
2 hari selanjutnya aku dan Aditya menghabiskan waktu dengan berjalan jalan di setiap pantai di Bali. Seperti pandawa,uluwatu dan pantai nyang nyang yang memiliki tebing tinggi dengan rumput hijau.
Dan malam terakhir kami di Bali,Aditya mengajak ku ke pantai Diamond. Dimana pantai itu memiliki tebing-tebing karst yang berbentung runcing bak seperti permata. Itulah mengapa pulau itu dinamakan pulau Diamond.
Aditya mengajak ku menyaksikan mangata di atas sana. Begitu jelas terlihat bayangan bulan di permukaan air,begitu indah pantulan cahaya bulan yang menyerupai jalanan itu. Walaupun lautan begitu gelap dan pekat namun cahaya yang di miliki bulan begitu memperindah permukaan lautan.
“Mangata” ujar Aditya. Ketika kami berdiri di atas tebing di dekat mobil yang tengah kami sandari.
Aku merasakan kesejukan yang begitu nyaman menusuk kedalam tubuh ku. Aditya memakai kan jas nya di punggung ku agar dingin angin malam tidak akan membuat ku menggigil karena malam itu aku hanya memakai dress berlengan pendek dan panjang selutut ku.
“Aku berterimakasih kepada alam ini karena sudah mempertemukan aku dengan mu” ujar nya lagi.
Aku menatap nya dengan bangga.
“Aku tidak pernah menyangka pekerjaan ku sebagai tour guide di Sumba bisa membawa ku sampai sini. Bahkan bisa membuat ku akhirnya terbiasa memakai dress seperti ini” ledek ku kepada diri sendiri.
Aku tertawa dengan ucapan ku sendiri. Dan Aditya pun ikut tertawa dengan ku.
“Ya aku juga tidak pernah menyangka. Pengenalan ku di Sumba untuk keperluan shooting,berujung pengenalan ku kepada seseorang wanita yang telah begitu banyak memberikan perubahan kedalam hidup ku” aku begitu tersanjung dengan ucapan nya.
“Andai saja bukan kamu yang aku temui saat di Sumba. Aku tidak akan pernah bisa memakan kepiting lagi seumur hidup ku. Aku juga tidak akan pernah bisa melawan ketakutan ku dengan gangguan kecemasan yang aku miliki dan bahkan aku tidak akan pernah mencoba melihat indah nya lautan dengan terbang memakai parasailing”
Aku tertawa ketika mengingat Aditya yang super galak bisa takut ketinggian.
“Dan jika saja aku tidak pernah bertemu dengan mu,aku tidak akan pernah bisa berfikir jika ternyata pilihan hidup yang menurut ku berat adalah pilihan hidup yang terbaik untuk ku. Kalau bukan karena cibiran mu ketika di atas tebing pagi itu,mungkin sampai saat ini aku masih akan terjerat dengan kehidupan ku sebagai artis dan menjadi robot untuk mereka”
“Percayalah Dhebi,kamu yang menyadarkan aku jika hidup kita sebagai artis itu tidak menyenangkan karena selalu menjadi konsumsi publik. Tidak ada ruang gerak,kemana mana kamera selalu mengikuti,apapun yang kita lakukan akan di sorot dan menimbulkan pro juga kontra,karena itu kita tidak akan pernah memiliki privacy sendiri. Aku selalu memikirkan ucapan mu selama ini”
“Benar kah?” Tanya ku tak percaya.
Dia tersenyum manis menatap ku.
“Kamu memberikan perubahan yang besar dalam hidup ku. Kamu bisa membuat ku menuruti apa mau mu tanpa aku merasa terpaksa. Bahkan kamu bisa membuat ku kembali mencintai keluarga ku seperti dulu” dia menatap ku dengan bersungguh-sungguh.
Aku begitu sedih melihat nya.
Dia berdiri di hadapan ku memegang kedua tangan ku dan menatap ku begitu dalam.
“karena itu,aku ingin selalu kamu ada di samping ku dan memarahi ku jika aku berbuat salah. Aku ingin kamu yang setiap hari membuat ku sarapan,dan menyiapkan semua baju ketika aku bekerja nanti. Aku tidak ingin di layani oleh pelayan,aku tidak ingin ada orang lain yang mengatur ku selain kamu. Aku hanya ingin kamu”
Air mata ku menetes di pipi. Ini adalah air mata kebahagiaan. Aku tidak pernah menyangka bisa di cintai oleh orang hebat seperti Aditya.
