
Aku terkejut melihat Danu disini. Dengan menggunakan jas hitam dan kemeja putih yang kancing atas dan kedua nya dia dibiarkan terbuka. Model rambut nya yang gondrong dia buat ikat ke belakang dengan rapih. Dia tambah terlihat cool dan gagah berpenampilan formal seperti itu.
Aditya juga tak kalah terkejut nya melihat Danu disini.
“Danu” sapa Aditya dengan terkejut.
“Dit” sahut Danu dengan menjabat tangan Aditya.
“Di sini juga?” Tanya Aditya.
“Iya,Gilbran sahabat gue” ujar Danu menyebutkan nama tunangan Cateline yang sesama kalangan artis.
“Hay” sapa Danu dengan tersenyum begitu melihatku.
“Hay” sahut ku dengan dingin.
“Kamu udah makan Dheb?” Tanya Cateline dengan manis.
“Belum” jawab ku dengan malu.
Aditya tersenyum melihat tingakah lucu ku yang malu-malu.
“Ya udah,makan dulu Dit ajak dulu dia makan” pinta Cateline.
“Ayo” ajak Aditya.
Aku menganggukan kepala ku,lalu Aditya membawaku ke jajaran makanan. Lalu kami membawa makanan duduk di meja bundar berdua.
“Kamu kenapa?” Tanya Aditya ketika melihat ku yang tampak cemas.
“Hah?! Aku hanya risih” jawab ku berdalih.
“Risih kenapa?”
“Banyak teman-teman artis kamu” jawab ku.
“Jangan melihat profesi mereka Dheb. Lihat mereka sebagai teman ku saja,bersikap tenang lah,aku tidak mau melihat mu merasa tidak nyaman seperti ini” ujar Aditya mengelus tangan ku.
Aku tersenyum kepadanya lalu menganggukan kepala ku.
Aku berusaha tenang ketika Aditya mengajak ku untuk bertemu teman-teman nya. Aku berusaha berbaur dengan yang lain nya. Dan Aditya dengan bangga selalu mengenalkan ku sebagai calon istrinya kepada semua orang. Itu membuat ku semakin bahagia dan juga merasa tenang berhadapan dengan teman-teman nya.
“Kita harus pulang sekarang” ujar Aditya kepada Cateline dan semua teman yang tengah berbincang dengan nya.
“Kok buru-buru dit” tanya Kevin,teman nya yang lain.
“Orang tua gue udah nunggu Dhebi” ujar Aditya.
“Oh udah mau pulang ke rumah lo sekarang?” Ledek Kevin yang sepertinya tahu masalah Aditya yang tak mau pulang ke rumah nya.
Lalu Kevin dan Aditya tampak tertawa.
“Ya udah kita pulang ya. Cateline aku pulang” pamit Aditya kepada Cateline.
“Oke Dit. Makasih ya udah bersedia datang” ucap Cateline.
“Iya” jawab Aditya.
Aku tampak aneh melihat mereka seperti ini. Karena dulu selama di Sumba aku selalu melihat mereka berdua yang selalu bersama dan begitu mesra.
“Thank you ya Dheb” ucap Cateline memegang kedua tangan ku.
“Maaf dulu aku pernah kesal sama kamu ketika di Sumba” tambah Cateline membuat ku mengkerutkan kening.
“Kesal ? Kesal kenapa?” Tanya ku mengingat dulu Cateline selalu berbuat baik kepadaku.
Cateline membawa ku menjauh dari teman-teman nya yang lain. Lalu dia memegang kedua tangan ku dan menatap ku dengan pilu.
“Dulu aku tahu kamu sudah begitu dekat dengan Aditya. Aku pernah memergoki kalian berdua di pesisir pantai sedang bersenang-senang menaiki wahana,bahkan aku melihat kalian begitu mesra berciuman” ujar Cateline mengingat kan ku tentang kenangan ku dengan Aditya ketika di Sumba.
“Aku sempat bertengkar dengan Aditya saat itu” Teman-teman ku memang pernah membicarakan tentang hal ini.
“Dan aku pernah meminta dia untuk menjauhi kamu demi project film kita saat itu,dan dia menolak nya. Dia bilang itu semua bukan urusan ku,dan dia bilang jika aku tidak perlu khawatir untuk itu. Dia benar-benar melakukan nya,dan dia juga mendapatkan kamu” ujar Cateline bercerita.
“Dheb. Aditya itu orang baik,aku yakin dia tidak mungkin mencari pasangan yang sembarangan. Dia pasti punya alasan kenapa selalu mempertahankan mu sejauh ini,dan hanya orang yang mengerti kamu yang bisa mencintai kamu sedalam ini. Rasa sayang yang dia miliki untuk mu sangat tulus,dan aku bisa lihat itu”
“Aku titip Aditya kepadamu ya. Jaga dia”
“Pasti” jawab ku dengan tersenyum manis kepadanya.
