
Aku kembali ke Apartemen ku dengan perasaan yang kacau. Lagi-lagi Danu berhasil mengusik fikiran ku.
“Dhebi” sapa Aditya ketika melihat ku masuk ke dalam Apartemen dengan wajah yang begitu kusut.
“Oh hey” sahut ku ketika melihat nya sedang berdiri di ruang tengah.
“Dari mana?” Tanya dia dengan wajah dingin.
Dia pasti kesal karena bangun dan mendapati aku sudah tidak ada di samping nya.
“Aku habis jogging” jawab ku dengan kaku.
Dia melirik ke arah kaki ku yang tampak kotor.
“Kenapa kaki mu?”
Aku ikut melirik kaki ku sendiri,dan ternyata memang benar begitu jelas terlihat kaki ku penuh dengan tanah.
“Jatuh. Aku menendang batu” ujar ku dengan terbata bata.
“Sini” pinta Aditya dengan begitu menyeramkan.
Aku menghampiri Aditya dengan perasaan takut akan di marahi Nya.
Aku sudah berdiri di hadapan nya dengan menatap nya sayu,lalu dia menggendong ku dengan cepat dan tangan ku refleks melingkar di leher Aditya.
“Sudah sering aku minta. Jangan pernah pergi tanpa izin dariku” ujar Aditya dengan menatap ku tajam.
Aku menganggukan kepala ku dengan perasaan bersalah. Bukan hanya merasa bersalah karena tidak meminta izin aku pergi jogging saja,tapi merasa bersalah karena masih belum bisa menceritakan tentang Danu kepadanya.
Dia membawa ku ke kamar,dan mendu dukan ku di tempat tidur.
“Tunggu disini. Aku bawakan dulu air hangat” pinta Aditya dengan kembali ke luar kamar membawa wadah kecil yang berisi air.
Aku melepaskan dulu sepatu ku,lalu Aditya datang dan membersihkan kaki ku. Dia melihat bekas luka ku yang kembali me merah.
“Ini masih sakit kan?” Tanya dia.
Aku menganggukan kepala ku.
“Sebentar lagi kita menikah. Tolong jangan membuat ku takut karena kamu banyak cedera seperti ini” ujar Aditya dengan teruas mengobati luka ku.
“Aku hanya terjatuh Di” jawab ku,membuat Aditya menatap ku dengan kesal.
“Iya ini baru terjatuh kecil. Lalu bagaimana dengan luka mu yang menendang karang ketika diving?” Tanya Aditya membuat ku terdiam.
“Aku tidak mau ada sesuatu terjadi lagi” pinta Aditya dengan bersungguh sungguh.
“Iya”
“Janji”
“Janji” ujar ku dengan perasaan yang begitu berat.
Aku pun berharap seperti itu. Mudah-mudah an tidak akan ada masalah lagi yang akan membuat dia marah,dan membuat ku mengingkari janji.
“Mandi lah. Kita harus segera pergi ke Bandung menemui keluarga mu” pinta Aditya sambil kembali membawa wadah nya keluar kamar.
Aditya terlihat begitu kecewa. Dan aku merasa begitu kacau sekarang karena telah begitu gundah dengan perkataan Danu yang mengganggu fikiran ku.
Kami sampai di Bandung dan segera menemui Mama dan Papa ku. Papa begitu senang ketika melihat ku pulang.
“Hay sayang” sapa Papa.
“Hay Pa” sahut ku sambil memeluk nya.
Lalu Aditya pun ikut memeluk Papa.
“Sehat Pa” jawab Aditya sambil tersenyum.
“Hay Ma” sapa ku sambil memeluk Mama yang berada di samping Papa.
“Hay nak. Kamu baik kan?” Tanya Mama seolah dia tahu jika anak nya sedang gelisah.
“Baik Ma” jawab ku dengan begitu penuh keraguan.
“Ayo kita makan dulu” ajak Mama kepadaku dan Aditya.
Dan kami semua pun pergi masuk ke dalam rumah yang cukup besar itu.
Kita makan di meja makan dengan makanan khas Bandung yang begitu menggiurkan. Aditya terlihat makan dengan lahap karena dari Apartemen kita belum menemukan makanan.
