
“Dheb, minggu depan lo ikut nonton film layar lebar yang di kasih tiket nya sama Mas Dias kan ?” Tanya Zio ketika kami sedang sibuk menguruskan persentasi untuk para mahasiswa baru di dalam ruang HIMPA.
“Hah? Ikut nonton? Emang tayang nya minggu depan?” Kaget ku baru mengetahui hal yang amat penting ini.
“Iyaa, itu cuma buat para pemain doang sih katanya, tapi kalian semua di undang buat ikut. kemarin gue udah minta Caca buat nyampein ini, dia belom ngomong apa-apa ?”
“Belom, kayak nya dia lupa deh io”
“Ih si Caca tuh ya kebisaan deh, kalo di amantin apa-apa ga pernah bener”
Kenapa Aditya tidak pernah memberitahuku tentang ini ? Apa dia bermaksud menyembunyikan ini dariku ? Dia tidak mau aku ikut untuk menonton film baru nya?
“Dheb” panggil Sisil membuyarkan lamunan ku.
“Hmh?”
“Lo tau Ada pemain tambahan di film itu?” Tanya Sisil mulai menggosip.
Aku pernah mendengar namanya di ucapkan Aditya, namun tidak pernah tau siapa dia.
“Ga tau”
“Tapi lo tau kan Jimmy Pramalingga yang mana?” ucap Sisil yang sudah pasti diapun tahu jawaban nya.
“Ga tau juga” kikuk ku.
Sisil memutarkan bola matanya lalu duduk di samping ku dan mengeluarkan ponsel nya. Dia menunjukan sebuah fhoto di dalam Instagram nya.
“Nih Jimmy Pramalingga”
Dia model laki-laki yang tampan, putih dan tinggi, wajah nya lebih persis seperti artis Rusia dengan halis nya yang tebal dan rahang nya yang kotak.
“Katanya Mas Dias sempet revisi skenario nya dan si Jimmy ini pemain tambahan nya. Ini ganteng banget kan, Aditya aja kalah”
Mendengar nama Aditya di sebut nya aku begitu kesal dan memukul kecil lengan nya.
“Lo ya ga bisa liat cowo cakep dikit di banding bandingin”
“Ih emang bener tau, dia ituh baik banget,humble dan friendly ga kaya Aditya yang dingin dan jutek, lo juga kan tau sendiri”
Aku merasa jengkel mendengar pacarku di ledek nya,tapi aku tidak bisa berbuat apapun.
“Emang lo udah pernah ketemu sama dia?”
“Ya belom sih” aku terkekeh mendengar jawaban nya dan menggelengkan kepalaku.
“Tapi di Tv itu dia keliatan baik banget Deb,terus di Instagram nya juga dia itu keliatan banget jiwa sosial nya. Coba deh lo liat”
“Sisil, gue udah tau banget sama artis-artis yang so baik di depan kamera itu buat apa. Mereka itu cuma pencitraab aja berakting di depan kamera biar mereka itu punya nilai bagus di mata para penonton nya”
“Debi, ini tuh beda banget. Dia ga keliatan settingan deb”
“Ah udah serah lo deh”
“Lo ya ga percaya banget sama gue” kesal Caca karena aku sama sekali tak ingin mendengar omong kosong nya tentang dunia per aktrisan lagi.
Aku sudah sampai ke Apartement sekitar jam 8 malam. Aku melihat Aditya sedang menyiapkan makan malam.
“Hay Bi” sapa nya begitu melihat ku masuk ke Apartement.
“Hay” sapa ku sedikit kaku.
“Udah makan?”
“Belum, aku tadi langsung pulang”
“Bagus, karena aku lagi buatin kita dinner special” ucap nya dengan tersenyum padaku.
Ku lihat di atas grill dia sedang membulak balikan steak dan membumbuinya. Pertanyaan masih mengganggu fikiran ku tentang penayangan film Aditya.
“Di, hari minggu depan aku mau ajak kamu ke Bandung” aku berusaha untuk memancing nya dahulu.
“Minggu?” Tanya nya.
“Kayak nya jangan minggu deh aku ada pemotretan” Jantung ku merasa sesak mendengar dia berbohong seperti ini.
“Kalo hari senin nya aja gimana ? Nanti pagi-pagi kita langsung berangkat biar ga macet juga kan” pinta nya memberikan ide lain.
“Oh oke nanti aku coba liat schedule aku dulu di kampus ya” ucap ku berusaha tenang.
