
“Anandita?” Tanya Aditya dengan mengkerutkan kening nya.
“Bukan kah dia di Jerman?” Lanjut nya membuat ku terus memikirkan teman nya itu.
“Temui lah dulu dia,dia sedang di belakang melihat renovasi taman kita” ujar Nenek nya meminta Aditya untuk menghampiri wanita itu.
Aku pun semakin penasaran dengan wanita itu. Kenapa bisa sampai sedekat itu dengan Nenek Aditya? Apa dia pernah menjalin hubungan juga dengan Aditya?
Aku semakin cemas,hati ku mulai terasa panas memikirkan wanita yang hanya ku tahu nama nya.
Aku dan Aditya berjalan ke bagian belakang hotel besar ini.
“Siapa Anandita?” Tanya ku ketika kita sudah mulai berjalan di lorong hotel.
Aditya menatap ku dengan menyelidik.
“Teman kecil ku” jawab nya dengan dingin.
“Kenapa aku tidak pernah mendengar ceritanya?” Tanya ku tanpa menoleh nya.
“Apa kamu juga pernah bercerita tentang masa kecil mu?” Balik tanya Aditya membuat ku menatap nya dengan kesal.
“Tapi dia dekat dengan keluarga mu dit”
“Lalu?” Ucap Aditya membuat ku malas melanjutkan nya.
“Sudahlah” jawab ku dengan malas.
Kita terus berjalan ke belakang hotel dan melihat renovasi taman yang begitu ramai sekali dengan para tukang bangunan yang hilir mudik kesana kemari. Taman itu sudah terlihat berbentuk begitu indah dan menenangkan,dengan rumput hijau,banyak sekali bunga dimana mana,tanaman hias dari daun yang menjulang tinggi. Dan ada air mancur di tengah-tengah taman itu.
Aku melihat seorang wanita yang memakai jas kuning dan celana begitu pendek membuat dia seksi namun tetap terlihat formal dan bergaya. Dia sedang berbicara dengan seoranh pria yang memakai pakaian seperti seorang arsitek.
Dia menoleh ke arah kami. Begitu cantik sekali dengan wajah yang dia miliki seperti Kristen Stewart yang pernah membintangi film twilight namun ini versi berkelasnya. Dia mempunyai dagu yang lancip dan mata yang coklat,kulit dia pun berwarna putih mulus dan rambut nya yang di ikat ke belakang.
“Aditya!” Seru wanita itu dengan meninggalkan pria di hadapan nya dan menghampiri kami.
Dan dia memeluk Aditya begitu erat. Aku semakin tidak nyaman melihat dia yang tidak mengacuhkan ku di samping nya.
“Dit aku rindu sekaliii” ujar nya dengan masih memeluk Aditya.
Aku kesal kenapa Aditya malah membuarkan wanita itu terus memeluk nya.
Lalu dia melepaskan pelukan nya.
“Aku baru sampai di Jerman kemarin malam,aku mencari kamu ke rumah tapi katanya kamu baru pulang tadi malam” ujar wanita itu dengan tak langsung mengatakan jika dia sudah begitu dekat dengan keluarga Aditya.
“Kemarin aku temani Dhebi untuk wisuda dulu” ujar Aditya melingkarkan tangan nya di pinggang ku bermaksud untuk mengenalkan ku.
Wanita itu menatap ku dengan senyuman yang begitu semu.
“Hay Dhebi” sapa nya dengan kaku.
“Hay” sahut ku dengan menjabat tangan nya.
“Anandita” ucap nya memperkenalkan diri.
“Dhebi” jawab ku dengan tersenyum begitu di paksakan.
“Kamu sedang apa disini?” Tanya Aditya membuat wanita itu mengkerutkan kening nya.
“Aku kan memang selalu di minta Nenek untuk melihat dan mengecek hotel nya. Karena mungkin Nenek sudah terlalu tua dan,orang tua mu terlalu sibuk. Jadi setiap tiga bulan sekali aku selalu kesini” ujar nya menjelaskan.
Aku tidak menyangka wanita itu sampai sedekat itu dengan keluarga Aditya,sampai dia di percaya untuk ikut mengurus bisnis keluarga nya. Hati ku semakin tak karuan.
“Aku dengar juga kamu mau menikah” ucap wanita itu kembali ke Aditya.
“Ya. Minggu depan”
“Waw hebat ya. Kamu mendahului aku. Sampai sekarang saja aku belum mendapatkan pasangan yang pas dan serasi” ucap nya menatap Aditya dengan penuh arti.
Aditya tampak tersenyum kepadanya.
Dia membuat ku merasa insecure. Aku merasa aku saja tak setara dengan Aditya. Aku hanya wanita biasa yang terlalu banyak menikmati keindahan alam tanpa memikirkan masa depan,sementara Aditya adalah seorang pengusaha muda yang kaya dan telah sukses menjadi artis dengan jalur nya sendiri.