Setelah acara makan selesai Papa mengajak Aditya untuk berbicara secara pribadi di ruang kerja Papa. Aku sudah tidak takut lagi Papa akan mengintrogasi Aditya,karena aku yakin Aditya pasti akan mengatasi nya dengan baik.
Aku dan Mama duduk di ruang keluarga. Dengan sofa yang lembut berwarna coklat,dengan tv besar dan beberapa foto album keluarga yang di simpan di lemari Tv.
“Kamu kenapa sayang?” Tanya Mama yang terus melihat anak nya ini sedang gelisah.
“Ma. Jika aku harus tinggal di Bali Mama setuju?” Tanya ku dengan mengkerutkan kening ku.
Mama terlihat tersenyum dan dia merapikan rambut ku dengan lembut,dengan mengingat masa kecil ku yang selalu meminta izin apapun kepada Mama dulu sebelum akhirnya kepada Papa.
“Nak. Kamu nanti akan menjadi seorang istri,dan kamu sudah harus menuruti semua keinginan suami kamu. Mama dan Papa pasti akan berat untuk melepaskan kamu,tapi kami berdua ingin kamu menjadi istri yang terbaik untuk Aditya” ujar Mama begitu lembut.
“Aku yang menginginkan ini Ma,bukan Aditya. Aditya sekarang sudah memegang bisnis Kakek nya di Bali,dan dia pasti akan selalu di butuhkan disana,aku tidak mau menyusahkan dia Ma hanya karena kita tinggal di Jakarta”
“Kamu yakin hanya karena itu?” Tanya Mama dengan tatapan nya yang terus menyelidiki.
Mama membuat ku terdiam tak menjawab.
“Nak. Apapun alasan nya,kamu harus fikirkan baik-baik,jangan sampai pilihan mu itu karena terpaksa hanya karena sesuatu yang tidak penting” ujar Mama menasehatiku.
“Baik Ma,aku akan fikirkan ini” ucap ku.
Sore hari nya aku dan Aditya pergi dari rumah. Kami kembali ke Jakarta karena besok aku masih harus kuliah dan aku tidak bisa menginap di rumah.
“Di” panggil ku ketika kami masih dalam perjalanan.
“Hm” sahut Aditya menoleh ku sebentar.
“Bagaimana kamu menjalankan bisnis Kakek mu di Bali jika kita tinggal di sini?” Tanya ku memulai pembicaraan hal yang penting.
“Aku hanya mengontrol nya lewat laptop dan handphone. Karena sudah ada yang menangani nya disana,dan aku hanya tinggal mengecek nya saja dimana pun aku mau” jawab Aditya.
“Menurut mu,apa kita perlu tinggal di Bali?” Tanya ku kepada inti nya.
Aditya tampak diam dulu sejenak memikirkan pertanyaan ku dengan pandangan terus memperhatikan jalanan di depan nya.
“Aku sudah nyaman tinggal di Jakarta karena semua teman-teman ku,kehidupan ku sudah ada di sini. Tapi jika kamu mau kita tinggal di Bali aku bisa mengikuti keinginan mu” ucap Aditya membuat ku terenyuh.
“Aku pun sebenarnya ingin tetap tinggal disini. Tapi aku memikirkan bisnis kamu di Bali,aku takut kamu akan banyak di butuhkan disana”
Aditya tampak tersenyum mendengar ucapanku.
“Jika aku di butuhkan di Bali aku tinggal terbang kesana dan akan tinggal villa. Kita hanya akan kesana jika di perlukan” ucap nya mengatasi masalah.
“Benar juga” ucap ku membenarkan ucapan Aditya.
“Jadi?” Tanya Aditya.
“Aku ikut apa kata mu? Karena Mama ku bilang,aku akan menjadi seorang istri dan aku harus mengikuti keinginan suami ku,dan bukan malah sebalik nya” ucap ku dengan mengutip kata-kata Mama tadi. Karena Aditya selalu bilang jika dia hanya akan mengikuti kemauan ku,dan dia tidak memaksa ku untuk mengikuti kemauan nya.
Begitulah Aditya. Sekarang dia sudah tidak de posesif dulu.