
Aku menunggu Aditya bersiap di kamar nya. Dia keluar dari ruang ganti nya dan telah menggunakan kemeja panjang berwarna abu-abu gelap yang aku pilihkan untuk nya,memakai celana katun berwarna hitam dan sepatu kulit yang berwarna hitam juga.
Dia tampak lebih tampan dengan pakaian yang begitu formal di tubuhnya nya. Dia menggulung bagian lengan nya sampai 2 kali lipatan dan merapikan rambut nya di depan cermin.
Aku menghampiri Aditya yang sedang merapikan diri nya di depan kaca besar. Dan aku merangkul tubuh Aditya dari belakang.
“Aku tidak pernah melihat laki-laki setampan ini di dalam hidup ku” ucap ku memuji nya.
Aditya terlihat tak begitu menyukai pujian ku.
“Kalau bukan karena kamu,aku tidak akan pernah mau berpakaian seperti ini dirumah. Aku sudah persis seperti Papa ku” ujar nya membuat ku tidak paham mengapa dia bersikap seperti itu kepada Papanya.
“Sini” aku membalikan tubuh Aditya agar menghadap kepadaku.
Aku mereapikan kerah nya, dan merapikan rambut nya. Aditya menatap ku begitu dalam.
“Aku tidak tahu apa masalah kamu Di. Tapi jangan membuat aku merasa tidak enak di depan keluarga kamu” ucap ku sambil merapikan kemeja nya yang kusut.
Bukannya menanggapi omongan ku dia malah tersenyum melihat ku seperti ini.
“Kenapa?” Tanyaku.
“Sekarang kamu sudah seperti Mama,yang selalu memberi tahu Papa kalau dia jangan pernah membuat Mama malu,karena Papa seperti tidak terurus”
Aku tertawa bersama Aditya membayangkan hal itu. Lalu mengingat kembali ucapan Aditya yang menginginkan aku bersama dia selamanya. Aku jadi merasa ragu dengan semua ini. Mendadak aku gelisah di buat nya.
“Ayo Mama sudah menunggu”
Aku dan Aditya turun dari tangga bergandengan tangan dan mendapati seorang laki-laki setengah paruh baya berdiri dengan tegap memakai kemeja biru muda dan dasi biru tua. Laki-laki itu bertubuh tinggi besar dan berwajah seperti bule blasteran . Aku tahu sekarang wajah Aditya di wariskan dari siapa. Mata indah Aditya sama persis dengan Papa nya,dan mimik wajah bule Aditya mirip sekali dengan Papa nya.
Dia melepaskan kaca mata yang di pakai nya ketika bertatapan dengan Aditya.
Seorang pelayan laki-laki dengan sigap langsung membawakan koper dan jas laki-laki yang di tenteng paruh baya itu.
Ketika aku dan Aditya sudah menginjakan tangga terakhir pria itu melirik ke arah ku membuat aku langsung membungkukan tubuh ku kepadanya untuk menyapa dan berusaha untuk tersenyum.
Aditya terlihat begitu malas melihat laki-laki yang aku tau itu Papa Nya dan dia hendak pergi meninggalkan Papa nya. Namun aku menarik lengan nya dan menahan nya,aditya menatap ku dengan masih mengerutkan kening nya. Aku memberi kode dengan wajah ku agar dia menghampiri dulu Papa nya. Dia sempat tak menggubris keinginan ku dan hendak pergi lagi,namun aku terus menahan nya disana.
Aditya berdecak kesal dan diam di tempat nya. Aku menarik lengan Aditya untuk menghampiri Papa nya yang terus terpatung bingung melihat ku membawakan Aditya ke hadapan nya.
Mereka malah saling menatap dan tidak berkata apapun. Aku menyenggol punggung Aditya dengan sikut ku. Aditya sendiri terlihat canggung berhadapan dengan Papa nya.
“Hay Pa” kaku nya.
Papa nya tak kalah kaku melihat Aditya menyapa nya.
“Hay Nak. Apa kabar?”
Aditya malah diam tak menjawab dan malah memalingkan wajah nya membuat ku begitu gemas dengan tingkah tak acuh nya.
Aku kembali mencolek punggung nya.
Dia menatap ku dengan kesal. Lagi-lagi aku harus selalu memelototi nya agar dia bisa bersikap lebih baik kepada Papa nya.
“Aku baik Pa” jawab nya dengan malas.
Papa nya menyentuh bahu Aditya dengan hati-hati. Aditya memang terlihat risih dengan sentuhan yang di lakukan Papa nya namun aku terus memelototi nya agar dia diam.
