Obsessive Love Disorder

Obsessive Love Disorder
Kenyataan yang tak pernah aku harapkan



Aku terbangun dari tidurku yang sudah terasa lama sekali.


Aku meraih ponsel ku dan ku lihat jam di layar ponsel ku. Pukul 04.15


Berarti sudah lama sekali aku tidur dari sore hari sampai pagi buta begini. Aku berusaha untuk tidur kembali namun tidak bisa.


Aku pun bangun,dan melamun memikirkan apa yang akan aku lakukan saat itu, dan aku memutuskan untuk pergi jalan jalan keluar menikmati pantai di pagi gelap seperti ini.


Ku kenakan sweater ku dan ku pakai penutup kepala nya melindungi diri dari dingin nya pagi hari yang buta ini. Aku terus berjalan mengikuti keinginan hatiku untuk melangkah, ku tinggalkan Resort dan mulai berjalan di pesisir pantai. Kurasakan deburan ombak dan dingin yang begitu melekat pagi buta itu,penerangan begitu kurang malam itu,namun cahaya bulan membuat aku masih bisa melihat jalanan di sekitarku.


Dan ketika telah jauh berjalan aku merasa ada yang mengikutiku, ku hentikan langkahku dan berbalik. Terlihat ada beberapa orang jauh disana sedang memperhatikan ku. Terlalu gelap aku tidak bisa melihat siapa mereka karena peneranganku hanyalah cahaya bulan dan sorot lampu lampu yang ada di pinggir pantai yang membuat ku sulit melihat nya.


Aku kembali melangkahkan kakiku menjauhi mereka, dan aku merasa bahwa mereka pun tengah mengikutiku,aku tengok kebelakang lagi ternyata mereka semakin dekat.


Aku semakin panik dan takut, lalu aku pun berusaha berlari menghindari mereka dan benar saja ternyata mereka membuntutiku dan berusaha mengejarku. Dengan sekuat tenaga aku berlari menjauh dari resort dan...


‘Buuuggggg’


Aku menabrak tubuh seseorang di depanku, aku semakin panik aku takut dia komplotan orang orang itu.


Dan aku lihat sosok laki-laki yang ada di hadapan ku itu dengan jelas.


“Aditya” bisiku, begitu leganya aku melihat dia di hadapanku.


Segerombol laki laki yang ada di belakang ku kini tak lagi berlari,mereka berjalan pura pura tak melihat kami dan melewatiku begitu saja.


Aditya menatap tajam para lelaki muda itu mencoba memperingati mereka dengan raut wajah nya. Setelah mereka semua pergi entah kemana,Aditya menatap ku dengan sangar.


Dia memakai baju lengan panjang dan celana panjang juga,rambutnya yang berantakan membuat dia malah tambah tampan natural.


“Kamu ngapain sih,masih gelap gini udah keluyuran” ujar nya dengan kesal.


Aku terus menundukan kepala ku masih merasa panik dan sekaligus merasa lega.


“Aku kebangun, terus susah tidur lagi”


Raut muka ku berubah menjadi seperti anak kecil yang ketakutan.


“Emang ga bisa diem aja di kamar? Kayanya gatel banget kalo ga ngerasain suasana pantai gelap-gelap tuh” dia terus memarahiku.


“Yakan aku susah tidur,aku juga gatau harus ngapain di kamar, jadi aku jalan jalan”


“Ya bisa kan jalan jalan di atas Resort aja,ini kamu jalan udah jauh dari Resort. Kamu ga sadar?”


Aku terus saja diam tidak ingin melawan nya.


Aditya tak lagi terdengar memarahi ku karena melihat ku yang sudah merasa bersalah,dan dia melangkahkan kaki pergi menunggalkan aku.


“Mau kemana?”


“Bukan urusanmu” jawab nya tanpa menolehku dan terus berjalan.


“Adiii” panggil ku dengan manja.


“Ke tebing” jawab nya dengan malas.


“Aku ikut” pintaku dengan memasang wajah memohon, dia menghentikan langkahnya dan memalingkan wajah nya ke belakang untuk menatap ku tajam.


“Ngga” ketusnya sambil kembali berjalan.


“kalo mereka balik lagi terus gangguin aku gimana ?”


Dia menghentikan langkahnya lagi dan berfikir sejenak,dia berdecak kesal karena tak ada pilihan lain selain membiarkan ku mengikutinya. Aku tersenyum bahagia dan berlari mendekati nya. Kita berjalan beriringan di dalam diam.