Dia berlutut di hadapan ku dengan terus menatap mata ku. Dia mengeluarkan sesuatu dari saku celana nya dan membuka sebuah kotak cincin yang begitu cantik. Terlihat lah sebuah cincin emas yang di tancapkan di dalam busa merah dengan berlian kecil di atas nya.
“Will you marry me?” Ucap Aditya semakin membuat ku menangis.
Angin kencang membuat rambut ku tersapu dengan lembut. Suasana malam itu begitu mendukung Aditya untuk memberikan kesan romantis malam itu.
Aku tersenyum di dalam kesedihan ku,aku terlalu bahagia dan tidak pernah menyangka jika aku akan di nikahi oleh seorang pangeran tampan seperti dia. Aku menganggukan kepala dengan semangat.
Aditya pun begitu bahagia,lalu dia melepaskan cincin dari kotak nya dan melingkarkan nya di jari manis ku. Cincin itu begitu indah melingkar di jari ku. Aditya berdiri dan menatap ku begitu haru. Dia mencium bibir ku sekejap dan langsung memeluk ku begitu erat.
Lalu malam itu kami pulang ke rumah untuk segera berpamitan.
Mama Aditya sudah melihat cincin yang telah melingkar di jari manis ku. Dia sudah tahu jika Aditya baru saja melamar ku. Mama nya tersenyum bahagia lalu memeluk ku, begitu pun juga Papa nya,dia memeluk ku dengan lembut dan penuh kasih sayang.
“Kamu untuk apa pulang lagi ke Jakarta Dit?” Tanya Mama ketika kami telah bersiap pergi di depan rumah mereka.
“Masih ada yang harus aku selesai kan disana ma. Dan juga kuliah Dhebi sudah masuk semester akhir,dia harus segera menyelesaikan kuliah nya”
“Lalu kapan kami akan bertemu orang tua kamu sayang?” Tanya Mama menatap ku.
Aku tersentak mendengar pertanyaan nya,aku langsung menoleh ke Aditya dengan bingung.
“Mmhh nanti kalau Mama dan Papa mampir ke Jakarta aku akan memperkenalkan orang tua ku” ucap ku gugup.
“Baik kalau begitu” ucap Mama.
“Berarti secepatnya kita harus ke Jakarta Pa” pinta Mama ke Papa Aditya.
Aku menelan ludah ku sendiri memikirkan bagaimana cara nya agar aku bisa mengatakan ini kepada orang tua ku.
“Kita pulang dulu” Aditya memeluk Papa dan Mama nya dengan lembut.
Begitu juga aku sudah mulai berani memeluk mereka.
Aku dan Aditya segera mengejar penerbangan kami yang hampir saja tertinggal pesawat. Sepanjang penerbangan aku hanya menatap keluar jendela memikirkan orang tua ku.
“Dhebi” panggil Aditya membuyarkan lamunan ku.
“Kamu kenapa?” Tanya nya melihat kegelisahan ku.
“Apa semua nya akan berjalan dengan lancar?” Aku begitu mengkhawatirkan semua nya.
“Apa yang kamu khawatirkan?” Tanya Aditya memperhatikan wajah ku.
“Pernikahan nya? Orang tua kita ? atau tentang kita?” Sambung nya.
“Semua nya” jawab ku tak memilih pilihan.
“Dengar” ujar Aditya membenarkan posisi duduk nya untuk berbicara padaku. Lalu dia memegang tangan kanan ku.
“Jika kamu mengkhawatirkan tentang aku. Aku sudah bertekad untuk menikahi mu,aku ingin kita selalu bersama dalam suatu ikatan pernikahan. Jika pernikahan yang kamu khawatirkan kamu tenang saja, semua akan berjalan dengan lancar dan aku pastikan tidak akan ada yang mengacaukan itu. Dan jika yang kamu khawatirkan tentang orang tua kita,kita akan membuat mereka saling menerima satu sama lain. Orang tua mu sudah mengenal ku kan?” Tanya Aditya memastikan.
“Iya mereka tahu hanya dari tv saja”
“Dan sekarang aku akan memperkenalkan diri ku yang sesungguhnya kepada orang tua mu. Mereka harus melihat aku jauh lebih tampan dari apa yang mereka lihat di televisi” ujar nya begitu percaya diri.
Aku berdecak kesal melihat dia menanggapi nya dengan bercanda. Namun aku tetap tertawa dengan itu.
Aku yakin orang tua ku pasti akan menyetujui pernikahan ku dengam Aditya. Namun entah kenapa aku takut memperkenalkan Aditya yang sesungguhnya kepada mereka.