Obsessive Love Disorder

Obsessive Love Disorder
Jamuan keluarga ku dan gangguan Anandita



Acara jamuan pun segera di gelar di Villa Anantara Uluwatu itu. Memang benar, ternyata Villa itu besar dan megah. Villa ini berada di samping tebing pantai yang sangat begitu menakjubkan. Tidak ada kata lain yang bisa aku sampaikan selain kata ‘Wow’.


Acara jamuan ini di adakan di bagian belakang Villa dengan luas nya rumput hijau yang menyuguhkan pemandangan pantai lepas. Suasana malam disana begitu indah dengan lampu-lampu hias di samping taman yang berwarna kuning ke emasan. Banyak sekali meja parasman di sepanjang tangga taman. Berbagai macam makanan di hidangkan disana.


Aku telah datang bersama Aditya dengan berdandan dengan rapih dan sederhana. Aku memakai dress berwarna biru langit berlengan panjang dan dengan bawah nya susun umpak yang cantik,rambut ku kali ini di ikat ke belakang dengan messy hair. Aku menggandeng Aditya yang memakai baju berlengan panjang juga berwarna biru senada dengan ku.


“Ini acara jamuan? Atau acara resepsi pernikahan kita?” Ledek ku melihat mewah nya acara malam itu.


Aditya juga ikut tersenyum menertawakan apa yang di lihat nya.


“Ini untuk menyambut keluarga calon istri ku,mereka mau memberikan yang terbaik untuk kamu bi” jawab Aditya.


“Ya tapi apa ini ga terlalu berlebihan?” Tanya ku.


“Udah bi. Kita ikuti saja,ayo” ajak Aditya membawa ku ikut bergabung dengan keluarga nya.


Disana sudah banyak sekali keluarga besar Aditya dengan Nenek nya. Aku banyak berkenalan dengan orang-orang baru disana,dan ada juga orang tua Andre di sana. Aku memberi salam kepada mereka dengan kaku,karena aku masih begitu ingat bagaimana Papa nya membuat ku terpojok ketika pembicaraan waktu itu dengan keluarga Aditya.


“Andre belum pulang om?” Tanya Aditya berusaha untuk ramah kepada Papa Andre.


“Katanya dia pulang hari ini,tapi kita juga belum dapat kabar lagi dari dia” jawab Papa Andre dengan ramah.


“Dia sibuk ngurusin buku nya disana. Dia lagi ada acara peluncuran buku baru nya katanya kemarin di menara kembar Petronas” lanjut Papa Andre dengan begitu bangga.


“Wow Petronas?” Tanya Aditya lagu.


“Iya. Keren kan?” Ucap nya dengan begitu bangga.


Aku bahagia mendengar nya. Seperti nya Andre telah berhasil membuat Papa nya percaya dengan jeripayah nya selama ini,Andre telah sukses membuat Papa nya bangga.


“Hay semua” sapa seorang wanita yang tiba-tiba saja ikut bergabung dengan menenteng sebuah bingkisan di tangan nya.


Anandita. Dia begitu anggun dengan dress kuning yang di pakai nya,apapun pakaian yang di pakai nya akan terlihat begitu perfect dan memepesona,aku mengakui kecantikan dia.


“Hay Anandita” sapa Papa Andre.


Memang benar,Anandita sudah begitu mengenal keluarga Aditya,bahkan Papa Andre pun mengenal nya.


“Hay Om,apa kabar?” Sapa nya begitu manis.


“Baik”


“Tante?” Tanya Anandita menatap Mama Andre di samping Suami nya.


“Tante juga baik cantik. Kamu sekarang tinggal dimana?” Tanya Mama Andre.


“Di Jerman tan,aku punya bisnis disana” jawab Anandita dengan begitu bangga nya.


“Waw,hebat sekali. Sudah cantik,baik,pinter udah bisa ngurus bisnis sendiri lagi” puji Mama Andre dengan mengelus tangan nya.


Aku merasa tak nyaman sekali dengan situasi ini. Aku merasa begitu payah bersanding dengan Anandita.


“Makasih tante” ucap Anandita dengan manis.


“Hay dit,hay Dheb” sapa nya menatap kami berdua.


“Hay” balas kami dengan tersenyum kepadanya.


“Aku bawain brownis rasa peanut kesukaan kamu dit” ucap Anandita dengan menyodorkan makanan tentengan nya.


Aku mengangkat halis ku menatap bingkisan yang di sodorkan Anandita kepada Aditya.


“Uh kesukaan Aditya” ucap Mama Andre membuat ku melirik nya diam-diam.


“Iya Tante,aku juga masih inget kok makanan kesukaan Aditya” jawab nya dengan menatap Aditya dengan manis nya.


“Hay ayok semua kita makan” sapa Mama Aditya menghampiri kami dan menyentuh bahu ku dengan lembut.


“Ayo Dheb Mama dan Papa kamu udah nunggu di sana” ujar Mama Aditya.


Aku menoleh ke arah meja yang berada di belakang ku. Papa dan Mama memang sudah duduk berdua di sana dengan Papa Aditya.