Kita mendaki tebing yang memang tidak jauh dari Resort, tebing itu tidak terlalu tinggi namun tempat nya begitu nyaman dan indah. Rumput hijau yang sedikit basah karena embun nyang menyelimuti pagi membuat rumput itu menjadi basah, ada juga bebatuan yang tertanam dalam tanah yang bisa di pakai kita untuk duduk,namun Aditya memilih duduk di atas rumput dan bersandar di balik batu itu. Akupun mengikutinya duduk di samping nya dengan nyaman dan menyandarkan punggung ku di batu besar yang sama.


“Kamu sering kesini?”


Melihat sekeliling ku seperti nya tidak ada orang yang mau bergabung menunggu sunrise dengan kami disini, begitu sunyi dan sepi sekali dan tidak ada penerangan sama sekali selain penerangan dari bulan. Dan terdengar hanya deburan ombak saja yang menghantam tebing kami.


Dia menganggukan kepala. Aku mengingat sesuatu, ada sesuatu yang akan terus mengganjal dalam diriku jika aku tidak mengutarakan perasaan ku kepadanya.


“aku minta maaf”


“Untuk?”


“Udah kira kamu sombong,menyebalkan,dan jutek”


Dia tersenyum.


“Lalu ? Sekarang kamu udah nilai aku baik,ramah,dan lembut?” Tanya nya.


“Ngga juga sih, kamu masih jutek masih nyebelin ,tapi ternyata di balik itu kamu sebenarnya menyenangkan”


Aditya tidak menanggapi ku, dia hanya diam mendengar ucapanku. Aku menyandarkan kepalaku ke belakang menunggu sunrise di hadapanku segera muncul.


“Aku itu orang nya tertutup, ga pernah mau orang asing masuk ke kehidupan pribadiku. Gak pernah mau orang lain mencampuri urusan aku. Tapi tanpa sengaja, malah ada orang asing yang masuk kedalam kehidupan aku dan tahu masalah terbesar aku” ucapnya dengan pandangan terus kedepan.


“Oiyaa siapa ?” Tanyaku penasaran.


Dia melirik ku dengan memicingkan matanya, tersirat sekali wajahnya yang begitu kesal karena aku tidak menyadari siapa orang yang di maksud nya.


“Maksudnya aku?”


Diamnya sudah menjawab pertanyaan ku.


“Kok aku sih?” Tanyaku dengan bingung.


“Aku kan cuma ga sengaja aja pergokin kamu lagi sakit sakitan di hutan ,terus ga sengaja juga tau ternyata kamu ga alergi kepiting, cuma itu kan,selebihan nya aku ga tau tentang kamu”


Oceh ku merasa tidak terima dengan tuduhan nya.


“Tapi kenapa ketidak sengajaan ini harus menimpa kamu?” Tanya nya yang membuatku juga bingung untuk menjawab nya.


“Ya mana aku tau”


Aku melihat layar ponsel ku pkl. 04.55


“Sunrise kan masih lama, kok kamu mau lebih awal diem disini” tanya ku mengalihkan pembicaraan.


“Aku ga sengaja nemuin tempat ini. Dulu aku pernah liburan juga ke Sumba, dan tinggal di Resort itu. Suatu malam aku jalan-jalan buat menghilangkan stres karena pekerjaan aku, terus tanpa sadar,aku udah sampe di tebing ini. Entahlah, seperti ada yang menuntun ku”


“2 taun yang lalu”


“Oooo”


“Dan kamu orang pertama yang aku ajak ke tempat favorit ku ini”


“Tanpa sengaja” tambah nya,takut membuat ku kembali ke GRan lagi mungkin.


Ucapan Aditya membuat aku menatapnya. Ada perasaan risih ketika dia mengucapkan itu. Kenapa bisa dia tidak mengajak teman yang lain untuk pergi kesini, dan kenapa harus aku orang pertama yang di ajak nya kesini. Tapi secara pandang,memang aku lah yang salah, Aditya sudah jelas tidak ingin aku mengikutinya tapi aku malah memaksa nya untuk ikut kesini.


“Kenapa ga pernah ajak cewe kamu kesini” ucapku dengan hati hati.


Dia tersenyum menertawakan ku.


