nya menggantung ketika dia melihat seseorang mendekat di belakang ku.


“Deket sama siapa?”


Aditya membuat ku terkejut dan dengan berani dia menghampiri ku dengan Sienna.


“Kamu ngapain disini?” Kesal ku.


“Dia lagi deket sama siapa?” Tanya nya dengan menatap Sienna dan tanpa menghiraukan pertanyaan ku.


Sienna tampak gugup dan melirik ku.


“Euh, Dhebi lagi deket sama…” Sienna terus melirik ku, meminta pertolongan. Aku menggelengkan sedikit kepalaku meminta nya untuk tidak mengatakan hal yang akan membuat Aditya kesal.


Handphone Sienna tiba-tiba berdering, dan Sienna langsung mengangkat telpon nya dengan semangat.


“Hallo Ca..” Sienna melirik ku dan Aditya bergantian.


“Oh iya gue OTW sekarang” ucap nya sambil meninggalkan kami.


Dia berusaha menghindar dari pertanyaan Aditya. Aku bernafas lega melihat Sienna berjalan meninggalkan kami.


Aditya menatap ku curiga.


“Apa?” Tanya ku sinis.


Dia tak menjawab hanya terus menatap ku dengan ketusnya.


“Udah ayok, nanti takut ada orang lain lagi yang liat kamu disini” ucapku sambil menyeret nya pergi dari kampusku.


Seperti biasa di sepanjang perjalanan Aditya hanya diam. Tak mengajak ku untuk mengobrol atau menanyakan bagaimana kuliah ku hari ini? Sudah makan atau belum ? Atau setidak nya dia berbasa basi apa saja agar suasana tidak sedingin ini.


“Kita mau kemana ?” Tanya ku.


“Aku mau pulang” ujar nya membuatku merenyitkan dahi.


“Pulang kemana ?”


“Ke Apartemen aku lah”


“Terus kamu ngapain jemput aku?” Tanyaku yang sudah terdengar emosi.


“Aku mau ngajak kamu pulang kesana, aku capek mau istirahat”


“Diii… aku kira kamu mau ngajak aku keluar, kemana gitu, ke mall, ke tempat hiburan, atau ke suatu tempat , bukan nya malah nemenin kamu istirahat”


“Kalo kamu emang mau liburan, aku tinggal pesen tiket. Kamu mau kemana ? Bali ? Jogja?”


“Maksud aku bukan liburan jauh seperti itu” Aditya benar-benar tidak mengerti maksud ku.


“Ya maksud aku, ke Ancol, ke Dufan, ke tempat yang lagi hypening di jakarta aja gitu ga perlu ke luar kota juga”


“Kamu beneran mau?” Tanya nya meyakinkan ku.


“Di jakarta?” Tanya nya lagi.


“Ya ngga juga sih” jawab ku tersadar akan siapa pacarku sekarang.


Tidak mungkin aku berjalan-jalan di luar dengan dia berduaan dan di lihat oleh semua orang. Aku tidak akan pernah bisa membayangkan bagaimana nasib ku nantinya.


Aditya tertawa sambil menggelengkan kepala nya melihat tingkah ku yang plin-plan.


Sampailah kami di Apartemen Aditya. Dia langsung masuk ke kamar nya dan mengganti pakaian nya. Aku duduk di sofa dan menyalaka TV.


Sebenarnya aku bingung,apa yang harus aku lakukan disini sementara dia beristirahat. Kenapa juga aku harus menemani nya disini? Apa menjadi pacar nya berarti harus selalu ada untuk nya?


Aditya datang dan duduk di sampingku.


“Mau nonton apa?” Tanya nya sambil mengambil alih remote TV.


“Action aja coba aku liat dulu”


“Oke”


Dia memilih salah satu film action terbaik yang banyak di rekomendasikan. Dia mematikan lampu ruangan dengan remote control yang tergeletak di samping nya. Ruangan pun menjadi gelap dan hanya ada pencahyaan dari TV yang menyinari kita. Suasana menjadi seperti ada di dalam bioskop private. Menakjubkan.


Aditya melentangkan tangan kiri nya di sofa tepat di belakang ku. Dan film pun di mulai. Beberapa menit memang aku masih bisa menahan rasa kantuk ku. Namun setelah setengah perjalanan film di putar aku sudah tertidur di bahu Aditya. Aku sudah tak bisa lagi menahan kantuk ku, dan dengan tidak sadar aku malah sudah tertidur dengan nyaman di bahu nya.