Keluarga ku dan keluarga Aditya duduk dalam satu meja. Sementara yang lain duduk di meja terpisah. Keluarga besar ku juga berada disini ikut untuk mendampingi ku di acara pernikan ku nanti. Semua biaya tiket pesawat dan tempat tinggal di tanggung dari keluarga Aditya. Sebenarnya Papa juga tidak ingin membebankan semua biaya itu kepada keluarga Aditya,karena Papa bilang jika dia juga masih mampu untuk membiayai tiket pesawat dan tempat tinggal mereka. Namun Papa Aditya bilang,jika semua itu adalah tanggung jawab mereka dan mereka ingin jika pemberian mereka di terima dengan baik.


Kami semua sudah mulai makan di meja dengan pemandangan laut yang indah dan pemandangan galaxy di atas kita yang begitu menakjubkan dengan taburan bintang yang menghiasi malam kita.


Aku melihat Aditya melirik piring Papa di hadapan nya. Papa tengah menyantap kepiting dengan begitu nikmat nya,dan aku yakin Aditya pasti tergiur dengan mengingat rasanya. Aku tersenyum melihat raut wajah Aditya yang terus melirik piring Papa nya. Aku berdiri tanpa permisi dan segera pergi ke tempat makanan seafood berada.


Aku mengambil beberapa kepiting ke atas piring ku,dan mencari gunting di sekitar sana.


“Permisi kak” ucap ku menghentikan pelayan yang baru saja melintas di belakang ku.


“Iya bu” sahut nya dengan sopan.


“Boleh minta gunting?” Pinta ku dengan sopan juga.


“Oh gunting kepiting?”


“Iya” jawab ku.


“Sebentar bu”


Lalu dia pergi ke balik meja prasmanan itu dan mengambil sesuatu di bawah nya.


“Ini bu” dia memberikan gunting kepiting yang baru di bawah meja.


“Terimakasih”


“Sama-sama”


Aku segera memotong kepiting untuk di hidangkan ke Aditya. Ini sudah saat nya dia menunjukan kepada orang tua nya,jika Aditya sebenarnya sudah bisa lagi makan kepiting.


Seseorang berdiri di samping ku dengan piring di tangan nya. Itu Anandita,dia sedang memilah milah makanan di hadapan nya. Dia melirik makanan yang tengah aku potong dengan gunting.


“Kamu tahu kan Aditya tidak bisa makan kepiting?” Ujar Anandita membuat ku terpatung sekejap mencerna pertanyaan nya.


“O yah?” Jawab ku tanpa menoleh nya dan kembali memotong kepiting ku.


“Kamu ga tahu,kalo Aditya alergi kepiting?” Tanya nya lagi membuat ku kesal enggan untuk menoleh nya.


“Kamu itu kan calon istri nya Aditya,kenapa bisa kamu tidak tahu tentang Aditya?” Ledek Anandita dengan nada yang begitu menyebalkan.


Aku lalu menyimpan gunting di atas piring yang lain nya, membersihkan tangan ku dan menatap tajam Anandita.


“Aku sudah tahu semuanya” jawab ku dengan berusaha manis berbicara dengan nya.


Anandita menatap ku bingung.


“Aku tahu Aditya bukan alergi kepiting,tapi dia hanya takut makan kepiting. Dan aku juga tahu,dulu dia hampir kehilangan nyawa nya karena menelan cangkang kepiting sehingga harus membuat dia di operasi karena sobekan di dalam tenggorokan nya” ucap ku dengan mengatakan semua yang aku tahu.


Dan ucapan ku berhasil membuat Anandita terkejut dan diam.


“Aku tahu kamu adalah teman masa kecil Aditya,dan kamu begitu tahu tentang makanan kesukaan Aditya ketika kalian waktu kecil,aku begitu mengerti kamu sangat tahu apa yang di suka Aditya dan apa yang tidak di suka nya,tapi kamu lupa satu hal” ucap ku dengan menggantungkan ucapan ku.


“Kamu lupa jika kalian sudah beranjak dewasa sekarang,dan masa kecil kalian sudah lama berakhir. Sekarang kamu tidak begitu mengenal bagaimana Aditya. Apa yang di suka nya dan apa yang tidak di suka nya” lanjut ku masih saja membuat dia diam.


“Aku memang tidak sepintar kamu Dita,aku tidak sepandai kamu dalam menjalan kan bisnis. Tapi aku tahu persis bagaimana menjadi istri yang baik untuk Aditya,karena bukan harta yang aku incar,tapi kebahagiaan” lalu aku meninggalkan Anandita dengan masih saja terpatung di tempat nya.


Ucapan ku seperti nya berhasil membuat Anandita terpukul,dia masih terdiam disana seperti mencerna semua ucapan ku. Aku begitu puas telah meluapkan segala isi hati ku kepada Anandita,aku yakin semua ucapan ku akan menjadi sebuah tamparan untuk nya agar tidak lagi menggoda Aditya.