“Kamu emang ga punya tv ya dirumah?” Tanya nya yang membuatku mengerucutkan bibirku.


“Aku heran deh sama kamu, kok bisa bisa nya kamu selalu salah sebut nama2 artis yang bareng sama kamu?”


“Ya aku punya tv lah, tapi emang nya harus ya aku tonton kehidupan orang lain yang jelas jelas bukan urusan aku. Aku malah heran sama kehidupan para artis,kenapa bisa kalian biarin orang lain ngorek ngorek kehidupan pribadi kalian sih, kalian jalan dimana aja dan sama siapa aja di gosipin,pergi kemana aja di omongin ada masalah dikit di sebarin. Kalian emang ga risih ya jadi konsumsi publik ?” Tanyaku yang membludak.


“Risih” jawab nya singkat. Membuatku menatapnya,melihat betapa seriusnya dia berkata seperti itu.


“Aku juga ga pernah mau kehidupan aku terus di gali sama orang lain. Bikin aku ga bebas bergerak, bikin aku takut melakukan segala sesuatu hal yang aku suka,tapi di pandang mereka itu salah. Tapi ada juga yang mendukung setiap kegiatan yang aku lakukan”


“Fans” tebak ku.


Aditya mengangguk tanpa menoleh ku.


“Tapi tidak melulu mereka semua mendukung kita,kita juga harus kuat banyak di serang oleh netizen, dan tekanan yang berat dari karir,menuntut kita untuk menjadi apa yang mereka mau”


Aku diam memikirkan apa yang katakan Aditya. Terdengar jika sebenarnya dia pun sudah lelah menjalani kehidupan nya seperti ini. Tapi kenapa dia bertahan ?


“Kamu tau ga artis artis yang cinlok itu ada yang menjalani hubungan nya dengan terpaksa”


“Oh iya ?” Tanyaku tak percaya.


“Iyaa,misalnya mereka ada dalam satu film di sandingkan menjadi pasangan kekasih,lalu di kehidupan nyata para penggemar nya begitu fanatic dan meminta mereka untuk menjalani hubungan di kehidupan nyata, dan ada pihak juga yang bisa ngebayar mereka kalo sampe mereka benar mau jadian”


“Settingan maksud kamu?”


“Itu kamu paham,katanya ga pernah nonton artis” ledeknya.


“Ya kalo masalah settingan aku sering denger dari Sisil atau Caca yang sering ngegosip di depan aku”


Dia kembali tersenyum, aku merasakan kenapa hari itu dia begitu manis dan ramah. Setiap ucapan yang di katakan nya selalu terdengar lembut, dan dia memang tampan. Dagunya lancip, hidung mancung kulit nya putih dan berparas blasteran,semua itu adalah warisan dari orang tua nya yang berasal dari belanda entah ibu atau bapak nya, yang pasti di antara mereka mewarsikan sedikit wajah bule pada Aditya.


“Sebenarnya aku lelah” ujarnya.


“Kenapa ?”


“Capek kehidupan ku harus di atur orang lain. Aku ingin seperti ini, hidup bebas, melakukan segala sesuatu atas dasar keinginan ku sendiri. Dan tidak ada orang lain yang mampu mencampuri kehidupan aku”


“Tapi pasti sulit ya di, terkecuali kamu pergi ke luar negri memulai hidup baru, teman baru dan pekerjaan baru dan jangan jadi artis lagi”


“Aku jatuh cinta dengan alam di negri ku ini bi, aku sudah terlalu jauh menikmati keindahan alam di negri ini. Aku ga tau di negara lain apa ada tempat seindah ini atau ngga?”


‘Bii’ Ini pertama kalinya ada orang memanggilku dengan panggilan ‘bi’ seperti ini,aku tidak keberatan selama masih ada konsonan nama ku di dalam nya.


“Aku juga jatuh cinta sama alam ku ini, aku tuh ikut komunitas HIMPA juga karena aku pengen mengenal alam lebih jauh. Dan akhirnya aku bisa merasakan semua yang aku impikan karena ikut komunitas itu, aku begitu beruntung karena bisa di berikan kesempatan untuk terus menikmati indah nya alam” aku mengingat beberapa tempat yang sudah aku lalui selama aku mengikuti komunitas itu.


“Aku liat kamu beda dari yang lain” ucapnya sambil menatapku dengan dingin.


Aku tersenyum mendengar ucapan nya.