“Papa rindu sama kamu Nak” ucap nya lirih.
Sirat mata nya begitu memperlihatkan jika dia benar-benar merindukan Aditya. Papa nya langsung memeluk Aditya dengan lembut namun Aditya tidak membalas pelukan nya,tangan nya malah terkulai lemas kebawah.
Aku memicingkan mata ku melihat nya. Namun Aditya tidak tetap tidak mau membalas pelukan Papa nya. Aku mencubit punggung Aditya agar dia mau memeluk Papa nya. Dan wajah Aditya terlihat kesakitan namun tak bersuara di dalam pelukan Papa nya.
Dengan ragu-ragu Aditya membalas pelukan Papa nya dan akhirnya dia mau menyentuh punggung Papa nya walaupun terlihat kaku.
Aku begitu terharu melihat Papa nya tersenyum senang bertemu dengan Aditya. Mata ku hampir saja basah melihat mereka yang seperti sudah lama sekali tidak bertemu. Aku tak sengaja menoleh ke samping ku dan melihat Mama Aditya sedang berdiri di depan ruang makan dengan ikut bahagia.
Sarapan pagi pun selesai. Para pelayan segera membereskan piring-piring bekas makan di meja makan. Kami semua masih duduk di meja makan,sementara Aditya mengupas sebuah apel dengan pisau kecil di tangan nya.
Aku bingung apa yang harus aku lakukan setelah ini. Sementara Papa dan Mama Aditya terus memperhatikan kami berdua.
“Dhebi” panggil Papa nya membuta ku terkejut.
“Iya Om”
“Kamu masih kuliah?” Tanya Papa nya.
“Masih Om”
“Dimana ?”
“Di Universitas Indonesia”
“Sudah hampir selesai?”
“Masih semester akhir Om”
Papa nya menganggukan kepala nya.
“Kamu asal dari mana?”
Aku melirik Aditya di samping ku yang masih saja sibuk memakan apel nya sama sekali tak mau membantu ku menjawab.
“Di Bandung”
“Jauh sekali ternyata”
“Iya” jawab ku dengan masih terus tersenyum.
Papa nya menyimpan kedua tangan nya di atas meja seperti akan membicarakan sesuatu yang serius.
“Om tau tentang pemberitaan kalian di luar sana. Dan Om juga tahu dari Mama nya apa yang terjadi sebenarnya”
Apa aku bilang. Gumam ku dalam hati.
Aku menundukan kepala ku merasa tidak enak mengingat pemberitaan yang menyudutkan ku sebagai pelakor.
“Om sebenarnya sudah memperingati Aditya tentang keras nya dunia entertainment tapi..”
“Pa..” Aditya memotong pembicaraan Papa nya dengan kesal.
“Kita tidak perlu bahas ini lagi. Aku sudah bilang aku bisa melanjutkan hidup ku sendiri”
“Aditya. Kamu anak Papa satu satu nya. Papa hanya mau kamu meneruskan semua bisnis Papa yang di berikan Nenek kamu” Papa nya sudah mulai kesal.
Aku dan Mama Aditya hanya bisa diam melihat Papa nya memarahi Aditya.
“Papa tidak mau bisnis Nenek kamu malah jatuh kepada Andre sepupu kamu sendiri”
Aku terkejut mendengar nama Andre di sebutkan Papa nya. Lalu aku menatap tajam Aditya dengan ekspresi kaget yang tidak bisa aku sembunyikan. Aditya hanya melihat ku dengan kesal.
“Paman kamu sangat memanfaatkan keadaan ini Aditya. Dia tahu kamu tidak ingin meneruskan bisnis Nenek dan dia membujuk nenek agar bisnis itu di berikan pada Andre”
Aku masih memikirkan apakan Andre yang di sebutkan Papa nya adalah Andre yang sama yang aku kenal.
“Andre rela meninggalkan semua pekerjaan nya demi bisnis itu. Bahkan dia siap meninggalkan karir nya menjadi penulis terkenal hanya untuk melanjutkan Bisnis Nenek nya”
Aku tersentak mendengar Andre yang di sebutkan Papa nya persis sekali dengan Andre yang aku kenal begitu dekat. Dan aku yakin itu adalah Andre yang sama.
Wajah ku terlihat begitu kesal. Aku kecewa Aditya tidak pernah memberi tahu ku tentang itu.
Andre dan Aditya selama ini adalah saudara sepupu.