Lalu Aditya menghampiri ku dan melingkarkan tangan nya di pinggang ku.
“Sudah berceritanya?” Tanya Aditya menatap ku dengan tersenyum.
Aku menganggukan kepala ku.
“Ya sudah kita pulang ya,selamat untuk acara pertunangan kamu”
“Thank Dit”
Lalu aku dan Aditya keluar dari gedung hotel meninggalkan acara pertunangan Cateline.
“Tunggu sebentar disini ya,aku ke toilet dulu” ujar Aditya meminta ku untuk menunggu nya di loby hotel.
“Iya” lalu Aditya pergi.
Aku berdiri dengan tegap di tempat Aditya meninggalkan ku dengan terus menenteng tas kecil ku.
“Hay Dheb” sapa seorang pria yang tiba-tiba ada di samping ku.
Danu.
“Hay” sahut ku dingin,dan kembali tak mengacuhkan nya.
“Cateline benar” ujar nya membuat ku mengkerutkan kening menatap nya.
“Tidak mungkin ada orang lain yang bisa mencintai kamu tanpa sebuah alasan. Aditya juga bisa mempertahan kan kamu karena dia merasa jika kamu ini istimewa. Dan itu juga yang aku rasakan sekarang” lagi-lagi Danu mulai dengan ocehan nya yang sudah terdengar begitu memuakan.
“Sampai saat ini aku masih mencari alasan kenapa aku bisa tertarik kepada perempuan yang tidak pernah perduli siapa aku,dan malah selalu mencibirku buruk,bahkan kamu tidak pernah terlihat ramah kepadaku. Tapi kenapa sampai saat ini kamu masih saja mengganggu fikiran ku?” Aku tertegun mendengar ucapan nya.
Dia begitu berani mengungkapkan perasaan nya kepadaku disaat seperti ini. Dan Danu mendengar perbincangan ku dengan Cateline di dalam tadi.
“Aku begitu kagum melihat kamu yang sangat menyukai alam di sekitar kamu. Bahkan kamu secara tidak langsung menyadarkan ku bahwa aku sudah sering selalu melewatkan kebahagiaan ku selama ini. Kamu meledek ku,jika aku hanya terlalu terpaku kepada tujuan ku tanpa menikmati indahnya hidup. Mungkin ini yang di rasakan Aditya sebelum nya”
Aku menggelengkan kepala ku menatap nya resah.
“Danu. Perasaan yang kamu punya hanya sebatas mengagumi,dan itu hanya sementara, bukan rasa sayang seperti yang Aditya punya untuk ku,lambat laun perasan kamu akan hilang dengan sendirinya,kamu tidak perlu mengkhawatirkan itu” ucap ku mencoba menjelaskan jika semua itu hanya semu.
“Aku kira juga begitu pada awalnya. Tapi hari ini aku malah kembali bertemu kamu,dan melihat kamu begitu cantik” ucap Danu dengan menatap ku begitu kagum.
Aku tersentak mendengarnya. Aku ingat apa yang di katakan Aditya tadi di Villa. Dia takut hal ini terjadi.
“Aku akan menikah dengan Aditya. Kamu harus selalu ingat itu” ujar ku mengingatkan nya tentang hal penting itu.
“Bagaimana aku bisa lupa jika Aditya saja selalu memberi tahu semua orang jika kamu calon istrinya”
“Lalu? Kenapa masih saja mengusik ku?”
“Aku tidak pernah bermaksud mengganggu mu,atau pun sengaja menemui mu. Semua ini kebetulan, atau malah sudah takdir” ujar Danu membuat ku kembali tersentak.
Lalu Danu pergi meninggalkan ku sendiri terpatung di tempat ku. Aku masih memikirkan semua ucapan Danu yang sama persis dengan apa yang selalu di katakan Aditya.
Pertemuan ku dan Aditya juga di sebut sebuah kebetulan,dan semua perjalanan cinta ku dan Aditya pun di dasari dengan kebetulan. Dan Aditya malah menganggap semua itu adalah takdir.
“Dheb” panggil Aditya menyadarkan ku.
“Hey. Udah?” Tanya ku berusaha tenang di hadapan nya.
“Udah. Kamu kenapa?” Tanya nya melihat ekspresi ku yang seperti ketakutan.
“Ngga. Tadi aku bertemu beberapa teman kamu disini,aku hanya… kaku” ucap ku berdalih.
Lalu dia tersenyum menertawakan ku.
“Ayo pulang,Mama sudah banyak menghubungiku”
Aku menganggukan kepala ku dan segera pergi dari sana.
Aku berusaha untuk melupakan semuanya. Aku berusaha melupakan perkataan Danu. Aku percaya Aditya tidak akan membiarkan Danu mengganggu ku. Namun aku masih belum mau menceritakan tentang ini kepada Aditya. Karena aku tidak ingin menambah masalah Aditya dengan kembali masuk kedalam infotainment.