“Mas Glenn juga pernah bilang gitu,dia bilang aku beda dari temen temen aku yang lain” jawab ku mengingat ucapan Glenn ketika di pantai.


Aku melihat ekspresi nya berubah saat aku menyebut nama Glenn.


“Kamu kayak nya udah deket banget sama Glenn”


“Ya deket karena dia baik banget sama aku, terus cuma dia yang mau sapa aku dengan ramah setiap ketemu”


“Dan kamu suka?”


Tanya nya.


“Ya aku suka karena dia baik”


Dia hanya menganggukan kepalanya seperti ragu dengan jawaban ku.


“Sumba ini salah satu tempat yang mesti di kunjungi oleh semua pencinta alam” ujarnya.


“Iya memang, keindahan nya yang alami,adat istiadat yang masih pekat, juga orang orang nya yang baik membuat mereka si pencinta alam harus setidaknya sekali seumur hidup untuk berkunjung ke Sumba”


“Kalo memang semua orang Sumba baik,kamu ga mungkin di ikutin orang asing tadi di pantai” ucapnya sambil menyentil jidatku.


“Awww sakit” rintih ku sambil mengusap kening ku.


“Yaa mungkin itu cuma salah satu dari beribu penduduk yang baik aja kan ?” jawab ku membela diri.


“Kok bisa kebetulan ada kamu ya” tanyaku.


“Itu yang aku maksud, kenapa bisa kebetulan ini harus menimpa kamu ?” lagi lagi pertanyaan nya membuat aku bingung menjawab nya.


Lalu dia menatap ku dalam diam, matanya menyisir seluruh wajah ku, begitupun aku yang suka melihat lekukan di wajah nya, yang begitu tampan,manis, dan begitu menawan. Suara debur ombak dan suara alam di sekitar kami seperti mendorong wajah kami semakin mendekat. Aku tidak tau apa yang harus aku lakukan, nafas dia semakin terasa di wajah ku, wajah nya semakin mendekat,hidung kami beradu lalu dia memiringkan sedikit wajah nya dan mendaratkan bibirnya di bibirku. Seketika aku merasa hatiku berdebar cepat, tidak bisa berontak dan malah menikmati apa yang aku rasakan ini.


Dia berani mencium ku, di atas tebing ini membuat aku terhipnotis untuk diam,kenapa aku malah menikmatinya ? Beberapa saat kemudian muncul sinar matahari yang mulai menyinari tubuh kami sedikit demi sedikit. Dia menggerakan bibirnya dengan lembut,menikmati ciuman nya ini. Aku terus memejamkan mataku dan mengikuti setiap alur dari bibirnya.


Seketika aku tersadar,aku langsung membuka mataku dan menjauhkan wajah ku darinya, aku membuang muka ku dan langsung beranjak pergi meninggalkan nya Dengan cepat.


Sunrise hari itu tidak aku saksikan,aku bersalah karena aku malah menikmati ciuman yang di berikan Aditya. Aku berjalan cepat menuruni tebing dan segera pergi ke Resort. Sepanjang perjalanan aku terus menyentuh bibirku dan membayangkan apa yang baru saja aku lakukan. Kenapa aku diam saja, kenapa aku tidak berontak, kenapa aku malah menikmatinya.


Aku sampai di kamarku dan aku duduk termenung di samping tempat tidurku,bayangan Aditya masih saja menempel di fikiran ku. Aku berusaha membuang fikiran itu tapi tidak bisa, aku bingung bagaimana nanti jika aku bertemu dengan nya lagi? Apa yang harus aku lakukan? Bodoh sekali aku,kenapa bisa-bisanya aku hanya diam ? Bagaimana jika Aditya mengira aku ini wanita yang sama saja dengan wanita-wanita yang dia temui di luar sana. Aku menyesal,sungguh menyesal.


Aku terus menyesali perbuatan ku. Aku jadi takut bertemu dengan nya nanti,aku harus menghindarinya jangan sampai aku bertatapan langsung dengan dia.


Aku merebahkan diriku di kasur dan berusaha memejamkan mataku, tapi bukan nya melanjutkan tidur,bayangan Aditya malah selalu muncul di fikiran ku. Aku langsung membuka mataku dan mengibas ngibas kepalaku berharap fikiran nya akan terhempas,dan percuma saja,bayangan kissing kami masih begitu melekat kental di fikiran ku.