Aditya sudah tidak jujur kepadaku. Dia tidak ingin aku tahu tentang penayangan film nya, aku malah tahu semua ini dari orang lain. Untuk apa Aditya berbohong tentang itu ? Apa ada yang dia sembunyikan ? Atau dia tidak ingin aku menonton film nya ? Tapi kenapa ?
Beberapa hari berlalu. Fikiran ku sudah tak menentu,melihat Aditya dan Catelin di televisi begitu mesra. Dia berusaha meyakinkan semua penonton tentang hubungan nya dengan Cateline begitu nyata. Aku tidak suka itu. Aku merasa cemburu dengan hubungan settingan yang di buat nya dengan Cateline namun tidak ada yang bisa aku perbuat.
Aku menjernihkan fikiran ku dengan berenang di malam hari. Kolam renang di apartemen ini berada di lantai atas dengan menggunakan private lift yang langsung ke kolam renang.
Aku memakai baju renang one piece yang hanya memperlihatkan seluruh lengan dan kaki kaki ku , juga sedikit memperlihatkan punggungku. Tidak aneh jika berenang disini memakai pakaian begini, karena di apartemen mayoritas penghuni nya pun kebanyakan model dan orang kalangan atas, wanita berpakaian seksi sudah pasti banyak di temukan di kolam renang ini.
Terlihat hanya beberapa orang yang berenang disana. Sudah mulai sepi karena waktu sudah menunjukan tengah malam.
Aku biarkan rambut ku tergerai selama ku berenang dari ujung ke ujung kolam. Beberapa orang sudah pergi,hanya tersisa 3 orang lagi di kolam renang hangat ini. Aku terus saja berenang dengan tenang,karena aku merasa jika berenang bisa membuat ku sedikit tenang.
Ketika aku berenang entah untuk keberapa kalinya,saat sampai ke tepian kolam seseorang sudah berjongkok di atas kolam.
Aditya. Aku langsung mengusap wajah basah ku sambil memegang tepian kolam. Tatapan dia begitu tajam melihat ku sambil berjongkok.
“Kenapa berenang malam-malam begini?” Tanya nya.
“Aku susah tidur,kenapa kamu baru pulang?”
“Aku banyak kerjaan”
Aku menganggukan kepala ku.
“Kenapa pake pakaian begini?” Tanya nya melihat baju renang ku yang begitu minim.
“Ini baju renang, begini kan harusnya baju renang?” Jawab ku.
Dia diam menatap ku tajam dan kesal.
“Berenang nya sudah selesai. Naik” pinta nya begitu dingin.
Dia menyodorkan tangan nya menolong ku untuk naik.
Dia memberikan handuk ke punggung ku dan menutupi dadaku dengan handuk.
“Aku ga suka liat kamu terbuka seperti ini di tempat umum” lirih nya.
Sebenarnya aku ingat betul dia tak pernah menyukai ku memakai pakaian seperti ini dari awal kita bertemu di Sumba. Tapi, karena perasaan hatiku yang sedang buruk aku ingin sekali membuat dia kesal.
Dia membawaku kembali ke apartemen. Dan meminta ku segera mandi dan mengganti pakaian ku sebelum aku masuk angin.
Aku berbaring di kamar dengan handphone di tangan ku.
“Kamu kenapa?” Tanya Aditya yang sudah merasa jika aku bersikap dingin kepadanya.
“Hah? Gak kenapa napa”
“Kamu marah karena aku pulang terlambat?”
“Bukan nya itu sudah biasa ya?” Mengingat dia memang selalu pulang terlambat sementara aku tidak pernah di perbolehkannya melakukan itu.
“Bi, aku minta maaf karena masih harus seperti ini”
Aku masih diam dengan pura-pura memainkan ponsel ku. Dia berbaring di samping ku lalu memeluk ku begitu erat.
“Aku tahu ini sulit untuk kamu, tapi aku minta kamu bertahan sedikit lebih lama lagi. Aku janji ini hanya sementara, jangan pernah merasa lelah untuk jalani ini”
Aku merasa sedih mendengar ucapan nya. Dia benar,aku memang sudah lelah dengan hubungan tersembunyi ini. Namun aku harus bertahan demi dia dan demi janji nya.
“Aku ga tau berapa lama lagi bisa bertahan dengan semua ini di. Aku harap sebelum aku lelah, kamu harus sudah penuhi janji kamu”
Senyuman Aditya begitu meyakinkan ku.
“Aku janji”