“Kamu terlalu banyak memilih” ucap Aditya.
“Ya. Aku mencari yang seperti kamu,yang cuek,yang tegas,dan bertanggung jawab. Sangat sulit mendapatkan di luaran sana”
Wanita itu sudah benar-benar membuat ku gerah. Aku begitu enggan untuk melihat mereka berdua yang sedang berbincang.
Lalu mereka berdua tertawa.
“O iya. Kamu ambil lulusan apa di kampus mu?” Tanya Anandita menatap ku dengan berusaha ramah.
“Ekonomi dan bisnis” jawab ku dengan tersenyum manis.
“Waw. Bagus sekali,kamu jadi bisa menemani Aditya berbisnis” ujar nya.
Aditya tampak tersenyum mendengar ucapan Anandita
“Dia istri ku. Bukan partner kerja ku,aku ingin dia hanya melayani ku dan tidak bekerja untuk ku” ucap Aditya membuat ku begitu haru.
Wanita itu terlihat begitu tersentak dengan jawaban Aditya. Lalu dia kembali tersenyum dengan kaku.
“Kamu tidak akan mengajak ku jalan-jalan lagi dit?” Tanya Anandita masih saja menyebalkan.
Apa dia tidak sadar jika aku masih di samping nya?
“Boleh” jawab Aditya membuat ku menatap nya dengan tajam.
“Kebetulan aku dan Dhebi akan pergi ke kota Denpasar hari ini,kita mau food testing untuk mengecek makanan kita nanti” ujar Aditya dengan menatap ku.
Anandita terlihat begitu tak setuju dengan acara jalan-jalan yang sama sekali tak di harapkan itu.
“Kamu mau urus acara pernikahan mu dulu?” Tanya Anandita.
“Ya. Tentu saja,aku sudah mulai sibuk sekarang”
“Tapi kan ada W.O dit. Kamu tidak memakai W.O” ledek Anandita.
“Tentu saja memakai W.O. Tapi kamu tahu sendiri kan Mama ku seperti apa? Dia tidak ingin ada yang tidak sesuai dengan acara pernikahan kami nanti”
“Mama kamu begitu menyutujui pernikahan kalian?” Tanya nya membuat ku menatap wanita menyebalkan itu dengan tajam.
Aditya menyadari pertanyaan Anandita begitu menyinggungku.
“Tentu saja. Dia sudah begitu mengenal Dhebi,dan dia sangat menyukai Dhebi. Bahkan Papa juga yang meminta kami untuk menikah secepatnya” ujar Aditya terlihat begitu sengaja menjelaskan dengan jelas kepada Anandita.
“Baguslah” jawab nya dengan terlihat begitu tak nyaman.
“Kalau begitu sampai bertemu nanti ya dit. Mudah-mudah an kita bisa dulu jalan berdua sebelum kamu menikah,karena banyak yang ingin aku ceritakan selama kita tidak bertemu”
Apa maksudnya hanya berdua?
“Baiklah” jawab Aditya membuat ku mendelikan mataku.
“Kami pergi dulu. Terimakasih sudah membantu Nenek selama ini” pamit Aditya.
“Tentu saja dit. Aku akan selalu menjadi bagian dari keluarga kamu” jawab nya.
Aku hanya memberikan senyuman yang manis kepada Anandita. Dan dia pun membalas nya dengan begitu kaku.
Lalu aku dan Aditya pergi dari sana dan kembali ke rumah untuk mengurusi acara pernikahan kami.
“Apa maksud nya hanya bertemu berdua?” Kesal ku dengan terus menatap ke depan.
Aku masih begitu kesal dengan Anandita,teman masa kecil Aditya,yang sama sekali tidak bisa menghargai ku sebagai calon istrinya.
Aditya menoleh sebentar kepadaku.
“Dia mungkin hanya mau ngobrol”
“Dan kamu mau bertemu hanya berdua dengan dia” ucap ku dengan kesal menatap Aditya.
“Ya kalo kamu membolehkan” ucap nya semakin membuat ku kesal.
“Berarti kamu mau kan?” Ucap ku dengan nada yang semakin naik.
Lalu Aditya tampak tertawa.
“Kalo aku saja tidak memperbolehlan kamu untuk bertemu dengan pria lain tanpa seizin ku,tentu aku juga tidak akan menemui dia tanpa di perbolehkan kamu” ucap Aditya.
“Kalo kamu mau ya silahkan” ucap ku dengan begitu kesal,dan membuat Aditya tersenyum menertawakan ku.
“Kenapa tersenyum?” Tanya ku menatap nya dengan ketus.
“Aku suka melihat kamu selalu cemburu seperti ini” ujar nya membuat ku malu dan memalingkan wajah ku.